
Juan dalam keadaan yang kritis. Mereka cepat menanganinya.
"Luka tembaknya cukup mengkuatirkan. Jika ia bisa melewati masa-masa ini, ia tak akan apa-apa." Druw dengan menaikkan kacamatanya. Marzon hanya melihat Juan dari balik kaca. Karena belum bisa dijenguk.
Marzon mengagguk. Ia keluar dari ICU tempat Juan berada. Ia masih harus melanjutkan misi yang tetap akan mereka jalankan.
Awalnya Juan akan bertugas memberi arahan, ia masih memiliki Mariah.
"Mariah apa kau siap?" Ia akan menerobos Nokturnal.
Disebrang sana Mariah, mengangguk. "Siap Tuan!"
"Arahkan aku dan mohon kerjasamanya" ucap Marzon yang membuat pupil mata Mariah membesar. Untuk sesaat Mariah merasa goyah. Namun saat melihat Braxton berjalan didepannya.
Senyuman Braxton membuatnya kembali memilih apa yang ia pilih. Ia berkhianat pada ExSide.
"Iya Ketua" jawaban lirihnya. Braxton memeluknya dari belakang. Ia mengecupi leher Mariah. Mariah terbuai.
"Siapa yang menghubungimu?" Bisik Braxton. Mariah yang terbuai. "Kakakmu" Braxton masih mengecupi Mariah namun terlihat matanya berubah menjadi menajam. Ia membalik tubuh Mariah dengan kasar.
Lalu mencium Mariah dengan kasar. Mariah yang terbuai. Ia bucin. Sudah sejak lama ia tertarik dengan Braxton. Saat Braxton menjalin hubungan dengan Clara Era. Namun saat itu Braxton tak melihatnya.
Dulu dia cupu, dengan jerawat juga kacamata tebal bertengger di matanya, sama sekali tak terlihat. Namun sejak ia mendengar Braxton putus dari Clara Era, ia melihat Btaxton dengan Lamorna. Disitu ia memberanikan diri mendekati Braxton dengan mengubah penampilannya.
Dan sekarang hasilnya, ia dekat dengan Braxton. Ia juga melakukan apa yang Braxton mau, seperti menjebak Marzon, masuk menjadi mata-matanya untuk ExSide. Walau sampai sekarang ia tak tahu dimana Marzon berada.
Ia hanya tahu Marzon di bukit Rfizt saja. Yang katanya, tak sembarang orang bisa kesana jika bukit itu menolaknya. Bukit itu susah dicari. Ia sudah mencobanya, namun nihil. Jadi ia tidak bisa melaporkan pada Braxton lalu dibunuh karena tidak berguna, ia masih ingin menikmati kedekatan mereka.
"Aaakh ... " Braxton menjambak rambut Mariah, hingga ia mendongak, ia menatap Braxton yang juga menyeringai miring.
"Marzon akan memulai penyerangannya" Ia tahu Braxton tak suka sebutan 'Kakakmu' untuk Marzon.
"Aku akan langsung menuntunnya ke tempat anda Tuan" Mariah masih mendongak dan menjelaskan,
"Good girl aku suka gadis penurut" ia melepaskan jambakan pada Mariah dan menepuk pelan kepalanya dan itu membuat Mariah kegirangan. Wajahnya bersemu merah.
Kembali Braxton mengecup Mariah.
Ditempat lain Lamorna meremas kertas-kertas di mejanya. Ia melihat kelakuan Braxton dan Mariah.
"Tikus kecil! Beraninya kau mengambil milikku!"
"Kesini!" Serunya kencang pada alat pemanggilnya.
"Nyonya" Darius menunduk hormat.
"Bawa padaku tikus kecil itu" suara desisian dari Lamorna. Ia marah. Tapi ia juga masih menginginkan Braxton, brondongnya.
*
__ADS_1
*
*
Patrik, Asisten Willow ditarik dan pindah menjadi asisten Marky setelah Juan berkhianat. Patrik melangkah kedalam ruang Marky yang sibuk berkutat dengan berkas-berkas.
"Ada apa kau terburu menemuiku? Aku harap hal bagus" Marky melepaskan kacamatanya. Ia menatap lurus pada Patrik yang menunduk.
Patrik mendekat ia berbisik pada Marky.
"Bagus tanpa kau turun tangan para pengkhianat itu akan satu per satu hancur dengan sendirinya." Tawanya mengelegar.
Patrik mengeluarkan tabnya memperlihatkan video yang membuatnya lagi-lagi tertawa.
Tanpa ia turun tangan, sudah banyak yang membantai pengkhianat-pengkhianat itu dan ia akan menghadapi pemenang terakhir. Sudah pasti dia akan keluar menjadi nomor satu.
"Bagus, good job! Terus pantau dan laporkan" Marky telah mengetahui Juan dari Braxton. Kalau Juan itu mata-mata ExSide dan Braxton menawarkan diri melenyapkan asistennya itu.
Dengan senang hati ia terima. Ia tak perlu susah payah mengotori tangannya sendiri dan ia menarik Patrik yang juga dengan senang hati menawarkan diri menjadi asistennya.
Ia bukannya tidak tahu, ia tahu tapi ia diam, karena ia memnpunyai rencana nya sendiri. Namun semua rencananya berjalan lebih cepat dari perkiraan, jadi kenapa ia harus menolak?
