
Camy masih berbaring di kursi mobil. Keringat sebesar jagung membasahi dahinya. Kepalanya sedari tadi tak bisa diam. Tidurnya tak tenang.
Mimpi itu, Camy melihat seseorang sedang memperbaiki mobilnya, setelah itu, dengan perlahan ia melihat kanan kirinya, lalu pergi begitu saja. Sangat mencurigakan membuat kening Camy mengernyit dalam.
Camy seperti diajak berpindah scene, ia melihat, seorang pria, Mr. Aldy, Ayahnya.
Pria itu menatap jam tangannya, ia bergegas hari ini adalah ulang tahun putri kecilnya. Ia sudah berjanji akan memberikan hadiah ikat rambut berwarna pink yang di minta putrinya itu.
Jangan sampai terlambat. Ia tak ingin mengecewakan putrinya itu. Melihat ke arah jamnya lagi, masih bisa tepat waktu, jika ia berkendara dengan cepat.
"Maaf Mr. Aldy, apa aku menganggu?" Mr. Ruler berada di pintu ruangannya. Mr. Aldy menatap wajah Mr. Ruler yang tak seperti biasanya. Mr. Ruler terlihat muram.
"Ada yang bisa saya bantu, Mr. Ruler?" Mr. Aldy menenteng tasnya dan mendekat pada Mr. Ruler.
"Begini Mr. Aldy, ada dokumen perjanjian sangat penting yang harus segera dikirim ke Nokturnal pusat, tapi saya harus segera ke rumah sakit, istri saya akan melahirkan, bisa anda menggantikan saya?"
Mr. Aldy melihat jam tangannya, ia menimbang, tak apalah, istrinya pasti maklum tapi putrinya semoga bisa memaafkannya.
"Okeh, mana dokumennya, akan saya antarkan" Wajah Mr. Ruler menjadi sumringah. Menyerahkan map putih itu. "Terima kasih sekali Mr. Aldy"
"Sama-sama kalau begitu saya duluan." Mr. Aldy. melewati Mr. Ruler sebelum menjauh.
"Selamat atas kelahirannya Mr. Ruler, semoga bisa berteman baik dengan Camy" dan melangkah mendekati lift yang terbuka.
"Terima kasih Mr. Aldy, semoga" ucap Mr. Ruler. Ia tersenyum lebar. Ketika lift menelan Mr. Aldy. Senyuman pada wajah Mr. Ruler menghilang.
Ponselnya telah terhubung dengan seseorang di sebrang. "Paket lengkap segera meluncur" lalu ia mematikan sambungannya.
"Bodoh" Mr. Ruler menaikkan sudut bibirnya. Tak ada istri melahirkan, ia telah memiliki anak perempuan seusia Camy. Terlihat foto pada layar ponselnya.
"Bedebah!" Maki Camy yang melihat tapi tak bisa melakukan apa-apa.
Scene Camy berpindah pada parkiran dimana Mr. Aldy menaiki mobilnya. Camy merasa ketakutan, Mobil ini yang telah disabotase ini. Mr. Aldy menaikinya.
Disebelahnya Camy ingin melarang tapi ia lupa bahwa ia hanya jadi penonton saja.
"Jangan" Camy berdiri menghalangi Mr. Aldy tapi tubuhnya seperti hantu.
"Jangan naik Dad!"
Mr. Aldy telah menjalankan mobilnya. Camy dibawa masuk kedalam mobil itu.
"Berhenti Dad!"
Mr. Aldy sedang mengejar waktu, kantor pusat Nokturnal sejalan dengan arah ia pulang ke Hide Dome.
Hide Dome dibangun oleh para peneliti untuk memproteksi diri juga keluarga mereka dari musuh yang mengincar mereka.
"Siaall! Kenapa ini?"
__ADS_1
Mr. Aldy mulai tak bisa mengendalikan mobilnya. Ia menginjak rem dan blong. Didepan sana ada truk yang sengaja ingin menyelakainya.
"Keluar Dad! Keluar!" Teriak Camy.
Sorot lampu truk semakin dekat menyoroti dengan silau. Semua berjalan lambat, Mr. Aldy menengok ke tempat Camy duduk. Untuk sesaat Camy dan Mr. Aldy saling menatap. Mr. Aldy membuka pintu. Dan mengelinding ke pinggir jalanan.
CRASHH!...
BLARR...
Truk menabrak mobilnya. Ledakkan akibat benturan keras antar kendaraan iti tak terhindarkan.
"DAD!!!!" teriak Camy.
Camy terbangun dari mimpinya.
"Hhhh...Hhhh..."
