
"Tuan" Lelaki dengan pakaian hitam mendekat pada lelaki didepannya, ia mendekat dan berbisik ditelinga lelaki yang ia panggil Tuan.
Lelaki itu berbisik dengan serius. Sambil sesekali melihat sekitar takut-takut ada yang sedang memergoki mereka.
"Sebaiknya kau ikut dalam kendaraanku" lelaki yang berbisik tadi mengangguk. Mereka beranjak ke arah kendaraan yang ditujuh.
"Apa yang kau ketahui"
"Tuan Braxton dan Willow memanggil peneliti dari pasar gelap Wildlife. Alamira, ia peneliti ahli tentang penelitian ilegal."
Lelaki satunya mendengarkan perkataan dari lelaki berpakaian hitam. "Dan rumornya, ia dari bangsa dunia bawah" dan perkataan yang ini, merebut perhatian darinlelaki yang mendengar tadi.
"Ada lagi tentang rumor dunia bawah?" Lelaki dengan pakaian hitam itu menatap sang Tuan.
"Tidak Tuan, hanya itu yanh saya dengar. Tapi saya menyimpulkan bahwa Nona Willow dan Tuan Braxton tertarik dengan dunia bawah"
"Karena beberapa saat lalu saya mendengar nona Willow menanyakan pada para peneliti tentang peneliti dengan keahlian menangani portal."
"Dan Alamira adalah 3 terbaik ahli dalam menangani portal dimensi, walau akhirnya ia dikeluarkan, karena menggunakan metode yang ilegal."
"Bagus! Bagus! Bawa aku bertemu dengan peneliti terbaik yang menangani portal dimensi" katanya,
"Sayangnya, peneliti yang menempati urutan pertama dan kedua menghilang, mereka anggota tim Darkhole, Tuan"
"Eleori Brigit dan Issa Alexandria" si Tuan menatap tak suka pada informannya. Ia memukul keras pipi informannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan" informannya menunduk bersalah.
"Cari siapapun yang ahli dalam poryal dimensi sekarang juga, keluar dari sini!" Hardiknya.
Informan itu hanya menganguk dan keluar perlahan. Bibirnya sobek, ada setitik darah disudut bibirnya. Matanya tajam, ia harus mendapatkan si ahli portal ia tak ingin mengecewakan Tuannya.
*
*
*
"Kalian siap?"
Willow dan Braxton mengangguk. Alamira menembus barier dan diikuti keduannya. Pandangan yang keduanya lihat. Sebuah rumah berbentuk tea pot. Dengan labu kuning besar menghiasi sekelilingnya. Ada nuansa ungu gelap disekitarnya juga tak lupa sapu terbang.
"Ingat jangan meminum dan memakan suguhan apapun! Diam saja! Kaliannpasti aman" Alamira mengingatkan dengan tatapan sebal mengarah ke Willow.
Menapaki tangga kayu, suara krincing saat pintu dibuka, "Selamat datang di Cahaya ilusi, kalian ada keperluan apa?" Agrabella, menyambut kedatangan tamunya.
Siapa pun yang bisa memasuki dan menemukan rumah tea pot ini. Berarti ia keturunan atau memang sudah mempunyai ijin. Karena Alamira hanya kaum biasa. Ia masih harus melewati barier dari Cahaya ilusi.
Berbeda dengan Bharat dan Marzon. Mereka dibawa oleh Moon goddess yang memeliki kemampuan diatas rata-rata.
"Pulang kampung, Mereka" Alamira, tersenyum. Mendapati Agrabella yang mengamati Willow juga Braxton, yang sibuk mengamati ruangan.
__ADS_1
"Baru lewat sini?" Tanya Agrabella, ia kembali pada catatannya. "Iya biasa mereka lewat jalur ilegal" pernyatan Alamira membuat gerakan tangan Agrabella berhenti.
Ia melirik Alamira. "Mereka ras ular hutan" sebenarnya Alamira bisa lebih bebas dulu saat Ras Trody masih ada. Tapi setelah tempat mereka di acak-acak dan ketua ras itu tewas. Mereka menutup portal itu.
Portal dimana kaum ras berbahaya melintas dengan bebas. Tanpa perlu ijin yang menurut Alamira sangat menyusahkan. Seperti di Cahaya ilusi juga. Di desa Arctos. Desa kaum serigala.
Alamira dibuat gugup. Namun wanita itu bisa dengan mudah mengontrol emosinya.
"Tolonglah Madam, mereka suami istri ingin pulang, namun terjebak didunia manusia." Kasus seperti ini serinh terjadi dan diam-diam Agrabella. Memberi mereka bubuk yang tak terlihat untuk memantau apa benar jika mereka akan bertemu dengan anak mereka.
Dan Alamira tak tahu tantang itu. Arabelka hanya mengangguk dan kembali menekuni bukunya. "Oke, semoga perjalanannya menyenangkan"
Alamira mendesah lega. Ia berhasil. Kemudian dengan cepat mereka mengiring Braxton dan Willow keluar dari rumah teapot itu, melewati pintu samping, menuju jalan setapak dengan rumput berwarna kemerahan, juga dengan pepohonan berbentuk aneh, adanya segitiga, spiral dengan berwarna-warni.
Mereka juga melihat beberapa sosok jalan dengan mata kosong dan limbung. "Mereka kenapa?" Willow bertanya.
"Sudah aku bilang lebih baik kau diam!" Ia malas berbicara pada Willow. "Ck! Dasar! Kau tak lihat Tuan Braxton juga penasaran, mengapa mereka semua terlihat tak sadarkan diri tapi masih bisa berjalan?"
"Itu karena pengaruh sihir pada barier berwarna hijau terang yangbkalian lewati bersamaku tadi. Kalian juga sama seperti mereka tadi, tapi aku menyadarkan kalian"
"Makanya jangan macam-macam denganku, karena kalian ada di tanganku sekarang" ancaman serius Alamira.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Walau Willow tetap saja nyirnyir, Alamira mengacuhkannya. Jalan setapak akan membawa mereka ke jembatan melayang yang pernah Marzon lalui.
"Rapatkan tudung kalian!" perintah Alamira, ia merasakan ada yang sedang memantaunya. Willow dan Braxton menuruti. Alamira berjalan dengan cepat. Dengan mata yang awas dengan sekitar.
__ADS_1
Tbc.