DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 3


__ADS_3

Willow sedang berjemur, ia ingin membuat kulitnya menjadi tan. Masih ia ingat kejadian kemarin, ia kembali ke pondo ini, menemui wanita tua yang ia dorong itu, ia meminta maaf.


Ia masih tidak mengingat siapa wanita tua itu, saat ia bertanya, wanita itu tidak menjawab apapun.


Siapa dirinya, atau apapun wanita tua itu bungkam, memang seperti ada yang menyuruhnya untuk diam.


Willow kebosanan, ia memutuskan kembali ke sungai yang kemarin ia datangi. Ia ingin menyegarkan tubuhnya.


Diperjalanan ia melihat lelaki yang menyelamatkannya. Ia mengikuti lelaki dengan wajah garang itu. Ia berkeliling untuk membantu para warga.


"Cih siapa dia super hero kah?" Cibir Willow dengan mengintip dan tangan melipat ke dada.


Walau mencibir wanita itu terus mengikuti, lelaki gondrong itu. Dengan mengamati sekitarnya, Willow kehilangan. Lelaki gondrang itu tak lagi ada didepannya.


Willow keluar dari persembunyiannya, dan mencari keberadaan lelaki itu.


"Kau mencariku?"


Willow dibuat tergagap. "Tidak" ucap sekenanya.


"Mengapa kau mengikutiku?" Suara berat itu pernah ia dengar, tapi ia tak ingat. Rasa ingin mendekap lelaki itu begitu kuat.


Willow melangkah maju. Tangannya perlahan terangkat. Ada keinginan kuat Willow menyentuh wajah lelaki itu.


Matanya dikunci oleh mata biru indah itu. "Troto?" Suara lembut juga anggun menghentikan gerakan tangan Willow. Willow tersadar apa yang ingin ia lakukan.


Ia menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang tubuh.


"Shera?"


"Kau lama, jadi aku menyusulmu" ucap wanita anggun di depannya ini, Shera berbeda dengan wanita yang ngelendoti lelaki itu saat Willow menabraknya.


Ini lebih dewasa, anggun dan ramah. "Siapa ini?" Ucapnya dengan senyuman ramah. 


"Bukan siapa-siapa, hanya orang yang bertanya bukit falldown" ucapan Troto menyentak Willow entah mengapa sudut hatinya tercubit.


"Aku juga suka bukit falldown, itu bukit kesukaanku sangat indah,"


Willow hanya mengangguk saat Shera menunjukan jalannya. "Terima kasih" Willow berlalu, hatinya terasa tercubit, ia tak terima saat lelaki itu menyebutnya bukan siapa-siapa.


"Dasar gila! Ada apa denganmu! Kau memang bukan siapa-siapa, kenal saja tidak, lelaki playboy macam dia, aku ingin menyegarkan kepala ini yang aneh!" Gumannya.


Terus berjalan, hembusan angin menerbangkan rambut keperakannya yang tergerai indah. 

__ADS_1


"Apa ini bukit falldown? Cantik" Willow duduk diatas dua bongkahan batu besar.


Ia terpejam menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Sinar matahari, warna biru langit bercampur dengan warna kehijauan air laut, suara deburan ombak, membuatnya tenang.


Suara derai tawa, ia bisa melihat sepasang sejoli dari atas tempatnya duduk mereka berlarian saling mengejar, Willow menarik sudut bibirnya.


Denyutan menyakitkan itu kembali datang. "Aahk" Willow memegangi kepalanya, kerutan di dahinya menandakan seberapa menyakitkan denyutan itu. Keringat dingin mengucur, kelebatan ingatan menghampirinya.


Ia berada di bukit Falldown dengan memeluk seorang lelaki saat ia menegakkan wajahnya ke arah lelaki itu, hanya buram. Namun ia bisa menatap tato di lengannya, bunga bunga dengan nama dirinya.


Tubuh Willow melorot, ia bersandar batu dengan tangannya meremas pakaian di depan dadanya.


Ia kenapa? Nafasnya tersegal. Lama Willow bersandar pada batu itu. Senja sangat indah, bayangan itu kembali berkelebatan. 


Seseorang datang dan memberikan selimut di bahunya, nada suaranya riang terdengar memanggil seseorang itu.


Lelaki itu duduk disebelah Willow dan Willow menyelimuti mereka berdua, dengan berpelukan memandang senja. Api unggun juga sepasang gelas Wine.


Bayangan yang tak menyakitkan kali ini. Tato bunga itu menjadi petunjuk. Willow akan mencari lelaki itu. Willow beranjak. Ia kembali ke pondoknya.


Tubuhnya lelah dan mati rasa. "Makan malam Nona" ia melihat Lomi lama, ia tidak akan menemukan apapun jika bertanya pada wanita tua itu. Jawabannya saat Willow bertanya siapa yang mempekerjakannya, ia sama sekali tak bersuara.


