DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Herma?" Wina melihat seorang yang sama persis yang digambarkan Ritmi.


"Ya? Kau orang asing kenapa bisa tahu namaku? Siapa kau?" Semut seukuran tubuhnya menodongkan tombak yang ia bawa.


Ia melepaskan tasnya dan memperlihat kan Ritmi yang tertidur di dalamnya.


"Ritmi?!" Seruan kencang.


"Hah! Eh!" Ritmi gelagapan, ia terbangun dengan terkejut.


"Herma?" Buku itu linglung, "Wina?" Ia melihat Wina di depannya dengan senyum yang membuat perasaan buku itu tak enak.


"Sialaan kau manusia! Tidak bisa dipegang kata-katanya!" Marah Ritmi. "Aku tak menyuruhmu untuk mempercayaiku" ucap Wina.


"Jadi dia musuh?" Herma menodongkan tombaknya pada Wina. "Iya! Habisi!" Perintah Ritmi.


Wina meraih Ritmi, "Dan aku akan membangunkan Ratumu, dan akan mengumpankan kau buku tua" Ancam Wina.


Herma yang tadi menodongkan tombaknya, ia menarik lagi tombak itu. Ini masa-masa Ratu semut berkembang biak, dan Herma tidak ingin membuat marah ratunya. Karena ia tak ingin jadi santapan sang ratu.


"Jadi, lebih baik kau tunjukan jalan untuk ke pusat Phoenix Way. Dan jangan mencurangiku! Atau kau lihat saja apa yang bisa manusia ini lakukan ke kalian" tatapan tajam Wina lemparkan pada keduanya yang ditanggapi dengan dengusan Ritmi.


"Ayo mulai jalan, tak banyak waktu lagi." Mereka pun berjalan menyusuri lorong tanah yang gelap.


"Hei Ritmi mengapa temanmu ini ingin ke pusat Phoenix Way, ingin ikut berburu batu Kristal kah?" Herma menyindir Wina.


Wina tidak peduli. Ia terus mengikuti kemana semut besar itu membawanya.


"Ya begitulah manusia kan memang suka membuat huru-hara. Kau ingat dulu, tentang penculikan Ratu Amarin? Manusia itu membuat goyah dunia bawah. Lalu Moon Goddess memblok manusia memasuki dunia bawah"


Wina hanya diam, namun kupingnya terbuka untuk mendengar belum lagi suara mereka menggema di lorong.


"Berhenti, sssttt, jangan bersuara" Herma mengiring Wina untuk bersembunyi. 


Langkah kaki terdengar, semakin menjauh, Herma pun keluar dari persembunyian. "Kita harus cepat." Herma mendahului Wina, ia tak lagi mengeluarkan suara. Hening. Karena tak ada yang mau menjadi mangsa sang Ratu semut.


Lama mereka berjalan mengikuti lorong gelap. Akhirnya Wina bisa merasakan adanya cahaya di ujung lorong. Herma menghentikan langkahnya. Wina berbalik karena si semut itu tidak menyusulnya.


"Sudah aku mengantarmu sampai sini, pesanku, harusnya kau diam di tempatmu saja, peperangan besar akan terjadi, dan Ritmi hati-hatilah"


Herma kembali masuk ke dalam lorong. Wina tidak mengindahkan ucapan Herma. Ia bisa juga melawan, namun kemana? Ke manusia atau desa arctos alias dunia bawah.

__ADS_1


Ia masih bingung, walaupun ia tahu hatinya memilih kemana.


Wina kembali melanjutkan perjalanan. "Sekarang hanya ada kita berdua"


"Dan ku mohon, aku selamat" Ritmi diikat kuat dalam tas oleh Wina. Ia tidak bisa melepasnya entah mengapa sihirnya menjadi lemah.


Ternyata ia keluar di sebuah lembah yang tak jauh dari Phoenix Way. Wina menyusuri hutan pinus.


"Lama tak berjumpa Wina?" Seorang wanita dengan rambut keperakan menyapanya, ia berdiri menyandar pada pohon pinus.


"Siapa kau?" Wina tak ingin berbasa-basi. Namun ia siap untuk menghantam seseorang.


"Kau lupa dengan teman setim mu?" Wina mengeraskan rahangnya. Teman setim? Willow, rambut keperakan yang ia lihat saat itu.


"Willow"


"Akhirnya," Willow teriak senang.


"Mengapa kau disini?" Ucap Wina.


