
Sedangkan Marzon dihadang sang adik Braxton. "Lama tak jumpa kakak?" Ucap Braxton.
Marzon tak menyangka adiknya berada dihadapannya saat ini.
Marzon melirik tempat Camy dan yang lainnya. Ia mengayunkan kakinya menjauh. Namun Braxton jalan mendekat. Lalu mendorong tubuh sang kakak keras.
"Ayolah kak, kita tak pernah bertemu, apa karena kau sudah menjadi Raja. Kau sombong dengan saudaramu" Marzon tampak tak mengindahkan provokasi Braxton.
Ia melangkah namun tangan Braxton melingkar ke bahu Marzon lalu melemparkan tubuh besar itu dengan gerakan gesit.
Tak berapa lama Marzon sudah berada di lantai, terkapar. Ia mendudukan diri, menggelengkan kepala. Menghilangkan nyeri kepalanya.
Jika sudah menyerang. Berarti ia bisa membalaskan? Ya!
Suara dalam kepalanya menjawab tegas. Marzon beranjak lalu menyerang perut Braxton. Meluncurkan tinjuannya bertubi.
"Hurgh!"
Braxton mundur dengan menunduk, berdecih memuntahkan darah segar. Lalu terpingkal. Marzon kembali melihat orang di depannya itu. Ia kembali melangkah akan meninggalkan Braxton. Karena ada yang lebih penting daripada meladeni Braxton.
Kristal Abadi. Ia merasakan adanya bahaya.
Braxton yang tahu Marzon gak menanggapinya serius, Murka. Ia mengayunkan senjata ditangannya. Sebuah senjata api melesat pada Marzon.
Dan menembus bahu Lycan hitam itu.
"HARGH!" Jeritnya menyayat.
Kucuran darah segar membanjiri bulunya. Nafasnya kasar, Marzon memicingkan matanya pada Braxton dan mulai menyerangnya. Ia tak lagi memikirkan siapa Braxton.
Matanya berkilat tajam, ia harus segera menyelesaikan urusan dengan adiknya.
"Apa maumu? Bukannya kau berhasil membuatku menjadi monster? Jadi apa lagi urusanmu!" Braxton terkekeh.
"Keinginanku? Aku ingin kau menurut, bisa?"
"Kau terlalu meminta banyak, manusia!" Ucap Marzon ia sudah tak sabar namun masih bersabar.
"Manusia? Jadi kau sudah menerima takdirmu menjadi Monsters?" Ejekan terdengar dari Braxton.
"Ini sangat tak penting" Maki Marzon. Benar, semua yang menjadi.urusan pribadinya sudah gak penting. Semenjak ia penobatan menjadi Raja bawah, yang menjadi kepentingannya saat ini menyelamatkan Kristal Abadi.
"Benar-benar tak penting" Marzon telah mencekik leher Braxton, hingga pria itu melayang diudara. Kakinya tak menapak.
Marzon menatap tajam. Braxton menatap kedua mata Marzon, entah mengapa ketakutan menyelubungi Braxton.
"Hhrg … hhgf … "
__ADS_1
Ia memberontak dari cekikan Marzon, ia mencari udara, wajahnya memerah. "Jangan menggangguku, paham" bisik Marzon.
Ia mendorong, tubuh Braxton terlempar, jatuh terpelanting. Ia meringkuk untuk mendapatkan udara juga rasa perih di lehernya.
Braxton melirik, dan tanpa bicara ia bengkit lalu menyerang Marzon yang sudah melangkah menjauh.
Ia tak bisa dikalahkan. Tidak. Apalagi kalah dari Marzon lebih baik ia mati. Pikirnya.
"Hyak!"
Trank! Trank! Trank!
Ya tentu saja Marzon bisa lebih peka atas serangan. Ia seorang raja dunia bawah. Menghabisi Braxton masalah kecil.
"Tak ada waktu!" Bisikan dikepala Marzon. Ia mengambil pedang yang menancap di salah satu tubuh prajurit yang tewas, Dengan cepat ia menarik tubuh Braxton menghunuskan pedangnya pada kepala Braxton.
Braxton seketika tewas, ia duduk bersimpuh menunduk dengan pedang menembus kepalanya di atas genangan darahnya.
*
*
*
Willow yang mengikuti Marky, melihat Marky mengikuti Camy juga Bharat dan satu lelaki dengan kepala macan hitam yang dipapah.
