
Wina merasakan keanehan pada dirinya, dan entah kapan menyadari sesuatu terjadi padanya. Ia menemukan bulu-bulu putih. Berserakan saat ia terbangun juga di kamar mandinya.
Ia mencoba mengecoh sekitarnya dengan melamun. Ia memantau tapi ia selalu mengantuk dan tertidur. Dan menemukan bulu-bulu itu saat terbangun.
Awalnya ia tak begitu peduli, dengan yang ia alami. Yang ada dipikirannya hanya Theo dan Jenny.
Theo yang telah meninggalkannya juga Jenny, ia ingin sekali membalas dendam. Namun pertemuannya dengan seorang pria, yang juga membawanya ke tempat ini, membuat matanya terbuka.
Kematian tidak bisa dihindari dan kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Apalagi saat kau dalam keadaan yang tidak menentu seperti saat ini yang bisa saja saat kau sedang asik menikmati segelas teh hangat, dan musuhmu menyerang dan perang besar terjadi.
Pemahaman orang baik, Wina menyebutnya. Entah mengapa walau pria itu lebih banyak yang berbicara, namun Wina merasa terkoneksi dengannya. Pria itu menyebut dirinya Potka.
Dan juga samar sebelum kesadarannya menghilang, ia melihat dua orang pria lain sibuk dikamarnya, terkadang ia juga melihat Potka sibuk didekat dirinya.
Wina semakin bergelut dengan pikirannya, makanan, ia harus menghindari makanannya.
Ia telah menghubungi Willow, tapi aksesnya diblokir. Ia masih bisa berjalan bebas kemanapun, namun ia merasa adanya pengawasan ketat.
Wina bukan seorang yang tak peka. Ia sangat peka juga jenius bahkan mendekati gila. Apa mereka mengira dirinya gila?
Ia sedang menyusuri koridor, selepas ia seharian keliling kota. Ia mengikuti perkataan Potka yang menyuruhnya keliling melihat indahnya perkotaan untuk mengurangi kadar isi kepalanya.
Ia mendapati sesuatu diluaran sana saat tak sengaja ia masuk kedalam sebuah hutan dengan pepohonan tinggi juga lebat. Entah mengapa tempat itu membuatnya nyaman. Sangat nyaman dan rindu?
Sangat aneh, dan lebih anehnya lagi saat ia melihat seekor kijang melompat didepannya. Suatu yang panas dalam dirinya menyeruak. Semakin lama nafasnya memburu.
Menatap tajam kearah kijang yang sibuk merumput. Ada kilatan memburu juga sudut bibirnya terangkat.
Rasa senang dan entah apa yang membuat adrenalinnya terpacu. Perlahan ia mendekati kijang itu. Dengan langkah berjingkat, agar kijang itu tidak berlari.
Kilat senang teepancar di wajahnya, ia melihat kijang itu bagai buruan yang empuk dan lezat. Wina menjilat bibirnya. Ia membayangkan kesegaran daging kijang didalam mulutnya. Perutnya kelaparan.
Krek!
Tak sengaja Wina menginjak ranting. Matanya bertatapan dengan kijang itu. Ia tersenyum miring. Kijang itu merasakan ancaman. Ia berlari menjauh.
Wina berdecih namun tidak melunturkan kesenangannya. Ia menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan. Melemaskan otot-ototnya sebelum ia mengejar kijang itu.
Wina berlari dengan kencang, tubuhnya sangat ringan. Tanpa sadar tujuannya mengejar kijang malah menghilang, ia terlalu senang karena gerakannya menjadi cepat.
__ADS_1
Ia menyusuri hutan, berlari, memanjat tebing, juga memasuki lembah-lembah curam dengan mudahnya. Wina tergelak keras.
Ia tak pernah sebebas itu. Ia sangat menyukainya. Ia terus memacu kecepatannya dengan senyum yang bertengger manis di wajahnya.
Entah sekarang ia berada dimana dari hutan itu. Gampang ia tinggal mencari lokasi kendaraannya berada dan kendaraan itu akan menjemput dirinya.
Wina terus menyusuri jalan setapak, yang indah, pasti ada yang merawatnya, pikir, Wina. Ia menemukan sebuah pondok kayu yang menarik untuk dimasuki itu.
Ia pun melangkah lebih cepat, rasa penasarannya tidak terkendali, memang akhir-akhir ini, ia tak bisa mengontrol emosinya. Wina merasa ada yang salah padanya. Sangat.
Ia menaiki tangga pondok dan berjalan menuju pintu, Wina mendorong pintu itu dan terbuka, ia memandangi seisi pondok, dinding yang berhiaskan coretan tribal, juga berbagai gantungan kepala moose bertengger didindingnya.
