
Bharat dan Marzon masuk kedalam goa. Sebelumnya mereka dipertemukan saat makan malam yang Lisica buat dan mengundang Berus yang membawa Orso dan Marzon.
Disana mereka menjadi dekat. Berlatih bersama, dan mereka melakukan misi juga bersama. Tak ada larangan dari masing-masing Moon Goddess.
Bharat sempat bertanya pada Haiyla mengenai ia yang berlatih dengan Marzon, Haiyla berkata, senyamannya Bharat. Juga Hevate yang tak sepeti awal bertemu dengan Bharat.
Ia bertanya pada Marzon untuk menanyakan pendapat Hecate. Dan Matzon hanya menjawab. Bahwa tanpa ditanya Hecate juga tahu tentang tindak tanduk pria itu.
Jika ada yang tak sesuai dengan apa yang telah di tetapkan, ia akan protes sendiri.
Bharat memandang Marzon takjub. Mendengar penuturan Lycan itu. Bharat merasa hubungan Marzon dengan Hecate bisa seperti dirinya dan Haiyla.
Mereka harus merelakan tubuhnya didiami oleh dua roh. Dan mereka setidaknya harus berdamai dengan keadaan. Dan menganggap satu sama lain layaknya sahabat.
Haiyla juga menceritakan apa yang terjadi pada Ratu terdahulu yaitu Amarin. Bharat tak menyangka bahwa kisa pilu Amarin yang dipisahkan dengan Rudolf juga anak mereka.
Dan yang paling membuat Bharat syok adalah Marky dalang dibalik guncangan keseimbangan yang terjadi di Moon Goddess.
Benar-benar serakah. Dan Haiyla mengatakan bahwa ada manusia lain yang akan menguncang keseimbangan dunia Moon Goddess lagi, saat penobatannya nanti.
Bharat berpikir hingga ia menyimpulkan jika manusia yang memiliki sifat licik harus dilawan dengan manusia juga.
Ia mengungkapkan ide nya pada Haiyla. Dengan mengajak Camy dan Walabi ikut serta menjaga Dunia bawah.
Dikarenakan Camy menggunakan kekautan batu kristal untuk melindungi keluarga Walabi. Bharat bisa menjamin keluarga Walabi, maupun Camy tak akan berkhianat.
Mereka orang yang juga tak suka dengan tingkah serakah Marky.
Haiyla muncul dan bertemu dengan Camy dan keluarga Walabi, disana ada Esmas, Pina dan Kola.
Mereka berbicara banyak, Haiyla pun setuju. Ia memberikan akses bebas memasuki dunia mereka pada Camy dan Walabi.
Sebagian Robot telah dikirim untuk penjagaan. Sebagian lagi dalam proses. Phoenix Way seketika ramai.
Kembali pada Bharat yang sedang menyusuri goa. Mereka melakukan misi sendiri-sendiri.
Giliran Bharat melakukan misinya. Ia waspada. Terdengar suara perut yang kelaparan didalam sana.
Suaranya menggema. Bharat meningkatkan kewaspadaannya. Serangan busur panah yang dapat Bharat hindari. Ia mengambil busur yang menyerangnya, busur kayu biasa dengan ujung runcing.
Ia teringat ucapan Marzon tentang Ragoo yang bisa dikalahkan namun akan hidup kembali.
Karena Marzon telah mengalahkan Ragoo duluan, ia tak memberi wejangan, maupun trips dan trik.
Sangat pelit. "Kau harus mengalahkannya sendiri. Dan aku yakin kau bisa" ucap pria itu pada Bharat.
Bharat hanya memutar bola matanya. Malas. Ia hanya ingin tahu seperti apa mahkluk itu. Tapi sedikitpun Marzon tak mendeskripsikan bentuk mahkluk itu.
Hyuuush ...
Benda kecil melewatinya dengan cepat. Berulang kali. Dengan dengingan menganggu pendengaran Bharat.
__ADS_1
Gemuruh terdengar. Semakinnlama semakin kuat. Dan ...
BLAR!
Sudut tempat Bharat meledak. Lagi. Gemuruh lain terdengar. Ini lebih besar dari sebelumnya. Dan ...
BLAR!
BLAR!
Serangan yang intens. Bharat tak bisa hanya diam. Ia menggunakan alat dari dunia manusia penemuannya di DarkHole.
Kacamata yang biaa memindai pergerakan. "Active!" Bharat mencobanya. Ia bisa melihatnoergerakan yang ada disekitarnya.
Dan anehnya tak ada tanda-tanda mahkluk besar menyeramkan. Ia mencari. Tapi adanya sekumpulan peri, yang berkumpul di sekitar goa ini.
Aku masih menunggu serangan selanjutnya. Mungkin mahkluk besar yang Bharat tunggu akan muncul.
Lagi gemuruh mengelegar kali ini.
Crrttzzz ...
