
Bharat yang hanya mendengar petarungan Camy dan Ricky juga terkesima.
Ia juga pernah menjadi sasaran Ricky, namun tidak sampai adanya pertarungan besar.
"Aku waktu itu sedang terburu, maka aku langsung mengarah pada titik vitalnya dan mengancam. Setelah itu sudah" komentar Bharat.
Simon menuangkan sangria buatannya pada gelas Camy dan Bharat. Simon juga suka dengan sangria. Sama seperti Daniel.
"Kalian ikut keruanganku," selesai makan malam, aku dan Bharat mengikuti Simon. Bharat masuk kedalam dapur dengan tumpukan piring kotor disana ada Roxane juga Linka yang telah berkutat dengan beberapa gelas dan Manuel membantu disana.
"Terima kasih makan malamnya Roxane, sangat lezat" Bharat meletakkan piringnya disebelah Linka.
"Sudah sana, Kau masih ada yang harus dibicarakan dengan Elder kan?" Linka menarik piring kotor yang berada ditangan Bharat.
"Iya sana selesaikan masalahmu dulu," Roxane merangkul bahu Bharat dan mendorongnya keluar dapur disana ada Camy.
"Terima kasih makanan lezatnya Roxane"
"Kalian ini terlalu sungkan" setelah mengatakan itu Roxane kembali ke dapur dan mereka berdua, Camy dan Bharat masuk keruangan Simon.
Simon telah menunggunya. Ia berdiri di samping rak buku tinggi. Ia mengambil salah satunya.
"Masuklah" dan Simon berjalan kekursinya. Camy dan Bharat perlahan masuk keruangan itu.
Ruangan ini tidak banyak hiasan dindingnya disini. Lebih ke polos tanpa adanya coretan tribal. Sangat jomplang dengan ruangan yang ada dipondok Simon yang ditengah hutan.
"Bharat Loreen sudah bercerita tentang asal usulmu kan? Namun apa dia memberitahumu siapa yang pengasuhmu sebelum kau lupa ingatan"
"Tidak, karena aku yang meminta, karena aku tidak ingin melibatkan mereka yang telah merawatku, saat itu banyak nyawa mengincarku"
Bharat mengatakan yang sebenarnya. Setelah kematian Rowena, Bharat tak ingin lagi ada yang harus celaka karenanya.
"Tak masalah, mungkin kau harus tahu dari aku" Simon mengulurkan sebuah buku. Bharat hanya menatap Simon dengan menarik buku iti mndekat padanya. Dan perlahan ia membuka sampul buku, Disana ia menemukan banyak foto kecilnya.
Bharat masih membolak balik lembar demi lembar. Ada foto Simon muda juga Roxane muda disana.
Camy juga menatap gambar disana ada pria dewasa dan wanita dewasa dengan anak perempuan kecil digendongan pria dewasa itu.
Anak perempuan kecil dengan telinga serigala juga ekor nya berwarna putih, gadis itu menyengir senang. Juga para dewasa yang tersenyum bahagia.
Rambut tergerai berwarna putih juga dress lucu berenda.
__ADS_1
"Apa ini ... kalian?" Tanya Camy berjeda. Simon melirik gambar itu dan tersenyum pada kenangan yang memiliki memori menyenangkan itu.
"Iya" lalu senyumnya menjadi sendu.
"Gambar itu diambil sebelum kami menyegel ingatan kami, setelah kami menyembunyikan keberadaanmu dari mereka."
"Maafkan kami, kami pun harus menyegel ingatan kami, supaya mereka tidak bisa menemukanmu dengan membaca pikiran kami"
"Bharat maafkan kami" Simon memang menggunakan sihir tinggi dengan bantuan Rowena saat itu. Untuk menjaga Bharat.
"Mereka? Siapa? Nokturnal?" Simon mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena kau keturunan ras serigala putih"
"Keturunan terakhir, anak dari Amarin dan Rudolf" Simon berdiri melangkah mendekati lemari dan mengambil sesuatu. Pigura dengan gambar sepasang dewasa disana. Yang wanita sangat cantik, dan yang pria berwibawa.
Ia menyerahkannya pada Bharat. "Mama?" kata yang terlontar daari bibirnya. Iya ini ibunya, menjadi salah satu korban di Hide Dome.
"Amarin, dan Rudolf, Orang tuamu" Simon mengenalkannya pria yang berada disamping mamanya.
Terkadang para ibu yang berada di Hide Dome datang berkunjung kerumah mereka. Dan Bharat selalu dititipkan pada ibu Camy, jika Amarin tidak bisa menemani anaknya.
