DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Penobatan


__ADS_3

Persiapan penobatan tinggal beberapa jam lagi, pengamanan sudah berjaga dan diperketat, begitu juga pengunjung yang membludak di Pusat Phoenix Way, dekat dengan Deep Inside dimana acara penobatan dilaksanakan.


Nanti mereka juga diarak mengelilingi Phoenix Way dengan membagikan kristal abadi.


Mereka antusias menyambut dipinggir-pinggir jalan. Bergerombol dan berbaris, berdesakan, namun masih bisa penjaga menertibkan.


"Bagaimana disana?" Berus sibuk dengan persiapan mendengar laporan dari bawahannya yang menjaga untuk melancarkan jalannya penobatan.


"Base 1001 aman" ucap manusia berkepala singa dengan armor berwarna emas.


"Base 1002 juga aman" sambung yang lain,


"Base 1003 dan 1004 terkendali" ikut menyambung.


"Base 1005 terkontrol" ucap bawahan Berus. Mereka mengawasi dari tempat tinggi. Dari pepohonan terdapat satu pengawas.


Mereka tidak ingin kecolongan. "Ratu bagaimana?" Berus melangkah dan berpapasan dengan Leonidas yang membantu di Phoenix Way.


"Belum ada kabar dari Lisica. Juga Orso menuju ke Deep inside bersama Raja Marzon."


"Bagus, perketat penjagaan" Berus menekan alat komunikasinya.


"Baik, ketua" jawaban dari para Base.


*


*


*


Wina telah berada di jajaran yang mengantri di pusat Phoenix Way. Ia mengeratkan tangannya. Tudungnya ia turunkan agar tak ada yang mengenalinya.


Apa lagi dari kelompok yang telah ia kalahkan bersama Willow. Ia melirik adanya gerombolan rambut perak mencari seseorang.


Wina menyingkir dari tempatnya perlahan.


"Itu dia, kerjar!" Samar terdengar. Wina memacu langkahnya. Mengapa harus saat ini. Wina berdecak. Ia telah menyembunyikan Ritmi di tempat yang tersembunyi.


Ia terus berjalan cepat. Kerumunan penunggu penobatan semakin rapat berjajar, membuat susah Wina untuk melewatinya. Tatapan sengit juga makian Wina terima saat tak sengaja menyenggol atau mendorong.


Ia tak peduli. Ia melirik, gerombolan paus itu juga kesusahan, masih mengejarnya dan ia terhalang kerumunan menjadikan  jarak antara Wina dan gerombolan rambut perak semakin jauh.


Wina berbelok pada gang. Gerombolan rambut perak mengikuti dan mereka kehilangan jejak Wina yang melangkah berpapasan dengannya.


Gerombolan rambut perak itu tak menyadari, sebelumnya waktu Wina masuk dalam gang, ia membeli mantel milik orang, mantel lusuh berwarna jambu muda.


"Disana!" Salah seorang dari gerombolan itu. Mereka berlari berpapasan dengan Wina namun mereka hanya melewati dirinya.


Dan menarik bahu orang yang diberi mantelnya. "Ck! Bukan!" Gerutuan frustasi. Wina menarik sudut bibirnya. Ia berhasil lolos.


Kembali Wina masuk dalam kerumunan. Menunggu arak-arakan Raja Bawah dan Ratu Putih Pelindung.


*


*


*


Camy dan Simon masuk dalam Phoenix Way, mereka mencari keberadaan Marky. Ia telah memberi kabarnya pada Prajurit berarmor. Simba namanya, Manusia berkepala singa.


Penjagaan Base 1001. Dan Simba menyampaikannya pada Berus. Simon memperingatkan mungkin saja akan adanya peperangan besar.


Kelompok yang mereka cari adalah mereka yang menculik Ratu Amarin. Simba mengerahkan para prajuritnya untuk mencari dan mengamati semua,

__ADS_1


Mereka yang berjaga di atas, ikut meneropong. Dan beberapa dari mereka telah mendapatkan target yang berpotensi merusak acara.


"Target ditemukan, di koordinat 22.3.5.UT, bersiap!" Salah seorang dengan berbisik. Armor hitam menyelubungi dirinya. Serigala.


