DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Projek Yang Hampir Gagal


__ADS_3

Marky menunggu Osman dan Rasmus untuk menyerahkan hasil penelitian mereka. Tapi Potka telah memerintahkan untuk menunggu dirinya kembali.


"Berisik sekali ini, Asisten Boss!" Rasmus bergumam sedari tadi alat komunikasi mereka selalu mengeluarkan bunyi.


"Kita kirim saja hasilnya dan semua beres, kan memang Bos harus tahu" Osman menyarankan. Ia pun merasa terganggu dengan bunyi-bunyian itu.


"Tidak! Kita harus menunggu Ketua!" Rasmus tegas. Walau ini projek Marky tapi ini juga projek mereka dengan Potka sebagi Ketua yang berhak mengambil keputusan.


"Sudah, tunggu Ketua kembali saja" Rasmus kembali dalam penelitiannya. Yang mereka tidak ketahui. Marky telah berjalan menuju ruangan mereka.


Ia ingin melihat lebih dekat, bagaimana penelitian itu berjalan. Namun saat di lift, obrolan dua orang didepannya membuatnya murka.


"Kau lihat Brigita? Ia membawa begitu banyak pupuk dan aku lihat ia membawanya ke tempat kediaman Bos?"


"Untuk apa? Ia dilarang menginjakkan kaki ke Nokturnal lagi, dulu ia diusir oleh Mr. Ruler bukan? Yang katanya seorang penyihir itu!"


"Buat apa ia kembali?" Tanya penasaran seorang wanita lainnya.


"Aku lihat dan aku dengar Patrik yang memanggilnya, gosipnya ia melakukan sesuatu yang fatal namun sepertinya belum ketahuan bos" bisik seorang wanita yang juga sedari tadi ikut bergosip.


TING!


Para penggosip itu keluar, Marky menatap lift yang kembali tertutup itu dengan tajam. Ia kembali ke ruangannya. Mendengar kabar itu, membuatnya merasa ada sesuatu yang tak beres.


Mengingat, Marky belum menerima laporan perkembangan terbaru tentang anak-anaknya dari Patrik.


"Patrik keruangan sekarang!" Wajah Marky bertambah dingin. Ia tidak menerima sesuatu kesalahan.


Patrik yang ada diseberang sedang melihat perkembangan pohon didepannya. Entah siapa yang jahil dengannya namun ini sangat tidak lucu.


Hidupnya dipertaruhkan disini. Patrik telah menyelidiki semuanya tapi tidak ada yang mencurigakan.


Vitamin dan semua bahan penyubur, semua sudah ia teliti namun tidak ada yang salah dari itu jadi ia menepis kecurigaannya.


Lalu apa? Udara? Kelembaban? Tidak berpengaruh? Patrik membuang kasar tubuhnya pada sandaran kursi. Ini benar-benar membuatnya pusing.


"Kau sudah cek sinar bulan?" Brigita yang berada disebelahnya merasa prihatin.


Patrik melirik temannya itu dengan kernyitan dalam. Lalu memandang temannya itu dan berkata "Kau bercanda" lalu ia tertawa kering. "Aku sedang tidak menerima lelucon" jelas Patrik.


Patrik masih menatap Brigita yang menggelengkan kepala, ia menelisik mata temannya itu. "Apa hubungan pohon 'investor' itu dengan sinar bulan?" Patrik akhirnya bertanya setelah tidak melihat candaan disana.


"Setelah kau memberiku bibit itu, aku membuat penelitian. Disana aku mendapatkan sebuah rahasia setelah berulang kali, gagal. Dengan menyiakan begitu banyak bibit karena rahasia ini."


"Apa?" Penasaran dengan degusan Patrik.

__ADS_1


"Sinar Bulan?!" lanjut lagi sebelum ia menyemburkan tawanya, Brigita hanya mengangkat bahunya, acuh, terserah Patrik mau percaya dengan dirinya atau tidak. Yang pasti ia telah memberitahunya.


Tawa Patrik berhenti. Ia menatap tajam Brigita. "Tunggu! Kau memperbanyak bibit yang aku beri?!" Pekiknya keras.


Brigita meneguk ludahnya susah payah. "Bodoh!" Gumamnya pada diri sendiri. Ia tak berani melihat kearah Patrik.


"Sial kau Brigita! KAU INGIN MENIPUKU, HAH!" bentak Patrik.


Ia beringsut kearah wanita itu lalu mencekik leher jenjang Brigita. Ia menekan Brigita di kursinya. "Berani sekali kau mencoba mengelabuhiku!"


Brigita memberontak, lehernya yang tercekik itu sangat perih, ia susah bernafas.


"Hhh ... aak ... khu ... ma ... mahp ..."


