
Potka melihat hasilnya, ia akan kembali ke desanya, ia ingin mengetahui sesuatu. Potka menggunakan hari liburnya untuk pergi ke desanya. Desa Arctos
Didesanya klan tertinggi adalah klan serigala putih yang menjadi ratu dari alpha matenya yang saat itu menghilang.
Ia kembali ke tempat ia tinggal dulu yang terlihat sangat homie di tengah hutan. Ia masuk dipekarangan terdengar ramai orang bercengkrama hangat.
Ia mengetuk pintunya. "Ya" suara wanita dari dalam yang seketika membuatnya rindu. Wanita itu membuka pintu. Ia terkaget, melihat Potka berdiri didepannya, ia menutup mulutnya. Dan mundur selangkah.
"Aku pulang, Roxane!" Wanita yang dipanggil Roxane itu menghambur pada pelukan Polka.
"Anak nakal! kau lupa rumahmu, hah!" Ia memukuli punggung Polka dengan lelehan air mata membanjiri pipinya.
"Ada apa Roxane?" Mereka yang berada didalam lalu keluar, mendengar tangisan Roxane. Seorang Alpha merangsek ingin menyerang siapa saja yang menganggu anggota packnya.
"Jordan" Potka memandang kakaknya itu. si kakak melebarkan matanya, sama seperti Roxane, ia tak menyangka akan melihat sang adik.
"Akhirnya kau pulang" Jordan memeluk adiknya itu.
"Sudah bosankah kau diluaran sana?" Suara sindiran dari Almaz, Kakaknya yang lain.
"Meninggalkan pack hanya karena ingin bekerja di perusahaan yang memandang rendah klan kita?" Seruan Raven.
"Sudah, Cukup! Ayo masuk!" Roxane tidak mau adanya perkelahian. Ia tidak membiarkan siapapun merusak kesenangannya, akhirnya yang Roxane nantikan, mereka berkumpul lagi.
Almaz dan Raven masih menatap tajam Potka. Mereka masih tidak terima atas keputusan Potka yang memilib meninggalkan packnya untuk masuk dalam kumpulan orang berengsekk yang membuat Alpha terdahulu tewas kehilangan Matenya.
Sama seperti keberadaan bukit Rfizt, keberadaan desa Arctos ini hanya untuk mereka yang memiliki ikatan dengan pack maka ia bisa masuk kedesa mereka.
Seharian Potka dijamu oleh Roxane, ia sangat senang dengan kehangatan yang tercipta, di tengah keluarga packnya ini, yang sempat ia rusak. Emmanuel sang Gamma, dengan kelakarnya bisa menghangatkan lagi suasana.
Potka, menikmati minuman hangatnya dengan pemandangan langit malam yang indah di teras rumah. Meninggalkan kehangatan yang menghilangkan kecanggungannya berada di tengah mereka.
"Bernostalgia huh!" Jordan menghampiri Potka dengan bir dingin ditangannya.
"Jordan bisa kita berbicara" Potka menghampiri Alpha baru pack itu, setelah Alpha pack terdahulu tewas, Rudolf.
"Ayo keruanganku"
Potka mengikuti Jordan, ia masuk keruangan baca milik pack, "Dimana aku bisa mencari tahu tentang Luna Rudolf, Amarin?"
"Kenapa kau ingin tahu?" Jordan menatap datar Potka, ini sebuah luka dalam untuk packnya.
Potka nampak ragu. Bagaimana cara ia bercerita tentang Wina yang ia curigai adalah anak dari Amarin.
"Aku bertemu dengan seorang wanita juga seekor serigala ... Putih ... " ada jeda di perkataan Potka.
"Itu mustahil, keturunan terakhir serigala putih hanya Amarin!" Almaz dan Raven merangsek masuk. Ia mendengar percakapan Jordan dan Potkan, pintu tidak tertutup rapat saat mereka berdiskusi.
__ADS_1
Potka memang tergesa, ia tidak memiliki waktu, jika benar Wina adalah anak Amarin, mereka harus menyelamatkannya.
"Kau tahu dari mana?" Potka menatap dua orang yang lancang masuk dalam pembicaraannya dengan Jordan.
"Kita semua tahu! Jordan pun tahu tentang ini!" bentak Almaz.
"Bawa dia pada Elder!" Raven mengusulkan.
"Elder? Simon?" Potka meneguk liurnya, selain ada Almaz dan Raven yang memusuhinya, juga ada Simon yang benar-benar mengutuknya saat itu.
"Kenapa? Kau takut?" Ejek Almaz. Mereka saling bertatapan sengit.
"Benar kau bisa bertanya pada Simon, karena dia Beta dari Alpha Rudolf, dia pasti tahu lebih banyak" Jordan bersendekap dada, menyarankan apa yang Raven katakan.
"Dimana dia?"
"Jika ia mau menemuimu!" Raven ikut mengejeknya. Ia tahu, keputusannya saat itu sangat egois, namun ia ingin melihat dunia luar selain desa mereka.
"Ayo aku antar, jam segini biasa Elder ada di pondoknya." Jordan menawarkan diri.
"Tak usah, aku akan kesana sendiri." Potka memutuskan untuk menemui Elder Simon seorang diri.
"Terimakasih Jordan." Potka memeluk saudaranya itu, tidak menghiraukan tatapan sengit Beta dan Delta dari Jordan itu.
