
Kakinya sekali lagi dijerat oleh sesuatu yang lebih tebal, kuat dan berlendir.
"Ck!" Bharat berdecih ia tak suka ini. Dengan sekali babat, ikatan pada kakinya terlepas. Ternyata ini tak sesulit
memotong rumput jalar itu.
Wuuss ...
Bentukan seperti tentakel dari tumbuhan, bukan hanya satu tapi puluhan. Dengan cepat melayang menyerang Bharat.
Dengan gerakan tangan yang lincah, menyabet tentakel-tentakel tumbuhan itu. Ia agak kelelahan, tentakel itu tak ada habisnya. Dan Bharat masih tak tahu mereka muncul dari mana.
Tentakel yang Bharat potong masuk ketanah dan menjadi tentakel baru yang akan menyerangnya.
Bharat menghindar, ia melompat dari sabetan tentakel yang ingin memecutnya. Ia dangat sebal sekarang. Lendir menjijikan ada dimana-mana.
Kaktus mini itu masih menatapnya. Bharat yakin kaktus itu yang mengendalikan ini semua. Bharat dengan melawan serangan tentakel tumbuhan itu, ia mulai mendekat.
Bentuk kaktus mini itu seperti katak. Bharat teringat serbuk yang Agrabella beri. Bharat mengeluarkan serbuk itu.
Dan menuangkan ketangan dan ia sembur ke kaktus mini. Bharat mendapatkan pengelihatan sekelibat, cara mengatasi monster kaktus katak ini,
Ada satu tentakel menjerat pinggangnya. Dengan cepat ia memotong dan melempar bola api pada tentakel itu.
Dan tentakel itu mengelepar hangus dan mati.
Bharat terus menyabet tanpa henti dan membakarnya. Ia mulai muak. Dan tangannya keatas ia memutuskan memanggil pedang kristalnya.
"Berikan kekuatanmu padaku! Aku memanggilmu! INCAZILDRAAK!" Teriaknya.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Gemuruh besar terdengar diruangan itu, kilat terang membutakan tercipta sekilas.
Pedang itu ada ditangannya. Rambut Bharat seketika berubah memutih dengan bola mata yang mengkristal merah. Ia memainkan pedangnya dengan sangat luwes.
Bharat melayang, dengan mudah sekali sabet tentakel tumbuhan berlendir itu hangus terbakar.
"KRYAAAHH" teriakan nyaring Kaktaka, Monster kaktus itu. Tanah terguncang, Bharat membuat si kaktus mengamuk.
KRAK!
KRAK!
KRAK!
Bruk! Bruk! Zluur ...
__ADS_1
Pot-pot besar penyanggah dibawahnya retak, dan luruh kebawah memperlihatkan bentukan sebenarnya dari monster kaktus itu.
Sekarang kaktus mini itu tampak layaknya bongkahan perut manusia obesitas. Dengan banyak tentakel melayang siap menyerang Bharat. Bertumpuk dan mengelikan.
"RARGH!"
Kaktus itu menyerang dengan menembak duri-duri tajamnya. Tentu Ia dilindungi dengan baik oleh Incazildraak.
Pedang itu menangkis ratusan ribu duri dari monster itu.
Kaktaka tak terima, dengan mudahnya Bharat membumi hanguskan tentakel miliknya.
Bharat telah mengetahui dimana kelemahannya. Dan tanpa banyak lagi aksi, Bharat melemparkan Incazildraak pada tengah tubuh kaktus itu dan membuat retak pot mini berbentuk guci yang berada didalam tubuh kaktus itu.
"HRAAAAGH ... " teriak memilukan, dan membuat Kaktaka meleleh. Serbuk dalam pot didalam tubuhnya yang membuatnya meleleh.
Bharat berdiri didepan lelehan Kaktaka dan meraih pot mini yang retak tadi.
Zlink!
Dari pot mini itu terpancar kilatan dan retakannya lenyap. Lalu berubah menjadi pot kristal dan menghilang.
"Selamat kau berhasil lagi!" Suara Haiyla, Menghilangnya Pot mini itu juga, membuat Bharat kembali pada wujudnya.
Nafasnya masih terengah. Energinya sangat terkuras. Perubahannya memang mengambil banyak energi oleh sebab itu Agrabella memberikan ramuan diawal mereka bertemu.
Setidaknya Bharat masih bisa berjalan keluar dari rumah kaca. Agrabella menghampirinya dengan botol minuman ditangannya.
Tak berapa lama, Bharat mendapatkan ketenangannya.
"Aku butuh ini, agar tetap waras!" Sarkasnya. "Nanti, akan ku memberikan padamu" balas Agrabella.
