DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 41


__ADS_3

"Lime kau keluar dari misi ini!" Resta mengeluarkan mandatnya.


Wajah Lime tidak terima, ia menatap Resta. 


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" 


Ini adalah kesempatan untuknya agar bisa berdekatan dengan Luford. Ia ingin mengambil hati Luford. Mengubah cinta diam-diamnya menjadi nyata.


"Kau tidak melakukan sesuatu yang salah tapi Luford telah mengetahui dirimu adalah anggota Giant pipe."


"Jadi maaf dengan berat hati kau keluar dari misi ini"


"Dan Will kau gantikan Lime"


"Apa tidak bahaya untuk Will?" Tanya Shelbi yang juga berada disana.


"Malah bagus. Saat ini Luford terobsesi dengan Will, aku mendapatkan informasi dari kenalanku yang terpercaya" ucap Resta.


"Kau akan didampingi oleh Inu Shiba, kau tenang saja Will, ia tak semenyebalkan Terios"


Terios yang namanya disebut terbatuk di kursinya. Ia telah sedikit pulih.


"Will kau siap mengemban misi lagi?"


Willow diliburkan dari berbagai kegiatan dan misi setelah kembali dari penculikan.


"Siap!" Ia mengangguk. Ia pun bosan tidak memiliki kegiatan apapun.


"Baiklah siapkan dirimu. Kita akan melakukan penyerangan."


Willow kembali mengangguk. Troto melihatnya. Ia yakin Willow bisa mengatasinya.


"Baiklah! Siapa yang tidak masuk dalam misi silahkan keluar" ucap Resta.


Mau tak mau Lime ikut berdiri dengan Shelbi mereka keluar dengan beberapa kapten lain.


"Jadi ini rencananya … "


*


*


*


"Bagaimana disana? Aman?" Anak buah Luford berbicara dengan para penyusup yang menyusupi Giant Pipe.


"Untuk sekarang masih aman, aku tak mengerti mengapa dulu Guapo bisa merebut High Majesti jika aku saja bisa semudah ini menyusup."


"Kau jangan lengah! Beritahu kami jika terlihat adanya jebakan! Aku mengandalkanmu!"


"Baik siap!" Balasan semangat dari seberang. Ia terlampau senang. Ketua pemimpin dari markas mengandalkan dirinya.


Tawa menggelegar di belakangnya mengagetkan dirinya.


"Dan kau percaya? Mengandalkan atau menumbalkan?"


"Kapten Degan?"


"Hai Tyac, sebodoh apa kita jika tidak tahu adanya penyusup, kalian tidak terpikirkan jika si bodoh yang kau bicarakan  itu adalah kalian sendiri"


Jebakan! Ucap Tyac dalam hati. Ia geram. Bagaimana bisa ia terjebak! Sialaan!! Makinya dalam hati.


"Ya jebakan dalam jebakan. Coba pikir dengan otak pintarmu, bagaimana bisa kau semudah itu masuk dalam jebakan kami?"


"Kapten bi-bicara a-apa?" Ia ingin menghindar namun tentu saja terlambat. Sangat terlambat.


"Bawa dia!" Suara tegas Degan membuat para pengikutnya berderap ke arah Tyac.


"Tidak!"


"Apa yang kalian lakukan!"


"Kapten mengapa kau menangkapku!"


"Tidak! Apa salahku!"


"Lepaskan!"


Tyac terus memberontak, ia diseret untuk ikut dan masuk kedalam ruangan gelap tanpa cahaya.


Pasukan melemparkan Tyac masuk kedalam ruangan itu lalu menguncinya. Tyac tersuruk.

__ADS_1


Ia bangkit dan kembali menggedor.


"KALIAN TAK AKAN LOLOS!"


"TUAN LUFORD AKAN MENGHANCURKAN GIANT PIPE TAK BERGUNA INI!"


"DAN KAMI AKAN MENGAMBIL ALIH HIGH MAJESTI KEMBALI!"


"DENGAR KAMI AKAN MEREBUT APA YANG MENJADI MILIK KAMI!"