"Lexi, siapakan perlengkapan, target membawa banyak ekor!" Ucap salah satu dari mereka.


"Besar!" Ia melompat ditempat, pemanasan, adrenalinya terpacu melihat begitu banyak robot juga yang mereka kenal dengan mutan aneh.


Berjalan perlahan.


"Mereka membobol Base 1003" Base 1003 menjadi Base terjauh dari pusat Phoenix Way. Dan penjagaan dibuat longgar khusus Base itu. Tempat sempurna untuk menjebak lawan.


Namun para pemberontak masih jauh di garis serang. Kemungkinan mereka masuk pada menjelang malam, saat Kristal Abadi menyerap semua energi baik dari bulan.


"Sudah terbaca, cih!" Obrolan para pengintai. Mereka memperketat penjagaan namun tidak terlihat.


"Penobatan segera sudah mulai! Raja dunia bawah sudah berada di Deep Inside, namun sang Ratu belum terlihat kehadirannya" informasi dari asisten sang ketua, Jadex. Burung hantu ber-armor.


"Ditunda, penobatannya ditunda" Suara Berus membuat para bawahannya saling pandang.


"Benar, Ratu sang pembawa Kristal Abadi, jika tidak ada ya tidak bisa menerima kekuatan bulan"


Sore berganti malam yang semakin larut, terlihat banyak mereka yang menjadi lelah menunggu tapi tak menyurutkan antusias mereka.


Acara ini memang spesial, bahkan Phoenix masih berterbang dengan liar di langit.


Dan penundaan itu terdengar hingga telinga kerumunan rakyat. Kasak kusuk terus terdengar. 


Hingga terompet. Penobatan terdengar kencang dari Deep Inside. Kerumunan kembali memadat, beberapa orang berdiri dengan misterius.


Mereka menatap tajam keadaan siap dengan senjatanya.


*


*


*


Potka adalah pasukan Marky dan hingga kini ia tak pernah melihat pimpinannya itu. Marky dan Patrik. Ia tak melihat mereka.


Ia tak peduli tapi saatnya nanti ia akan menjadi lawan timnya sendiri. Yang ia tahu dimana saja mereka bersembunyi.


Tak lama ia bisa melihat Wina yang dikejar oleh Klan Guapo. Potka hanya mengawasi jika nanti Wina tak bisa melawan ia akan siap membantunya.


Dan tidak buruk juga cara Wina mengelabui klan rambut perak itu. Potka menatap dengan senyuman di bibirnya.


Kembali berkonsentrasi dengan segala arah.


*


*


*


"Selamat datang Raja Marzon di Deep Inside" Berus menyapa sang Raja dunia bawah itu. Tampang seekor Lycan yang tampak tenang. Ia didampingi oleh Orso.


Marzon hanya mengangguk. Ia menempati kursinya diruang tunggu. Menunggu kedatangan Bharat.


Berus mendapat bisikan dari Jadex. Jika Ratu masih bertarung untuk mendapatkan Kristal Abadinya.


Berus mengumumkan penundaan sementara pada semuanya. Marzon menanggapi itu hanya melirik. Ia telah mendengar apa yang akan Bharat atau dirinya hadapi di akhir petarungan. Naga legenda.


Tentu saja Marzon bisa memaklumi. Karena Naga Lagenda penjaga Kristal Abadi ini termasuk monster tingkat atas.

__ADS_1


Kau bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu saja sudah bagus itu pikir Marzon yang sabar menunggu kedatangan Bharat.


Marzon tahu bahwa Bharat mampu menghadapi itu, buktinya bukan dirinya yang harus mengemban tugas akhir.


"Ratu telah datang!" Jadex berteriak menyampaikan kabar. Semua panitia dengan bergegas menuju tempatnya masing-masing.


Bharat berjalan tertatih dengan beberapa lebam keunguan di wajahnya. Di belakang Bharat Lisica mengikuti, Ia menghampiri kursi yang berada di sebelah Marzon.


"Maaf terlambat" ucap Bharat.


