DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 40


__ADS_3

Seorang lelaki berlari kerah perbukitan. Ia terus berlari karena nyawanya terancam. Melihat pada kawannya yang mati dalam penyerangan diam-diam yang dilakukan lawan dari kelompoknya.


Ia berhasil kabur dari sekapan kelompok lawan. Ia pun tak sengaja mendengar ada petinggi yang ia kagumi membelot dari kelompoknya.


"Tuan Hugo! Tidak mungkin! Tidak mungkin kau mengorbankan kelompokmu sendiri!" Desisnya. Ia harus melapor.


Ia berusaha menghubungi anggota yang lainnya tapi sial alat itu telah hancur. Ia hanya terus kabur.


Tapi melihat kejaran yang ia dapati. Rasanya sangat sulit. Ia keluar dari hutan ia melihat perkampungan.


Ia mencari pasar, siapa tahu ia menemukan cabang dari kelompoknya disana. Terus masuk, ia terlihat lusuh, kotor, berkeringat dan bau.


"Tuan!" Ia melihat seseorang yang pernah ia lihat di markas.


"Tuan!"


JLEB!


Panah menembus pelipis kanan ke pelipis kirinya. Ia terjatuh dengan mata terbuka. Dan dengan cepat mayatnya hilang bersamaan dengan bayangan hitam.


Mayatnya dibuang dalam lubang dan api menjalar cepat pada tubuh mayat itu. Sosok bertudung hitam itu menetap mayat yang terbakar memastikannya menjadi abu.


Tak lama tubuh itu menjadi abu. Sosok itu pun beranjak dari tempatnya. Dan kembali pada Giant Pipe. Menjadi penjaga dari Willow.


Wanita itu kuat juga ternyata melihat temannya dibuat menginap di rumah sakit untuk beberapa minggu kedepan.


Ia mengamati dari jauh. Ia harus berhadapan dengan anak buah Luford. Lelaki itu sepertinya tidak akan membiarkan wanita yang ia jaga itu lepas.


Apalagi mendengar Raflesia memaparkan bahwa lelaki gila itu terobsesi oleh Willow. Ia harus lebih berhati-hati.


Ia medapati sesuatu yang mencurigakan. Sosok dengan topi yang sedang mengawasi Willow. Senyumannya mengembang. Ia bosan dan mungkin menghajar sosok itu beberapa kali akan menyenangkan.


Ia mengikuti sosok itu. Tanpa kata ia menyerang. Ia memepet sosok itu dan membenturkan kepalanya pada pohon.


"Siapa yang menyuruhmu!"


Sosok itu diam.


Ia mengeluarkan setrum nya dan menempelkan pada pinggang sosok itu. Ia menyalakan.


"ARK!" Jeritan kesakitan terdengar.

__ADS_1


"Katakan atau aku akan membunuhmu!"


"Cih! Coba saja! Aku tidak takut!"


Krak! Mengejutkan.


Lelaki yang ia tawan memakan sesuatu. Ia menyeringai padanya. Lengannya dicengkram oleh penguntit itu.


"Kita akhiri bersama" lirih si sosok bertopi.


KRAK! 


Sosok bertudung mematahkan tangan yang mencengkramnya. Rintihan terdengar menyakitkan. Ia dengan gesit menjauhi sosok bertopi yang meringkuk ditanah.


DAR!


Tubuh sosok bertopi meledak. Kepala dan tubuh bagian atasnya hancur. Sisa daging berhamburan. Berjatuhan dan menciprat di mantelnya.


"Itu tak sama dengan yang sebelumnya. Mereka telah menyiapkan diri mereka untuk menjadi senjata."


Ia kembali ke Giant Pipe. Ia membuka tudungnya. Dengan rambut keperakan matanya menyorot kecoklatan dengan gigi taring. Wajahnya dingin dengan rahang kotak.


"Inu Shiba kau dicari oleh Terios" ucap seseorang.


Ia masuk ruangan dengan nama Terios disana. Wajah berantakan dengan perban menengok ke arahnya.


"Kau masih hidup, ketua!" Ucap sarkas Inu.


Dengusan terdengar dari mulut yang bengkak itu.


"Aku ingin tahu perkembangannya" satu alis Inu naik. Ia menatap tajam Terios. Terios mendengus. Hidungnya mencium bau anyir.


"Kau terluka?" Inu menggeleng.


"Semua clear untuk sementara. Aku baru saja menemukan satu penguntit, namun ia meledakkan kepalanya sendiri"


"Mungkin yang kau cium itu darahnya yang menciprati mantelku!" Lanjutnya.


"Bagus sudah sana kau istirahat!" Kembali satu alis mata Inu naik. Apa tidak salah. Harusnya yang banyak-banyak istirahat itu si ketuanya ini.


"Baik ketua" Inu menurut. Ia tak ingin berdebat. Tubuhnya menguar aroma amis darah dan ia ingin membersihkan secepatnya. Inu keluar kamar Terios.

__ADS_1


Sebenarnya Terios sangat malu, ia dikalahkan oleh wanita. Dan wanita itu, adalah sosok manusia yang ia anggap lemah, tak berguna dan menyusahkan.


Tapi ia malah dibuat babak belur bahkan masuk rumah sakit. Benar-benar memalukan.


Ketukan pintu kamar Terios terdengar. Seorang wanita masuk. Lime.


Mata mereka saling menatap. "Kau bodoh!" Ucap wanita itu.


Lime duduk di sebelah kasur Terios yang memutar bola matanya malas.


"Kebodohan yang hakiki! Kita berdua melihat aksinya yang luar biasa tapi kau malah tertantang untuk melawannya."


Ia meletakkan satu botol ramuan di sebelah sahabatnya itu. Mereka satu angkatan saat masuk menjadi Jonny.


"Aku tak perlu lagi omelan tak berguna. Apa ini?" Ia melihat botol kecil berwarna coklat itu.


"Ramuan dari akar bulkie" bergantian Terios mengamati Lime juga botol kecil itu.


"Kau jauh-jauh ke cahaya ilusi?"


"Tidak, aku tak sesengang itu! Aku mendapatkannya dari anak buah Luford"


Tatapan tajam.Lime dapatkan.


"Aku bilang kau serahkan saja urusan Luford pada Willow. Ia dijaga banyak orang"


Mata Terios menatap lurus dengan rahang mengatup. Ia tak mengerti mengapa Lime begitu keras kepala.


"Luford tak akan melirik ke arahmu! Ia sudah terobsesi oleh Willow" ia mendengar dari laporan Inu.


"Jadi seberapa pun kau membuat masalah ada dia jawaban, kau mati atau kau mati karena menghalanginya mendapatkan Willow"


"Apa yang kau cari dari lelaki macam itu, hah!" Bentak Terios tak habis pikir oleh kebucinan atau wanita itu juga sama memiliki obsesi pada orang yang mereka sukai.


"Sakit jiwa!" Makinya.


Lime terdiam. Ia memang memiliki perasaan lebih. Luford dulunya adalah anggota Giant Pipe yang membelot.


Lime tahu Luford tidak pernah berganti wanita. Ia malah anti, dan wanita yang kencan dengannya berakhir di perut monster miliknya.


Ia jijik dengan wanita murahan.

__ADS_1


Lime mengetahui itu. Karena itulah yang membuatnya jatuh cinta pada Luford si pengkhianat.


Tbc.


__ADS_2