DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Rumah Pohon


__ADS_3

Wina mengikuti Potka, mereka sampai di sebuah rumah pohon yang ditutupi lumut hijau.


"Masuk cepat" Pitka berbisik, matanya awas mengedarkan pandangannya. Lalu menyusul Wina masuk.kedalam rumah pohon itu.


"Dimana ini?" Wina melepas tudung kepalanya. Menatap sekeliling. Rumah pohon yang cukup bagus.


"Ini tempat yang sudah aku sewa, untuk dirimu dan aku, kita akan tinggal disini, dekat dengan tempat penobatan" Potka membuka mantelnya.


Ia mengaitkan pada kayu di dekat pintu. Wina mengikutinya. Hangat. "Ini kamarmu" Potka membuka sebuah pintu.


Ada sebuah ranjang, lemari, meja dan kursi di dalamnya juga sebuah lemari buku. Jendela besar menghadap ke hutan. Wina suka.


Potka telah sibuk di ruangan lain. Dapur. Ia menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Wina menyusulnya.


"Bisa kau jelaskan mengapa pasukan elit Marky berada disini?" Wina menyandarkan dirinya pada pintu ruang makan.


"Nanti, kita makan malam dulu" Potka tidak ingin selera makan Wina terganggu, entah untuk kebaikan wanita itu atau kebaikkannya agar wanita itu tidak terlalu menyusahkan dirinya.


"Kau juga termasuk yang ikut menyusup?" Wina tidak sabar. Ia sangat penasaran.


"Oh ayolah, kau membuat amarahku naik tahu kau!" Wina keluar ia kembali ke kamarnya. Disana ia melihat si buku tua tidak bereaksi, atau ia tertidur?


"Ritmi? Kau tidur?" Dengkuran semakin jelas terdengar. Wina menghela nafasnya. Ia kesal pada Potka. Sama seperti Ritmi yang juga dibuat kesal oleh Potka.


Atau ia ikut saja tidur. Biarlah pria itu membuatkannya makan malam. Wina merebahkan dirinya di ranjang empun tak butuh waktu lama ia tertidur lelap.


Tubuhnya kelelahan menjelajah menuju Phoenix Way bersama Ritmi.


"Wina makan malam" ketukan terdengar. Wina membuka mata. Gelap. Ia menatap jendela kamar. Di luar sangat gelap.

__ADS_1


Ia mendudukkan dirinya. Mengumpulkan jiwanya yang tercecer saat ia tertidur. Rambutnya berantakan. Wina menguap lebar.


Ia berdiri, berjalan agak terhuyung dan menyalakan lampu kamar. Kemudian membuka pintu kamar. Disana Potka menunggunya.


"Silau!" Teriakan dari atas meja. Buku tua itu kembali bersuara. 


"Makan malam sudah siap" Potka berjalan menuju ruang makan.


"Tolong matikan lampunya jika kau keluar, aku sangat mengantuk!" Ritmi memerintahkan Wina. Wina tak ingin adanya perdebatan hanya menurut. Ia mematikan lampu kamar dan menyusul Pitka tanpa membersihkan wajah bangun tidurnya.


Aroma sedap mengiar dari meja makan. Wina manatap panci sup yang mengepul, roti juga daging panggang tersedia disana.


Potka memotongkan daging dan meletakkannya di atas piring Wina. "Makanlah" kemudian ia mengambil cangkir Wina dan mengiainya dengan cairan merah kehitaman pekat dengan beberapa potongan jeruk didalamnya.


Terlihat kepulan asap keluar dari dalam cangkir. "Ini untuk menghangatkan tubuh" meletakkan cangkir di depan Wina.


"Kau tidak akan kenyang jika hanya diam dan memandangku saja" Seperti tersadar Wina mulai menusuk daging panggang yang berada di piringnya. Tak lupa ia menuangkan gravi kecoklatan di atasnya.


Mengunyah daging lembut itu perlahan. Rasanya lezat. Ini makanan pertama yang masuk dalam tubuhnya. Ia lapar. Wina kemudian melahap cepat makannya.


"Hugh, uhug, uhugh!" Ia tersedak.


"Tidak akan ada yang mencuri makananmu, kau tak usah tergesah" Potka sudah berdiri di belakang Wina menyerahkan segelas air pada wanita itu. Lalu menepuk perlahan punggung Wina.


"Aku tahu masakanku sangat lezat, tapi kau tenang saja aku tidak bisa menghabiskannya sendiri" Potka terkekeh. Ia masih menepuk-nepuk punggung Wina.


"Sudah!" Ketusnya, dengan menggeser dirinya, agar Potka tak lagi menyentuh punggungnya.


Potka kembali ke kursinya. Ia masih saja tersenyum. Dan Wina tak suka.

__ADS_1


Potka mengambil satu roti. Ia memotong tengah roti dan meletakkan daging juga sayur dan tak lupa sedikit gravy.


Ia meletakkan roti lapis buatannya di piring Wina.


"Ini roti lapis level tinggi, cobalah, sangat lezat, kau juga harus memakan sayuran mu!"


"Aku serigala!" Ucapnya masih ketus. Namun Wina masih memakan roti lapis buatan Potka yang membuatnya tertarik.


Gigitan pertama, ia mengunyah dengan mata yang berbinar senang. Lezat dalam hatinya berteriak.


Potka kembali terkekeh. Melihat kelakuan Wina. Yang menggoyangkan kakinya kesenangan.


Ia melirik Potka lurus dan tajam. Dengan mulut yang penuh roti lapis. Merasa tidak berguna mengancam atau memperlihatkan ketidak sukanya pada Potka. Wina lebih fokus pada makanannya.


"Buatkan lagi" ia mendorong piring kosongnya pada Potka. Meminta Potka membuatkannya roti lapis.


Potka mengambil roti dan memberikannya satu lagi untuk Wina. Wanita itu terlihat senang. Ia menyesap minuman hangat di cangkirnya.


Wangi buah yang menyegarkan, cairan manis, hangat, dan menyegarkan. Wina suka. Ia kembali menyesap minuman itu lagi, lagi dan lagi.


"Ini lagi" Potka menyerahkan piring dengan dua roti lapis. Pada Wina. Wina menyerahkan cangkirnya yang kosong. Potka hanya menatap Wina. Dan lelaki itu menghela nafasnya dan beranjak mengisi cangkir kosong Wina.


Wina melihat senang dengan dua roti lapis didepannya. Ia melahap cepat rotinya dengan senyuman di bibirnya yang penuh.


"Uhug … " Potka mengulurkan gelas air lagi.


"Pelan-pelan" uvap lelaki itu dengan menggeleng melihat cengiran Wina. Yang baru ia lihat.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2