
Gosip Willow menyebar cepat di markas. Ada yang kagum juga ada yang tak suka. Tindakan beraninya sudah menjadi buah bibir, Apalagi dengan Amira, anak Andreas, yang ia selamatkan dan jadi lengket dengannya.
"Onti Will ajari aku memegang senapan!" ucap Amira bocah 10 tahun, Willow melirik ke tempat duduk Resta, Troto dan Andreas tentunya yang memandangi interaksi Willow dan Amira. Mereka berada di kantin markas.
"Amira, kau harus minta izin dulu sama itu 3 lelaki disana, kalau semua bilang setuju maka kau bisa menemui Onti lagi, okey"
Anak 10 tahun itu mengangguk dan berlari menujuh ayahnya. Dan menyimpulkan reaksi anak perempuan itu. Berarti ia mendapatkan izinnya.
Siaal! Mengapa ia harus menjadi baby sitter. Padahal menyuruh meminta izin supaya dilarang malah ini. Mengapa kau selalu menyusahkan dirimu sendiri Will! Umpatnya pada diri sendiri.
"Onti Will, aku dapat tiga izin" pekik anak perempuan itu senang. Aku melirik tajam ke Resta yang mengangguk padaku.
Siaall kau Resta! Umpatnya lagi.
"Oh … begitu" ucapku lemah. Banyak mata menatapnya juga kasak-kusuk di sekitarnya.
"Dasar memanfaatkan anaknya! Tahu aja Kapten Andreas duda" ucap salah satu wanita yang bisa didengar Willow.
"Bisa saja mengambil perhatiannya! Dasar J4lang!" Bisik yang lainnya.
"Kapten Sonya bilang aksinya sangat ceroboh kemarin itu,karena bisa membahayakan nyawa rekan dan sandra"
"Sombong sekali! Karena hanya melakukan aksi yang ceroboh malah dianggap heroik!"
"Dasar murahan!" ucap wanita yang melintas di belakang Willow.
"Onti apa itu murahan?" Ternyata Amira juga mendengar ejek untuknya. Willow menghela nafas panjang.
"Murahan itu dalam keadaan genting hanya bisa diam! Tidak bertindak! Tidak ada kemampuan hanya bisa berbicara namun otak kosong, itu yang dinamakan Murahan" ucap kencang Willow.
"Jadi Amira harus giat berlatih, bukannya bermalas-malasan dan bergosip"
"Amira tidak suka bermalas-malsan Onti, Ayah nanti akan memarahiku, bergosip apa Onti?" Willow siap menjelaskan ketija Fernandes dan Zack datang dan duduk disebelah Willow.
"Bergosip itu, anak jahat! Amira jangan jadi anak jahat ya" ucap Fernandes mengelus kepala Amira.
"Aku tak suka anak jahat! Mereka suka merundung anak yang lemah dan mereka suka iri hati kata Miss Mayer"
"Benar! Mereka suka iri hati, makanya jangan seperti itu ya" Kembali Fernandes membuat sekumpulan wanita penggosip itu beranjak pergi.
"Dasar si iri hati! anak kecil saja mengerti!" Zack dengan mulut tajamnya, saat ada sekelompok wanita penggosip melewati bangku mereka. Kelompok itu merasa malu, mereka berjalan cepat sambil menunduk.
__ADS_1
Karena banyak pejabat tinggi yang makan saat itu.
Ya beginilah kehidupan Willow di Giant Pipe. Di kerubuti lelaki dan dibenci wanita, tapi ia tidak peduli, karena para lelaki ini siap sedia menjadi tameng, bahkan membalas perlakuan wanita-wanita itu lebih menyakitkan.
Omongan lelaki di timnya ini lebih pahit dari lomongan para penjulitnya. Mereka tidak akan berhenti sebelum bertemu dengan di irit kata namun ketika mulutnya mengeluarkan kata, siapkan perban pada hati masing-masing. Katanya seperti silet tajam dan menusuk.
"Ayah" Andreas mendekat.
"Saya titip Amira ya, kamu jangan nakal ya, nurut sama Onti Will, sama Ongkel Fernandes juga Ongkel Zack,"
"Ya ayah" senyuman manis Amira.
"Janji lho ya? Saya permisi" pamit Andreas, yang menyusul Resta dan Troto yang pergi lebih dulu.
