
Willow menghindari Troto. Setelah kejadian di bukit Falldown. Troto kembali juga ke tempat tinggal Willow, ia tidur pada kamar yang berbeda.
Paginya, Willow mengacuhkannya, ia tak suka tapi Troto hanya bisa pasrah. Ia yang memberi Willow waktu untuk memikirkan keputusannya.
Hingga saat ini Willow tetap menghindarinya, mereka telah kembali ke Giant Pipe. Disana Willow akan menyelesaikan pelatihannya.
"Will kau merasa tidak tetua Troto memandangi tempat kita?" Tanya Olugi,
Willow yang sibuk dengan makanannya. Menatap arah Troto dan benar lelaki itu memandang lurus ke arahnya.
"Perasaanmu saja! ia pasti menatap bangku dibelakang kita" Olugi melihat bangku belakang mereka.
Yang berisi kumpulan Shera dan Sonya. Bukan rahasia umum jika Shera mengejar Troto dan mereka telah bertunangan, begitulah gosip yang beredar.
"Ah pantas saja" ucap Olugi yang kembali memakan makanannya.
Willow melipat bibirnya. Dan menaikan pandangannya. Disana Troto masih menatapnya.
Ia belum memberi keputusannya. Ia masih dilema, tentang semuanya, banyak yang ingin ia ketahui, tapi ia tak tahu harus berbicara dengan siapa. Sedangkan ia malas jika harus bertemu Troto.
Ia kacau hari ini, ia dikalahkan dengan mudah oleh Shera. Yang membuat semua yang ada di arena latihan terkejut.
Willow berjalan menunduk dengan tangan mengelus tengkuknya. Ia pun bingung dengan dirinya. Ada apa sebenarnya. Bahkan Resta memarahinya. Ia mendapatkan libur tiga hari malah menjadi lemah.
DUK!
Willow menabrak seseorang. "Zale" gumannya yang ia menggelengkan kepalanya. "Maaf tuan, saya tidak sengaja"
Willow menunduk.
"Willow apa kabar?" Ucap Zale. Senyum miring terlihat di wajahnya.
"Anda mengenal saya?" Zale hanya mengangguk,
"Tadi kau menyebut namaku bukan?" Ucap Zale yang mendengar Willow menggumamkan namanya,
"Tapi saya tidak ingat jika mengenal anda" ucapnya ketus. Ia tak tahu apa maksud lelaki di depannya ini. Apa ini modus baru untuk berkenalan,
Tawa Zale menggelak.
"Aku tidak melakukan ini untuk berkenalan atau merayumu"
"Aku sudah mengenalmu maka aku memanggil namamu kan tadi?" Benar juga, lelaki ini memanggil dirinya dengan Willow bukan Will.
"Tapi maaf saya tak mengingatnya"
"Benar kita tak sedekat itu untuk saling mengingat." Ucap lelaki itu.
"Jadi aku akan memperkenalkan diriku, Zale."
"Zale?" Nama yang tadi muncul saat melihat lelaki di depannya ini.
"Kau dan Braxton yang mendatangi ku untuk masuk dalam dunia bawah ini." Troto menghilangkan ingatan Willow tentang semua yang berkaitan dengan dunia bawah.
Termasuk Zale yang lebih dulu mengenal Willow di nokturnal. Di bayangan Willow ada satu lelaki yang bekerja sama dengan mereka tapi ia susah ingat. Dan Willow tak peduli saat itu.
Ingatan itu seakan datang kembali, hanya potongannya saja. Ia bersama Braxton mencari seseorang untuk masuk kedunia bawah, ia tentu ingat dengan Alamira.
Lalu kelebatan yang membuatnya terdiam. Zale melambai di depan wajah Willow. "Will kau kenapa?"
Mata Willow mengerjap. "Zale? Kau peneliti ilegal yang membawa kami kemari. Kau mengkhianati Marky. Dan jadi buronan pasukan elitnya"
"Okay-okay cukup tak perlu kau jabarkan lagi aibku itu" tawa Willow tergelak. Ingatannya kembali. Walau hanya bagian itu saja, ia senang.
__ADS_1
"Troto benar-benar membuatku tak mengingat dunia bawah dan apa saja yang aku lakukan disini"
"Oh dia telah mengaku? Apa ia juga memberitahukan perasaannya padamu?"