BRAK! BRAK! BRAK!


"DENGAR KAU GIANT PIPE!"


Tyac menggendor, bukan ia menghantam pintu tebal itu. Pintu yang bisa meredam segala suara untuk keluar. Jadi sia-sia saja sekeras apapun kau berteriak. Tidak akan terdengar keluar.


"TUAN LUFORD AKAN MENYELAMATKANKU!"


Nafasnya terputus-putus. Tyac mulai lelah. Monitor cctv menangkap apapun yang Tyac lakukan.


Menunggu beberapa hari. Penjara itu membuat mental Tyac rusak. Benar apa yang dikatakan Tyac, Luford mengerahkan anak buahnya untuk mengeluarkan Tyac dari sana.


Sosok dengan baju hitam menyusup. Ia menghabisi satu per satu penjaga yang menjaga penjara itu.


Ia masuk menemukan dua penjaga. Penjaga itu menyerangnya bersamaan. Sosok itu menarik tangan salah satu penjaga lalu mematahkannya dengan cepat.


Penjaga satu lagi maju. Ia menyerang dengan tendangan yang berhasil ia hindari. Ia melayangkan tinjuannya. 


Membuat penjaga itu tak sadarkan diri.


"Jordan! Kau tak perlu membunuh mereka! Terus saja maju! Temukan Tyac!"


"Baik Tuan!"


Kembali ia menyusuri lorong putih. Dengan pakaian serba hitam yang ia kenakan sangat kontras.


Ia mendengar langkah berderap. Ia menyiapkan senjata api. Kimpulan penjaga lain mulai nampak dan menyerangnya.


Hujanan peluru menyerbu dirinya. Ia mengeluarkan perisai. Perisai itu ia putar dan peluru-peluru itu kembali menyerang para penjaga. Tanpa ia harus memakai senjata miliknya.


Trak! Trak! Trak!


"Argh!"


"Mundur!"


"Bersembunyi!"


Para penjaga mundur, membuat Jordan maju. Masih dengan memutar perisai miliknya.


Ia berdiri di pinggir dinding, sebelum masuk kedalam, ruangan yang para penjaga itu masuki, ia memasukkan perisainya dan mengokang senjatanya.


Dor! Dor! Dor!


Dengan gesit Jordan menembaki para penjaga dan tepat sasaran. Ia paling anti membuang-buang peluru.


Satu persatu para penjaga terkapar dengan pelipis atau kepalanya bolong berlubang dengan darah segar mengalir keluar.


Ia berhasil menghabisi para penjaga. Dirasa tak ada lagi yang menyerang Jordan memasukkan senjatanya. 


Jordan menuruni tangga menuju lorong temaram. Dindingnya terbuat dari tumpukan bebatuan dengan lumut tumbuh lebat. Tempat dingin dan lembab.


Bau tanah bercampur dengan tengik kayu lapuk tercium. Jordan dengan sigap menahan nafas lalu cepat menggunakan gogglesnya. Lalu kembali bernafas.


Ia sempatenghirup sedikit racun yang menguar di sekitarnya. Lumut dan bau kayu lapuk itu adalah ramuan racun untuk melemahkan musuh.


Jika ia menghirup berlebihan maka ia akan berhalusinasi. Untung kesadarannya cepat bekerja.


Jordan telah masuk ke deretan pintu tanpa nomor. Ia menuju pintu Tyac. Ia menelitinya saat di markas Luford. Pintu jenis ini tak bisa dibuka hanya dengan mendobrak.


Pintu ini harus dihancurkan. Jordan meletakkan satu bom lalu ia bersembunyi.


Debuman bom menghancurkan pintu itu.


"Tuan Luford akhirnya kau menyelamatkanku" ucap Tyac dengan tubuh kurus, dengan wajah tak sesegar dulu.


Ini baru berapa bulan ia ditangkap. Siksaan mental yang begitu kejam yang membuat wanita itu tampak lebih tua dari umur aslinya.


Tyac berjalan gontai menghampiri Jordan. Lelaki itu menangkap tubuh Tyac yang akan terjatuh.


