DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Munculnya Lycan


__ADS_3

"Orang lain?" Kola telah kembali ke sofa, ia telah dibebaskan dari penjara laser itu.


"Banyak dari mereka yang ingin merebut kekuasaan Marky. Aku dan Marzon, mengira, Lamorna juga Willow ada dipihak Braxton. Tapi ini masih prediksi kami, maka sekarang tugasku untuk menyakinkan kalian, memutus kerjasama dengan Nokturnal." Tegas Camy.


"Lalu Marzon kakaknya sengaja mengumpankan diri?" Camy mengangguki perkataan Kola. "Wah pemberani" lagi Kola memuji.


"Mumpung disini, Mulai besok kau tak usah lagi ke perusahaan" ucap Pina yang di angguki senang oleh Kola. Ia bisa melanjutkan hobinya. Kembali ke kamarnya dan berkutat dengan lab kecilnya.


"Sepertinya kau senang tidak lagi keperusahaan, namun kau harus berada disini, untuk mempelajari pohon-pohon disini, ayah dan aku menunggu laporan harian mu, mengerti!" Pina memberikan tumpukan berkas di tangan Kola.


"Apakah?!" Kola terkejut.


"Aku tak tahu tentang tanaman" tolak Kola.


"Semua ada di berkas yang ada di mejamu, juga Adam akan membantumu, Adam!" Panggil Pina, Adam masuk, lalu menunduk kepala hormat.


"Saya Tuan,"


"Bantu Kola mulai hari ini, kenalkan dia pada timmu" Adam mengangguk. Dan Kola hanya bisa menerima pasrah. Ini juga yang Pina jalani sebelum mendapatkan kebebasannya.


Camy hanya melihat kelakuan dua orang disana yang ia anggap kakak itu.


"Paman sangat merindukan kalian" Camy menatap pamannya itu, teduh.


"Jika nanti kau perlu bantuan jangan sungkan langsung bilang pada Paman atau kakak-kakakmu disana, kami keluargamu Camy jadi rumah ini juga tempatmu pulang."


Camy memeluk hangat lelaki paruh baya yang hingga kini masih terlihat tampan dan bugar.


"Terima Kasih Paman" Punggung Camy terasa menghangat, ada Kola yang ikut memeluk Camy. "Aku juga ingin pelukan." Pina pun ikut memeluknya.


Mereka tertawa bersama, masih berpelukan. Harusnya Camy tak perlu takut melibatkan mereka, karena mereka bisa saling melindungi.


*


*


*


Marzon tersadar dalam ruangan yang temaram. Adanya pedaran cahaya berwarna hijau menyala di sudut ruangan. Ia menarik lengannya yang terikat dengan rantai besi.


Hantaman besi terdengar nyaring di telinganya. Terdengar juga bunyi mesin dan reaksi kimia pada sebuah tabung dengan cairan berwarna diatas meja itu.


Ia baru saja sadar, setelah Braxton membuatnya kembali tidak sadarkan diri setelah perdebatan mereka. Hanya kejadian itu yang ia ingat. Ah ... sakit kepalanya juga sudah menghilang.


Marzon menatap kesekelilingnya. Sebuah laboratorium. Dengan banyaknya cairan warna warni dalam botol yang entah apa, juga beberapa jar kaca besar berisi cairan kecoklatan dengan organ didalamnya.


Marzon meneguk ludahnya walau mulutnya terasa kering. Tubuhnya merasakan hawa yang panas. Yang semakin lama semakin ingin membakarnya. Marzon memberontak di tempatnya.

__ADS_1


Ia mencoba melepaskan ikatan dan ia ingin sekali air. Kulitnya memerah, matanya menjadi awas pada sekeliling. Matanya melebar dan memerah. Berkaca. Otot di pelipisnya menyembul.


"Aaargh ... " erangannya,


"Aaaaargh ... "


Teriakkan kesakitan, tubuhnya serasa terbelah. Tangannya terkepal kencang hingga buku jarinya memutih.


Marzon masih berontak. Ia menarik kuat rantai yang membelenggu tangannya.


"Aaargh ... " nafas Marzon memberat juga memburu. Ia merasakan keanehan pada wajahnya, mulutnya memanjang, juga gigi berubah tajam. Moncong berbulu dengan warna coklat gelap. Ia menganga, mengambil nafas.


Lidahnya menjulur panjang juga liur yang membasahi gigi-giginya yang runcing. Ia bernafas tersenggal. Tangannya juga menjadi lebih ramping, jarinya memenjang dengan kuku hitam runcing dan berbulu.


Kakinya juga menjadi panjang dan semakin besar membuat celana panjangnya robek. Karena tubuhnya berubah menjadi lebih tinggi dan besar. juga berbulu, Namun Marzon tidak menyadari perubahannya itu.


Marzon melihat perubahannya dengan samar lalu ia seakan lupa. Bola mata biru terangnya bergetar hebat. Melihat rantai mengikat tangannya. Ia menariknya, dan,


CTRANG!


Rantai itu terputus, ia masih terduduk diatas brangkar besi. Dengan kekuatan nya ia lagi memutus rantai yang membelenggu kedua kakinya


CTRANG!