Melihat dari seragam yang ia kenakan tak mungkin ia hanya seorang nenek tua kesepian, menemukannya dan merawatnya, memang Willow hidup di dunia dongeng.


"Tidak bi, aku sudah makan diluar, kau boleh pulang" ucap Willow wajahnya kuyuh yang langsung naik ke kamarnya.


Ia melemparkan tubuhnya keranjang, kasur empuk dan hangat sangat nyaman, ia tak lagi mengganti posisinya, ia benar-benar lelah.


"Tuan, Nona Willow pulang dengan wajah kuyuh, ia berkata telah makan malam diluar" akhir dari laporannya.


"Terima kasih Bibi Lomi, kau istirahatlah"


"Baik Tuan Troto" wanita tua itu keluar ruangan Troto berpapasan dengan lelaki muda.


"Tetua ada?" Tanya lelaki muda, "ada di dalam Tuan Zale" ucap Lomi.


Zale membuka ruangan Troto. Kepala Troto mendongak sekilas dan kembali menekuni lembar-lembar laporan di mejanya.


"Aku dengar dari Shera kau bertemu Willow? Kenapa menghilangkan ingatannya jika kau masih peduli, memberikan pondok lamamu, dan menyuruh bibi Lomi untuk mengurusnya" Zale melemparkan tubuhnya di kursi depannya.


"Bahkan kau memperingati Liber untuk menjauhi Willow? Jangan bilang kau baru sadar kalau mencintai Willow?"


"Lalu bagaimana dengan Shera? Aku sudah memperingatimu sebelumnya. Tapi kau tak mendengarkan ku Tetua"

__ADS_1


Bukan Zale suka Willow, ia pun tak benci wanita itu, hanya saja Tetua Guapo tidak bisa menikah diluar ras mereka. Atau mereka akan diusir.


"Aku akan mengurusnya" ujar Troto dengan suara berat.


"Yasudahlah terserah dirimu tetua"


"Akan ada rapat di High Majesty. Juga sidang hukuman yang akan kita dapat, aku pasrah, tidak akan melawan, karena aku masih ingin tinggal disini"


Willow mencari bar, tempat dimana banyak lelaki menghabiskan waktu. Ia berkaca. Dan menemukan tato bunga yang sama namun tidak ada tulisan nama di sana.


Ia mengacak lemari dan menemukan selimut yang ada di kelebatan bayangan  saat ia di falldown. Ia meraihnya. Ada rindu yang menyeruak dari dalam dadanya. Rindu yang terasa dalam.


Willow memeluk erat selimut itu. "Aku akan menemukanmu" janjinya.


Ia meletakkan selimut itu diatas ranjangnya. Dan mengambil pakaian yang rasanya cocok ia kenakan. Seksi dan manis. Ia mematutkan diri di kaca. Rambut panjang lurus keperakan yang indah, ia gerai, halus dan mempesona.


Ia tambah dengan jepit bunga berwarna hitam seperti warna tatonya. Memasang beberapa cincin, juga anting.


Ia menggunakan sihir untuk riasannya. Selesai dengan riasan smokey eye, ia tak lagi nampak Seksi manis, namun seksi, nakal menggoda.


"Cocok untuk menjaring lelaki hidung belang" ucapnya pada dirinya sendiri.


Willow bersiap. Ia mengenakan mantelnya. Suara sepatu hak tingginya menggema di jalanan kayu. Ia akan menuju bar milik lelaki yang sering ia temui dengan tak sengaja. Troto.


Ia berada di depan bar. Suara dentuman musik terdengar hingga keluar. Ia masuk dan memberikan mantelnya pada pelayan.


Pintu kedua dibuka. Suara dentuman musik kencang, hawa dingin bercampur bau minuman dan rokok, menyapa Willow.


Wanita itu berjalan ke pinggir tangkai pegangang, menatap ke bawah dimana dance floor dan bar berada. Menatap pengunjung yang bersenang-senang setelah seharian sibuk bekerja.


Suara ketukan langkah Willow menuruni tangga mendapatkan perhatian dari beberapa lelaki disana.


"Martini blue sea" ia menatap bartender. Willow menyeret kursi dan duduk. Ia memutar pelan tubuhnya menatap kerumunan orang-orang yang menari.


Ia akan membuat semua mata lelaki melihat padanya, dan mendekatinya. "Martini blue sea" ucap bartender.


Secangkir gelas berkaki panjang dengan kristal gula di sekitar bibir gelas. Dengan cairan berwarna hijau kebiruan dengan hiasan buah zaitun ditusuk tangkai kayu.


Menatap bartender. Ia menyesap perlahan minuman itu. Dalam kepalanya ia menyusun rancana.


"Hai cantik kita bertemu lagi"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2