Brigita memegangi tangan Patrik ia ingin melepaskan dari lehernya namun Patrik mencengkram leher wanita itu semakin kencang. Juga semakin menekannya kekursi yang ia duduki.


Matanya memerah juga berkaca. Urat menyembul dipelipisnya. Brigita terus memberontak.


" ... Hmah ... Lep ... aakh ... ahs ... "


Brigita memukul-mukul tangan Patrik dengan keras. Patrik melihat Brigita, wajah wanita itu merah padam, aliran darahnya seperti berhenti diwajahnya. Ia mengendurkan tangannya dan berbisik lirih. Air matanya menetes. Ini sangat menyakitkan.


"Jangan kau lakukan lagi!" peringatan Patrik. Ia kemudian berdiri. Merapikan jasnya dan keluar dari ruangan itu.


"Ughuk ... ughuk ... hhh ... hhss ... " Kesempatan itu tak disiakan Brigita untuk meraup banyak udara yang diperlukan oleh paru-parunya.


Brigita memegangi lehernya yang perih. Ada memar merah disekitar lehernya. Ia terengah tampangnya sudah berantakan, dengan rambut juga riasan yang acak-acakan.


"Mulut sialan!" Makinya terbata pada dirinya sendiri yang kelepasan. Segera ia membereskan penampilannya. Ia tidak tahu apa yang akan Patrik lalukan lagi padanya.


Brigita kembali menelan ludahnya susah payah. Ia hanya bisa jujur. Semoga dengan penemuan rahasiannya ini bisa memulihkan lagi pohon yang membuatnya hampir kehilangan nyawa.


Brigita mau tidak mau, membuat laporan. Suatu kebodohan memang, terlibat kembali dengan perusahaan ini.


*


*


*


"Saya Bos" sapa Patrik pada Marky. Ia masuk dengan berkas yang Marky inginkan.


"Apa ini?" Basa basi Marky ia ingin asistennya itu memjelaskan padanya. "Ini laporan mengenai 'investor'"


"Jelaskan!"

__ADS_1


"Kita perlu sinar bulan kualitas bagus Tuan" Sama seperti dirinya saat mendengar penjelasan Brigita. Ia mendapatkan perhatian Marky.


Marky mendongak, melihat aneh pada asistennya. Apa asistennya begitu tertekan?


"Maksudmu?" Marky ingin tahu, ada apa tentang bualan asistennya itu.


"Anggota 'Investor' memelukan sinar bulan dengan kualitas baik Tuan" Apa asistennya ini sedang mabuk?


"Kau mulai bosan disini?" ucap tenang Marky namun memiliki artian yang lain.


"Hah!" Patrik melongo.


"Kau sudah bosan bekerja denganku! Hah! Bualan apa ini!" Dengusan Marky, lalu suaranya semakin tinggi. ia meletakan kasar tabnya.


"Ti-Tidak Tuan!"


"Sa-Saya menemukan seperti itu" Patrik sangat gugup.


Disini ia mempertaruhkan nyawanya, sekali lagi, Benar, Ia hanya membual, Bualan dari 'diskusi'nya dengan Brigita, Tadi. Kalau peristiwa di ruangannya itu bisa disebut dengan diskusi, bukan ancaman.


"Ini laporan terbarunya," Patrik mengeser file yang Brigita kirim padanya dan berpindah pada layar besar Marky.


Disana terdapat fakta tentang sinar bulan berperan penting pada tumbuh kembang pohon uangnya.


Pada laporan itu membuat Patrik sadar. Brigita mengembangkan bibit yang ia beri tidak dengan asal. Brigita menyembunyikan semua ini darinya.


"Wanita sialan!" Makinya lirih.


"Di sini di mana sinar bulan dengan kualitas terbaik?"


"Maaf Tuan itu masih dalam perkembangan, dengan bibit yang sedang kami sebar dibeberapa titik."


"Kau berhasil memperbanyak bibit?" Mendengar itu membuat suasana hati Marky membaik.


"I-Iya Tuan" jawab Patrik, yang pasti ia tidak akan melapaskan Brigita setelah ini. Untuk memperbanyak bibit juga membuktikan, kebenaran, laporan yang wanita itu buat.


"Okay, aku ingin laporan dari projek tim Potka" Patrik kembali menatap atasannya itu.


"Asistennya memberi tahu bahwa laporan akan Tuan Potka bawakan pada anda, sendiri."


Patrik menjawab sesuai dengan apa yang Osman katakan saat ia meminta laporan tim Potka,  untuk menutupi kegagalan projeknya, Tapi entah mengapa Bosnya malah meminta laporan dari penelitiannya.


"Hubungi Potka, aku ingin laporan itu segera! suruh secepatnya!" Patrik mengangguk.


 

__ADS_1


tbc


__ADS_2