
Ruangan luas dengan kursi kulit hitam diruangan terngah. Orang yang berada disana, sedang memainkan perannya masing-masing.
Ada yang waspada. Ada yang datar dan ada yang menebarkan senyumannya.
"Selamat datang, selamat bergabung"
"Terima kasih, aku hanya mengingatkan persetujuan yang kita sepakati."
Bunyi ketukan pintu, "Masuk"
Mariah datang bersama dua orang laki-laki. "Apa kabar, Tuan Gideon" sapa Braxton.
"Baik Tuan Braxton, saya sudah membawa berkas yang anda minta"
"Bagus, Tuan Zale, perkenalkan dia Tuan Gideon kuasa hukum perusahaan ini, kita langsung saja"
Gideon menyodorkan berkas yang akan mereka tanda tangani satu dengan lainnya.
"Ini berkas mengenai, saham atas nama Tuan Zale" Gideon menyerahkan berkas itu untuk Zale simpan.
Mereka saling berjabat tangan, kerja sama yang saling menguntungkan ini. Semoga tak seperti ia dengan Nokturnal.
Membawa mereka masuk ke dunia bawah adalah masalah sepeleh. Apalagi mereka sudah pernah masuk ke dunia bawah.
Willow telah menceritakan tentang Alamira. Sebenarnya Zale tak ada masalah dengan Alamira. Tapi dengan High Majesty, mereka adalah musuh dari ras Levian. Juga masalahnya dengan Nokturnal, Marky.
Berkomplot dengan Braxton untuk meleburkan High Majesty adalah kesepakatannya. Setidaknya ia akan disokong dengan senjata dan robot.
Mungkin perusahaan Braxton Project tak sebesar Nokturnal, ia urutan keempat teratas perusahaan besar saat ini.
Zale juga tidak asal untuk memasukannya ke dunia bawah, ia sudah berdiskusi dengan beberapa tetuanya dan tetuanya mengijinkan.
Setelah selesai dengan masalah hitam diatas putih. Bukan hanya tanda tangan, yang mereka mau, sidik jari, dan kornea mata.
"Jadi apa yang harus kami persiapkan"
"Tak ada" jawabnya enteng.
"Kau ingin membohongi kami!" Willow akan merangsek maju, tapi ditahan oleh Braxton.
"Kalian terlalu emosional, tenang sajanaku tak akan mencelakakan kalian" Zale tetap tenang.
__ADS_1
"Lalu, mengapa saat dengan Alamira banyak sekali persiapan----"
"Ingat aku bukan Alamira, Kerja Zale berbeda dengan mereka" disana Braxton bisa melihat ada dendam.
"Kalian hanya perlu bawa diri. Datang ke gedung milik Klan Trudy, Cari portal cermin, aku menunggu kalian disana."
Zale beranjak dari tempatnya.
*
*
*
"Willow kita berangkat sekarang" Braxton mematikan sambungannya, ini baru beberapa jam setelah pertemuannya dengan Zale.
Ia akan melihat apa Zale benar akan memasukan mereka ke dunia bawahnatau hanya isapan jempol saja. Ia tak memberi mereka waktu pertemuan.
Braxton juga sama belum sepercaya itu pada Zale. Disebabkan Zale sering bekerja sama dengan Nokturnal. Dan takutnya ia membelot seperti ExSide.
Berjalan ke keluar, Braxton melihat Willow sudah menunggunya dalam kendaraannya.
"Ke gedung itu"
"Kita lihat saja" Willow mengangguk dan menjalankan kendaraannya.
Tak lama mereka sudah berada di dalam gedung, mereka melihat Zale berdiri dengan senyuman menyambut mereka.
"Selamat datang, kalian terlambat, Pakailah" Zale memberi mereka mantel bertudung namun hanya mereka berdua yang mengenakan.
Ia memantrai cermin portal dengan sigilnya. "Ayo" Willow dan Braxton telah memakai mantel tebalnya.
