
Alamira membuka pintunya dengan kekuatan sihir yang ia miliki. Menggambar pentagram didepan handle pintunya.
Klik
Pintunya terbuka, ia menahan pintu untuk Braxton dan Willow. Braxton berjalan masuk dan Willow menahan diri untuk melihat rumah pohon yang tampak sangat nyaman bila dibanding dengan yang sebelumnya.
"Kau sengaja?" Alis mata Alamira naik, menjawab kecurigaan Willow.
"Siapa yang mau menghancurkan rumahnya bukan?" Jawabnya setelah Willow melewatinya,
Alamira membuat segel dengan sihir dan juga membuat barier untuk menjaga kediamannya.
"Kamar kalian dilantai dua, disana ada duankamar pilihlah sendiri" Braxron yang lelah melanjutkan langkahnya ke lantai dua begitupun Willow setelah ia berkeliling mwngamati rumah pohon yang tampak berbeda jika dilihat dari luar.
Alamira beranjak kedapur. Dengan menarikan tangannya diudara juga merapal mantra, dengan sendirinya berbagai bahan dan alat masak melayang diudara.
Dengan sinar gemerlap dati sihir Alamira. Benda-benda itu bergerak sendiri. Seperti pisau yang sedang bergerak memotong jeruk, atau panci yang melayang dan turun diatas kompor. Atau borol wine yang membuka dirinya lalu melayang dan menumpahkan isinya pada panci.
Alamira memasak dengan menggunakan sihir. Dirasa sudah bisa ditinggal, Alamira melangkah ke kamarnya.
Tubuhnya lengket, hari yang melelahkan. Ia ingin mandi, maka dan tidur.
Ia menyalakan pancuran airnya, merasakan air hangat yang mengucur membasahi tubuhnya. Sangat menyegarkan.
Beberapa saat ia keluar dengan handuk dikepala, alamira telah berpakaian. Malam didaerah ini akan sangat dingin tapi ia telah mengatur temperatur melalui barier yang ia ciptakan.
Alamira keluar kamarnya, ia naik kelantai dua, mengetuk dua pintu disana, "Makan malam"
__ADS_1
Dari dalam terdengar suara Alamira, Braxton sudah siap, Willow juga, mereka turun dan menuju ruang makan.
Alamira melihat makanan hangat tersaji disana, juga dengan secangkir minuman dengan asap mengepul.
"Mari, silahkan dinikmati" Alamira menarik kursinya, Braxton dan Willow mengambil posisi masing-masing.
Hanya terdengar dentingan alat makan tanpa adanya obrolan diantara mereka. Satu kata lelah, sebenarnya masakan yang mereka makan sangat lezat namun tubuh mereka berteriak ingin istirahat.
"Istirahatlah, pagi-pagi besok kita melanjutkan perjalanan, selamat malam" sebelum mereka menuju kamar masing-masing.
*
*
*
Portal yang ia tujuh terbuka hanya di waktu penghujung terang. Naik diatas bukit. Mereka menemukan sebuah batu besar. Berbentuk bundar tak sempurna dengan bagian tengah yang berlubang.
Alamira menggambar kunci yang ia terima saat bertemu Agrabella ia tumpuk dengan pentagram yang lain.
Zlink!
Kilatan sinar terang muncul sesaat lalu terbukalah portal dimensi.
"Kalian duluan. Tak apa, cepat! Cepat!" Alamira. Mendorong tubuh Willow juga Braxton.
Agak ragu tapi Willow akhirnya mau masuk dalam Portal itu.
__ADS_1
Alamira ikut masuk kedalam. Dan cahaya tajam menyorot wajah Alamira. Ia menghalau cahaya itu.
Willow pelakunya, "Dimana kita?" Willow menyorot senternya kearah lain. Mengamati. Ia menginjak genangan air. Suasana gelap.
"Ini tujuan kalian. Phoenix Way, aku dengar akan diadakan penobatan Raja dunia bawah dan Ratu pelindung"
"Dan akan ramai, akan banyak festival, dan pasti banyak orang, kalian bisa berbaur dan mempelajari tempat ini"
"Dan kita akan bertemu dengan tetuaku, kalian ingin keluar masuk dengan bebaskan? Tetuaku orang yang bisa menolong kalian" Alamira menjelaskan.
Ia bisa melihat senyuman puas dari bibir Braxton, ia memang tak sia-sia membayar mahal, yang entah wanita didepannya ini minta nantinya.
Suara langkah mereka menggema, juga ceplakan kaki mereka digenangan air.
Mereka disambut oleh satu sosok dengan gerobak kuda.
"Selamat datang Nona Alamira" sosok manusia dengan kepala burung dengan armour menunduk, memberi hormat pada nya.
"Terima kasih Salim, ketempat Tetua." Alamira naik ke atas gerobak dan duduk menyamping.
Salim melirik pada kedua 'tamu' yang Alamira bawa. Ia tahu tugas Alamira, tapi tugasnya adalah memastikan 'tamu' yang Alamira bawa tidak berulah.
Salim hanya mengangguk dan memacu kudanya. Mereka memasuki hutan lebat. Dalam diam. Willow dan Braxton hanya meunduk tak bisa memperlihatkan wajahnya. Pesan Alamira.
Gerobak kuda mereka menurunkan kecepatannya. Terdengar aliran air yang deras. Willow mendongak dan membuka tudung mantelnya.
Sebuah bagunan besar dengannair terjun dikanan kirinya. Bagunan dengan desain menakjubkan. Layaknya istana dalam buku dongengnya.
__ADS_1
Tbc.