DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Braxton dan Cahaya Ilusi


__ADS_3

"Perkembangannya tak terduga, ini melampaui kekuatan manusia biasa" Patrik melihat laporan yang Bill berikan pada Marky. Pria yang sibuk dengan cerutunya itu menghembuskan asap seakan ia baru saja mendapatkan sebuah lotre.


"Ini yang aku tunggu, dan dimana Wanita itu?"


"Wina masih berada dalam ruang penelitian Tuan" Bill menjawab.


"Kami masih menunggu hasil pastinya"


"Pastikan apapun yang ia minta kau penuhi"


Bill mengangguk,


"Patrik coba kau cek keberadaan wanita itu"


"Siap Tuan"


"Ia tak berada di tempat Tuan, Nona berada dilautan, sudah sekitar 30 menit kendaraannya melayang diatas lautan lepas"


Marky menerima radar juga video yang menampilkan keberadaan Wina.


"Bill kau tahu, apa yang sedang Wina lakukan?" Penelitian baru memperlihatkan hasil yang bagus, jangan sampai gagal lagi, ia sudah mengorbankan hidupnya untuk ini.


"Nona Wina selalu meminta waktu istirahatnya diperlama, dari makan siang hingga sore hari ia selalu keluar, dan akan pulang menjelang malam"


"Sama dengan waktu ia masih di tempat Potka, Tuan, Nona Wina selalu menghilang saat makan siang dan baru kembali menjelang malam" penjelasan Patrik membuat Marky memutar otak kembali.


Ada apa di tempat itu?


"Patrik selidiki lebih jauh, dan laporkan padaku secepatnya"


"Baik Tuan"


*


*

__ADS_1


*


Braxton dan Willow berjalan ditengah keramaian pasar Wildlife, ia akan menemui Alamira.


Melewati lorong-lorong banyak juga berbagai macam orang yang menatapnya sengit juga dengan cengiran yang menakutkan.


Willow dan Braxton abai, mereka tak bisa hanua digerrek dengan tampang yang menyeramkan.


Sekali Braxton mengangkat tangannya, mungkin wajah mereka langsung memar, atau pulang dengan beberapa tulang yang patah.


Mereka berdua berhenti didepan sebuah pintu dengan bangunan yang tak bisa dikatakan rapi, lebih ke bangunan kosong dan lama tak ditempati, yang ditinggalkan begitu saja.


Krieet ...


Suara pintu yang susah dibuka. Willow pmendorong lempengan kayu itu, banyak sarang laba-laba menempel pada pintu itu. Mereka dihadapkan pada ruangan gelap dan luas.


Yang kemudian saat mereka berada didelamnya, obor yang berada didinding menyala satu persatu.


Mereka melihat ujungnya. Sebuah patung besar berbentuk kepala ular.


Mereka berjalan mendekat. "Kalian datang" Dan dari samping Alamira keluar lalu menyapa keduanya. Ia mengenakan jubah hitam panjang.


Alamira tersenyum mereka percaya padanya. "Kau mau menjebak kami?" Willow tahu bahwa Alamira adalah bangsa peri bukan bangsa ular.


"Kalian jangan menuduh sembarangan!" Ia juga melihat wajah Braxton yang mulai mencurigainya.


"Bangsa peri sangat ketat, aku tak bisa dengan leluasa membuat kalian masuk dalam bangsa ku, dan bangsa ular, mereka bebas, dan kalian meminta bantuanku, berarti kalian sudah tahu sepak terjangku membawa banyak orang untuk menyebrang ke dunia bawah"


Alamira memandang tajam pada Willow yang seenaknya saja menuduh dirinya.


"Tapi jika kau ragu, minum ini dan keluarlah dari sini!" Alamira sangat tegas ia tak suka dituding yang tidak-tidak. Lagi pula mereka sudah bayar dan ia sudah memberikan formula ajaib penemuannya.


Willow mendengus, padahal ia yang membawa Alamira bertemu Braxton. "Lanjutkan, kami tak perlu cairan lain" Braxton mengisaratkan bahwa iaingin meneruskan dan percaya pada Alamira.


"Baik, ikut dengan ku" ia berjalan dan kedua tanunya mengikuti dibelakangnya.

__ADS_1


Mereka melewati banyak lorong gelap, yang semakin lama semakin menyempit. Lalu mereka melihat Alamira mendorong pintu kayu.


Dan mereka menemukan sebuah tangga memutar, mereka naik perlahan. Hanya ada cahaya obor di dinding yang melingkar mengikuti anak tangga.


Dan akhirnya mereka masuk dalam ruangan dengan cahaya kehijauan. Mereka melihat portal cermin. Cermin itu bergerak seperti air yang berkilau kehijauan.


"Gunakan ini" Alamira menyerahkan dua jubah ke Willow dan Braxton.


Mereka berdua memakainya. "Jangan lupa pakai tudungnya" Alamira juga memakai tudungnya.


Alamira melihat keduanya, "Siap, jangan membuka suara, sebelum aku beri tanda, jangan melakukan sesuatu yang membuat curiga!"


"Tenang dan ikuti aku" Alamira menggerakan tangannya, dari tangannya keluar sinar melingkar, sebuah pentagram.


"Ayo!" Lirihnya, yang diangguki oleh kedua orang yang berada di belakangnya.


Mereka masuk dalam portal. Dan berada didepan barrier Cahaya ilusi.


"Ssshhh ... " Willow mendesis tertunduk, ia merasakan sakit pada telinganya. Braxton juga merasajan namun ia bisa menahannya.


"Ini efek dari tubuh kalian yang berubah menjadi bangsa ular, ia sedang beradaptasi. Dan sakitnya akan segera menghilang perlahan"


"Kau tak memberitahu kami dulu!" Pekik Willow, ia merasa telinganya pengang. Dengan menatap Alamira. Dibelakangnya terlihat cahaya hijau neon yang melingkar panjang, seperti pagar pembatas.


"Hanya sementara Willow!" Tegas Alamira. Ia meluhat Willow yang menganga melihat kearah barier Cahaya ilusi.


"Dasar Manusia" mengejek mereka karena lemah oleh sihir yang membuat terbuai. Sihir yang dimiliki oleh barier Cahaya ilusi. Sihir untuk menarik musuh mendekat. Dan terjebak didalamnya.


Karena bukan hanya Willow yang tercengang, ada Braxton yang juga melihat barier Cahaya ilusi tanpa kedip. Dengan tatapan kosong.


Alamira menepuk bahu keduannya. Dan tatapan keduanya kembali fokus.


"Ini lihatlah," Alamir menyerahkan kaca dan memperlihatkan wajah mereka.


Mata mereka berubah. Dengan pipi yang sedikit memperlihatkan sisik berwarna kehijauan.

__ADS_1


"Kalian siap?"


Tbc.


__ADS_2