
Alamira melangkah kearah ruangan Braxton. Ia ingin menemui Braxton. Braxton menunggunya duduk dikurai kebangsaanya.
"Apa yang membuatmu kemari?"
"Saya ingin memberi tahukan cara yang paling ampuh agar anda tak dicurigai nanti jika masuk ke dunia bawah" Alamira telah duduk didepan Braxton.
"Bagaimana caranya?" Braxton mendapatkan syarat dari Willow yang Alamira berikan yang terlalu menyusahkan baginya.
"Anda bisa menyuntikakan ini pada tubuh Anda," ia meletakkan botol kecil dengan cairan gelap didalamnya.
"Apa itu?" Tanya Braxton. Ia harus waspada pada sekitarnya, ia tak bisa begitu saja percaya pada orang yang baru ia kenal.
"Ini adalah cairan yang akan membuat tubuh anda menguarkan aroma ras, bangsa selain manusia, dunia bawah terkenal dengan berbagai ras selain manusia hidup disana,"
"Dan hanya manusia yang mendapatkan ijin yang bisa masuk kedalam sana, juga manusia yang memiliki keturunan,"
"Anda bisa meminumnya namun efeknya akan menghilang dengan cepat, tapi jika anda menyuntikkan maka cairan ini akan menyatu dalam tubuh anda"
"Jangan kwatir Tuan, cairan ini tak akan berefek jika anda menaati satu pantangannya,"
"Apa pantangannya?" Braxton mulai mempercayai Alamira.
"Jangan sesekali anda meneguk teh apel buatan peri itu saja"
"Apa yang akan terjadi jika aku meminum teh itu?"
Sebelum Alamira menjawab, terdengar ketukan dipintu Braxton. "Tuan, Saya Osman dan Rasmus menghadap" dua orang dengan perawakan bongsor dan kurus masuk kedalam ruangan Braxton.
Ia melirik pada wanita yang berada diruangan Braxton, "Maaf Tuan apa kami menganggu?"
Osman dan Rasmus diajak Braxton bergabung pada timnya setelah ia di telantarkan oleh Marky, juga Wina dan Potka yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Mereka seperti di buang begitu saja, kemarahan dan juga benci masih bercongkol pada diri Osman.
Sebenarnya bukan hanya dirinya, ada banyak peneliti yang juga sepertinya, namun hanya dirinya yang merasa dibuang.
Yang lain kembali tetap menjalani kehidupannya, tinggal di Nokturnal pusat dengan yang lain.
Juga begitu dengan Rasmus dan Osman, tapi Osman merasa penelitiannya diabaikan, direbut dan ia dipecundangai oleh Marky. Setiap Osman ingin bertemu.
Patrik, tangan kanan, selalu memberi alasan yang sama, "Boss sibuk" hanya itu. Osman tak bodoh, ia pernah melihat Potka membawa Wina, ia merasa Marky tak ingin melibatkannya dalam penelitiannya sendiri.
Tapi ia hanya kaum rendahan di Nokturnal, siapa yang akan mendengarkan dan membelanya jika ia bercerita, tak ada.
Mereka tak akan percaya pada rendahan seperti mereka.
"Alamira kau boleh pergi, persiapkan semua dengan Willow"
"Baik Tuan" Alamira meninggalkan tempatnya.
"Ruang penelituan Tuan,"
"Bukannya sudah ada?"
"Ruangan itu terlalu kecil Tuan" Osman menyikut Rasmus yang sedaribtadi diam saja. Ia ingin tambahan suara untuk menyakinkan Braxton agar mereka mendapatkan ruangan sendiri.
Ruangan yang mereka tempati, tidaklah kecil hanya saja, orang disana memandangnya tak acuh. Semua karena sikap sombong Osman.
Ia dulu saat menjadi tim Marky terlalu menyombongkan diri, melihat yang lain dengan pandangan rendah.
Dan setelah ia ditendang oleh Marky ia harus kembali ke tempatnya semula, dan banyak yang mencibir dirinya. Ya salah satunya peneliti yang berada diruangannya.
"Iya Tuan, ruanga itu telah penuh dengan peneliti lain"
__ADS_1
"Baiklah, nanti asistenku, Mariah, akan mengabari kalian" senyuman sumir terlihat di wajah Osman juga Rasmus.
Mereka saling melirik dengan wajah sumringah. "Terima kasih Tuan! Terima kasih Tuan!" Ucap mereka berkali-kali sambil membungkukkan tubuh mereka.
Mereka pamit dan segera merapikan meja mereka yang berada di ruang penelitian, mereka tak sabar menunggu asisten Braxton menghubung mereka.
Dengan langkah sombong wajah Osman terangkat, senyim merendah ia pamerkan pada para peneliti diruangannya.
Namun tak ada satupun dari peneliti itu memeperhatikannya. Mereka hanya melirik sekilas dan kembali menekuni pekerjaannya.
"Rasmus kita harus cepat membereskan meja ini sebelum asisten tuan Braxton menghubungi kita untuk ruangan baru" Osman dengannsengaja meninghikan suaranya, agar para peneliti diruangan itu mendengarnya.
"Sudah jangan angkut semua, tinggalkan saja barang yang tak berguna disini,"
"Nanti kita tinggal meminta pada Tuan Braxton"
Ia melihat Rasmus yangbmemasukkan alat-alatnya ke dalam kardus lalu mengeluarkan kembali. Pria bongsor itu mengangguk patuh.
"Ah kita telah mendapatkan ruangan baru kita, Ayo cepat! Selamat tinggal ruangan pengap!" Ia berdadah pada ruangan dengan gaya berlebihan, kepercayaan dirinya meningkat. Juga dengan sikap sombongnya.
Osman beranjak dari ruangan itu.
"Kanapa dia?" Salah satu peneliti yang batu saja bertemu Osman didepan pintu.
"Ntahlah," peneliti yangbada didalam hanya mengangkat bahunya.
Mereka hanya menggeleng kepala dan kembali berkutat dengan penelitian mereka masing-masing.
Mereka juga tak peduli dengan keberadaan Osman dan Rasmus saat di tempat ini. Jadi ada dan tidaknyaereka berdua tak nerpengaruh bagi peneliti yang berada diruangan itu.
Tbc.
__ADS_1