"Selamat Ratu" Agrabella menunduk hormat didepannya. Sebenarnya Bharat masih agak tak enak jika diperlakukan seperti ini,
"Tak usah merasa tak enak! Ini takdirmu, kau nikmati saja" suara Haiyla kembali terdengar.
"Akan aku antar ketempat selanjutnya" Agrabella mulai berjalan mendahuluinnya.
"Tahap selanjutnya"
"Tidak kau harus kembali ke Arctos" Haiyla menanggapi tebakkan percaya diri Bharat dengan kekehan lirih.
"Karena level selanjutnya kau harus berlatih lebih lagi kau tak bisa hanya mengandalkan kekuatan Incazildraak"
"Baiklah" Bharat menapaki jalan berbeda. Hanya telihat padang luas dannjalan setapak.
Dan Bharat berjalan pelan, Agrabella tak terlihat. Tapi Bharat tahu kemana wanita tua itu melangkah. Karena saat ia mendongak ia melihat wanita tua kerdil itu menunggunya.
Ia melebarkan matanya pada pemandangan yang ia lihat. Ia melihat pohon-pohon dengan tanah yang ditumbuhi rumput dan akar menancap pada tanah, mengambang satu-satu.
Dihubungkah hanya dengan jembatan tanpa pegangang, jembatan kayu yang agak keropos beberapa, juga ada ada beberapa lembaran pijakan yang hilang.
__ADS_1
Langit jingga menghiasi sekeliling dengan awan-awan yang seperti kabut menutupi dataran melayang itu.
Ada lentera yang tersambung pada ranting pohon yang melengkung, juga dihiasi tumput rambat, sebagai penerangnya.
Wanita tua itu tersenyum saat Bharat mendekat. "Setelah kau melewati lentera ini kau akan kembali ke tempatmu" Bharat mengangguk.
"Kau ke arah batu besar yang menyala dengan kilauan yang kuat itu, Portal Angel akan membawamu kembali ke Desa Arctos" ucap Agrabella
"Senang bisa bertemu denganmu Ratu pelindung" lanjutnya, saat Bharat melewati wanita tua itu.
"Sampai jumpa lagi Agrabella" Bharat hanya melambai singkat dan melanjutkan perjalanannya.
Hanya lelah mengelayuti tanpa ragu. Bharat melangkah dengan pasti melewati jembatan itu. Walau kelihatan rapuh namun jembatan ini sangat kokoh.
Ia telah sampai pada dataran dengan batu berkilau, batu kristal bernama Portal Angel.
ZLAB!
Kilatan terjadi di ayunan langkahnya. Ia sudah berdiri dengan Simon berada didepannya juga dengan beberapa orang dibelakangnya. Portal
"Selamat Ratu Putih" Simon menunduk hormat. Diikuti dengan yang lain.
Bharat tak menyangka mendapat sambutan itu. Ia tersenyum.
"Mari, kami telah menyiapkan tempat istirahat anda, Ratu" formal Simon. Ia tak bisa lagi bersikap biasa.
Mendengar kabar yang diperolehnya dari selentingan yang dibawa oleh burung gagak yang ia tugaskan memantau keadaan di tempat kediaman Haiyla Moon Goddess.
Bharat bisa dengan mudah nengalahkan Vatra dan dalam sekali misi bisa menyelesaikan dua tahapan.
Sungguh luar biasa, Simon tak salah, dan ia ikut merasa bangga juga hormat. Roxane yang juga mendengar kabar itu, menjadi lebih bisa menerima.
Sebab sama seperti Ricky ia pun tak begitu percaya dengan Bharat. Dan saat ini semua rasa ketidak percayaan itu luntur.
"Wina" Roxane melihat Wina yang berdiri di depan mereka. Dahinya mengkerut, heran.
"Roxane, aku rindu kalian" Wina menghambur ke pelukan Roxane.
"Kau datang dengan Potka?" Tanya wanita paruh baya itu. Ia melepaskan pekukan Wina.
"Tidak aku kesini sendiri, kangen dengan tempat ini, dan aku baru tahu tempat kalian hanya sebuah pos saja, Linka mengajakku kesini," Wina melirik Bharat yang diam.
"Selamat Ratu" Wina menundukan kepalanya hormat.
"Maafkan kelancangan saya yang lalu, Ratu" masih menunduk, Wina berbasa-basi.
"Tak apa, aku juga saat itu belum bisa mengendalikan kekauatanku" Bharat berkata kemudian.
"Ayo Ratu, anda harus beristirahat" Simon mengiring Bharat, meninggalkan Wina.
Tak ada yang menyadari Wina mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ada perasaan tak terima, murka dan kemarahan disana.
__ADS_1
Tbc.