DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Adios Amigos


__ADS_3

Wina kembali ke laboratorium Potka, ia sedang menyelinap ke ruangan Potka ia ingin mengambil isi buku yang Simon beri untuk Potka.


Dengan kemampuannya, menyelinap adalah hal yang sangat mudah. Ia terlatih, di tim DarkHole maupun tim Nokturnal.


Bahkan kemampuan Willow ada dibawahnya jauh. Dengan alat yang ia temukan, ia bisa menyerap informasi pada benda apapun. Alat berbentuk cincin yang ia kenakan di jari tengah itu.


Dan Wina menggunakan alat itu. Ia menyentuhkannya pada buku, dan semua yang ada dibuku itu otomatis terkopi dalam cincin yang ia kenakan.


Wina mwmbuka layar hologram yang muncul dari jam tangannya. Ia membaca sekilas, netranya menajam, Wina mendongak.


Ia mendengar langkah kaki. telinganya fokus pada derapan kaki itu. Dengan cepat Wina mengembalikan buku pada tempatnya dan ia bersembunyi dibalik lemari.


Wina mengintip. Ternyata Rosty sang asisten Potka, ia meletakan tumpukan berkas diatas meja kerja Potka dan tak berapa lama pria itu keluar ruangan.


Wina keluar dari persembunyiannya. Dan melihat situasi di layar hologram miliknya. Kosong. Wina pun segera keluar.


"Sedang apa kau?" Suara wanita terdengar dibelakangnya. Nic berada disana melihat nyalang Wina.


Wina berbalik, dengan tenang ia mendekap tangannya didada. "Mencari Potka, kenapa?"


Nic tak begitu saja percaya pada Wina. "Buat apa kau menyelinap kedalam?" Tuduhan Nic.


Ia mengira Wina tak mengingatnya, jika dulu mereka berteman, pura-pura.


"Kau menuduhku menyelinap, aku hanya mencari temanku, tuduhanmu sangat tak mendasar, untuk apa kau menyelinap kesini, kalau pemilik ruangan memperbolehkanku datang kapanpun aku mau dan tak pernah mengusirku?"


Panjang lebar Wina berucap dengan memperhatikan kuku tangannya yang berwarna merah itu. Ia menyindir Nic juga G yang diusir oleh Potka.


"Kau wanita Ja lang!" Maki Nic, kesal. Wina mendengus meremehkan lawan didepannya ini. Seenaknya mengatai dirinya Ja lang.


"Ja lang? Siapa? Kau? Bicara mengenai dirimu sendiri?" Cela Wina. Ia memang sempat bodoh, namun Wina yang sekarang, adalah Wina berdarah dingin.


"Cih kau hanya objek buat ketua, jangan terlalu besar kepala! Ia hanya menggunakanmu untuk penelitiannya!"


Nic mulai membongkar apa yang Wina sudah ketahui. Nic yang melihat Wina terdiam pun meresa menang, ia tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Kau hanya alat! Kasian sekali dirimu ini! Bangga hanya dijadikan alat percobaan," cerocos Nic.


Wina mendekati wanita dengan wajah mengesalkan itu.


"Kau itu sama dengan para tikus di lab---"


PLAK! PLAK!


"Aw ... hhhsss ..."


Tamparan keras mendarat dikedua pipi Nic. Pipinya memar memerah. Hingga kuping Nic berdenging.


"Objek?"


PLAK! PLAK!


Lagi suara kencang tamparan mengema diruangan itu, kepala Nic terlempar kasar kesamping. Rambutnya berurai berantakan dna sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Benarkah?"


"Aargh ... "


Dan Wina meng-Hook perut Nic. Nic terlepar keras ke dinding. Lalu ia tersungkur ke lantai.


Wanita itu hanya merintih memegangi perutnya yang nyeri.


"Ah lemah!" ejek Wina.


"Hmrr ... Hsss ... "


Wina mendekat. Ia memegang dagu Nic dan membuat Nic melihat wajahnya,


"Penelitian? Kau ingin merasakannya? Tenang kau ada waktunya" Wina menepuk pipi Nic pelan. Lalu menghentakkan kepalanya kesamping. Wajah wanita itu sudah babak belur.


Tanpa perasaan Wina menginjak dan memuntir tumit kakinya di atas tangan Nic, belum sampai disitu. Tendangan beberapa kali di tubuhnya. Wina tak menggizinkan Nic untuk tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ringisan dan rintihan terdengar diruangan itu. Wina tak peduli dengan kesakitan lawan. Kau jual Ku beli, prinsip Wina saat ini. Apes Nic, ia memprovokasi kemarahan Wina di waktu yang salah.


Kebohongan kata yang mengelilinginya, mungkin akan jadi temannya suatu saat nanti.


"Kalian sama" Wina pergi begitu saja. Untuk Nic sudah dulu, nanti ada lagi kejutan yang ia inginkan.


Di koridor ia melihat G dan Osama. Ternyata pria kurus itu melihatnya, Osama merasa ketakutan. G melihat gelagat Osana pun mengikuti pandangan Pria itu.


Ia menemukan Wina yang berjalan kearah mereka.


"Jangan bilang dia yang membuatmu babak belur?"


G memperhatikan Osman yang ketakutan dan ia hanya diam saat ditanya. G mengetatkan rahangnya. Ia menghentikan langkah Wina.


Wina tersenyum miring kearah Osman yang sesekali mengintip kearahnya. Lalu saat matanya bertubrukan dengan Wina, ia mundur dan kabur.


Wina terpingkal, Wanita itu memegang perutnya yang sakit karena tak bisa menahan tawanya.


"Aduh ... aduh ... sungguh mengelikan!" G menarik kasar tangan Wina yang memegangi perut. Menatap Wina marah.


"Sorry ya ... sebentar beri aku waktu, ini sangat menggelikan ... huahahaha ..." Wina menyentak kasar tangan G. Lalu ia berdiri tegak berhadapan dengan G.


Dengan Wajah yang dingin. Tak ada tawa yang beberapa detik tadi menghiasi wajahnya.


"Bilang pada pria to lol itu, gunakan mulutnya untuk makan saja biar tybuhnya berisi!" Sorotnya pada G tajam dan terkesan merendahkan.


"Pahlawan kesiangan rupanya!" Wina memundurkan dirinya, ia kembali melihat kearah kuku merahnya.


"Sepertinya satu lagi yang harus kau tolong, sebelum terlambat" Mata G melebar. Ia menarik kerah baju Wina.


"Masa sekali hantam ia tak sadarkan diri" ucap manja Wina. Genggaman tangan G pada kerah baju Wina menguat.


"Dimana?" Wina mengangkat sudut bibirnya saat melihat G dengan cepat, menangkap maksudnya. Ia melepaskan tangan G dari kerah bajunya.


"Ruangan Pria yang kau dan dia idamkan." Bisik Wina didepan wajah G.

__ADS_1


G dengan cepat melesat kearah ruangan Potka. Dan Wina dengan senyum merekah dibibir merahnya pergi dengan melambaikan tangan diudara.


"ini sementara! Adios Amigos"


__ADS_2