"Kau terlihat seperti kesatria pemberani" sebut Marzon, lelaki itu bisa mendengar decakan kesal wanita yang telah duduk di sebelahnya. Marzon terkekeh.


Mereka telah memprediksi seperti apa tugas terakhirnya. Ya mereka menang dengan babak belur atau malu.


Terompet penobatan terdengar nyaring. Gemuruh keriuhan semakin terdengar di kalangan  masyarakat yang berbaris di pinggir jalanan pusat Phoenix Way.


"TETUA HARK MEMASUKI RUANGAN!" Jadex, si burung hantu itu bersuara kencang dan nyaring, suaranya sampai pada seluruh negeri Phoenix Way, tetua mereka masuk diiringi beberapa pengikut yang duduk di ruang penobatan.


Ia menduduki kursinya, ruangan khusus penobatan aula besar dengan banyak meja dan kursi di samping kanan dan kiri.


Di depannya ada sebuah meja kayu kokoh.


Di ruangan Marzon dan Bharat. "Bersiaplah kalian" Haiyla menyerukan telepatinya dan Marzon pun bisa ikut mendengarkan.


"Selamat Bharat!" Bharat mendengar telepati Hecate yang menyelamatinya. Ia melirik Marzon.


Marzon mengangkat sudut bibirnya. Ia tahu Hecate pernah menyerang Bharat. Dan itu sebuah ujian yang Hecate lakukan pada Bharat. Ratu pelindung pilihan Haiyla.


"Thanks Hecate" seruan lirih Bharat.


"Kalian harap bersiap," Berus datang ia meminta Bharat dan Marzon bersiap karena Tetua mereka sudah ada pada ruang penobatan.


Setelah ini kehidupan kedua nya akan berubah, dan ia tidak tahu kemana takdir akan membawa mereka.


Seorang biasa seperti Marzon, Ia hanya manusia biasa yang diculik dan dijadikan bahan percobaan, Mutan Lycan, berubah menjadi seorang Raja bawah. Hidup itu sulit ditebak.


Bukan hanya Marzon, seorang Bharat yang sedari kecil di asuh oleh banyak tangan hingga ia sendiri hanya tahu orang tua angkatnya saja. Yang ternyata ia dari bangsa serigala dengan keturunan seorang Ratu dan Alpha di bangsanya.


"LYCAN MARZON DAN BHARAT DARI BANGSA SERIGALA, MEMASUKI RUANGAN!" Jadex, mempersilahkan. Marzon dan Bharat beranjak dan mengikuti arahan Berus.


Suara gegap gempita riuahan terdengar. Malam semakin larut, tak menyurutkan antusias rakyat untuk ikut menyambut Raja dan Ratu mereka.


"WAHAI MOON GODDESS, KAMI MENERIMA KEPUTUSAN SEMESTA, DAN LINDUNGILAH DUNIA KAMI MELALUI MEREKA" Tetua Hark berdiri pada tempatnya. Ia mengangkat tongkat dengan kristal kebiruan di ujungnya.


"SEIZIN SEMESTA SAYA, HARK MONSAS, MENOBATKAN KALIAN MENJADI RAJA DAN RATU UTUSAN SEMESTA" Gelegaran suara diiringi dengan gelegaran petir. Langit terbuka cahaya kekuningan muncul Moon Goddess keluar dari arah cahaya.


"SELAMAT DATANG MOON GODDESS HAIYLA, HECATE DAN SUNNA" Mereka mengangguk, melayang. Menyaksikan penobatan orang pilihan mereka.


"SEMESTA UNTUK RAJA BAWAH KAMI, RAJA LYCAN MARZON"


Suara riuh teriakan kegembiraan juga tepukan tangan terdengar di luar ruangan.


"SEMESTA UNTUK RATU PELINDUNG KAMI, RATU PUTIH BHARAT"


Kembali tepukan kegembiraan mengaung di seantero Phoenix Way.


*


*


*


Lycan telah menyusup, ia menyebar ke berbagai sudut, ia masih tidak terima, dan akan memberontak, mereka tidak sendiri, mereka bekerja sama dengan klan Guapo.

__ADS_1


Menyebar dan menunggu arak-arakkan Raja Marzon.


Tbc.


__ADS_2