"Hatusnya aku yang bertanya, mengapa kau bisa kemari Wina? Apa Marky yang mengirimmu?" Tanya Willow langsung.


"Bukan urusanmu!" Ketus Wina.


"Ark!" Decihan terdengar dari mulut Willow. 


"Kau selalu saja begini, kemampuanmu tidak berkembang, sama sekali, menyedihkan!" Ejekan Willow yang membuat lirikan tajam Wina menyorot padanya. Dengan tawa yang merendahkan.


Wina perlahan berdiri, ia merasa nyeri di lehernya dan mengeluarkan tangan dari kantong dengan benda kotak seukuran kepalan tangan.


Melemparkannya ke arah Willow yang masih menertawakannya.


DAR!


Ledakan yang membuat kabut tebal mengelilingi Willow. "Siaaal! Kabut beku!" Ia lengah, kini gantian Wina yang berjalan mendekati Willow.


"Kau tahu, aku pernah bertemu sang Ratu yang akan melakukan penobatan besok, Dan kau akan tak menyangka "dia" akan menjadi Ratu pelindung" Bisiknya.


"Kita sebenarnya sama, ingin menghancurkan penobatan atau kau juga menginginkan Kristal Abadi?" Usaha Willow untuk membuat Wina melepaskannya. Willow merasakan setengah tubuhnya telah membeku.


"Kit,kita bisa bekerja sa,sama" tubuhnya menggigil.

__ADS_1


Wina tahu semanipulasi apa Willow, ia lihat saja dulu apa yang wanita di depannya ini mau.


"Kau disini dengan siapa?" Tanya Wina.


"Brax,Braxton …kh, khkk …" bibir Willow sudah membiru, ia tak sanggup untuk berucap. Ia ingin mengatakan klan Guapo namun terlambat.


Ia sudah menjadi sekeras batu es. Wina mengetuk kepala Willow bunyi nyaring terdengar.


SYUUTT …


Wina menghindar, ia melihat belati menancap di pohon pinus yang berada disampingnya.


Melihat sederetan manusia rambut perak berjalan ke arahnya, kembali Wina waspada. Ritmi sedari tadi menutup mulutnya di dalam tas Wina.


"Siapa kau! Beraninya mengusik klan Guapo" salah satu dari rambut perak membentak keras Wina.


"Kalian tak perlu tahu! Ini bukan urusan kalian!" Wina meninggalkan kelompok itu, ia sudah selesai dengan Willow. Dan akan menuju pusat Phoenix Way tempat diadakannya penobatan Bharat.


"Kau mengusik anggota klan berarti kau berani menantang kami!" Salah satu dari mereka maju dengan telunjuk menunjuk ke arah Wina.


"Klan bodoh!" Ejek Wina.


"Apa kau bilang!" Lelaki yang menunjuk Wina tadi mengeratkan kepalan tangannya. Ia murka ada yang menjelekkan klannya.


"Kalian Klan bodoh dan dungu! Puas!" Seruan Wina.


Derapan langkah mendekat, Wina dengan gesit menampik tangan yang akan menghantam pelipisnya. Ia terus mengelak dari serangan.


Dan dapat dilihat seringaian bengais di depan wajahnya. Dengan gerakan cepat ia mengambil belati miliknya dan menyayat leher lelaki itu.


"Aaaargh!" Teriak dengan kucuran darah menyiprat kemana-mana. "DELX!" seruan kencang dari depan Wina.


"Hyaarh!" Lelaki dengan kaca penutup mata sebelah melancarkan serangannya begitu juga dengan sisa yang lainnya.


Mereka menyerang Wina bersamaan, namun Wina tak gentar. Ia mengeluarkan sabit yang berubah menjadi pedang di kedua tangannya.


Ia mengayunkan pedangnya, pada target ya dengan gesit. Dan terakhir ia menusuk jantung lelaki dengan penutup mata.


Sebelum lelaki itu tewas. Ia berbisik di depan wajah lelaki itu. "Klan dungu!" Lalu ia menarik pedangnya. Lelaki itu tergolek di tanah tak bernyawa.


Kembali Wina memasukan pedangnya yang sudah berubah menjadi sabit. Meninggalkan mereka yang sebentar lagi tewas. Rintihan kesakitan terdengar namun Wina tidak peduli.

__ADS_1


Ia melanjutkan perjalanannya. Ritmi melihat itu semua. Namun diam adalah hal yang bisa ia lakukan saat ini.


Tbc.


__ADS_2