
Bharat melatih kemampuan untuk mengendalikan dirinya. Memunculkan pedang incazildraak sangat menguras tanaganya, bila ia masih dalam wujud biasa, berbeda jika ia menjadi sosok Ratu Putih, pedang itu seperti belati. Ringan.
Walaupun setelahnya, rasa lelah masih ia rasakan. Dan itulah mengapa ia harus giat berlatih, agar tubuhnya semakin terbiasa, juga ia yang akan pegang kendali, menjadi biasa maupun Ratu Putih dirinya tetap Bharat.
Selain incazildraak, ia juga memiliki senjata lain, guci mini yang ia dapatkan saat memusnakan monster Kaktaka, monster menjijikan percampuran katak dan kaktus.
Ia sudah membaca banyak buku ramuan, ia membaca buku ramuan yang dulu ia dapat dari Rowena dan hanya dengan merapal nama ramuan dan dalam sekejap guci mini itu mengeluarkan ramuan apapun yang Bharat minta.
Sungguh luar biasa, guci mini yang sangat berharga. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang ditempatnya. Bharat melirik kesamping kanannya.
Ia sudah bersiap dengan belati ditangannya. Dan tanda serangan dari belakangnya, Bharat menangkisnya dengan tepat waktu.
Belati beradu dengan belati milik Camy. Senyuman mereka terpasang di wajahnya. Kembali Camy menyerang Bharat. Mereka saling menyerang.
Bunyi belati yang saling bertemu seakan menjadi latar dari pertarungan mereka. Bharat menyerang Camy. Ia melompat kearah Camy. Dengan sekuat tenaga Camy menangkis dan menghunuskan belatinya.
PRAK!
Belati Camy terlepas dan jatuh jauh. Mereka pun terdiam dengan nafas yang tersenggal.
Mereka saling tatap dengan berlomba menarik udara keparu-paru mereka. Tak lama suara tawa pecah dari keduanya.
"Terima kasih Ratu mau berlatih dengan saya" Hormat Camy yang masih terkekeh. Begitupun dengan Bharat.
"Terima kasih banyak bersedia menjadi teman berlatih saya" Kembali Bharat ikut menundukkan kepala. Dan kembali tawa mereka pecah di tengah hutan rindang.
Tubuh merekanluruh ke tanah, mereka terlentang, rasanya melelahkan namun juga menyenangkan.
__ADS_1
"Sudah lama tak berlatih, tubuhku terasa kaku" celetuk Camy.
"Sudah berapa lama ya?"
"Rasanya sangat menyenangkan, otak langsung bersih dari masalah." Camy terus berbicara.
"Ada masalah dengan Walabi?" Bharat merasakan rekannya itu sedang tak baik-baik saja.
"Palm Strom dan mengarah ke Walabi, aku pikir ada campur tangan Nokturnal disana, kejadian setelah, mereka menolak kerja sama dengan Nokturnal"
"Penyusup dimana-mana, aku mencurigai satu orang, tapi bukti yang aku punya tak kuat, orang itu selicin belut" Camy meletakkan lengan tangannya menutupi matanya.
"Coba kau bawa Druw kesana, biarkan dia menyelesaikannya, kau tahu ini keahliannya"
"Benar aku sudah bercerita padanya, dan ya dia sangat antusias, tapi aku rasa, penyusup kali ini berbeda dari biasanya,"
"Kau benar, ia bahkan langsung ikut denganku hari itu, buat melihat si penyusup" tawa Bharat meledak. Druw memang seperti itu jika ia sudah tertarik maka jangan harap bisa lepas.
"Semoga semua berjalan lancar"
"Semoga tapi sepertinya tidak" Bharat masih tertawa, sebelum Camy pamit kembali ke Palm Strom.
Bharat melangkah ia kembali ke rumah Roxane. Ia menghentikan jalannya. "Puas menguping huh!"
Bharat menengokkan kepala ke arah kirinya, disana muncul Wina. Bharat melirik wanita itu.
"Jangan bangga! kau Ratu disini? Tapi banyak juga yang yak menganggapmu Ratu. Kasian sekali!" Cibir Wina.
__ADS_1
"Apa sebenarnya masalahmu?" Bharat mulai malas dengan cibiran bak anak kecil yang iri itu.
"Tak ada, aku hanya mengingatkan, kau Ratu yang tak dianggap disini" lagi cibiran keluar dari mulut Wina.
"Kau tahu harusnya aku marah padamu, kau mengkhianati tim, kau tahu! Kami menganggapmu saudara, keluarga namun yang kau berikan pada kami hanya luka"
"Tutup mulutmu! Omong kosong!" Potong Wina. Ia tak suka disalahkan. Ia juga masih menyimpan dendam pada Jenny yang menghabisi Theo.
"Kau lupa temanmu membunuh tunanganku!" Bentakan Wina pada Bharat.
"Dan kau lupa dengan Riby!" Bharat juga membalas dengan suara meninggi.
Jika mengingat itu masih ada rasa tak percaya. Hilangnya Riby membuat tim DarkHole menjadi suram.
Netra Bharat melebar menatap tepat di mata Wina. Mereka pernah dekat. Mereka pernah seperti saudara, mereka pernah seperti keluarga.
Rasanya menyesakkan, mengingat semua yang terjadi dibelakang. Rasanya ia ingin kembali, ke masa itu. Dan mengahindari peperangan.
Namun semua itu hanya angan yang tak akan pernah bisa Bharat ulang. Tangannya mengepal. Amarahnya membuncang. Ini tak boleh terjadi.
Bharat menjauh dan kembali melangkah ke rumah Roxane. Ia harus mengendalikan dirinya.
Tak ingin seperti yang terakhir saat Wina berhasil membuat amarahnya tak terkendali yang akhirnya tubuhnya diambil alih oleh Hecate Moon Goddess yang tak menyukai Bharat.
Ia meninggalkan Wina yang terdiam ditempatnya. Tangan Wina juga mengapal kuat, hingga buku jarinya memutih.
"Omong kosong apa yang sedang wanita itu katakan! Sialaan!" Wina menedang kasar batu kerikil hingga berantakan. Matanya masih menatap dimana Bharat menghilang.
__ADS_1
Tbc.