"Selamat datang di desa klan Guapo, mau berkeliling?" Hanparan laut luas terpampang di hadapan Braxton dan Willow, banyak rumah-rumah kayu, dengan atap nyiur, layaknya rumah liburan yang ada di dunia manusia.
"Sebelumnya ikut dengan ku, Tetuaku ingin bertemu"
Sangat ramai, anak-anak kecil berlarian dengan gembira. Braxton dan Willow saling berpandangan. Ini sangat berbanding terbalik dengan High Majesty. Tempat Alamira.
Ini layaknya perkampungan yang damai. Mereka masuk kesebuah rumah yang sedikit lebih besar dari kebanyakan rumah disini. Ornamen menghiasi dinding kayu.
Dan belakang dari rumah ini adalah hamparan laut yang indah yang ditutupi beberapa gunung- gunung kecil di sekitarnya.
__ADS_1
Angin laut semilir, menerbangkan rambut Zale. "Selamat datang, didesa kami, saya tetua disini, Troto" Tetua itu tak terlihat tua, masih muda, dengan tubuh tinggi, Membuat Willow hilang fokus.
Ia memandang tetua dengan genit, sudut senyumnya terangkat, menggoda.
Pandanganya mereka bersimborok, Willow tak menyiakannya. Ia menggoda tetua Klan Guapo. Sebenaranya sedari tadi ia mendapati banyak lelaki dan wanita dengan paras yang menawan.
Dan godaannya mendapat sambutan dari tetua Guapo itu. Willow melebarkan senyumnya. Ternyata tetua ini tak sekaku itu, pikir Willow.
"Kalian akan masuk dalam klan kami, jadi kami akan membuang, samaran ular kalian. Menjadi klan Guapo, bagaimana kalian setuju?"
"Kami setuju," Troto mengembangkan senyum di bibirnya.
"Baiklah kalian akan tinggal disini dulu tiga hari lalu kalian bisa masuk kemanapun didalam dunia tengah dan bawah."
"Silahkan jika kalian ingin berkeliling atau beristirahat, Zale akan memandu kalian, sekali lagi selamat datang" Troto menunduk hormat.
"Mari" Zale mempersilahkan Braxton dan Willow berjalan lebih dulu. Braxton mengangguk pada Troto sedangkan Willow mengerling genit, dan melihat kelingannya di sambut dengan senyum mempesona.
Rasanya ia ingin bersama tetua itu untuk semalam. Kelakuan bi nal nya memberontak.
Zale mengantar tamunya ke kamar mereka, "Kalian bisa cari aku, jika menginginkan sesuatu."
"Ada yang ingin ditanyakan?"
"Apa disini ada pernikahan campuran? Dengan manusia misalkan?" Pertanyaan Willow mendapat kernyitan dahi dari Braxton.
"Ada, dan mereka tinggal di Nokturnal" penjelasan Zale membuat harapannya tinggi, berarti tak masalah jika ia naksir tetua mereka bukan?
"Diranjang kalian, kami menyiapkan pakaian kami, agar tak terlalu mencolok, kalian bisa memakai itu. Lalu selamat beristirahat" Zale meninggalkan mereka.
Willow, mendekat pada ranjang ia meraih pakaian yang berada diranjang dengan muka senang, melepas seluruhbpakaiannya dan menggantinya dengan pakaian penduduk Guapo.
Atasan lengan terbuka dengan kancing bertali, bagian perut yang terlihat, juga bawahan ada dua, rok mini atau celana pendek.
Tentu Willow sangat menyukaianya. Juga ada beberapa kain juga tali entah bagaimana memakainya.
Willow mematutkan dirinya pada cermin dikamarnya. Ia sangat menyukai pakaian klan ini, tubuh indahnya terlihat seksi. Pakaian itu dangat pas ditubuhnya.
Ia tak sabar berkeliling, eh ... tak sabar bertemu sang tetua klan.
Sama halnya dengan Willow Braxton mengenakan celana panjang dengan kain, menyerupai kaus, dan juga kalung. Ia memakainya.
__ADS_1
Dan setelah membereskan semuannya Braxton merebahkan tubuhnya pada ranjang, ternyata tak buruk.
Tbc.