DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Permusuhan Ricky


__ADS_3

Ini yang Amarin sampaikan pada Simon dulu saat Amarin remaja, tentang kedatangan Ratu Putih, yang awalnya Simon menganggap sebagai lelucon anak kecil saja.


Namun semua yang Amarin bicarakan tidak ada yang lucu sedikitpun, tentang dirinya juga Rudolf yang akan lenyap saat dewasa, juga lahirnya Ratu Putih.


"Dimana Bharat?" Roxane sedang menyiapkan sarapan ketika Simon turun ke dapur. Roxane menatapnya lalu kembali sibuk pada kegiatannya.


"Dia berada di gua meteor kristal, menambah kekuatan untuk Shield" jawab Roxane. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, Bharat tetap Bharat yang biasanya. Dan membuat Ricky agak menyepelekan ritual yang telah terjadi.


Disana Linka menyiapkan meja, meletakkan panci besar dengan isian sup hangat, asapnya masih mengepul.


"Ricky panggil semuanya" Ricky yang sedari tadi duduk menikmati apelnya pun berdiri menuruti perintah Linka.


Memanggil semua anggota untuk sarapan bersama ritual setiap pagi. Dan tak ada yang boleh keluar jika mereka melewatkan sarapannya. Linka lebih seram ketimbang Roxane jika marah. Maka mereka menurut saja.


"Pagi" Manuel memluk Linka dari belakang dan mengecup pipinya.


"Manuel panggil Bharat sarapan, dia berada di gua meteor kristal." Simon berkata. Manuel hanya mengerakan kepalanya. Kemudian mencium cepat Linka dan keluar dari rumah.


"Manuel mau kemana?" Ricky sudah berada ditempatnya saat tadi ia berpapasan dengan Manuel. "Ia sudah sarapan?" Linka mengeleng kepala.


"Kau tak memanggol Bharat kan? Maka aku menyuruh Manuel memanggilnya, ia adalah Ratu kita" ucap Linka dengan memberi mangkuk pada Simon.


"Cih!" Ricky berdecih, entah mengapa ia tidak begitu percaya dengan Bharat. Kerena yang harusnya menjadi Luna adalah Selena. Ricky tak tahu jika Bharat mempunyai pasangan yang sudah ditakdirkan sendiri. Ia tidak bisa asal pilih saja.

__ADS_1


"Pagi, harum sekali, lapar" Selena mengecup pipi Roxane dan Linka bergantian. Dibelakangnya ada Jordan yang menguap lebar.


"Kenapa lagi dia?" Tanya Jordan, saat melihat wajah Ricky yang menekuk kesal. Ia merebut paha kalkun yang ada ditangan Ricky dan memakannya. Iseng.


"Hei, ambil sendiri" Ricky yangbkesal melampiaskan pada Jordan. Ia tak mengalah. Ia ingin merebut kembali.


Jordan menjauhkan tangannya yang memegang paha kalkun itu. Agar Ricky tak bisa meraihnya. Dan terjadi lagi. Ricky mendorong tubuh Jordan kearah jendela hingga jebol dan Jordan berguling dirumput dengan cepat berganti shift dirinya menjadi serigala.


Ricky menyeringai. Dan melompat untuk menyerang Jordan. Ini seperti kebiasaan tidak ada dari mereka yang akan mengalah hingga salahbsatunya menyerah.


Bharat yang melihat kejadian jebolnya dinding dapurpun tercengang. Ia menarik Manuel "Lerai mereka" ucap Bharat yang melihat Ricky yang mulai kualahan. Jordan terus menyerangnya.


"Biarkan saja nanti juga berhenti dengan sendirinya, ayo sarapan, mereka sudah menunggumu" Manuel melangkah tenang meninggalkan dua serigala mengamuk dan Bharat yang bingung.


"Nanti kau akan terbisa, dulu Linka sering ngamuk jika mereka merusak," Selena memberikan sup hangat pada Bharat.


"Ya sudah lelah aku marah, nanti cepat keriput aku kalau ngamuk kemereka yang tak akan mendengarlan dan tetap mengulangi" Linka memberi Bharat potongan daging ayam.


"Kau semakin cepat!" Jordan masuk dengan merangkul bahu Ricky.


"Lain kali kontrol amarahmu! Kelemahanmu, dan kau akan berakhir tragis ditangan lawan." Jordan mendekat pada Selena. Dan memeluknya.


"Berapa kali aku bilang jangan mengusili Ricky" Selena memberi mangkuk sup pada Ricky. Dan senyuman tercetak pada wajah pria muda itu. Ia menganggap Selena adalah kakak yang ia sayangi, sifat keibuannya membuat Ricky nyaman.

__ADS_1


Maka ia sangat marah ternyata Bharat adalah serigala putih, juga melihat dari kalau ia keturuanan dari Amarin maka ia adalah Luna yang kuat. Ia lupa jika serigala hanya bisa mengimprint pasangannya.


Bukan mengganti seenaknya saja.


Ricky melihat nyalang kearah Bharat. "Heh! Kau itu! Hormatlah, dia akan menjada klan kita!" Linka meraup wajah Ricky dengan tangannya. Memutus tatapan menantang ala Ricky.


Ia menatap Linka kesal. "Biar sayang, dia belum melihat perwujutan Bharat, nanti juga akan takluk," Linka menyipitkan matanya.


"Kau juga takluk saat melihat Bharat!" Serunya, siap menjewer kuping Manuel.


"Ya enggak lah sayang kau yang ada dihati" gombalnya, ia memeluk Linka agar  tak melemparkan cubitan-cubitan sayang namun menyakitkan itu.


"Halah! Jangan percaya, mereka bukan terpana tapi terpesona hingga tak ingin mengedipkan mata" Almaz mengompiri Linka dan Selena ikut menatap Jorxan yang langsung membuang muka tak ingin menatap mata Lunanya itu.


"Aah kau jugaaa ... " senyuman jahil membalas ucapan Selena, "dewi Haiyla sangat cantik, sayang, aku baru melihat penampakannya dan memang sama seperti pada cerita, memepesona" jujur Jordan. Yang membuat Manuel mendapatkan cubitan pedas dari Linka.


"Jordan sialaan!" Lirih Manuel menahan perih di kulitnya.


"Sudah ayo lanjutkan sarapan kalian" Simon menyudahi peperangan panas antar padangan ini.


"Ricky Jordan jangan luoa perbaiki kegaduhan kalian!" Hanya itu yang terlontar dari mulut Roxane, ia sedari tadi hanya menjadi pendangar. Lalu meletakkan piring kotor di bak pencuci kemudian keluar dari ruang makan.


Bharat merasa wanita itu lebih pendiam. Sejak malam dimana ia bertemu dengan Haiyla Moon Goddess, Bharat tak tahu mengapa, tapi ia sangat kehilangan, Roxane adalah sosok ibu baginya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2