
Kembali Bharat duduk dibawah pohon apel yang berada di taman kediaman Haiyla. Memetik beberapa dan menikmatinya.
Kemarin ia berhasil mengalahkan Thaja. Dan ia perlu mengistirahatkan tubuhnya yang penuh luka.
Menyamankan diri sebelum Haiyla memberikannya berita, entah itu, berita baik atau malah berita buruk.
Setelah mendengar perkataannya yang ambigu saat ia selesai mengalahkan Thaja. Ia memiliki firasat buruk. Apa ia akan diadu dengan Marzon? Pemikiran negatif hilir mudik di kepalanya.
Pletak!
Sebuah apel berukuran kecil jatuh mengenai kepalanya. Bukan hanya sekali, berkali-kali. Dan terdengar kekehan yang ia tahu siapa pemiliknya.
Ia menengok ke arah sumber kekehan dan ya Haiyla. Moon goddess pemilik tempat ini. Gila ya, tak terlihat anggunly, si dewi nangkring diatas pohon apel, sudahlah, pikir Bharat.
"Cepat katakan mengapa kau memanggilku dimasa istirahatku yang berharga ini, Yang Mulia Haiyla Moon Goddess!" Kesal Bharat.
"Jangan kesal Ratu Putih, ini memang seharusnya, setelah mengalahkan Thaja kau memang harus menemuiku, mendengarkan kelanjutan dari misi mu" jelas Haiyla yang sibuk menggerogoti apelnya.
"Segar bukan apel disini, tak seperti didunia mu, ini berkat sinar bulan yang memancar terang disini." Ucapnya bangga.
Namun siapa yang mau tahu, Bharat? Tentu tidak. Yang Ia inginkan sekarang tidur di kasur nyamannya.
"Oh bagus sekali meredakan otak dan hati yang panas" sindir Bharat. Ia menggerogoti apelnya dengan brutal.
"Dasar kau ratu bar-bar" Bharat menyipitkan matanya, ia tak berkaca! Suara hati Bharat.
Dengusan terdengar dari Bharat. Wanita itu meletakkan apelnya. Siap mendengarkan perkataan Haiyla.
"Melihat bagaimana kau mengalahkan Thaja, Kau dan Marzon sebenarnya masih memiliki satu misi lagi. Misi pembawa Kristal Abadi. Dan semua dilihat bagaimana kalian mengalahkan monster penguji di akhir Misi. Kami menilai, dan menentukan … " Bharat memiliki firasat tidak enak mengenai ini.
__ADS_1
"Kau Bharat yang akan membawa Kristal Abadi" telak, Mengapa harus dirinya? ia bahkan memerlukan bantuan Red untuk menyelesaikan misi terakhirnya.
"Kau bisa menolak," kata Haiyla layaknya angin segar bagi Bharat.
Banyak pertanyaan, juga rasa enggan menerima misi ini, ah tolak saja, pikir Bharat.
"Namun siapkan dirimu untuk misi penolakan yang akan kau lalui setiap bulan purnama" ucap Haiyla.
Namanya angin kan tak dapat digenggam hanya bisa dirasa lalu lenyap. Ya seperti itulah yang dirasakan Bharat saat ini. Diberi harapan palsu.
"Berapa purnama?" Lirih Bharat tanpa bertanya ia pun tahu. Jika tidak ada kata tolak dalam misi ini.
"Ya sampai kau dapat pengganti. Sudahlah terima saja, aku memilihmu tidak asal pilih Bharat. Pasti ada sesuatu mengapa kau bisa menjadi pengganti Amarin"
Bharat menghela nafas berat. "Kapan?" Dengan sangat enggan.
"Siapkan dirimu dua hari lagi," dan seperti asap Haiyla hilang, dan Bharat terbangun dari tidurnya dengan pening di kepalanya.
Ada rasa tak enak, namun Bharat tak bisa melakukan apapun untuk membantu. Ia pernah berbincang dengan Simon, dan pria tua itu hanya berkata,
"Tugasmu selesaikan misi-misi yang Moon Goddess berikan padamu, dan kami disini dengan bagian kami" ucapan Simon yang menjadi penyemangat. Bharat sudah menganggap Simon layaknya ayah, dan Roxane layaknya ibunya.
Bharat menuju dapur ingin mengisi teko dengan air dan kembali ke kamar, namun ia mendengar suara ramai dari arah belakang, tempat dimana mereka berlatih.
Bharat mengintip, ternyata ia melihat banyak orang disana sedang berlatih. Bahkan ia melihat Linka dan Selena, juga berlatih.
Suara pintu terbuka, membuat mereka yang berlatih menatap ke arah Bharat.
"Kau tak tidur Ratu?" Roxane mendekatinya dengan menyeka keringatnya dengan handuk. Sejak sebulan sebelum penobatan, semua orang yang berada di dekatnya memanggilnya dengan sebutan Ratu.
__ADS_1
Awalnya ia canggung namun mereka tetap memanggil dirinya Ratu walau Bharat telah meminta mereka memanggil namanya seperti semula.
Dan ya Bharat pasrah dan menerima saja.
"Kalian berlatih setiap malam?" Tanya Bharat.
"Iya Ratu, penobatan berarti banyak makhluk dari dunia bawah yang berada didunia manusia kembali"
"Dan kami garda depan dunia bawah harus lebih meningkatkan keamanan"
"Wanita juga harus kembali membiasakan dirinya melatih otot mereka yang mulai kaku" jelas Roxane yang diangguki Bharat.
"Aku juga ingin berlatih, Haiyla memintaku membawa Kristal Abadi" ucap Bharat yang membuat semua yang berada di sana terdiam dalam posisinya.
Serigala memiliki pendengaran yang tajam, mereka sedari tadi dapat mendengarkan pembicaraan Bharat dengan Roxane. Dan juga kalimat terakhir Bharat yang membuat mereka membatu.
Dan
"YAHOOOOO!"
"HOREEEEE … "
"HIDUP RATU PUTIH!" Ricky berlari kencang dalam bentuk serigalanya ke arah Bharat, ia menunduk hormat, Bharat mengelus kepala sang serigala.
"Naiklah!" Ucap Roxane. Bharat tampak lingkung, "Mereka ingin merayakannya Ratu" lanjut Roxane.
"Merayakan apa Ricky?" Bisik Bharat yang sudah berada di punggung serigala coklat terang itu.
"Keberhasilanmu melawan Thaja, Ratu." Ricky menjawab dengan telepatinya. "Juga Kristal Abadi yang akan memperkuat garda depan"
__ADS_1
"Selamat Ratuku" sanjung Ricky. Ia telah mengakui kemampuan Bharat. Ia menjadi hormat pada wanita yang pernah ia remehkan itu. Walau ia tahu Moon goddess taka akan dengan asal memilih Ratu pelindung untuk dunia bawah.
Tbc.