"Kau penyelamat yang dikirim tuan Luford?" Ucapnya lirih.

__ADS_1


Jordan hanya mengganggu.


Tyac tertawa terbahak. Apa yang ia teriakkan diawal masuk dalam penjara sialaan ini terwujud.


"Tuan Luford tidak akan melupakanku!"


"Bawa aku ke markas"


"Bawa aku menemui Tuan Luford."


"Aku akan pulih dan membalas semuanya pada Giant Pipe!"


Jordan membopong tubuh Tyac yang terus saja meracau apapun. Ia tidak sekalipun menanggapi. Ia hanya menyelesaikan tugasnya.


Keluar dari penjara Giant Pipe terasa lebih mudah. Kewaspadaan Jordan meningkat. Tidak mungkin semudah ini, pikirnya.


Ia meletakkan Tyac yang masih meracau dalam kendaraannya. Dan melesat pergi. Ia membawa kendaraannya masuk dalam hutan.


Lalu setelah sampai ditempat yang ia tuju. Jordan turun. Ia menarik keluar tubuh Tyac. Wanita itu terus meracau.


"Ini dimana?"


"Ini bukan markas!"


"Kau mau bawa aku kemana!"


Tangannya terus ditarik oleh Jordan. Tanah tandus tanpa ada yang pepohonan yang mengelilingi. Sangat luas. Lapangan rerumputan kering.


Di depan tumpukan bebatuan kapur ada dimana-mana. Bau sulfur menguar. Tyac terus saja merancau. Ia memberontak tapi tubuhnya yang semakin lemas, hanya bisa memberontak lemah.


"Kau siapa?"


"Kau bukan utusan Tuan Luford!"


"Siap — hegh — "


Jordan mendorong Tyac ke pinggir tebing dengan mencekik leher wanita itu. Jordan terus mendorong hingga kaki wanita itu menyentuh ujung bibir tebing.


Tebing tinggi. Di bawah asap mengiar naik keatas. Tebing yang ditutupi kabut sulfur. Tyac susah bernafas. Aroma sulfur membuat ia lebih tercekat.


Jordan dengan gogglesnya menatap datar wanita yang terus saja memukul-mukul tangannya mencekiknya.


Jordan mengangkat tubuh Tyac lebih tinggi. Kaki wanita itu tidak lagi menyentuh permukaan tebing.


Dan Jordan mendorong perlahan tubuh Tyac keluar tebing.


"Arhghegh … "


"Hgheh …. "


"Ya Tuan"


"Cepat selesaikan misimu!"


"Tuhegh … an … luffhhh … "


Tyac disisa kesadarannya ia bisa mendengar Jordan mendapatkan panggilan dari Tuannya. Ia susah payah ingin berbicara. Tenggorokannya semakin tercekat. Jordan mengeratkan cengkraman pada lehernya.


"Baik Tuan!"


"Misi selesai!" Ucap Jordan.


Lelaki itu melepaskan cengkraman pada leher Tyac. Layaknya gerakan slow motion. Tyac melebarkan mata, ia menggapai tangannya di udara. Meraih kekosongan. Kakinya pun bergerak meronta.


Matanya memerah dengan air mata yang mengalir ke atas berlawanan dengan gravitasi. Suaranya pun tak keluar.


Tentu siapa yang akan lolos dari kematian jika jatuh dari tebing itu. Jordan melihat ke bawah tebing yang tak terlihat.


Ia berjalan meninggalkan tebing itu. Kembali ke markas Luford.


*


*


*


"Mereka membunuh Tyac" salah satu pasukan elit Giang Pipe mengabarkan pada Resta.


Resta telah menduga dan menunggu saat Luford mulai bergerak.


Diruangannya Resta menatap tajam seseorang yang terpaku pada tempatnya. Memainkan mental seseorang itu, melihat dari tatapan kosong lelaki di depannya itu saat rekannya dibunuh dengan harapan.

__ADS_1


"Semua keputusan berada ditangan mu" Resta menatap lurus tanpa ekspresi.


Tbc.


__ADS_2