DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bandit Pengganggu


__ADS_3

Alamira, Braxton dan Willow sudah berada disebuah rumah pohon. Tampak seperti terlantar dan tak berpenghuni. Memang, ini rumah keluarga Alamira yang sudah lama mereka tinggalkan.


Mereka sedang duduk didekat perapian kecil. Menikmati minuman mereka. Terlihat asap dari hembusan nafas mereka.


Suasana sangat dingin di malam hari. Willow mengeratkan mantelnya. Sesekali menatapi dinding rumah pohon ini.


"Jadi disini kita harus tinggal?" Tanya Willow mengernyit. Ia jijik dengan keadaan rumah pohon yang hampir reyot. Bukan hampir malah akan roboh, mungkin.


"Sementara" ucap Alamira.


"Kalian harus bersabar, kalian bukanlah turis" sarkas Alamira pada Willow.


Willow sedang mengamati mantelnya yang penuh dengan sarang laba-laba. "Ck! Tapi harusnya bisa kan memberi kita tempat yang layak, mungkin goa lebih layak dari rumah reyot ini" cerewet Willow.


"Willow bisa kau kendalikan omelanmu!" Braxton merasa gerah mendengar keluhan Willow.


Sraak!


Mereka saling menatap dan waspada. Alamira mematikan perapian, ia melangkah sangat pelan. Ia melihat Willow akan beranjak tapi dengan gerakan tangannya, Alamira menyuruh Willow tak melakukan pergerakan apapun.


Ia mendekat ke jendela. Mengintip. "Ark" pekiknya tertahan, Busur melesat tepat di pinggir pipinya. Dan darah segar menetes. Alamira segera mencari persembunyian. Ia mengusap tetesan darah dipipinya. Dan kembali darah itu keluar.


Willow dan Braxton melangkah ke tempat yang lebih aman. Bersiap dengan senjata masing-masing.


DOOM!


DOOM!


DOOM!


Rentetan ledakan dari luar. Willow dan braxton berlari keluar pintu, Namun Alamira menghentikan Braxton dengn emnahan lengannya dan menyeretnya ke tempat keluar tersembunyi.


Ia tahu karena ini rumahnya, Willow mengikuti di belakang Braxton. "Siapa mereka?" Tanyanya.


"Mungkin bandit-bandit tadi yang tak terima dengan kekalahan." Mereka menuruni tangga yang terlihat lapuk, dengan banyak sarang laba-laba nuga debu yang bertebaran.


Willow menutup hidungnya, sedangkan Braxton mengenyahkan sarang laba-laba yang menganggu jalannya.


Mereka sampai di bawah dan disambut dengan air, yang membanjiri lantai bawah. Alamira menyerahkan alat pernafasan untuk mereka berenang.

__ADS_1


"Pakailah!" Alamira tak menunggu, ia mengenakan dan menceburkan dirinya, saat di air alat itu melindunginya dari air. Ada selaput bening melindungi dirinya agar tak basah.


Braxton menyusul dan diikuti oleh Willow, ia diam-diam takjub dengan penemuan wanita itu.


Pantas mereka menyebutnya peneliti ilegal. Ternyata wanita itu mengabungkan sihirnya pada alat-alatnya.


Hal itu sangat tabu jika kalian membahasnya di dunia manusia, apalagi di Nokturnal, mereka mengatakan ilmu sains tak boleh digabung dengan sihir.


Dan itu ilegal, makanya mereka dari dunia tengah dan bawah jika berada di dunia atas atau manusia mereka membuat shield untuk melindungi mereka dari kejamnya para manusia.


Mereka tak segan untuk menghancurkan desa mereka dan itu terjadi pada desa Arctos.


"Hidupkan radar dan siapkan senjata yangbaku beri jangan menggunakan senjata kalian!"


Mereka masih berada dibawah air. Mengikuti pergerakan Alamira. Dan mereka sampai di tepi sungai, dalam keadaan kering.


Dan alat tadi menjadi kacamata, juga senjata belati untuk Braxton dan panah untuk Willow.


"Luar biasa" Braxton takjub dengan belati yang tak sengaja ia hempas dan menjadi sebuah pedang ditangannya.


"Kalian bisa menggunakannya kan?" Tarikan bibirnya menandakan ejekan pada Willow. Alamira mendengus saat Willow melepaskan panahnya pada dirinya.


"Bagaimana?" Kata Willow santai.


Mereka sangat terbantu dengan kacamata dari Alamira, mereka bisa melihat dalam kegelapan. Kacamata yang bisa mendeteksi suhu tubuh.


"Lebih baik kita serang sekarang, dan aku sangat lelah, lebih cepat selesai, lebih bagus" ujar Alamira.


Ia ingin beristirahat, dirumahnya yang sesungguhnya, ya rumah yang tadi mereka singgahi tadi memang rumah Alamira, rumah lama miliknorang tuanya yang sudah ditinggalkan lama.


"Mari kita bereskan" tanpa lama Alamira maju menuju targetnya begitu pun dengan Braxton dan Willow mereka menuju target masing-masing.


"Hgrk ... " muntahan darah dari musuhnya, Alamira menghunus pedangnya pada daerah fatal lawannya.


Syuuut!


Syuuut!


JLEB!

__ADS_1


JLEB!


BRUG!


Dua mata lawan Willow melebar dengan panah yang menancap didahinya. Mereka tewas.


Srink!


"Itu mereka!" Teriak lawannya saat mereka melihat kilat dari pedang milik Braxton.


Braxton mengayunkan pedangnya, ia memainkannya sembari melangkah mendekat kearah lawan yang menyerangnya bersamaan.


Srak!


"Ark!"


"Argh!"


JLEB!


Braxton mengangkat tinggi pedangnya ia ingin menghunuskan namun, serangannya ditangkis, mereka saling menyerang. Menari dengan pedang masing-masing.


TRANK!


TRANK!


Braxton harus mengakhiri ini. Nafaanya mulai tersegal. Ia mengambil nafas dalam. Ia menambah sedikit kekuatannya. Menyerang untuk menyelesaikan.


TRANK!


ZRAAK!


Braxton mendapatkan lawan yang bisa melawan balik dirinya. Kelincahannya dalam menyerang tak bisa dikalahkan. Ia mengoyak perut lawannya hingga darah segar berhamburan rumput.


Alamira memegang dagu salah satu yang menyerang mereka,


"Kau bandit yang tadikan? Bilang pada kawananmu, aku Alamira tak takut pada kalian, Bajing lemah! Sampaikan itu pada Homur!"


Ia melepas kasar dagu si bandit dan membiarkan bandit itu melarikan diri.

__ADS_1


Terdengar nafas yang terputus-putus dari mereka bertiga. "Ayo kita perlu istirahat" Mereka meninggalkan hutanngelap dengan mayat-mayat lawan mereka yang tewas.


Tbc.


__ADS_2