DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Wina Bronya Si Psikopat Cantik


__ADS_3

"Sayang ini apa?" Wina menatap Bred dengan kemeja sang suami di tangannya. Dimana noda lipstik itu menempel. Dan bukan miliknya.


"Apa?" Jawab Bred tak acuh.


"Ini punya siapa? Ada di bahumu?" Wina memperlihatkan kedekat Bred.


Lora, kepala pembantu, iya mereka keluarga terpandang. Lewat di depan kamar mereka.


"Lora" panggil Bred. Ia menarik kemejanya lalu menyerahkan Lora, Wanita tua itu menerimanya setelah mengangguk.


"Buang ini" kemudian Lora pergi meninggalkan kamar.


Wina duduk lemas diranjang. Ia sudah lelah. Lelah dengan semua nya.


"Aku berangkat" Bred mengecup dahi Wina tanpa penjelasan apapun lalu meninggalkannya kerja.


Wina menatap punggung suaminya nanar. Ia mengambil ponsel dan mengikutinya. Kemana sang suami pergi.


Wina berlari keluar meraih kunci mobilnya. Lalu menyusul.


Wina menyalip beberapa mobil agar tak kehilangan jejak sang suami. Mobil suaminya masuk ke komplek perumahan.


Siapa?


Wina mengikuti sang suami. Mobil sang suami berhenti di sebuah rumah mungil.


Seorang wanita menyambutnya. Wina tak tinggal diam ia memotret semuanya.


Tangannya bergetar hebat. Anne. Mantan pacar, suaminya.


Air matannya menetes. Dengan segera ia menelpon seseorang.


"Hai Greg" Wina menyapa.


"Bisa  ke tempatmu" Air matanya masih mengalir deras. Sudah dua jam Wina berada ditempatnya dan menatap tajam kearah rumah itu.


*


*


*


"Wina dimana? Kau tak lupa ingin kemarikan?" pekik suara di seberang sana.


"Ah aku ada di suatu tempat sekarang, maaf" Wina segera mematikan ponselnya. Karena ia merasa terganggu.


Orang di seberang telpon tak lagi bisa diam. Mendengar suara Wina yang dingin.


Membuat Greg bergidik ngeri. Juga tanda tak bagus.


Untung ia meletakkan pelacak, bukan hanya, pada ponsel Wina tapi juga pada cat kukunya. Alat pelacak yang ia dapat dari kenalannya, Cameroon Aldy.


Kenalan juga pasiennya. Atau dia pasien Camy. Karena alat ini muncul karena buah dari curhat Greg pada Camy.


Greg adalah seorang psikolog, menangani beberapa pasien dengan tingkat kewajaran abnormal. Sengaja. limpahan dari Dokter Thomas, dokter yang membimbingnya, telah pensiun dan ingin menikmati masa tua bersama istrinya.

__ADS_1


Ia sangat takut jika pasiennya yang berbahaya ini melakukan apa yang tidak-tidak, sesuatu yang telah pasiennya tekan hingga kini. Hasrat menghilangkan jiwa seseorang.


Entahlah Greg juga tak mengerti. Kenapa kerahasiaan pasiennya dia umbar pada Camy, mungkin ia terlalu was-was. Pasiennya ini adalah sepupunya sendiri. Juga orang yang dia cintai. Wina.


Greg melacak nya. Titiknya membawa Greg ke sebuah gudang lama.


Tapi sayang ia terlambat. Ia melihat sesosok wanita terkulai tak bernyawa. Sangat mengerikan. Dengan gunting rumput menancap pada dadanya. Greg meremas rambutnya frustasi.


Ia menghentakan kakinya kesal dan meninju-ninju udara.


*


*


*


Wina sedang berendam dengan wine di tangannya. Berendam dengan taburan kelopak bunga mawar.


Wina bersenandung, berdiri, mengambil handuknya dan melilitkannya pada tubuh dan rambutnya kemudian ia berdansa. Menikmati musik klasik yang sengaja ia setel kencang, memenuhi kamarnya.


Dengan memakai baju haramnya. Menunggu dengan seksi kepulangan Bred. Dan ya mereka menghabiskan malam yang gerah dengan makin membara.


*


*


*


Mata nya menyipit. Mencoba beradaptasi dengan cahaya di sekelilingnya.


"Sudah bangun suamiku?" Sapa Wina yang duduk tenang di sampingnya.


"Hah! Apa? Kamu berkata apa sayang? Suaramu tak jelas!" Tawa Wina melengking, tepat ditelinga suami nya.