Patrik keluar dari ruangan Marky. Marky menyambungkan panggilannya pada seseorang.
"Awasi Patrik!" Perintahnya. Ia memang se-waspada ini. Ia kembali pada layar besar dihadapannya. Ia meraih cerutunya, memotong ujungnya dan membakarnya.
Ia melihat gambar Patrik yang berjalan dan bertemu dengan seseorang. Disampingnya juga ada beberapa gambar lain, ada Juan yang sibuk dengan ponsel juga Braxton dan Lamorna yang melempar semua barang di ruangannya.
Lalu ia melihat foto juga disana, ExSide juga DarkHole tim.
"Aku menunggu kedatangan kalian para pemberontak, tak sabar rasanya" lagi ia menghembuskan asap cerutu dengan senyum miringnya.
*
*
*
Juan telah melewati masa kritisnya. Tapi belum juga sadarkan diri. Druw selalu mengawasi. Memberi cairan infus dengan tambahan obat yang ia dan Alex temukan di tempat ini.
Dan sangat berpengaruh walau ada masa kritis yang harus dilalui sang pasien. Ia memeriksa infus Juan. Dan tak lama ia melihat pergerakan pada jari Juan. Senyuman tercetak pada bibir Druw. Ia melihat kearah mata Juan. Terlihat gerakan pada bola matanya.
Perlahan tapi pasti mata Juan terbuka. Ia menyipit karena cahaya yang masuk pada matanya begitu menyilaukan.
"Selamat datang kembali di bukit Rfizt, Tuan Juan" sapa Druw.
"Air" Juan masih mengumpulkan semua ingatan. Tenggorokan kering dan sakit, bukan hanya ditenggorokan tapi juga disekujur tubuhnya.
Druw menyodorkan sedotan di mulutnya. Dan dengan rakus Juan menenggak air. Setelahnya,
__ADS_1
"Marzon, aku perlu dia" suara pelan meminta Druw.
"Marzon tidak ada disini ia sedang menuntaskan misi, kau tahukan---"
Dengan kasar Juan mencabut infusnya dan berjalan keluar dengan tertatih dari ruanganya, ia tak mengindahkan sakit yang ia rasakan.
"Hei ... hei ... kau belum sembuh!" Druw mengejar Juan, ia memegang lengan Juan.
"Antar aku ke tempat mereka" pinta Juan.
"Jangan keras kepala! Kembali ke kasurmu!" Masih memegang lengan Juan. Juan berontak melepaskannya.
"Antar aku kesana! CEPAT! KAU MAU TEMANMU JUGA MATI, HAH! ITU JEBAKAN!" teriak Juan didepan Druw.
"AAakh ... Ughuk ... hah ... hah ... " Nyeri ia rasakan, nafasnya tersendat antara menahan sakit juga harus mengerahkan tenaga berteriak. Ia menyadarkan diri pada dinding, untuk sejenak meredakan sakitnya.
"Oke aku akan mengantarmu" Druw melepaskan genggamannya, ia melihat sekeliling, ia mencari kursi roda dan mengambilnya. Juan yang keras kepala ia melanjutkan berjalan sendiri. Perlahan.
"Duduk! ini akan lebih cepat" Druw menatap Juan yang masih tersegal. Juan tak menolak ia dibantu Druw duduk. Lalu Druw membalik arah dan mendorong Juan ke tempat Amber juga yang lain. Memantau Marzon dan Camy.
"Cepat!" Perintah Juan. Druw hanya diam. Ia tak menanggapi.
Mereka memasuki ruangan yang sedang sibuk menatap layar. Juan juga bisa melihat pertarungannya.
Sandos memperlihatkan pertarungannya, Disana ada Amber dan yang lainnya. Ia melihat Mariah disana.
"Juan" Clara Era menghampiri,
"Bagaimana?" Bingung juga kuatir melihat Juan yang pucat namun datang ke ruangan ini.
"Kalian sudah tahu?" Juan pelan. Druw bersendekap dada.
"Makanya jangan keras kepala! Dengar dulu penjelasan orang lain!" Druw kesal.
"Sudah kembali keruanganmu! Jangan keras kepala! Dan ketua sedang menanti kabar baikmu" Clara mendorong Juan keluar, yang tadinya masih keras kepala ingin tetap disana ikut memantau, namun saat dia mendengar Ketua, maka ia tak bisa egois.
Juan kembali dengan Druw yang terus menggerutu. Dan itu membuat Juan juga kesal. Kepalanya yang pusing dan ditambah gerutuan Druw sangat amat tak ia ingin kan sekarang.
"Bisa kau diam!" Bentaknya.
"Tidak!" jawab Druw cepat
"Tuhan ... kenapa kau tambah pasien menyusahkan padaku Tuhan!" ucap Druw tak ada penyesalan.
"Dasar dokter tak kompeten" ejek Juan.
"Dasar pasien egois" balas Druw yang mendapat pelototan Juan. Druw membantu Juan berbaring dan memasang lagi infusnya.
"Baik-baik disini, pulihkan tubuhmu, jangan buat yang lain kuatir" Druw memasukan tangannya pada saku jas dokternya. Bukan ingin memarahi namun memang ia ingin marah pada pasien keras kepala seperti Juan ini.
__ADS_1
tbc.