Crrrttzzzz ...
Kilatan seperti listrik. Mengerikan
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Ia mencoba mengaktifkan alat canggih lainnya. Penerjemah apapun.
Dan Bharat serada dibod9hi setelah mendengar kumpulan peri kecil itu menertawakan dirinya.
Membicarakan dirinya, yang hanya bisa menghindar, yang dirinya tak pantas menjadi Ratu, Bharat, tak menyangka peri ini menggosipkan dirinya.
Bharat tak tahu seberapa kuat peri ini. Tapi ia mencari Ragoo.
Ia mengenakan sarung tangannya. Menatap tajam pada sekeliling dinding goa yang tersembunyi tempat-tempat para peri.
Ia mengeluarkan serbuk. Menuangkan pada telapak tanganya dan meniupkan ke segala arah. Ini bekal yang Agrabella berikan padanya, katanya ini akan berguna. Bubuk glop.
Bubuk berkilau itu terbang terhempas angin masuk keseluruh penjuru goa. Memasuki sela-sela.
Dan tak lama telihat semburan peri keluar dari tempatnya. Mereka terbang dengan aneh.
Bharat mengangkap salah satunya. Peri kecil, berwujud humanoid. Ia memiliki gigi taring. Dengan tanduk yang berbeda, satu dengan yang lain. Lalu melepaskannya
Peri-peri melayang pelan dengan terhuyung, mereka banyak dan berterbangan diatas Bharat.
__ADS_1
Bharat menangkap dan bertanya, "Mana Ragoo?"
Si peri kecil itu cegukan, ia mengulang pertanyaan Bharat dengan suara melengkingnya. "Mana Ragoo?"
Dan suara ribut juga melengking terdengar menimpali dari segala sudut goa. "Aku, aku, aku"
Bharat menutup telinganya. Suara melingking itu menyakiti telinganya.
Ia mencaribtempat bersembunyi, tapi yang ia temukan sinar berkelip disudut, ia meraba dinding mencoba menghindar dari para peri mabuk itu.
Menghampiri pedaran aneh. Ia menyibak dedaunan yang menutupinya. Dan disana ada tulisan.
"Ketuk-ketuk batu bulat jika ingin membuatnya jinak, Berikan mereka bubuk bunga glob, dan cari batu bulat lalu ketuk-ketuk pada dinding goa."
"Batu bulat. Batu? Bulat?" Bharat mencarinya sambil mengucapkan kata itu.
Ia mengambil sembarang batu dengan bentuk bulat. Dan mengetuknya ke dinding.
Ketukan pertama, dengan ajaib peri yang berterbangan menjadi tak bergerak, seolah membeku. Ketukan kedua dan ketiga. Mereka terbang dengan cepat.
Ketukan keempat dan seterusnya. Para peri nampak berbaris rapi diatas, dan kembali sadar dari mabuknya.
Asa satu pemimpin yang berada paling depan. Kemungkinan itu adalah ketua mereka.
"Selamat Ratu Putih anda lolos tahap ini" beberapa peri membawa sebuah nampan yang tertutup kain.
"Silahkan ambil hadiah ini Ratu." Pintanya. Kain itu terbuka. Sebuah telur lebih besar dari tubuh peri-peri itu.
Bharat meraihnya, telur itu cukup unik cangkangnya berwarna putih dengan corak emas dan merah berbintik.
Telur apa ini?
"Perkenalkan Ratu Putih, Kami adalah bangsa Ragoo" seketika si ketua menunduk, seketika itu juga sayap mereka lepas bersamaan dan mereka semua jatuh ketanah.
Mata Bharat membulat. Ia tak menyangkan kejadian ini, seperti laron, yang menanggalkan sayap mereka bersama.
Suara gemuruh terdengar lagi, dan kali ini diiringin dengan sapuan angin yang berhembus kencang, mengumpulkan tubuh dan sayap peri-peri itu. Membawanya masuk dalam tempat-tempat persembunyian mereka.
Sunyi. Bharat keluar dari goa. Disana Marzon, Berus dan Lisica menunggunya.
"Kau mendapatkannya juga?" Marzon memamerkan telur miliknya, warnanya lebih ke ivori dengan ada biru dalam bintikannya.
"Selamat untuk kalian berdua, Ragoo sangat susah memepercayakan telur Phoenix yang berharga pada seseorang" jelas Berus.
"Aku serahkan telur ini padamu Berus," Marzon memberikannya. Ia akan sangat sibuk dan memang kepetusan baik menyerahkannya pada Berus yang memilimi Phoenix.
"Aku juga Berus," Bharat menyerahkan telur miliknya.
"Siap Yang Mulai Raja, Ratu" Berus memasukan telurnya pada kotak. Dan membawanya.
"Lanjutkan" terdengar suara moon goddess mereka memerintahkan.
__ADS_1
Tbc.