DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kekacauan


__ADS_3

Camy mendudukkan tubuhnya di taman tengah, dibawah pohon uang milik DarkHole. Udara sejuk tak juga membuatnya terlelap. Segala macam pikiran teraduk dalam kepalanya yang sering nyeri itu.


Hanya obat penenang dari Druw yang bisa membuatnya terlelap tapi sekarang obat itu tak berefek lagi padanya.


Druw selalu menolak jika ia meminta dosis lebih. Angin menghembuskan wangi makanan. Camy menengok ke sumber wangi sedap itu.


Didepannya Druw datang dengan semangkuk sup buatan Elle. "Kau melewatkan makan siangmu Cam!" Menyerahkan makanan itu pada Camy. Juga sebotol air. "Aku lupa"


Camy mulai menyuapkan sup itu. Mengisi perut kosongnya yang berbunyi karena wangi sedap sup ayam buatan Elle.


"Druw bisakah kau beri aku dosis lebih?" Camy menatap sup yang ia aduk-aduk.


"Kenapa? Kau tak tahan nyerinya?" Camy hanya diam dengan tangan yang terus mengaduk makanannya. Druw melihat itu. Lalu berucap.


"Sebenarnya Bharat mendapat sebuah ramuan dari tetuannya yang telah meninggal itu. Bukan ramuan tapi sebuah buku dengan banyak resep ramuan. Dan disalah satu lembarnya ia mendapatkan surat dari tetuannya. Kalau Bharat bisa menggunakan itu untuk menyembuhkan mu Camy, dan sekarang ia sedang sibuk dengan itu."


"Kenapa ia tak memberitahukanku, ini mungkin bisa menjebataniku dengan mimpi, tanpa merasa kepala ini akan pecah." Camy bergegas meletakkan mangkuknya, namun Druw menahan tangannya.


"Nanti! habiskan makananmu! Lagian Bharat sedang ke Wild ground, pasar gelap milik Nokturnal"


"Apa? Buat apa! Buat apa di---" pekikan Camy cemas.


"Hei tenang Cam! Pedro dan Nemon ikut dengannya, aku bahkan baru tahu mereka memiliki pasar gelap. Benar-benar aku terlalu meremehkan perusahaan itu. Dan bahan untuk ramuan sakit kepalamu hanya ada disana" Druw menjelaskan. Camy tak membantah.


"Habiskan makananmu, lalu minum ini, sekali ini saja" Druw memberikan kapsul bening dengan butiran kecil warna warni didalamnya. Senyuman Camy mengembang.


"Tapi aku tak tahu itu bisa membantumu apa tidak." Druw melihat Camy menandaskan supnya dan meminta obat yang ia masukan dalam tabung silinder kecil itu.


Diranjang, Camy tertidur dengan keringat sebesar-besar jagung jatuh dari dahinya.


Camy kembali bermimpi. Ia melihat beberapa orang tertelungkup di tanah taman tempat ia bermain dulu. Kakinya seperti terpaku.


"Aku tidak akan memberikannya pada kalian!" Teriakkan kencang membuat Camy menoleh pada sumber suara.


Ayahnya berlutut dengan banyak kumpulan orang mengelilinginya. Ayahnya memeluk tubuh seseorang dengan rambut panjang hitam. Wanita? apa itu ibunya?


Camy berusaha mendekat tapi kakinya tidak bisa ia gerakkan.


"Kalau begitu temukan anaknya!" Perintah keras seorang yang Camy tidak bisa ia lihat wajahnya. Orang itu menarik rambut ayahnya. Agar mendongak melihat kearah orang dengan wajah samarnya.


"Habisi dia!" Pria itu menjauh dengan menghempas kepala Ayahnya hingga Ayahnya tersungkur ditanah.


DOR!


Camy pun terbangun dengan terengah. Nafasnya putus-putus. Sulit bernafas. Seperti disekitarnya tak ada lagi pasokan oksigen untuknya.


Camy mencengkeram selimutnya dengan keras. Sakit kepalanya sangat menyakitkan. Obat yang diberi Druw tidak mempan lagi untuknya.


"Hhrrgghh..." geraman menyakitkan rasanya kepalanya ingin pecah. Ini lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Aaarghh" Camy mencoba meraih ponselnya. Dengan tangam gemetar, Ia memencet panggilan darurat. Dan terhubung dengan Druw.


"Cam? Kenapa?" Dari sebrang Druw menjawab.


"Help Dru---"


"Aaaaarghhhh...," Camy mencengkram kepalanya hingga kukunya menancap pada dahinya. Dan mengeluarkan darah. Kemudian ia terhempas di ranjang. pingsan.


"Cam bertahan Cam aku kesana"


"CAM KAU DENGAR AKU! CAMY! SIALL!" suara panik dari Druw.


Elle sedang mengerjakan pekerjaannya. Wina datang menyusulnya.


"Hai Win, kemana saja dua hari ini?" Wina memandang lurus dan datar, teman setimnya itu. Ia tak memjawab.


"Ada apa?" Merasa aneh pada temannya ini hanya memandang tanpa mengatakan apapun.


"Ah tidak, aku dikirim kemari membantumu, kau bersama siapa? Nemon? Pedro?" Wina masih terus menatap tajam Elle. Sedangkan Elle sudah sibuk dalam laporannya. "Troxz" jawabnya dengan meneliti beberapa temuan Sandos kala itu. Elle berada di Hide Dome, di terowongan itu.


Camy membangun beberapa bilik lab untuk membantu mereka tanpa harus ke DarkHole.


