
Camy berada di kendaraannya bersama Bharat.
"Aku tak menyangka kau ada turunan ras serigala?"
"Yah, akupun tidak, tapi saat bertemu dengan Loreen, ia menceritakan asal usulku, dan mengapa, Rowena Angel, tetuaku, mempercayakan kekuatannya padaku"
"Sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Aku belum siap lagi" Ya sejak kematian Riby, Bharat juga menyesali, mengapa ia tidak menyertakan kekuatannya saat itu.
Ia sangat-sangat menyesal. Firasatnya telah berkata, namun ia mengabaikannya. Untuk itu ia memutuskan untuk tidak dulu menggunakannya. Ia tak ingin ada penyesalan. Ia ingin seperti manusia normal lainnya.
Walau ia harus mengkhianati kepercayaan Rowena. Druw mendukungnya, mempersilahkan Bharat melakukan apapun yang ia mau. Untuk tidak menggunakan kekuatannya adalah haknya. Tidak ada kewajiban, jika ia menggunakannya.
Dan keputusannya saat itu mengunci kekuatannya ini.
Mereka berada di Desa Arctos. Tempat dimana Loreen pernah membawanya. Desa dengan hutan mengelilinginya. Penjagaan yang ketat. Menurutnya saat bersama Loreen ia merasakan ada jutaan mata sedang mengawasi tindak tanduknya.
Ia bisa bernafas lega saat ia berada dalam pondok Simon. Serasa beban berat yang berada di tengkuknya, saat ia memasuki desa terangkat begitu ia memasuki pondok kayu ini.
Mereka sampai, Camy sekarang yang merasakan tengkuknya merinding, ia seperti diawasi ratisan pasang mata, Camy beberapa kali menengok kearah belakang.
Melihat apakah ada yang sedang mengintainya. Bharat hanya menyungging sedikit senyum. Ia mengerti perasaan Camy.
Bharat, melangkah memasuki pondok, ia menaiki tangga kayu, menuju karah pintu, namun sebelum pintu Bharat ketuk, muncullah sesosok pria muda disana.
"Masuklah Nona Colton" pria itu membuka pintunya lebar-lebar,
"Hey, Bharat! Aku sudah bilangkan Ricky"
Pria muda itu adalah Ricky, Asisten Simon. Ricky menatap tajam Camy. Ya tipikal selalu waspada.
"Ini temanku Ricky, kenalkan Cameroon Aldy dan Camy ini Ricky asisten Simon" Bharat mengenalkan mereka.
"Cameroon Aldy" Camy mengulurkan tangannya.
"Ricky Balton" ia menyalami Camy, sekilas dan tampak tak ramah. Camy tidak peduli. Disini ia akan berurusan dengan Simon Solomo.
Ia duduk di kursi kayu, yang berbentuk akar pohon. Ia melihat ruangan itu, banyak ornamen tribal, juga banyak tulang belulang hewan sebagai hiasan dindingnya.
__ADS_1
Kemudian matanya bersimborok dengan pria tua yang berjalan kearahnya dengan cengiran yang tak luntir dari wajahnya. Dahi Camy mengerut.
Pria ini mengenakan kemeja lengan pendek. Kemeja pantai yang longgar dengan warna yang menusuk mata, juga dengan topi jerami juga kacamata hitam yang ia sangkutkan pada kancing kemejanya.
"Bharat" Sambutnya dengan tangan terbuka. Bharat berjalan mendekat dan memeluk hangat pria tua itu.
"Kau apa kabar pak tua?" Goda Bharat.
"Hei gadis kecil! Jaga bicaramu," ia menepuk kepala Bharat pelan.
"Ini siapa?" Simon menatap Camy dengan senyum ramah yang sangat berbeda 180 derajat dengan sambutan dari pria muda tadi, eh siapa namanya? Ricky? Batin Camy.
"Cameroon Aldy, Tuan"
"Simon Solomo, kau bisa memanggilku Simon seperti gadis kurang ajar yang ada disebelahku ini" tawa hangat mereka menghiasi ruangan.
"Aku mendapatkan kabar dari Daniel akan kedatanganmu"
"Iya Simon, aku langsung saja, apa kau bisa membantuku?"
"Lebih baik kita membahasnya disana" Simon menunjuk ruangan dibalik tirai dengan hiasan kerang kecil yang terjalin indah tergantung disana.
