
"Bagaimana kak?" Kola menghampiri kakaknya juga ayahnya. Ia ingin sekali ikut dalam acara makan siang itu. Namun Esmas melarangnya.
"Dia menantang"
"Menantang bagaimana?" Kola semakin penasaran.
"Ya menantang kita untuk berkerjasama dalam salah satu projek Nokturnal lagi"
"Tak melepas dengan mudah umpannya" Esmas menimpali.
"Pina kau harus berhati-hati" nasehatnya.
"Baik Dad,"
"Benar-benar, jika memang mengingin kan 'itu' dia sangat serakah Dad" Kola duduk di kursi sebelah Pina.
"Kita harus lebih memperketat perusahaan dan rumah, bagaimana dengan penyusup itu?"
"Masih belum menyadari"
*
*
*
"Kakak apa sudah kau dapatkan manusia yang berada dalam video" Marlin bertanya pada sang kakak yang sibuk menatap layar didepannya.
"Aku kira ia pasti ada hubungannya dengan wanita sihir itu" Shawhel mencoba memperjelas gambarnya namun tetap saja tak bisa.
"Kakak yakin salah satu dari mereka itu Loreen" lanjut Shawhel berasumsi.
"Kak lebih baik kita serahkan masalah video ini pada klan Guapo. Mereka lebih mengerti" Marlin menyarankan.
Di Ras Levian ada dua klan, klan Trudy dan Klan Guapo. Dimana mereka memiliki bentuk yang berbeda.
Klan Guapo mereka perwujutan manusia, dengan telinga runcing dan bertindik sedangkan di leher kanan kirinya terdapat insang, jika marah dan terancam matanya akan berubah menjadi hitam. Dan klan ini memiliki otak yang terbilang lebih cerdas. Mereka jika dalam air kaki hingga pinggulnya akan berubah menjadi ikan.
Berbanding terbalik dengan Klan Trudy jika di air ia akan menjadi ikan paus, sedangkan di darat mereka menjadi setenagh manusia dengan kepala paus. Kemampuan berkelahi menjadi nomor satu di klan ini.
"Baiklah, sesok kau dan Kunao ke sebrang, minta bantuan mereka, Zale, temui dia" Marlin pamit setelah mendapat persetujuan Shawhel.
Ia berangkat berdua dengan Kunao, ke pulau sebrang. Pulau Brauw dimana tempat para klan Guapo tinggal.
Mereka talah tiba didermaga mereka disambut oleh pria berkemeja pantai dengan rambut putih keperakkan dengan telinga runcing penuh tindik.
__ADS_1
"Zale" Kunao menghampiri pria yang mengangguk membenarkan sapaan Kunao,
"Selamat datang di Brauw. Shawhel menghubungiku tentang bantuan, akan ada utusannya, kalian Marlin dan Kunao"
"Marlin" ia mengulurkan tangan ke Zale, dan disambut hangat. "Zale" tangannya beralih ke Kunao. Dan juga disambut dengan tangan Kunao.
"Mari ikut" mereka berdua jalan beriringan mengikuti Zale.
Ternyata Pulau ini lebih mencolok dari pulau mereka. Terlalu terang dan bersih, mereka terlihat tak nyaman.
Rumah-rumahnya terbuat dari nyiur kering dan kayu, tipikal rumah pantai, sedangkan pulau Bargossa, tempat mereka lebih gelap dan lembab, terasa layaknya lautan dalam.
"Tolong siapkan minuman diruanganku" Zale menghentikan seorang wanita. "Baik Ketua" Wanita itu hanya mengangguk dan berlalu.
"Masuklah!" Zale menyibak kain kusam, mereka ikut masuk dan tercengang melihat banyaknya layar yang bekerja dengan teknologi tinggi.
"Duduk dimana saja senyaman kalian" Zale meninggalkan Kunao dan Marlin yang mengagumi ruangan miliknya. Tak menyangka di balik rumah nyiur dan kayu terdapat teknologi canggih didalamnya.
Rumor bahwa klan Guapo memiliki otak cerdas dengan tampang mendukung benar adanya.
"Berikan padaku" Marlin tersadar, segera memberi apa yang Zale minta. Zale berada mejanya.
Tak berapa lama beberap wanita dengan nampan berdatangan, meletakkan banyak sekali makanan didepan mereka.
Berbagai makanan segar tersedia. Ikan cumi, udang, sangat mengiurkan.