Marky menyerang mereka, Camy bersembunyi.
Willow tetap mengikuti kedua orang itu. Dan membiarkan Camy, ia akan mengambil Kristal yang digadang-gadang memiliki kekuatan besar. Dan pasti Bharat memilikinya.
Camy menyiapkan senjatanya, dan memberondong dengan tembakan laser.
"Ark!"
BRUK!
Camy terjatuh. Ia diserang dengan satu robot entah darimana datangnya. Ia tersuruk. Robot itu dengan cepat mengikat kedua tangan Camy dibelakang "Kau bocah harusnya sudah aku habisi bersama orang tuamu!"
Marky mendekat dengan menodongkan moncong senjata pada kepala Camy. Robot itu mengunci tubuh Camy. Wanita itu bersimpuh di depan Marky.
"Camy camy seberapa kuat dirimu, kau hanya anak bawang!"
"Aku sangat senang saat ayahmu menghibah dikakiku, sekarang kau pun begitu" Mata Camy melirik bengis.
Dan itu membuat Marky senang. Ia tertawa keras. Tawa mengejek. Sudut bibirnya naik sedikit. Ia mendekatkan wajahnya pada Camy.
"Apa kau tahu saat ayahmu menghibah? Aku menendangnya kepalanya. Namun ia merangkak dan aku menyuruhnya mencium sepatuku, Dan ia melakukannya Hahahaha … " Camy mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Melihat wajah pias ibumu, aku sangat senang, melihat kedua org tuamu itu menderita." Lanjutnya, Marky mendongak kan wajah Camy, menjepit dagunya.
"Aku beri kau satu rahasia, Mereka tidak mati saat itu! Dan aku baru tahu, bereksperimen dengan tubuh manusia sangat menyenangkan" Pria itu menghempaskan dagu Camy yang seperti tertampar.
"Mereka sungguh bahagia sekarang" Marky sudah bersiap mendekatkan moncong senjatanya pada kepala Camy.
Wajah Camy pias dan matanya membesar. Apa orang tuanya masih hidup? Ia tak lagi fokus pada yang Marky lakukan. Pikirannya penuh.
TRANK!
PRAK!
Senjata Marky jatuh menjauh. Belati menancap di tanah. Robot yang tadinya menawan Camy. Berjalan ke orang yang melempar belati disana ada Lycan hitam siap menyerang mereka. Marky berdecih dan segera melarikan diri. Lebih baik ia mengejar Bharat dan manusia macan hitam itu.
Marzon melawan robot toples yang bisa perkirakan buatan terbaru. Kemampuan bertarungnya hebat.
Layaknya manusia yang memiliki akal. Robot itu sangat gesit dalam bersembunyi. Dari balik pepohonan. Yang tiba-tiba menyerang dari belakangnya.
Marzon menangkis, percikan api memancar dari lengan robot yang terputus. Namun robot itu masih bisa menyerangnya. Mencekik kuat dengan kakinya.
Marzon memutar tubuhnya, cengkraman robot itu sangat kuat. Ia berlari dan menabrakkan tubuh robot itu pada batang pohon.
KRAK!
Terdengar patah. Kaki yang mencekiknya, melonggar. Kembali Marzon melempar tubuh robot yang ada di rengkuhannya. Ia mendapatkan kepala robot. Dan dengan senyuman ia memutar dan menarik keras.
"HYARG!"
TRAK! KRAK!
Percikan api keluar dari leher si robot.
BRUK
Tubuh robot menjadi rongsokan tak berguna dengan percikan api.
DOOM
Robot itu meledak. Marzon terpental. Ia bangkit perlahan. Untung saja perkelahian mereka jauh dari Camy yang masih bersimpuh dengan tatapan kosongnya.
"Cam? Kau tak apa?" Marzon tak mendapatkan respon dari wanita itu. "Camy!" Panggilnya. Ia menggoyangkan bahu wanita itu yang langsung terkulai.
Camy ambruk dan tak sadarkan diri. "Cam!" Marzon memeriksa nadi tangan juga leher Camy dan ia pingsan.
Marzon mengangkat Camy dan meletakkan di punggung pria itu mengait kedua tangan Camy pada lehernya. Dan mulai kembali mengejar Marky yang pasti mengejar Bharat.
Tbc.
__ADS_1