"Oh okey aku akan berkeliling sebentar


 melihat sekitar" Elle hanya mengangguk. Ia tak berpikir macam-macam. Dan ia juga tak mendapat kabar dari Amber tentang kecurigaannya tentang Wina.


Wina dengan senyuman miring memasuki mobil yang terparkir didepannya. Ia mengaktifkan keyboardnya dan jari lentiknya mulai mengetik sesuatu dengan tampang yang culas.


Beberapa jam kemuadian Amber mengebrak mejanya. Ia mendapat kiriman milyaran virus yang mulai muncul. Kesal. Ia kecolongan.


Sistem keamanan DarkHole berbunyi kencang. Alat-alat elektroniknya berkelip-kelip aneh. Membuat semua robot juga peneliti bingung.


Camy masih terbaring di salah satu kamar rumah sakit DarkHole. Belum sadarkan diri. Druw berjalan meninggalkannya ia akan menemui Jo, Alex juga Amber yang bergelut dengan sistem DarkHole.


"Ia menyisipkan virus yang aku tak tahu!" Kesal Amber. Druw yang baru didepan pintu disambut dengan pekikan Amber itu.


"Kau pengkhianat! Bedebah!" Kening berkerut dengan alis menukik.


"Pengkhianat? Willow?" Druw duduk disebelah Jo. Menatap Jo mencari jawaban karena mereka tiba-tiba senyap.


"Siapa... lagi?" lirih Druw, melihat merska yang diam juga dengan raut wajahnya yang berubah sedih mengelayuti. Tak susah menebaknya. Pasti salah satu diantara tim inti mereka.


"Wina" Druw mengusap wajahnya. Lelah. Pasiennya. Awal alasannya menjadi bagian dari DarkHole. "Dengan Theo" Druw mengalihkan kepalanya pada pintu dibelakangnya Jenny berjalan mendekat.


"Kau tahu?" Druw memperhatikan raut wajah Jennu dan tidak menemukan tanda-tanda kemarahan juga sakit hati.


"Tahu. Aku melihatnya saat masih di Nokturnal. Dan yang lebih mengejutkan Le---" ucapannya terpotong dengan teriakkan Amber.


"Sialaan Wina! Ia merusaknya!" Seruan kesal Amber.

__ADS_1


"Maaf guys aku setidaknya perlu waktu untuk memulihkan semua data-data"


"Kenapa mereka bisa tega? Druw kau mau kemana?" Druw melesat ke tempat Willow, ia kecewa, tanganngannya mengepal dengan langkah tergesah.


"Aku ikuti dia" Jo mengejar Druw, Amber masih bejibaku dengan komputer yang disebelahnya Alex juga membantunya.


"Kenapa kita jadi begini" nafas panjang Alex. Mengurut semua kejadian,


Kring Kring Kring


"Ya El?"


"Jen bisa kau bantu aku, tiba-tiba semua mesin kehilangan daya, aku terjebak didalam Lab di Hide Dome, aku bersama Troxz tapi sedari tadi aku panggil ia tak datang, Melvra juga lalu Wina juga menghilang begitu saja"


"Wina? Ada bersamamu disana?" Jenny memekik Alex dan Amber menoleh pada Jenny.


"Iya tapi tak tahu dia kemana sekarang. Dan bisa kau kesini cepat aku terjebak disini"


Amber dengan segera mengecek juga, ternyata Wina telah menyabotase komputer utama melalui Troxz. "Ck!" Decakan Amber terdengar.


"Kenapa Jen? Apa yang terjadi? Dan tolong cepat kesini daya jam ini juga tinggal sedikit." Elle mulai kesal.


"Sepertinya ini cukup memakan waktu, Wina dia juga salah seorang pengkhianat"


"Ia yang menyabotase semuanya" lanjut Alex bercerita.


"Dan dia kekasih Theo, Miss Becs, sial mereka membodohi kita sedari dua tahun lalu. Aku lebih bodoh" Jenny mengeram. Menahan semua amarah yang kini ikut naik perlahan.


"Wanita itu seolah menjadi sahabat bahkan sudah kuanggap saudara" Lemah Alex. Lalu ia menatap yang lain curiga.


"Hush kau jangan menuduhku ya, aku setia, aku malah mengira jangan-jangan masih ada yang lain?" Mereka pun terdiam.


"Guys bisa kesini? Aku sangat ingin kekamar mandi sekarang, please" Elle memohon. "Okey tunggu aku kesana"


"Jen sekalian cari Bharat, ia sedang ke Nokturnal, tapi aku lihat signalnya dia hilang beberapa waktu lalu, aku kwatir."


Jenny hanya mengangguk. Kemudian keluar riangan Amber.


"Lex bisa kau lacak penghkianat itu" Alex hanya menggeleng.


"Tak ada, sedari tadi aku telah mencarinya, tapi tak ketemu"


Jenny masuk ke mobil dengan Sandos yang agak sedikit terganggu, namun mereka memiliki Mode Loose dari komputer utama, Jadi sedikit terkena efek dari errornya Melvra.


Seorang Wanita melihat layar yang tetpampang gambar Wina dan Theo, yang berhasil kabur setelah mengacak sistem DarkHole memalui Troxz mereka kabur berdua. Ia melihat mobil mereka melaju ke masuk keperusahaan Theo.


"Oh disitu rupanya kalian bersembunyi, Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan." Senyuman miring juga keji terlihat sorot mata tang menatap tajam pada keduannya dilayar.


Ia mengeratkan cengkramannya pada gelas bening dan pecah. Dari tangannya mengalir darah segar, yang tercipta dari goresan beling.

__ADS_1


Perlahan darahnya menetes pada lantai. Matanya seperti elang yang hendak memangsa buruannya.


tbc.


__ADS_2