Malam semakin larut, Potka menyusuri hutan rimbun. Melewati jalan setapak. Terdengar suara hewan malam yang saling bersautan.
Seekor serigala menyerangnya tanpa aba-aba. Pertarungan antar mereka terjadi sangat sengit.
Jika Potka berbulu keabuan maka serigala ini berbulu coklat gelap dengan mata berwarna gelap. Sedangkan warna mata Potka senada dengan warna bulunya. Keabuan.
Mereka saling serang, mengigit dan berguling. mereka saling mengeram, lolongan panjang silih berganti. nafas mereka pun terdengar kasar.
Potka mengambil ancang-ancang, ia siap menyerang.
"Berhenti Ricky!" Teriakkan dari ujung jalan setapak tadi. Potka melirik sumber suara. Tapi gelap, tidak terlihat. Ia lengah dan serigala coklat itu menyerangnya lagi.
Potka menggeram. Ia mulai fokus pada musuhnya. Ia menyerang dengan taring runcingnya mengincar leher serigala coklat itu.
BRAAK!
Ia mendapatkan dan kemudian menghempaskan tubuh serigala coklat itu di ke pohon.
"RICKY!" Tubuh serigala itu merosot dan ia berpijak pada tanah, mencoba menggelengkan kepala mencari kesadarannya. Ada kemarahan di mata hitamnya, ia mengeram marah, ia bersiap,
"CUKUP!" suara itu membuatnya terdiam lalu melenggang menjauhi Potkan, berjalan kearah bayang hitam yang semakin terlihat jelas.
"Beraninya kau kembali, Potka!" Potka dengan cepat men-shift tubuhnya kembali.
__ADS_1
"Simon?!" Ia melihat serigala yang menyerangnya itu berubah menjadi lelaki dengan pakaian pantai dengan rambut tertata rapi berdiri dibelakang Simon.
Simon lelaki tua dengan pakaian santainya menatap datar kedatangan Potka. Ia menautkan tangannya kebelakang. Mengamati Potka.
"Ricky tinggalkan kami" lelaki itu mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan Simon yang kembali kearah pondok.
Potka mengikuti lelaki tua itu dibelakangnya. Tanpa ada yang berbicara. Sampai didepan pondok. Potka terdiam. Simon telah masuk, Dengan sedikit enggan, ia pun menaiki tangga pondokan itu.
Ia berjalan perlahan, memasuki pintu kayu yang terbuka sedikit. Ia mendorong, pintu itu terbuka, Potka menatap pondok dengan banyak ornamen mengiasi dinding.
Ia melihat Simon yang memasuki ruangan pertama dan ia mengikuti juga. Disana Simon telah duduk di kursinya sibuk membaca buku yang tadi ia tinggalkan setelah ia mendengar keributan yang Potka buat.
"Mengapa kau kembali?"
"Apa kau lupa aku mengharamkan kau menginjakkan kakimu disini!" lanjut Simon masih menatap bukunya.
"Aku ingin tahu tentang Amarin."
Brugh!
Simon menutup bukunya kasar. Mendengar nama Amarin disebut oleh Potka. Tatapan tajam Simon arahkan pada Potka.
"Apa yang kau ingin ketahui? Bajingann sialann itu yang menyuruhmu?!" Hardik Simon. Suaranya meninggi. Dendam mengelayutinya.
Namun ia sadar anggota klan mereka tidak sebanyak dulu, untuk bisa melawan. Ia berusaha keras menahan diri, dan mengubur semua dendamnya hingga ajal. Karena ia ingin melindungi anggota klannya yang tersisa.
"Apa ras kita bisa memiliki anak dengan manusia?"
"Kau sedang bercanda denganku?" Simon kalut dengan pertanyaan aneh dari Potka.
Melihat Potka serius dengan pertanyaannya, mau tidak mau, Simon berdiri dari kursinya, ia berjalan menuju rak bukunya. Ia mengambil sebuah buku tebal. Ia meletakan di mejanya.
Potka mendekat ke meja itu. "Ini ... semua yang ingin kau ketahui ada disini!" Potka menatap Simon dengan bingung mengelayut pada kepalanya.
"Kau mencari tentang Amarin? Semua ada di dalam sini" ia menggeser buku tebal itu pada Potka. Simon sebenarnya baik. Ia hanya tidak rela anggota packnya berhubungan dengan Nokturnal.
Mereka memiliki kesepakatan tidak akan menganggu satu sama lain. Itu pengorbanan Amarin yang tidak diketahui oleh anggotanya, hanya ia dan Rudolf juga Amarin yang mengetahuinya.
Kenyataan tentang kisah Amarin dan Rudolf ada didalam buku tebal itu. Ia memang menjaganya. Amanah dari Amarin.
Seorang keturunan serigala yang mendapat berkat dari Moon goddess. Menjadikan Amarin memiliki kekuatan sihir dan bisa melihat masa depan.
"Bacalah! Disana terdapat apa yang ingin kau ketahui. Dan pergilah!" Simon mengusir Potka. Ia membelakangi lelaki muda yang sudah ia anggap anak itu.
Potka menatap punggung tua itu, "Terima kasih Simon" lalu ia meninggalkan pondok Simon dan kembali kerumah Roxane.
tbc.
__ADS_1