Matanya mencari sesuatu, nafasnya memburu kasar. Dari mulutnya memperlihatkan gigi tajam. Ia mencari dan mengobrak-abrik laboratorium milik Braxton dan mencari senjata yang adiknya ambil darinya.


Rasa terbakar masih ia rasakan. Ia berlari kearah pintu dan dengan mudah ia dobrak. Ia tak perduli dengan suara sirine yang memekakkan telingannya.


Ia menyerang siapa saja yang ada didepannya. Ia merasa lebih mudah menyerang lawannya. Dengan sekali hempas saja sang lawan akan terbanting ke lantai.


Walau ia semakin kesusahan untuk bernafas. Nyatanya ia semakin lincah bergerak, Marzon berdiri dengan sekelompok orang bersiaga dengan senjata didepannya.


Dengan kaki ramping dan panjang. Ia bisa menyerang dengan cepat dan juga menghindar dari kejaran pasukan didepannya.


Marzon merasa terpojok. Tubuhnya masih terasa aneh. Ia belum terbiasa. Namun matanya bisa memperediksikan tindakan apa yang tepat untuk ia lakukan. Ia melihat adanya kesempatan ia bisa lolos dari kejaran pasukan Nokturnal itu.


Ia menyiapkan kuda-kuda dan dengan gerakan lincah juga ringan ia menapaki kepala-kepala para pasukan untuk pijakan.


"Awas!" Salah satu pasukan berteriak.


Mereka sudah siap dengan laras panjangnya. Siap membidik Marzon. Tapi lebih dulu dengan kecepatan yang ia miliki sekarang, Marzon mudahnya membengkokkan ujung senjata mereka. Itu membuat para pasukan yang lain kehilangan fokusnya.


Mereka dengan mudah Marzon pijaki,


"Aw!"


"Ark ... " pekik pasukan yang Marzon pijaki kepalanya.

__ADS_1


"Siap kan senja--- Argh ... " pasukan itu terkena sabetan tangan Marzon. ia terbanting dengan cakaran didadanya.


"Berjaga! Berjaga!"


"Siaga sat---" Dengan menggeram Marzon berada didepan petugas yang wajahnya pucat pasi dan terbelalak melihat moncong bergigi runcing didepannya.


"GRAAOWL ... " Auman kemarahan pas didepan wajahnya.


Tangan Marzon sudah siap untuk menyerang.


DOR!


Desingan peluru mengarah padanya, Marzon dengan gerakan lambat menghidari peluru itu, ia bisa melihat peluru yang meluncur perlahan padanya.


"Urghuk... " pasukan didepannya terbatuk dan cairan merah keluar dari mulutnya. Dadanya tertembus peluru yang tertuju pada Marzon.


Brugh!


Pasukan didepannya ambruk bersimbah darah.


DOR! DOR! DOR!


Tembakan bertubi terus memburu Marzon. Ia sangat kelelahan. Ia terlalu lama fengan pasukan tadi. Ia menjadi tidak fokus pada tujuannya untuk melarilan diri.


Kembali ia bersembunyi dan melihat keadaan. Ada. Sebuah cela. Ia berlari dengan hujanan peluru, terua mencampai pintu keluar. Ia bersembunyi sebentar,


Ia menengok kebelakang ingin melihat siapa penembaknya. Seorang perempuan dengan wajah yang tak asing, Namun nahas, entah mengapa kesadarannya kembali menghilang.


Tubuh Marzon menghadap dinding ia membelakangi arah luar, seorang pasukan mendekat dan menodongkan ujung senapannya ke punggung Marzon yang penuh bulu.


"KAU CEPAT TANGKAP LYCAN ITU!" suara diatas, Wanita yang tadi membidik Marzon. Marzon berubah menjadi Lycan.


"Kau tidak bisa lari" Pasukan itu terus menodongkan ujung senjatanya, Marzon sedikit bergerak karena risih, membuat sang pasukan bersiaga.


"Serahkan dirimu!" Teriak pasukan itu.


"Grrhhh ... " geraman terdengar dari moncong Marzon. Ia melirik pasukan itu dengan kornea matanya berubah hitan dengan warna merah mengelilinginya.


"GRAAAWWLLL ... " Lycan itu menyerang pasukan dengan mengigit lehernya dengan buas, cipratan darah membasahi tanah. Ia menarik tanpa melepas gigitannya hingga kepala petugas itu terlepas.


"SERANG!" teriakkan dari dalam, membuat Lycan Marzon itu terkejut. Kemudian ia dengan kencang meninggalkan Nokturnal dan masuk kedalam hutan.


Tembakan demi tembakan memburu Lycan Marzon. Dengan menggeram terus melajukan kecepatannya.


"BERHENTI!" perintah wanita itu.


"Sudah biarkan saja, ia akan mati sebantar lagi" Wanita itu meninggalkan tempatnya, ia melihat ada beberapa luka tembak di tubuh Lycan itu. Ia tahu Lycan itu tidak akan hidup lama. Jadi ia membiarkannya.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2