DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Riby Disekap 2


__ADS_3

Alex terus berkutak dengan komputernya, ia mencoba masuk dalam sistem ditempat Riby dan ia bisa, senyuman miring yangbterlihat puas tercetak pada bibirnya.


"Riby kau masih disana?" Sedari tadi ia masih tersambung dengan Riby.


"Ya"


"Aku sudah masuk pada sistem kacamata yang kau kenakan, aku akan membuatnya menuruti sistem navigasi kita"


"Hati-hati Alex, aku takut ini sebuah jebakan" Amber yang juga serius pada komputernya.


Sedangkan Camy dan Jenny sudah berada di atas awan bersama Pedro. Ia menuju lokasi Riby.


"Kriiiieettt ... " Riby mendongak, ia sekarang bisa melihat dengan jelas sekelilingnya. Hanya ada ruangan dan ia ingin melihat sosok yang bernama Alejandro itu.


Sejak waktu ia mengenalkan diri, kemudian keluar dari tempat ini, ia tak melihatnya lagi.


"Leon? Kau bangun?" Riby menyondol tubuh Leon yang masih duduk itu. Meraba  kepala singanya.


"Apa pingsan?" Saat Alejandro menyerangnya Leon dengan sigap melindunginya. Riby hanya melihat siluet yang saling bergumul juga terdengar beberapa pukulan juga makian dari Alejandro. Dan erangan lalu terakhir suara tabrakan yang cukup keras. Dan hening. Sebelum Alejandro mengenalkan diri pada Riby yang kemudian pergi.


"Wajahnya hangat, apa dia demam?" Riby kembali. "Coba aktifkan pengecek suhu saja" suara dari sebrang. Amber.


"Ah iya, Temperatur active!"


"Demam dia" Alex melihat data temperatur. "Lepas kuku palsumu yang di jari manis sebelah kanan, dan surih dia kunyah." Druw juga masih ikut memantau.


"Ia tak bisa mendengar suaraku, sama sepertiku akupun tak bisa mendengar suaraku sendiri."


"Hah maksudnya?" Alex tak mengerti. "Masker ini menahan suara keluar. Jadi sedari tadi aku tak bisa mendengar suaraku sendiri, aku hanya mendengar suara yang diruangan"


"Ah i see, masukan saja kemulutnya, biarkan meleleh dengan air liurnya." Alex menemukan koordinat keberadaan Riby.


Ia mengirimkan pada Camy dan Jenny. Camy langsung memasukan pada navigasi Pedro. Dan membuay Pedro melesat kencang.


"Hide active!" Dan mereka hilang.


"Bluster cepat pergi ketempat Riby, cari celanya!" Camy membuka kaca jendela dan Bluster dengan cepat melesat.


Bluster robot berbentuk lalat. Mereka memantau Bluster dari layar Pedro. "Madam kita telah sampai" Pedro memberitahukan.


"Nanti dulu kita lihat apa yang Bluster dapat."


"Wow penjagaannya sangat ketat" Melihat dua algojo berbadan besar dengan senjata tajam yang juga besar berjaga didepan pintu. Bangunan seperti benteng itu sangat tinggi.


Bluster menyusuri dalamnya. Ia berhsil masuk lewat cela-cela pintu. Suasana temaram hanya dengan diterangi obor. Bluster menyusuri tangga, menuju pintu yang Riby maksud.


Ia mencari cela, pintu yertutup sangat rapat, ia memindai daerah sekitar, memperkirakan, "Wah ada pengguntit kecil" Bluster dan yang lain tak menduga bahwa mereka terlacak.


Mutan itu menepuk kencang Bluster di telapak tangannya. Dan Bluster tak berbentuk lagi. Jenny marah. Ia menunjuk Peri-Peri untuk masuk, "Lebih hati-hati Peri-Peri" ucap Jenny. Peri-Peri juga sejenis robot yang berbentuk nyamuk dan ia setingkat diatas Bluster.


"Bawa Bluster pulang dulu, Jen kau disini dulu nangi kalau semua aman kau susul aku, aku masuk duluan" Camy telah menggunakan perlengkapannya. "Cam ini terlalu berisiko" Jenny mencoba menghentikan Camy.

__ADS_1


"Tak apa aku akan berhati-hati" Camy bersikeras ia ingin berhadapan dengan mutan yang merusak Bluster.


Didalam ruaang tawanan. Riby


"Hide Active"


"Temperatur Hide" Riby berjalan mendekat pada Leon


"Hide another" Leon menghilang dengan sentuhan tangan Riby. Tapi masih bisa Riby lihat.


"Wah anggota DarkHole sungguh luar biasa" Riby tersentak, ia tak tahu ternyata Alejandro berada disekitar mereka. Entah dari kapan.


Leon yang masih bisa bergerak, walau pusing ia berdiri dan itu menimbulakan gerakan pada genangan air dibawah mereka.


"Kalian bisa bersembunyi tapi ternyata kalian tak sepintar itu rupanya" Alejandro. Menatap kearah mereka, bunyi decakan kaki terkena genanagan iar menggema. Membuat Riby maupun Leon berhenti bergerak.


