
Berkendara kuda, Marzon memacunya dengan kencang, Orso yang mengikuti dibelakang, ia memperhatikan calon Rajanya, iya, ia masih belum menerima, ia akan melihat nanti saat tahap-tahap pengujian dilakukan.
Mereka keluar dari Deep Inside, memesuki hutan gelap, pepohonan tinggi serta gelap, ditemani oleh beberapa bola api yang melayang menyinari mereka.
Marzon merasa ikut terbang bersama sang kuda. Rasa rindu, akan kebebasan menyeruak. Lama sekali rasanya.
Marzon terus memacu dan ia tak melihat ada sosok didepannya. Ia menarik kendali kudanya agar berhenti. Kuda itu mengikik keras.
Kaki depannya diangkatnya keatas, Marzon dengan lihai mengendalikan kudanya, kuda yang ia tunggangi berputar, dan mulai tenang.
Orso disana langsung melindungi Marzon. "Siapa kau? Mengapa malam-malam berada disini" Orso mengacungkan pedangnya pada sosok itu.
Ujung runcing pedang berada didepan mata sosok yang bergetar ketakutan. Sosok itu menelan ludahnya susah payah.
"Mma-mmaaf Ttu-tuan, saya-saya tersesat" gugup ia takut sekali. Apa mereka orang jahat.
Ia menatap Lycan Marzon, semakin ketakutan. Belum lagi tatapan Orso, si beruang hitam besar. Dengan Armournya.
"Bagaimana kau bisa tersesat? Ini hutan terlarang!" Nada tinggi Orso membuat kelelawar yang sedang tidurpun berpindah mencari tempat aman.
Sosok itu beringsut, pemuda dengan wajah rusa itu berkeringat dingin. Ia harusnya mendengar perkataan teman-temannya agar tak masuk dalam hutan ini.
Namun ia harus mendapatkan bahan obat untuk kakeknya. Dan bahan itu ada dihutan terlarang ini.
Bahan itu sudah ia dapatkan namun ia kehilangan arah. Sedari tadi ia hanya berputar-putar hutan. Lelah dan kelaparan.
Pemuda itu masih saja menunduk. Pening dikepalanya membuat pengelihatannya mengabur dan gelap.
BRUGH!
Tubuh pemuda itu tersungkur. Ia kehilangan kesadaran.
"Hei!"
"Hei anak muda!" Seruan Orso dari atas kudanya. Namun tubuh itu tak meresponnya.
"Sepertinya kita tunda dulu berkelilingnya, bawa ia kembali, aku akan menyusul" Marzon memacu kudanya tanpa menunggu jawaban beruang itu.
"Bagaimana ini! Menyusahkan." Dengan ringan ia mengangkat pemuda itu ke atas kudanya dan Orso bergegas kembali. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada calon Rajanya.
"Hyaaah" ia memacu kudanya kembali ke Deep Inside.
__ADS_1
Tak berapa lama ia sampai digerbang Deep Inside, "SIMBA! LEANDER!" Teriak Orso.
"Bantu aku bawa pemuda ini, kedalam, panggil dokter dan periksa, ia mungkin kelelahan, ia tersesat di hutan terlarang!"
"Baik Orso!" Salah satu dari mereka mengendong pemuda itu dibahu layaknya karung goni.
Orso kembali memacu kudanya, kembali menyusul Marzon. Ia menggunakan penciumannya untuk meradar keberadaan Marzon.
Netranya melebar sesaat, dengan cepat kepalanya menyentak kearah jalan yang sepertinya Marzon lalui. calon Rajanya dalm bahaya.
Kembali Orso memacu Kudanya lebih kencang. Sang kuda memekik dan kemudian berlari kencang menembus pepohonan.
Bunyi besi saling beradu terdengar didepannya. Pekik kesakitan bercampur dengan bunyi pukulan menghiasi hutan gelap itu.
Marzon melawan bayang hitam Orso memelankan kudanya ia ingin melihat bagaimana Raja menyelesaikannya.