Dari helaan nafas Willow yang kasar. Sepertinya Troto menjelaskan tentang apa yang terjadi tapi tidak berjalan lancar.
Willow menatap Zale lama. Berarti Zale tahu semau tentang dirinya dan Troto, juga pasti ia tahu seluruh kejadian yang hilang dari ingatannya.
"Kau tahu perasaan Troto padaku?" Zale diam. Ia ingin tahu apa yang Willow sedang risaukan.
"Dan jangan bilang kau juga yang memasukkanku ke Giant Pipe melalui Resta?" Senyuman miring terlihat dari bibir Zale.
"Siaal!" Umpat Willow.
"Jangan suka marah-marah, kau akan semakin terlihat tua, dahimu mengkerut itu!" Zale mengulurkan tangannya dan menyentuhkan jarinya pada kerutan di dahi Willow.
Sejak kehilangan ingatannya, Willow kembali kepada versinya yang seksi dengan bibir merahnya. Namun dengan pakaian yang tak terlalu terbuka.
Willow menepis tangan Zale yang menyentuhnya. "Karena kalian juga aku jadi semakin tua!" Ucapan ketusnya. Zale terkekeh.
"Kau salah bukan kalian, tapi hanya Troto, dia yang menghilangkan ingatanmu" disela tawanya renyahnya.
Mereka menjadi santapan mata penggosip. Karena tak jauh dari mereka berdiri. Adalah kantin, tempat gosip semakin menyebar.
Gerombolan Shera dan Sonya pun melihat Willow. Mereka semakin kasak kusuk melihat kelakuan Willow yang ia anggap murahan. Pertama mendekati Resta lalu ke Troto sekarang ke Zale.
"Benar-benar murahan, dia juga merangkak ke ranjang Zale rupanya." Ucap Sonya. Shera memandang Willow benci.
Troto telah memutuskan pertunangannya. Orang tuanya bahkan telah mengancam akan mempengaruhi para tetua yang lain agar menurunkan Troto dari jabatannya
"Ja l4ng!" Umpat Shera.
"Dia mengambil Troto dariku!" Sonya terkejut, Shera tak bercerita apapun tentang kandasnya hubungannya dengan Troto. Ia baru mendengarkannya.
Ia meraih rambut Willow dan menariknya.
"Ark!" Teriak Willow rasanya menyakitkan. Siapa yang berani menarik rambutnya.
"Dasar J4 lang! Kau merusak hubungan Shera dengan Troto! Murahan! Bi4dap"
"Sonya apa yang kau lakukan!" Zale ingin melerainya namun ia melihat tangan Willow untuk ia berhenti. Ini pertarungannya, ia tak bisa mengalahkan telak di Arena maka ini saatnya.
"Pel4zur siaalan! Mati saja kau! Bed3bah!" Amukanya. Willow meraih tangan Sonya yang menarik kencang rambutnya.
"Jika kau memutuskan satu helai saja rambutku aku akan memutuskan satu jari tanganmu" ancam Willow.
Tawa Sonya menggelak. Wanita Ja l4ng ini pikir ia siapa? Ia tak takut karena banyak orang yang memihaknya.
"Kau siapa hah! Hanya manusia bodoh! Kau bukan bangsa kami! Harusnya kau binasa manusia!" Amuknya.
"Aku tak main-main! Kau bukan lawanku!"
"Aku tidak takut dengan ancamanmu Jonny! Kau pikir bisa berbuat semaumu, Jonny!" Bisiknya, Sonya berhadapan dengan wajah Willow.
Tanpa babibu, Willow menghantamkan dahinya pada wajah Sonya. Ia tak sekalipun memberi kelonggaran Sony untuk menyerangnya balik.
Ini adalah semua kekesalannya selama ia menjadikan dirinya Jonny. Namun sekarang ia adalah ia. Dikeluarkan ataupun di penjara ia tak peduli, yang pasti ia akan tetap membinasakan siapapun yang mengusiknya.
"HARGH!" Pekiknya kencang. Sonya mundur dengan menutupi hidungnya. Ia melepaskan rambut Willow yang acak-acakan.