"Jadi misi kita jadi baby sitter?" Zack berucap yang dianggiki oleh Fernandes.
"Onti ayo ajari Amira handgun" Fernandes berjingkat.
"Hah! Kita bukannya main barbie?"
"Amira tidak suka barbie Ongkel"
"Mending main minum teh?" Amira menggeleng.
"Masak-masakan saja?"
"Ongkel kau terlalu kekanakan dan terlalu girly, aku tak suka, ayo Onti kita ke ruang latihan" Amira menarik Willow yang melihat Fernandes kasian.
Lelaki itu terlihat kaget, ia mengira Amira adalah gadis 10 tahun yang menyukai permainan bocah seusiannya. Nyatanya sekian lama, bertumbuh di lingkungan militer.
Membuat gadis itu lebih memilih berlatih menembak dari pada bermain boneka karet itu.
"Sadar!" Zack menepuk pundak Fernandes.
"Dia tergila-gila pasa Will karena aksi Will yang menggorok leher si ketua bakiak kemarin" Olugi sudah berdiri di samping Fernandes.
"Saat anak itu diperiksa, ia tidak mengalami trauma, malah tertarik untuk belajar bersama Will" lanjut Olugi menjelaskan.
"Kau mau kemana?" Fernandes bertanya pada Olugi yang sudah melangkah meninggalkan mereka.
"Mau melihat Will dan Amira, sepertinya menyenangkan" ia menyusul kemana Amira membawa Willow.
__ADS_1
"Kau kemana Zack?" Melihat temannya itu juga beranjak.
"Ikut Olugi" jawab Zack singkat. Lelaki itu mengenakan kupluk pada Hoodienya. Dan mau tak mau Fernandes pun ikut kedua temannya menyusul kemana Amira membawa Willow.
Willow digelandang Amira menuju tempat pelatihan senjata level tinggi. "Kita kesana saja" tunjuk Willow pada tempat latihan dasar menembak.
Amira menggeleng "Tidak, bosan!" Ucapnya.
"Kamu sudah sering kemari?" Tanya Willow, anak perempuan itu mengangguk,
"iya, makanya mau ke level up lagi, ayah bilang aku harus mencari guru sendiri karena dia sibuk" ucap Amira dengan bibir mengerucut dengan pipi tembamnya.
"Dulu kau punya guru?" Amira mengangguk,
"Lantas kemana gurumu itu?" Tanya Willow. Mengapa tidak lanjut dengan gurunya yang lama saja.
"Putus dengan ayah, dan tak pernah bertemu lagi dengan Miss Anas" Ah, pacar si ayah, Willow menghela nafasnya.
"Okey jika begitu, Onti mau lihat kemampuan Amira dari dasar nanti Onti nilai apa Amira lulus penilaian Onti atau tidak"
"Ini semacam ujian gitu?" Tanya anak pipi tomat ini.
"Iya anak pintar, jadi kita kesana dulu" tawar Willow. Awalnya Amira tidak mau, tapi setelah para lelaki dari tim Center muncul, mereka berhasil membujuk bocah keras kepala itu.
Amira memiliki handgun miliknya. Ia membidik dan semua bidikannya tepat sasaran.
"Pakai handgun yang ada!" Zack memberi tantangan pada Amira.
Dan hasilnya sama memuaskan, walau awalnya Amira agak kesusahan, tapi tak lama setelah ia memegang handgun dan beradaptasi, anak itu membidik dengan akurat.
"Miss siapa yang mengajarinya tadi ia katakan? Ia mengajari anak ini dengan bagus." Ujar Olugi.
"Miss Anas" sedari tadi Amira mengatakan Miss anas begini, Miss Anas begitu banyak sekali kata Miss Anas yang keluar dari bibir Amira.
"Jika kau ingin mengaet bapaknya, kau harus mengalahkan Mis Anas ini Will" ucap Olugi dengan kekehan yang mendapat pukulan langsung dari Fernandes dan Zack bersamaan.
"Aw! Aku hanya bercanda! Ya ka—"
"Masih untung kita yang memukulmu! Kau mau dijadikan seperti si ketua bakiak oleh Will" mata Olugi melebar dengan tangan memegang leher dan menggeleng menatap Willow yang telah menatapnya tajam.
"Bercanda Will" lirihnya masih dengan kedua tangan memegangi lehernya. Fernandes terkekeh.
__ADS_1
Tbc.