Nafasnya tersengal, jantung berdebar kencang, kernyitan sakit kepala yang terasa menyiksa.
"Hhrrgh..." Camy meraih tabung silinder kecil disakunya, mengambil sebutir obat lalu menelannya.
"Hhrrrg..." ia merebahkan kepalanya lagi pada sandaran kursi, menunggu reaksi obat yang ia minum.
Mata Camy memerah. "Mr. Ruler!" Tangannya yang mengepal bergetar hebat. Kemarahannya membumbung tinggi. Ini bukan hanya mimpi. Tapi petunjuk, juga kejadian yang ditutupi kebenarannya.
*
*
*
Riby menyibak selimutnya, hari ini ia ingin berkeliling, sebelum melanjutkan penelitiannya. Bosan juga hanya memandangi batu hitam.
Ada kendaraan yang disediakan Nokturnal untuk mereka para peneliti. Sebuah scooter yang bisa dinaiki oleh dua orang itu akan mengantar kan kemanapun mereka mau.
"Ajak aku berkeliling" Perintah Riby. Riby menikmati waktunya scooter pintae ini membawanya ketempat yang menyenangkan. Bagian Mutagenesis.
Riby melihat berbagai penelitian secara langsung, tangannya gatal ingin ikut.
"Kau ingin kedalam?" Tanya seorang disebelahnya. Riby hanya mengangguk matanya bersinar saat melihat pembedahan yang sedang berlangsung disana.
"Dia akan sepertiku." Suara disampingnya.
Baru Riby memberikan fokusnya pada seseorang disampingnya. Riby melihat ia dari atas hingga bawah. Seseorang itu tak sakit hati dengan perlakuan Riby, ia sudah sering mendapatkan tatapan aneh pun celaan dimasa lalu.
"Woah keren" Riby mendekat, ia meraba rambut lebatnya.
"Geli" orang itu terbahak. Seorang itu sejenis mutan, manusia berwajah singa dengan telinga runcing seperti elf dengan anting bulat hitam, matanya merah dengan badan manusia.
__ADS_1
"Aku Riby, kau?" Senyuman jenakanya muncul.
"Leonidas"
"Sangat menggambarkan dirimu" terang Riby.
"Menggambarkan? Dengan bulu lebat ini?"
"Yah bisa dibilang begitu." Riby tak mengelak, memang itu yang ia pikirkan, seekor singa. Leonidas tersenyum, ia baru menemukan manusia seunik Riby. Tak takut padanya diawal bertemu.
"Mau aku tunjukan sesuatu?"
"Sesuatu? Sepertinya menarik"
"Pasti" Leon tersenyum lebar, Riby pasti tak akan menyesal, pikirnya.
Leonidas membawa Riby ke suatu tempat. Mereka sampai pada perbatasan antar hutan lebat dan gedung Owls Side. Alis Riby bertaut, heran.
"Kita harus turun disini" Ucap Leonidas. Riby menurutinya, ia mengikuti pria itu.
Leonidas bersiul kencang. Seekor Pteranodon menghampiri Leon. Ia mengulurkan tangannya pada Riby.
"Kita akan naik ini?" Tunjuk Riby tak percaya, Leon mengangguk.
"Tenang, mereka robot" wajah Pteranodon itu terbuka. Dan ada dua kursi disana.
"Aku akan mengajakmu mengelilingi hutan buatan kami"
Kring... Kring...
"Ya Jen?"
"Kau dimana? Maria mencarimu, katanya bahan kaubmau sudah ada." Riby lupa sangking asiknya dia. Jenny menikmati sekaleng buah segar.
"Oke oke aku kesana." Padahal perjalananya mengelilingi hutan ia dan Leon mulai. Tempat ini benar-benar luar biasa menurutnya.
"Leon sorry sepertinya kita teruskan lain kali" Riby menggoyangkan ponselnya pada Leon, Leon maklum.
"Duty Calls" Leon bisa menebaknya, rumor tim dari DarkHole sedang santer di telinganya.
Karena para peneliti yang suka bergosip selalu membicarakan mereka. Akhirnya Leon bisa bertemu dengan salah satu anggota tim yang sedang panas menjadi bahan gosip itu. Leon memutar Pteranodon.
"Tunggu. Itu..." Riby melihat orang yang dia kenal menaiki mobil jeep membelah jalanan hutan dibawah sana.
"Itu Theodor ketua Foxes Side dan kekasihnya, Nona Becs" Leon memperbesar gambar pada layar. Dan membuat Riby terdiam.
"Aku jadi tak sabar, Jenny" bisik lirih dan mematikan. Tatapan Riby berubah keji.
tbc.
__ADS_1