Marlin mengambil piring dengan daging ikan segar dan menuangkan semuanya dalam mulutnya.
Begitu juga Kunao. Ia mengambil kepiting dan menggigitnya seolah ia memakan burger. Suara gigi yang beradu dengan tempurung kepiting terdengar nyaring.
Marlin mengambil piring berikutnya, kerang tiram, ia melahap dengan tempurungnya.
Suara makan yang heboh, membuat Zale melirik dan tersenyum, tamunya sangat menyukai jamuannya dan ia senang.
Layar menampilkan video kaburnya para tahanan mereka. Dengan cekatan Zale memperbaiki kualitas gambar. Hanya hitungan menit terlihat dua sosok wanita disana.
"Ini, dan sudah ku kirim pada Shawhel, sebenarnya kalian tak perlu repot kesini," Zale memberikan benda kecil persegi pada Marlin.
"Urusanku dengannya dan dia seenaknya mengirim kalian! Dasar ketua macam apa mengumpankan anak buahnya" kesal Zale.
Shawhel memiliki hutang budi pada Zale dan ia ingin menagih, dan dengan seenaknya cecunguk itu mengirimkan orang lain. Dasar seenaknya sendiri. Pikir Zale.
"Kalau saja ia bukan sahabat sudah aku libas, Kalian beritahu dia, aku ingin dia, dan sepertinya kalian sangat menikmati jamuan ku" Zale tertawa melihat piring-piring yang berantakan dan kosong.
"Terima kasih jamuan yang luar biasa." Jawab Kunao dengan membersihkan sela-sela gigi runcingnya dengan kayu kecil.
__ADS_1
"Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian, Edric bawa mereka beristirahat"
"Baik Ketua"
"Sebentar, ini, sudah selesai?" Ia mengacungkan benda kecil berbentuk kotak itu pada Zale, Zale mengamgguk mengiyakan.
"Kalau begitu, kami akan langsung kembali, terima kasih jamuanmu Zale"
"Tak ingin berkeliling?"
"Tidak terima kasih, terlalu terang" Zale hanya tertawa. Ia tahu klan Trudy tak suka berlama-lama ditempat yang terang. Dan itu alasan mengapa Shawhel mengutus orang lain. Ia sangat tidak suka matahari.
"Berikan salamku untuk ketua kalian, juga selamat atas naik posisi" Zale mengantarkan Kunao dan Marlin ke dermaga.
Zale kembali ke ruangannya,
"Ketua Nokturnal menghubungi, mereka sangat ingin ingin bertemu dengan ketua" Edric berdiri gugup.
"Biarkan saja, bilang aku sedang tidak bisa ditemui"
"Ta-Tapi ketu---"
"Kenapa kau tak ingin menemui gurumu ini Zale!" Braxton perlahan mendekat dengan pongah. Zale hanya melihat kelakuan Braxton dengan tatapan dingin.
"Kau tak mempersilahkanku duduk?"
"Duduklah" Zale berjalan pada sofa dan mendudukan dirinya sendiri.
"Auw! Kasar sekali kau pada orang yang berjasa membuatmu menduduki posisi ini" ia duduk berhadapan dengan Zale.
"Wah ruangan yang menakjubkan, kamuflase yang baik,"
"Tak perlu banyak basa-basi, mau apa kau kesini!" Tembak langsung dari Zale. Ia tahu kelakuan Braxton. Dan ia tak perlu mengeluarkan banyak kata tak berguna dengan pria didepannya ini.
"Kembali ke BP!" Braxton menjadi serius menatap Zale.
"Cih!" decakan Zale menjadi jawaban.
"Kalau tak ada lagi yang mau kau bicarakan, cepat angkat kaki dari sini!" Ancamnya pelan. Ia kembali ke mejanya. Tanpa memperdulikan Braxton yang tersenyum dengan penolakan Zale.
"Aku akan pastikan kau kembali dalam tim, sekarang aku pergi dulu, lumayan juga benteng yang kau pasang, agak susah dicari" Braxton menyeringai menang, sebelum keluar ruangan Zale.
Zale mengeratkan rahangnya. Dalam sekejap bola matanya menghitam. Kemarahan menyelimutinya.
Sebenarnya ia agak terkejut atas kedatangan Braxton. Dugaan Zale pria selicik Braxton akan menggunakan segala cara untuk mendapat apa yang ia mau. Salah satunya mendompleng Klan Trudy untuk menemukannya.
__ADS_1
Tbc.