"Kau datang" suara mengagetkan Wina. Ia menengok kebelakang, dua orang pria, berpakaian santai, seperti bapak dan anak.
"Maaf, saya tersesat" bohong Wina. Ia memang lancang masuk diam-diam pada lahan milik orang lain, ia mengira pondok ini kosong, bodohnya dia, sedari awal melihat pekarangan yang tertata apik, pintu depan rumah terbuka, tidak mungkin kan kalau tidak ditinggali.
Pria tua itu tersenyum, ia memasuki ruangan sebelahnya, sedang kan pria yang lebih muda masih berada didepan pintu, seperti menghalangi Wina untuk melarikan diri.
Dengan langkah pelan Wina mengikuti pria tua itu. "Tidak ada yang tersesat bila sudah sampai disini" Timpal pria tua itu.
"Berkenalkan saya Simon Solomo, pemilik pondok ini" Simon ia duduk disalah satu kursi meja makannya. Wina memperhatikan. Ini seperti ruang makan masih dengan ornamen yang ramai dengan tribal-tribal menghiasi dinding.
"Silakan duduk" Wina menarik satu kursi dan mendudukkan dirinya, ia masih mengamati sekelilingnya.
Ada sebuah foto disana, foto wanita sangat cantik dengan senyuman bertengger manis diwajahnya, wajah eksoris dengan rambut gelombang panjang hitam, dengan mahkota bunga daisy dikepalanya.
"Kau sendiri?"
"Ya?!" Wina tak begitu mendengar apa yang pria tua itu katakan. Ia terlalu fokus pada memandang foto wanita itu.
"Kau terpisah dengan kelompokmu?" Pria itu sibuk memasak air. Ia mengambil dua buah cangkir dan meletakkan di meja makan.
"Ah ... tidak, aku sendiri."
"Banyak dari mereka selalu tersesat, namun tidak akan bisa masuk kesini" lirihnya,
"Sangat amat jarang ada yang tersesat hingga kemari, ini untuk peetama kalinya" lanjut Simon.
Wina masih mencerna kalimat Simon yang lirih tadi. "Tidak akan bisa ma---"
__ADS_1
TUUIIIIIIIIITTTT ...
Suara pemanas air memotong pertanyaan Wina.
"Teh?"
"One spoon sugar, please!" Simon segera memasukan satu sendok teh gula dalam cangkir Wina.
"Silahkan"
"Terima kasih" Wina menerima cangkir itu. Ia menyesap aroma buah berry dalam tehnya, sangat nikmat.
"Ini adalah berrtea, rasanya seperti jus berry sangat nikmat, dan ini favoritnya, Amarin, namanya" Simon menatap lembut pada foto itu, Kembali Wina ikut menatap foto lalu menatap Simon.
Kemudian ada kesedihan disana, Wina seperti familiar dengan ekspresi Simon. Itu adalah ekspresinya saat ia kehilangan Theo.
Simon menyesap tehnya, "Akhirnya aku bisa menikmati teh ini lagi"
"Ia sangat periang, juga energik, gadis ceria" Wina masih diam dengan cangkirnya yang mengepul mendengarkan semua kata yang pria itu keluarkan dari hatinya.
"Maaf kau harus mendengarkan curhatan pria tua ini, hari mulai gelap, kau bisa menginap disini, pondok ini memiliki beberapa kamar tamu" tawar Simon.
Wina merasa tidak enak ia berbohong pada pria tua ini. "Ah ... sebenarnya, aku tidak tersesat, Ah tapi aku tersesat juga ... " Wina tertawa canggung.
"Begini, aku tersesat dengan kendaraanku, tidak tahu ternyata kami sampai disini, tapi aku bisa memanggil kendaraanku kemari" Wina menekan tombol pada jam tangannya dan sepuluh menit kemudian bunyi deruman terdengar didepan pondok.
"Senang berkenalan denganmu Simon, kau juga Ricky" Wina pun masuk dalam kendaraannya, dan melaju untuk kembali ketempat Potka.
"Elder dia ... "
"Kau juga merasakannya kan Ricky" Ricky hanya mengangguk,
"Amarin, kau kembali" lirihnya.
Simon dan Ricky masih memandangi kendaraan Wina yang menjauh, Ricky dengan sepontan me-shift dirinya menjadi serigala dan masuk ke dalam hutan. Setelah ia mencium keberadaan serigala lain.
Simon juga merasakannya, namun jika ia bisa mencium bau serigala dalam tubuh Wina yang sama dengan Amarin. Dan ia tahu siapa yang akan menemuinya, Anak angkat pembangkangnya.
tbc.
__ADS_1