Willow mengambil helaian rambutnya yang terjatuh. Ia menghitungnya.
"Wah banyak juga yang putus, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, aku akan mematahkan tujuh jarimu!" Seringaian tercetak pada wajah Willow.
__ADS_1
"Kau kira kau siapa bisa mengancamku didepan banyak orang!"
"Kau mau tahu aku siapa? Aku Willow! Ingat namaku dengan jelas! Willow!" Willow menghantam tanpa ragu wajah Sonya yang sudah dipenuhi darah segar.
Ia meraih pakaian Sonya dan membanting tubuh wanita itu kencang dan cepat. Lalu dengan tampang datar menusukkan kuku tangan yang ia buat panjang pada sekeliling lehernya.
Mengangkat Sonya yang memberontak agar terlepas. Lalu kembali ia banting. Sonya beringsut, perlahan namun sebelum menjauh Willow mendekat. Ia menendang wajah wanita itu hingga Sonya terlentang.
Duk!
Brak!
Krak!
"Ark!" Willow menginjak jemari Sonya, wanita itu. Willow berjongkok. "Berapa yang patah?" Tanya lirih Willow.
"Bahkan temanmu meninggalkanmu!" Ucap Willow menyerang mental Sonya. "Sedari awal aku sudah memperingatimu KAU BUKAN LAWANKU!"
Tak ada yang membantu Sonya, mereka tak ingin terlibat begitupun dengan Shera yang malah meninggalkan dirinya yang babak belur dihajar Willow.
"Ada apa ini!" Suara pria paruh baya membelah lautan penonton.
"Sonya? Anakku! Bren gs3k! Apa yang kau lakukan dengan anakku!"
"Penjaga bawa dia ke penjara!" Perintah pria itu. Ia memangku Sonya yang tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Anakku! Penjaga! Cepat bawa dan beri hukuman seberat-beratnya!" Teriak pria itu seperti kesetanan.
Penjaga akan menangkap Willow tapi Zale memerintahkan untuk tidak membawa Willow.
"Kau harusnya yang memenjarakan anakmu itu pak tua!" Ucap Zale. Ia tak suka dengan Bandros, Ayah Sonya.
"Anakmu itu yang mencari masalah disini!" Apa yang dikatakan Zale benar adanya, Sonya yang lebih dulu menarik rambut Willow.
"B3debah sialaan kau! Dasar anak pembawa siaal!"
"Kau membela orang yang sama denganmu itu pembuat onar!"
"Penjaga bawa dia ke penjara!" Ucap Zale kemudian.
"Kau akhirnya melakukan tindakan yang benar!" Para penjaga mendekati Bandros dan Sonya. Ia menyeret lelaki itu bersamaan pria tua itu tidak terima ia yang digelandang penjaga.
"Kalian gila! Bukan aku! Dia! Dia ingin membunuh putriku!"
"Apa ini Zale? Kau tak.bisa menyeretku begini! Aku akan menghancurkan dirimu!" Teriaknya tak terima.
"Tuan Bandros yang terhormat, kau ditahan atas kasus penggelapan dan juga pencucian dana desa Guapo" suara Rakuta, ia pasukan elit Guapo.
"Tuan Bandros, aku kesini tidak hanya untuk bersenang-senang tapi menangkap komplotan yang ingin menjatuhkan Guapo dengan bekerjasama dengan musuh Guapo" Zale menyeringai didepan wajah Bandros yang meringis mengamuk!
"Dasar anak sialaan! Anak terkutuk!" Teriak Bandros yang digelandang oleh penjaga.
"Bawa juga dia!" Ucap Zale pada penjaga lainnya. Pada tubuh Sonya yang sudah tak sadarkan diri.
"Aku belum memutuskan bagian tubuhnya!" Tolak Willow saat Sonya akan dibawa oleh penjaga.
"Nanti kau bisa melanjutkan obsesimu itu nanti" Jawaban Zale membuat sekitar mereka bergidik ngeri.
Mendengarkan percakapan keduannya. Mereka tak akan berani membuat masalah dengan mereka. Dan dalam benak mereka bertanya siapa sebenarnya wanita itu?
Begitu juga para rekan setim Willow, mempertanyakan hal yang sama.
Tbc.
__ADS_1