Saat penyerangan pada Hide Dome, Amarin tidak ada di rumah, Amarin berpamitan pada Bharat ia akan pergi sebentar dan siangnya akan menjemputnya.
Bharat dititipkan pada penitipan anak. Saat kejadian kelam dalam Hide Dome terjadi.
Dan Bharat digandeng dengan seorang penjaga di penitipan itu, Merasa keadaan sudah tidak terkendali.
"Nanti jika kamu mendengar suara peluit maka kamu harus berlari kepintu itu, dan masuk kesana dan berlari lagi. Okay, diujung sana ada coklat juga gula-gula kesukaan Bharat"
"Berlari okay!" Bharat hanya mengangguk cepat. ia tersenyum riang, menunggu tak asabar pergi keujung sana karena ada coklat dan gula-gula yang menantinya.
"Ibu, itu suara peluitnya, suara peluit buuu ... ayo kita kita berlari" pekiknya tak sabaran, ia menatap si ibu penitipan, yang menatap kearah bunyi peluit.
Ia merasakan tangannya digenggam dengan lebih erat, ia menatap Bharat dengan tatapan sendu. Bharat tertawa riang.
"Ayo ibuu cepat ... " ia menarik tangan ibu penitipan. Si ibu mengelus sayang kepala Bharat.
"Ayo" Si ibu panti berjalan cepat menuju pintu yang ia persiapkan jika terjadi keadaan darurat. Ia berlari dengan Bharat di gandengannya.
__ADS_1
"Itu ada yang kabur!" Suara teriakan pria terdengar di belakang mereka. Si ibu mempercepat langkahnya membuat Bharat berlari terseok mengimbangi langkah orang dewasa.
Dengan nafas menderu Bharat merasa kegembiraan disana, ia menyangka adanya sebuah festival. Dan nanti berakhir dengan dibagikannya coklat dan gula-gula kesukaannya.
Kegiatan yang sering diadakan didalam Hide Dome. Festival Manisan.
"Bharat, ibu sampai disini, ya nak, Nanti masih ingatkan apa yang ibu beritahu tadi, masuk ke pintu berlari sampai akhir terowongan dan disana ada apa?" Senyum terpatri di bibir wanita seusia mamanya itu.
"Coklat dan gula-gula" riangnya.
"Bagus! Sana cepat! Sana!" Si ibu mendorong bahu Bharat. Ia berlari dengan senyuman dibibirnya.
Saat ia menengok kearah si ibu, ia melihat perkelahian disana. Bharat memperlambat larinya. Lalu berhenti melihat petarungan itu.
"Sialaan!" Maki pria itu saat terkena pukulan pada wajahnya. Si ibu menyeringai. Ia melihat Bharat yang berhenti berlari.
"Bharat lanjut berlari" teriakkan kencang membuat Bharat tersadar. Si ibu yang kehilangan fokus akhirnya jatuh dengan pistol mengarah padanya, Mata Bharat menangkap semua kejadian itu.
Ia tetap berlari dengan genangan air mata, entah apa yang terjadi sekarang. Yang ada dipikiran gadis kecil itu hanya berlari, dan berlari.
Ia melihat gadis lebih tua darinya, yang juga menangis.
Ia mengandeng bocah di tangannya. Itu Camy. Ia mendengar celetukan Camy,
"Mengapa menangis?" Gadis mengandeng Camy hanya menggeleng.
"Ini debu masuk mata, perih"
Bharat yang hanya menatap kosong. Hingga dua orang dewasa menjemputnya. Dan mereka adalah Simon Solomo dan Roxena Anita.
Mereka mendapatkan kabar dari Amarin, untuk terakhir kalinya. Menitipkan Bharat pada mereka.
Namun serbuan Nokturnal yang membuat sang Alpha tewas membuat mereka harus tega menghapus semua memori Bharat,
Dan meninggalkannya pada sebuah panti asuhan. Mereka melakukan ini semua demi melindungi Bharat, menghapus semua ingatan mereka tentang Bharat.
Juga menutup akses Desa Arctos dari peradaban. Walau Nokturnal terus mengusik desa mereka. Mereka mengasingkan diri hingga Loreen membawa Bharat masuk lagi untuk mengenalkan kembali Desa Arctos.
Rowena memiliki andil dalam garis takdir Bharat dan ia meletakkan kartu nama Loreen agar Bharat bisa bertemu dengan Loreen yang memang pakar ramuan juga menyambungkan Bharat dengan desa Arctos.
tbc.
__ADS_1