
Bharat menatap takjub, bibirnya tersenyum. Bharat mendekat perlahan.
"Aku ingin bantuanmu untuk membuat shield dari batu ini"
"Daniel menjelaskan shield yang kalian gunakan memerlukan batu meteor kan? Kami rasa kristal ini bisa juga, namun sayang didesa ini tidak ada yang bisa melakukan---"
"Ada! namun ia memilih meninggalkan desa ini dan bukan lagi bagian dari kami"
"RICKY!" bentak Simon memperingatkan.
"Ck!" Kemudian Ricky keluar dari sana.
"Anak itu!" desah Simon.
"Baiklah, aku bawa sedikit" Camy mencoba memecahkan ketegangan yang terjadi.
"Silahkan ambil yang kau mau"
Camy melihat Bharat yang sudah berada didekat kristal-kristal itu, Bharat berdiri disana, Camy pikir Bharat akan mengambil untuk bahan penelitian mereka.
Namun Anehnya Bharat yang hanya diam menatap lurus pada kristal itu. Camy mendekat, ia melongok dan menatap mata Bharat seperti terhipnotis.
Camy menepuk pundak Bharat, dan tepukan itu membuat barat gelagapan. Terkejut.
"Camy" Bharat menatap Camy linglung. Kemudian Bharat menggelengkan kepalanya. ia merasa sedikit pusing.
"Kau kenapa?" Melihat rekannya itu sekali lagi.
"Hah!" Bharat pun merasa bingung yang ia ingat ia berjalan masuk kedalam tempat remang dengan sinar memancar putih terang menghantam pandangannya dan lupa.
"Tolong ambilkan kristal yang berada didekatmu itu," Bharat masih mencerna keadaan namun ia mengangguki perkataan Camy.
Bharat melihat banyak kristal berdiri panjang dan runcing, sangat cantik juga menakutkan. Bharat mencari mana yang akan ia ambil.
Bharat mengulurkan tangannya dan meraih salah satu kristal kecil namun pedarnya paling bagus menurutnya.
ZIIINK!
Kristal meteor itu mengeluarkan kilatan sinar terang benderang yang menyakitkan mata, Camy dan Simon menutup mata dengan sedikit mengintip.
Melihat tubuh Bharat yang terangkat dengan sinar zig zag mengangkat sisi-sisi tubuhnya.
ZZZRRT ...
ZZZRRT ...
Camy melepas tangannya yang menutupi mata, dengan mata melebar, ia melihat peristiwa didepannya dengan tak percaya. Tubuh Bharat sudah melayang keatas dengan posisi terlentang dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Bukan hanya Camy yang tercengang, Simon pun juga sama. Ia melihat lagi peristiwa yang dulu pernah terjadi pada,
"Amarin" bisik lirih Simon, ia melangkah terhuyun kearah tubuh Bharat yang masih melayang.
Dan Simon bersiap, ia mengambil nafas dalam, kakinya membentuk kuda-kuda, ia mengerakkan tangannya,
Dan mengulurkan keduanya, dan telapak tangannya menghadap pada tubuh Bharat, lalu Camy melihat Simon mengeluarkan sinar dari telapak tangannya, dan ditembakkan pada tubuh Bharat.
ZZZRRT ...
ZZZRRT ...
"HEIYAAA ..." Simon menggerakan tangannya dan sekali lagi mengarah ke tubuh Bharat, Camy melihat ada sinar besar yang menembus tubuh Bharat dan menuju ujung kristal kecil itu.
Camy melihat kristal itu menghisap semua sinar kekuatan Simon, pria tua itu terenggah, dengan tangan yang menyembulkan uratnya dan bergetar.
"Haaargh ... " teriakkan Simon mengerahkan segala kemampuannya, agar bisa dilahap sang kristal.
ZZZRRRTT ...
ZLENG!
BRUK!
Hening. Hanya terdengar rintihan Bharat juga nafas berat Simon yang tersimpuh dengan peluh membasahi tubuhnya.
Derapan langkah kencang terdengar di belakang mereka.
Lalu dua lagi pria menyusul dibelakangnya. Dan dengan cepat Ricky meringsek kearah Camy.
"Kau!" Ia meraih kerah baju Camy dan mengangkatnya kasar.
"Apa yang kau lakukan! Hah!" Hardiknya.
"Stop!" Ucapnya lirih, Simon masih mengambil nafasnya, faktor usia yang tidak lagi muda, ia merasa sangat kelelahan, ini sebuah pekerjaan berat untuknya sekarang.
"KAU HARUS MATI!" Teriak Ricky tepat didepan wajah Camy.
