
Marzon penasaran, ia menyelinap ke luar tempat Hecate. Entah mengapa cahaya ilusi memenuhi pikirannya.
Marzon melewati pintu dengan mengendap. Sesampainya diluar, dengan kecepatan tonggi ia melesat ke tempat cahaya ilusi berada.
Dengan nafas memburu tak butuh waktu lama Marzon telah didepan cahaya ilusi berada.
Malam hari, pancaran cahaya ilusi semakin mempesona. Dan dapat Marzon lihat. Ada beberapa mahkluk disana yang terpesona denagn tatapan kosong juga cengiran anehnya.
Mereka berjalan lambat menuju dalam barier hijau neon itu. Seperti aurora. Barier yang menyelimuti itu melambai bagaikan kain tipis terhempas angin.
Sangat memikat. Tapi rasa itu tak Marzon rasakan. Ia memang penasaran, tertarik hingga seperti mahkluk itu tak ada dalam dirinya.
Ia mendekati barier itu. Agak ragu Marzon menjulurkan tangannya. Dan seperti air terjun Marzon bisa melihat yang ada didalam barier cahaya ilusi itu.
Marzon menjulurkan lengannya, dan masuk tapi wujudnya berubah menjadi wujud manusia.
Ia melihat tangannya yang tak berbulu dan tak ada kuku panjang, hitam dan tajam. Hilang.
Ia melihat makhluk-mahkluk tadi berjalan ke arah jalan setapak dengan langkah pelan.
Marzon tak bisa mencegah penasarannya. Ia mendahului beberapa mahkluk lain, ia melihat tampang mereka yang linglung.
Aneh pikir Marzon.
Marzon menyusuri jalanan dengan beraneka bentuk pohon, ada yang segitiga, kotak, abstrak di kanan kirinya.
Suasana redup dengan kabut mengelilinginya, hembusan angin terasa menyenangkan. Apa ini juga tarikan ilusi dari tempat ini.
__ADS_1
Namun Marzon sampai saat ini masih bisa berpikir sehat. Marzon menatap kedepan nampak siluet bagunan. Masih tak terlihat hanya hitam dengan kabut menutupi pandangan Marzon.
Ia bergerak mendekat. Ia berada didepan tanah berbatu. Halaman dari bagunan yang sekarang bisa Marzon lihat dengan jelas.
Sebuah rumah berbentuk tea pot. Dengan labu berwarna jingga dengan berbagai ukuran mengelilingi rumah itu.
Raut dengan tulisan dijidatnya 'Kau bercanda! Apa sekarang bulan oktober?' terlihat jelas pada wajah pria ini.
Marzon mengerjap, memang benar apa yang ia lihat nyata adanya, bangunan tea pot dan labu, juga tak lupa ada sapu dan topi kerucut khas penyihir, halloween kah? Ia merasa sangat sia-sia mengikuti rasa penasarannya untuk ketempat ini.
Marzon ingin berbalik pergi namun dari arah belakang sekelebat bayangan melompat cepat dan berdiri didepannya.
Marzon menatap kumpulan asap kehitaman yang menutupinya.
"Siapa kau?" Sosok tertutup asap itu bersuara. Berat dan menakutkan.
Marzon bisa merasakan kemarahan dalam suara itu.
"Maaf kalau tak sopan, aku hanya mengikuti para mahkluk linglung disana" Marzon menujuk salah satu mahkluk itu.
"Mengapa mereka masuk kemari dengan tampang seperti itu? Tak sadarkan diri?" Pancing Marzon.
"Itu bukan urusan penyusup sepertimu!" Suara marah terdengar dari depannya.
"Aku hanya penasaran saja dengan tempat ini, warna bariernya sangat memikat, mirip jebakan serangga" tiba-tiba tanah yang marzon injak bergemuruh, bergetar. Tak lama sebuah pohon dengan bentuk aneh terbelah menjadi dua.
Dari sana terlihat pintu yang tertutup bayangan berkelebatan didalamnya. Portal.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pergi! saat aku dengan baik hati mempersilahkan kau!" Hardiknya pada Marzon. Marzon tak tahu ia sudah membuat marah penguasa cahaya ilusi. Suara berat dan meninggi.
Marzon maju, ia tak gentar. Mendekat ke sosok yang ditutupi asap itu. Marzon melambaikan telapak tangannya perlahan dan asap yang menyelubungi sosok itu menghilang dan yang lebih mengejutkan.
Sosok dengan suara berat dan menyeramkan itu merupakan perwujutan bentuk kecil, munggil dengan telinga panjang meruncing dan bertindik besar. Ia melihat Marzon ketakutan.
Marzon mengerutkan dahi.
"A-aapa m-maumu" tanya mahkluk kerdil itu dengan suara menyicit, sangat berbeda sekali dengan tegurannya tadi pada Marzon. Tangannya mengenggam sesuatu yang berbentu seperti teropong namun bukan teropong.
"Men-menjauh!" Ia menodongkan teropong itu. Marzon merebut teropong dan melihat dengan detail, benda itu. Mahkluk kecil itu mundur, beberap langkah. Menatap dengan cemas.
Marzon mendekatkan teropong itu pada matanya tapi gelap tak terlihat apapun. Dan ia mencoba mendekatkan pada bibirnya,
"Kau--" Marzon terkejut dengan suara yang terdengar berat, seperti suara yang tadi digunakan oleh mahkluk kerdil yang ketakutan didepannya itu.
"Kau siapa namamu?" Tanya Marzon "Dari ras apa kau?" Tanyanya lagi.
"Re-regulas, ras pe-peri" jawab tubuh bergetar itu ia meringkuk ketakutan, triknya mempertahankan tempat tinggal dari mahkluk yang lebih kuat darinya sepertinya gagal kali ini.
"Kau menggunakan hipnotis untuk menakuti, mengapa?" Marzon beranjak dari tempatnya. Tangannya berayun, menghilangkan semua asap dan kabut yang menutupi sekitar.
"Tutup pintu portal itu, kau tidak ingin menjamu tamumu!" Paksa Marzon dengan langkah menuju bangunan berbentuk tea pot itu.
Peri Resgulas mengikuti langkah besar Marzon dengan berlari dibelakangnya. Marzon membuka pintu, bangunan itu cukup besar namun pintunya sangat mungil, Marzon harus menunduk jika ingin masuk kedalam.
Untung ia berwujud manusia sekarang tubuhnya masih bisa masuk dalam pintu, jika ia menjadi Lycan, mungkin ia akan merusak pintu itu.
__ADS_1
tbc.