Ia masuk dalam, nampak sebuah lorong dengan banyaknya jendela kecil di kanan dan kirinya, lalu ia melihat ruangan dengan meja makan disana, juga ada Ricky sedang mengaduk cairan yang ada di cangkir lalu pria itu meletakkan di meja, diatas meja sudah ada tiga cangkir, yang berarti untuk Simon, Bharat juga dirinya.
"Silahkan duduk Nona Aldy, Ricky kau keluarlah" Ricky hanya mengangguk dan melenggang meninggalkan ruangan.
"Sedikit Daniel telah bercerita tentang tujuan kalian kemari" Lanjut Simon.
"Aku bisa saja membantu kalian, namun kekuatan shield yang sekarang samakin melemah, aku sudah terlalu tua untuk bisa menambahkan energi." Ada kesedihan terdengar dalam suara Simon.
"Aku bisa menjaganya karena mendapat tetesan darah dari ras serigala putih, serigala dengan ras tertinggi disini"
"Apa ada cara lain untuk bisa mempertahankan shield itu?"
Camy tidak ingin keberadaan minoritas yang bersembunyi diketahui keberadaannya, dan membuat Marky lebih mudah memerintahkan orangnya untuk menghancurkan mereka yang jadi penghalangnya.
"Ada, keturunan ras atas asli. Ras serigala putih. Dengan adanya mereka, Shield akan lebih kuat."
"Dimana aku bisa menemukan mereka?"
__ADS_1
"Tidak ada Cam" Bharat mendesah dengan lemas, ia tahu cerita suku ini, tentang Luna yang pergi meninggalkan Alpha nya.
"Keturunan terakhir serigala putih itu diculik oleh Nokturnal. Dan hingga saat ini, mereka tidak pernah mendengar kabarnya lagi" penjelasan Bharat membuat Camy terdiam. Lagi-lagi Marky.
Simon melihat adanya rasa kecewa pada raut wajah Camy. "Sebenarnya, aku ingin mencarimu Nona---"
"Camy" Camy meraih cangkirnya yang sudah tidak panas lagi, ia menyesapnya. Rasa manis yang terasa di akhir, membuat bibirnya terangkat.
"Dengan tujuan yang sama, ingin meminta tambahan shield yang kau ciptakan, karena ini cara terakhirku untuk melindungi desa ini."
Simon beranjak dari kursinya. "Kalian ikuti aku, aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kalian."
Simon menggiring kedua wanita itu untuk keluar pondok, mereka melihat Ricky yang berjaga didepan pintu juga mengikuti mereka.
Mereka menyusuri sebuah jalan setapak, yang bersih dan tertata apik, juga pohon tinggi menjulang dan rimbun menghalangi sinar matahari yang coba menerobos masuk.
Ia melihat sebuah gua besar didepannya,
"Kemari" ajak Simon.
Camy mengikuti, tidak ada rasa curiga, Bukan, Bukan Camy yang merasa curiga namun pria muda yang sedari tadi menatapnya nyalang.
Entah Camy melakukan apa hingga asisten Simon terlihat tidak menyukainya, Camy sempat bertanya pada Bharat, dengan tersenyum ia berkata, "Ricky memang begitu, dari dulu, aku pun mendapat perlakuan sama denganmu awal Loreen membawaku kemari"
"Hey Ricky, jaga tatapanmu! Temanku merasa terganggu!" Terguran keras tidak mengalihkan pandangan Ricky pada Camy.
Sebenarnya Camy bisa saja mengabaikan, tapi aneh saja, ia ditatap seperti seorang pencuri yang akan mencuri benda berharga milik pria muda itu.
Simon mengambil obor yang berada di dinding gua, dan melanjutkan kembali langkahnya kedalam, tangga tinggi dan gelap menanti mereka.
Camy lanjut berjalan dengan Bharat yang mengomeli Ricky dan yang diomeli hanya acuh. Dan terus menatap nyalang Camy. Sudahlah, Camy menyusul Simon saja.
hanya ada tembok sempit dengan tangga yang tak berujung. Namun Camy dapat melihat disudut sana adanya sinar terang memancar, dan Simon meletakan obornya pada pengait yang ada didinding gua.
Ia mengikuti dibelakang Simon yang memasuki tempat itu, Camy juga Bharat tercengang, langkah mereka melambat, Bharat menganga, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bongkahan batu indah, berwarna bening bercampur putih susu dengan gliter. Sangat cantik. Berkilau.
"Ini adalah kristal meteor. Salah satu rahasia penguat shield pelindung kami"
__ADS_1
tbc.