Marzon melompat, dengan gesit. Tadi ia hanya ingin melihat kemampuan sosok yang tiba-tiba datang dan menyerangnya.
Ia telah mengetahui, mereka hanya kumpulan perampok berotak kecil. Sekali hantam mereka akan terhenpas, namun mereka akan kembali berdiri dan menyerang lagi.
Mereka kuat menerima pukulan bertubi, Marzon mengarahkan bola api dan membakar mereka satu per satu dan berhasil.
Mereka menghilang menjadi asap kehitaman. Mahkluk apa itu? Marzo berjaln kearah kudanya, ia mengelus kudanya, agar tenang dan kembali menaikinya.
"Tak apa, bagaimana kau menikmati tontonanmu?" Datar. Marzon menatap Orso dingin.
"Maafkan saya Yang Mulia" Orso dengan sigap turun dari kudanya dan berlutut dihadapan Marzon.
"Sudah tak apa, kita kembali" Marson memacu kudanya, sebenarnya ia ingin melanjutkan berkeliling namun ia ingat denga pemuda yang pingsan tadi.
Ia memutuskan untuk kembali ke Deep Inside.
Ia menyerahkan kudanya pada pekerja yang sudah menunggu Marzon.
Ia melangkah masuk ke Deep Inside. Orso menyusul langkah Marzon.
"Bagaimana pemuda yang pingsan itu?" Tanyanya pada Orso.
"Ia sedang ditangani oleh dokter, Yang Mulia."
"Dimana dia?" Marzon bertanya ia ingin melihat keadaan pemuda itu.
__ADS_1
"Ada di ruang kesehatan" Orso berjalan mendahului Marzon. Ia sudah mendapatkan info dari Simba, singa penjaga gerbang.
"Berus" Marzon melihat Berus yang sedang berbicara dengan dokter.
"Bagaimana pemuda itu?" Tanya Marzon.
"Kelelahan, sekarang ia sedang tertidur, Yang Mulia, dimana Anda menemukan pemuda itu?"
"Tadi di hutan" Berus melihat kearah Orso. Orso hanya mengangguk sekilas. "Yang Mulia sebaiknya Anda istirahat, Orso antar Yang Mulia kekamarnya." Tanpa mau menunggu keputusan Marzon.
Orso kembali mengangguk. Lalu mempersilahkan Marzon untuk jalan terlebih dahulu.
Ia menghela nafas panjang.
Ia merasa semua yangbada disini tak begitu suka dengan adanya orang batu yang masuk. Mereka terlihat waspada.
"Orso apa hanya aku yang merasa kalian terlalu waspada pada pemuda itu?" Pertanyaan Marzon membuat Orso meliriknya.
"Kami selalu menjaga, agar tak ada yang melenceng" jawaban Orso tak membuat Marzon puas.
"Berapa kasus?" Terlihat dahi Orso mengkerut.
"Berpura-pura lemah, dan membobol Deep Inside, berapa banyak?"
"Banyak, dan kami akan mengatasinya, jadi Yang Mulia tak perlu kwatir."
"Aku yang menyuruhmu membawanya masuk kesini, apa kalian tak curiga jika aku sengaja memasukkannya kemari?" Tanya Marzon mencoba memancing Orso.
Ia tahu banyak yang masih ragu dengan keputusan Hecate memilihnya menjadi Raja. Begitupun mereka. Berus dan Orso.
Jika dilihat saja mereka pasukan khusus dibawah kepimimpinan Marzon nanti jika ia terbukti mampu menyandang status sebagai Raja.
"Kami percaya dengan pilihan Hecate" jawab Orso, Aman dan template.
Marzon sudah merubah dirinya menjadi sosok manusianya. Ia tersenyum miring.
"Aku lebih nyaman tertidur dengan bentuk manusia, jadi kau akan sering melihat bentuk ku yang ini" candanya. Orso hanya mengangguk.
"Selamat beristirahat Yang Mulia" ucapnya lalu Orso menjauh.
Ia tak menyangka menjadi Raja yernyata tak gampang. Belum, ia belum menjadi Raja. Calon Raja mungkin.
__ADS_1
Tbc.