Bred sedang digantung dengan kepala dibawah, kaki diatas,  Mulutnya disumpal. Ia hanya bisa menggerakkan sedikit tubuhnya.


apa yang sebenarnya sedang terjadi ini? kenapa istrinya menggantungnya? Bukannya kemarin ia dan istrinya menghabiskan malam yang luar biasa? Banyak kebingungan yang Bred rasakan. Juga pening yang sedari ia terbangun menderannya.


"Hmmmm... hmmm" geraman tertahan. Wina melempar sebuah kuping yang sudah terpotong dengan berlumuran darah didepan mata Bred.


"Kau kenal itu, itu anting yang aku ingin kan tapi sayang keduluan dia" Mata Bred fokus pada sesuatu yang membuatnya mual. tercium anyir darah.


"Aku bahkan sudah memberitahukan, yakan sayang" Bred tak fokus. ia sedikit menggerakan kepalanya. Bred tahu anting itu. Sangat tahu. ia menatap mata sang istri. Kosong dan dingin. apa istrinya tahu?


"Ya Bred aku tahu semuanya, aku telah mengalihkan semua asetmu juga, terima kasih suami" Senyum miring yang selama ini membuat Bred jatuh cinta pada istrinya tampak mengerikan.


"Tak apa sekarang ini milikku." Wina meraih kuping dan melepaskan anting itu. Lalu memasangkannya pada kuping nya sendiri.


Wina mengangkat sebilah pisau yang ia ambil dari dapurnya. Bukan pisau sembarangan. Pisau Sushi milik Bred. Pisau mungil dengan kilau tajam yang tampak tajam dan mema tikan.


"Ah aku bosan" kemudian Wina menggores dalam leher Bred. Mengucurlah darahnya dengan deras. Wina tertawa keras. Melihat tubuh Bred mulai kejang.


Wina menikmati pemandangan Bred meng gelepar itu.


Klang!

__ADS_1


"Aaaaaaaargh...."


Wina mudur melihat Bred yang meregang nyawa.


"Aaaaaaaargh.... tidak...."


Wina menjambak rambut nya. Terus menggeleng kencang.


"Bukan aku... bukan aku..." Wina merancu.


Wina terus menggeleng kepala.


"WIN! WINA!" teriakkan memanggil dari luar gedung tak Wina hiraukan.


"WINAAA!" Suara Greg. memanggilnya tak Wina dengar.


Ia duduk dengan merangkul lututnya. Terus meracau. "Bukan aku... bukan aku...."


"Sial!" Pekik Greg yang melihat Bred mati kehabisan darah itu.


"Win?" Camy mendekat pada Wina, ia menggerakan tangannya didepan wajah Wina. Tanpa kata dengan wajah datar. Camy menancapkan suntikan pada paha Wina.


"Apa yang kau suntikkan Cam?" Greg menarik lengan Camy kasar.


"Obat penenang, angkat dia, aku urus ini" Greg mengangguk patuh. Ia tak tahu apa yang dilakukan Camy. Ia juga yang membereskan korban wanita Wina.


"Super gila dan sadis" Camy beracak pinggang didepan tubuh Bred yang tak bernyawa.


Dan menaburkan serbuk putih dan lama-lama kulit Bred melepuh, berbusa dan sedikit-sedikit menghilang seperti gelembung sabun.


Tak perlu banyak waktu, lima menit, tubuh yang tergeletak itu hanya tersisa cairan basah saja, tak berbau. Besok pasti menghilang. Camy memasukan obatnya dengan hati-hati.


*


*


*


Greg membawa Wina ke DarkHole Lab milik Camy.


Jo dengan senang hati menyambut Wina, setidaknya lab ini tak akan sepi juga dingin. Sudah cukup lah ia berteman dengan benda mati ini. Bahkan Camy yang hidup di sekitarnya seperti benda mati untuknya.


Camy secara khusus membuatkan obat untuk Wina. Obat untuk menekan keinginannya menghabisi manusia lain.


Ya obat itu ampuh, bahkan Wina sekarang bekerja di DarkHole dan hidup dengan normal. Ia cukup jenius. Jo pasti akan berteriak. jika ada yang mengatakan kejeniusan Wina dengan kata 'cukup'.


"Cukup?" sarkasnya.


"Kau itu bukan cukup! Tapi luar biasa jenius Winny juga, super gila, yah balance lah"  Ya Wina dipanggil dengan Winny. Dan Wina suka dengan panggilan itu.


Wina lupa dengan segalanya. Bahkan pernikahannya. Ia seperti terlahir kembali. Dan memorinya tentang masa lalunya pun hilang. Hanya ada Camy, Jo dan DH Lab.


Bahkan Greg rela dilupakan oleh Wina. Syarat agar Camy mau menerima Wina di DarkHole Lab.


Maka kami perkenalkan Wina Bronya, si psikopat cantik juga programer jenius. salah satu anggota DarkHole Lab.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2