Bharat juga hanya diam ditempatnya, ia masih dengan kelinglungannya. Camy hanya diam. Ricky kesal Camy tidak berbicara, ia menguncang-guncang tubuh Camy kasar.
"HENTIKAN RICKY!!" Bentak kencang Simon. Namun Ricky keras kepala ia tetap mencengkram kerah leher Camy.
"Manuel!"pekik Simon. Pria yang Simon panggil dengan nama Manuel itu menarik Ricky dan menonjok kepalanya, ia melepas paksa cengkraman Ricky pada Camy, lalu menyeretnya menjauh.
Pria lainnya membantu Simon, ia memapah pria tua itu. Camy yang kesadarannya telah kembali langsung menuju ke tampat Bharat duduk.
__ADS_1
"Hey Bharat! Look at me!" Camy menepuk kepala Bharat pelan.
"Camy bawa Bharat, ikuti pria ini, Jordan kau antar mereka ke Roxane"
"Baik Elder" Jordan membantu Camy membopong Bharat. Dan Camy menatap Simon yang menatap kristal dengan pandangan lurusnya.
Lalu Camy meninggalkan Simon didalam sana. "Amarin" lirih Simon, Camy dengar nama itu keluar dari mulut Simon.
"Moon Goddess, apa selama ini aku salah menduga?" Ucap lagi Simon.
Ia merasakan pancaran shield telah menguat, kristal Meteor itu telah menyerap energi yang dimiliki Bharat juga energinya.
Terasa sekali lelah di tubuhnya. Tubuhnya yang memang semakin tua ini. Namun berkat ini. Ia tak memerlukan shield buatan.
Karena terlihat dari pancaran kristalnya yang semakin terang. Dapat disimpulkan shield ini dapat bertahan lama.
"Bharat" lagi, Ucap Simon tersadar, ia akan meminta Bharat untuk tinggal disini beberapa saat.
Simon meninggalkan gua itu. Ia bergegas menyusul Camy dan Bharat ke rumah Roxane.
Camy mengulurkan tangannya yang berisi segelas teh hangat tepat didepan wajah Bharat yang terlihat lemas. Disana hanya ada mereka berdua.
Roxane dan Jordan telah memberikan mereka waktu untuk beristirahat. Roxane juga sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi. Setelah mendengar Jordan hanya mengatakan. Batu kristal Meteor, Roxane lalu mengerti dan tidak bertanya lagi.
Roxane yang tadi telah turun, ia kembali, masuk dengan nampan berisi piring kecil putih, ada sebutir bola kecil berwarna gelap diletakan pada tengah piring.
"Ini berikan pada Bharat, ini ramuan herbal, untuk memulihkan energi, kalian bisa memanggilku jika memerlukan sesuatu honey, ah ... perkenalkan aku Anita Roxane, panggil Roxane saja" Roxane ramah, Ia menepuk bahu Camy.
"Aku Camy, Cameroon Aldy, senang berkenalan denganmu, teman Bharat" Roxane memeluk Camy. Ia melihat Bharat yang sangat lemah. ia mengusap kepala Bharat sesaat.
"Sudah kalian beristirahatlah dulu disini" ia melepaskan pelukannya dan kemudian keluar dari kamar itu. Bharat mendudukan dirinya, Camy membantunya.
"Its okay Cam" Bharat meraih gelasnya dan kemudian menyesap air hangat itu. Dan menenggak butiran yang Roxane berikan.
Bharat merasakan aliran hangat merasuki kerongkongannya yang kering. Rasa hangat menyebar ke perutnya.
Peristiwa apa yang baru saja ia dan Camy lalui. Ini bukan pertama kalinya ia ke desa ini, namun ia sangat terkejut, Batu kristal meteor itu menyerap semua energinya.
"Lebih baik kau istirahatlah" Camy meraih gelas teh yang tinggal setengah itu.
"Tidurlah Bharat, kau sangat pucat" lanjut Camy, ia meletakkan gelas itu pada nakas yang berada disamping Bharat.
"Istirahatkan pikiranmu, aku akan keluar" Camy menarik selimut tipis yang Bharat kenakan. Bharat mengangguk.
Efek dari ramuan yang Roxane berikan padanya telah bekerja. Rasa kantuk datang mengelayut dikelopak matanya. Padahal ia juga ingin tahu apa yang terjadi.
Bharat menguap. Camy melihat Bharat yang telah tertidur, ia bisa mendengar dengkuran halusnya. Camy beranjak turun ia ingin menemui Simon.
__ADS_1
Di tangga ia berpapasan dengan Ricky. Ia tak familiar dengan rumah yang cukup besar ini. Ia bertanya pada pria muda yang masih saja menarapnya nyalang itu.
tbc.