Riby berkomunikasi dengan Leon menggunakan tulisan yang Riby tuliskan di telapak tangan Leon.


"Ah siaal! Bekukan genangan itu Riby!, Ya kadang kami buat khilaf juga bro!" Kesal Alex, ia tak suka seseorang yang tiba-tiba muncul itu merendahkan timnya.


Ruangan Riby gelap disudut-sudut namun masih menyisakan terang di tengah ruangan. Sedikit sorot cahaya. Hanya sedikit. Setidaknya Riby masih bisa melihat jelas di sekelilingnya dengan jarak pandang dekat.


"Leon aku beri aba-aba hitungan ketiga kau harus lompat"


"3"


"Freez active!" Riby dan Leon melompat dan perlahan genangan itu membeku dan menjalar ke seluruh ruangan.


"Damnitt!" Sosok yang semakin jelas itu membuat Alex yang melihat dari mata Riby langsung memaki. Sosok singa dengan kepala manusia. Mendekat. Riby pun sama terkejutnya.


Dengan lemah, Leon meraih tangan Riby lalu menuliskan. "Dia separuhku!" Riby menyuarakannya.


"Seriusly!" Amber pun sama. Ini pertama kalinya mereka melihat sosok binatang yang 80% seperti binatang,


Hembusan nafas keras Alehandro tampak putih, udara semakin dingin menusuk, sosok yang adalah separuh dari Leonidas.


Leon terduduk ia mulai menggigil. Riby meraih tangan Leon. Kau bisa bertahan? pertanyaan Riby yang dijawab anggukan oleh Leon.


Riby mendekat ia memapah Leon menjauh dari sosok Alejandro. "Kalian tidak akan lolos."


Klek!


Pintu tebal itu terbuka. Membuat perhatian semuannya berada di pintu itu.


"Riby Peri-Peri berhasil membuka pintu itu. Berjalan cepat keluar dari sana saat pintunya terbuka lebar!" Perlahan pintu terbuka. Riby memepah tubuh Leon mendekat kearah pintu. Menunggu terbuka.


"SIAPA YANG BERANI MEMBUKA PINTU!" Teriak mengelegar terdengar dari sosok itu. Peri-Peri masuk dan berdeging memutari kepala Alejandro.


"Beraninya kau nyamuk!" Hardik Alejandro. Ia melihat Alejandro mengejar nyamuk dan itu kesempatan Riby lebih mendekat pada pintu.


Peri-Peri membuat dirinya menyala. Dan Alejandro semakin intens mengejarnya. Riby dan Leon berhasil menyelinap keluar.

__ADS_1


Dengan cepat Riby menutup pintu itu. Dan  Peri-Peri kembali dalam mode "Hide" yang dikendalikan Jenny.


"Aku akan mengirim peta tempat Pedro dan Jenny juga Camy menunggu kalian." Amber masih berkutat dengan keyboardnya.


"Guys Camy sudah masuk kedalam," pelan Jenny menyampaikan keadaannya.


"Dasar si keras kepala!" Pekik Druw.


"Riby sebelum kamu keluar cari Si keras kepala itu, selalu tak mau menunggu" Amber menimpali.


"Aku akan mencari dengan SSH" suara petikan jari Alex pada keyboard terdengar.


"Kalian dekat, syukurlah, tapi sepertinya Camy sedang menghadapi beberapa tentara mutan"


"Cam kau dengar kami?" Amber bertanya.


"Ya aku sedang sibuk, ssepertinya mereka mengetahui keberadaanku," Camy dengan senjata api ditangannya. Ia bersembunyi.


"Yap kau betul! Kalian sedang dikepung" Amber melihat petanya.


"Kalian?"


"Riby telah keluar dari ruangan itu berkat Peri-Peri dan kau seperti biasa selalu gegabah Cam!" Omelan marah Druw. Bukan menyesal, Camy malah terkekeh.


"Enggak lucu ya Cam!" Lagi. Mode mamak singanya keluar.


"Anggap ini olahraga Druw"


DOR!


TANG!


Peluru itu meleset.


"Itu yang kau bilang olahraga Cam!"


"Hei mamak singa, sudahlah, biarkan Camy bersenang-senang sudah lama ya Cam, Cam di depan mu ada 4 mutan jelek, gunakan Hope, dan beres"


Camy mengikuti saran Alex, ia tak akan bermain walau sebenarnya ia ingin. Rekannya lebih penting saat ini.


DOR!


Sekali tembak empat peluru laser tepat dikepala para mutan itu. Pistol laser bernama Hope ini penemuan Alex, "Lumayan juga!" Penilaian Camy yang membuat dengusan Alex.


"Lumayan saja, tidak Cam ininpenemuan luar biasaku, dimana kau bisa menemukan senjata seefesien ini" Lanjut Alex seperti seorang marketing menjajahkan barang dagangangnya.


Camy melewati bangkai mutan-mutan bersenjata itu. Lanjut mencari Riby.


Camy menaiki tangga memutar. Terdengar suara perkelahian. Itu pasti. Camy berlari. Melihat Riby dengan beringas menghantam mutan dengan kepala babi hutan itu tanpa ampun.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2