
Willow mengokang senjatanya. Tak lama, Popi datang.
"TIKUS BRE NGSEK! Hama memang menyusahkan!" Umpat wanita itu.
Matanya menatap dingin. Bukan menggunakan senjatanya Willow memakai tali senapan pada lehernya. Ia kembali mencari senjata yang lain. Tidak menanggapi Popi yang mengumpatinya.
"Kau akan mati ditanganku!"
"J4 lang sepertimu tak pantas dengan Tertua Guapo. Hanya aku yang pantas!"
"Kau lihat sampai saat ini saja ia tak datang padamu!"
"Kau tahu semua yang kau gunakan itu milikku" kekehnya.
"Kau hanya menggunakan bekasanku, bahkan dulu pondok itupun tempatku memadu kasih dengan Troto"
"Kau hanya pengganti sialaan!" Desisnya dekat kuping Willow.
"Urgh!"
Willow menyerang leher Popi dengan cepat. Popi mundur dengan rasa nyeri di leher yang ia tutupi tangan.
"Kau terlalu banyak bicara"
"Kau akan ma-mati" jelas terdengar derapan langkah kaki.
"He-hei wa-wanita ini disini!" Teriak Popi dengan susah payah.
Kembali puluhan peluru meluncur ke arah Willow. Dengan cepat ia menghindar dengan menarik tubuh Popi untuk menjadi tamengnya.
"Bunuh wanita ini Valdo!" Perintah Popi. Pada ketua bandit yang siap menyerang Willow.
"Serang! Bunuh keduanya!!" Lelaki yang disebut Valdo memberi perintah anak buahnya, Para bandit menembaki Willow begitu juga Popi.
"Ark! Sialan kau Valdo!" Popi tertembak dan seketika tewas saat peluru menyasar pada kepalanya.
Kokangan terdengar. Willow menembaki segalanya dengan tepat sasaran. Ia melempar tubuh Popi sembarangan. Dan bersembunyi.
Ia melempar senjata yang tak diperlukan. Ia kembali meraih satu senjata yang ia ambil dari bandit-bandit itu.
Sisa si ketua bandit. Mereka saling bersembunyi. Dengan cepat Willow menangkis serangan Valdo. Lelaki itu tepat ada dibelakangnya.
Perkelahian sengit keduanya. "Hyaaah" Valdo menyerang Williw dengan belatinya. Belati Valdo melukai lengan Willow. Willow meringis.
Valdo terlihat puas saat melihat wanita itu berdarah. Sedangkan Willow menjadi lebih agresif. Dan Valdo merasa semangat.
Willow tak memberi cela pada Valdo untuk balas menyerang dirinya. Ia menedang dan menyasarkan tinjuannya pada bagian-bagian yang fatal. Namun Valdo bisa menepis serangan Willow.
Valdo menyeruduk perut Willow dan mendorong mundur. Layaknya banteng mengamuk. Willow menyikut tengkuk Valdo kencang bersamaan meraih pistol Lelaki itu sebelum tersungkur.
Dor!
Pelipis lelaki itu bolong.
Nafas Willow menderu. Tak lama Willow kembali memunguti senjata para bandit untuk pertahanannya.
__ADS_1
Dan keluar dari ruangan itu.
"Itu dia!"
Gerombolan lelaki menghampiri Willow. Willow meraih bom di pinggangnya. Dan melemparkan pada gerombolan bandit.
Lalu ia bersembunyi ledakan besar. Tubuh-tubuh bandit berhamburan. Kembali Willow berlari ia menuruni tangga. Mendengar ledakan juga perang peluru memanggil bandit lain untuk mengejar Willow.
Ia menemukan jalan keluar hutan. Bamgunan itu dikelilingi hutan juga beberapa rumah-rumah disekitarnya.
Willow bersembunyi di sekitaran rumah penduduk.
"Cari wanita itu!"
"Cepat!" Willow mengintip dari balik dinding salah satu rumah. Bandit mulai menyebar. Mereka masuk ke rumah warga dan mengobrak-abrik sesuka hati mereka.
"Cari!" Willow melipir.
"Cari disana!" Siaal! Batin Willow ia dikepung, Willow menemukan jendela yang terbuka. Ia masuk dan bersembunyi di sebuah dapur.
Ia memepet pada dinding agar tak terlihat. Sosok muncul. Mereka saling pandang. Willow menempelkan telunjuknya pada sosok kecil itu.
Bocah lelaki itu mengangguk. Ia kembali masuk kedalam. Willow mendengar pintu yang didobrak.
"Apa-apaan kalian!" Suara wanita.
"Kami hanya melakukan perintah! Enyahlah!" Ucap lelaki. Willow dengan perlahan mendekati dan mengintip.
"Pergi kalian dari sini atau aku bunuh kalian!" Desis suara wanita itu.
"Sudah Tom kita keluar!" Suara lelaki lain menyudahi perdebatan.
"Cih! Dasar menyusahkan!" Umpat Tom.
Lalu para bandit itu pergi.
"Keluarlah!" Ucap wanita itu, Willow memperlihatkan dirinya.
"Kau aman disini, mereka tak akan kemari lagi" ucap wanita itu merangkul si anak lelaki dan melangkah melewatinya menuju dapur.
"Albert disini dulu, Momi akan buatkan makan siang ya" ucap Si wanita dengan mengelus kepala si anak lelaki yang mengangguk patuh.
Anak lelaki itu bermain tak jauh dari ibunya. Ia mengeluarkan kertas-kertas dan robotnya. Dan mulai sibuk sendiri. Willow memperhatikan semuanya.
Wanita itu menatap Willow yang sedang memperhatikan anaknya. Ia sibuk di kompornya. Perhatian Willow teralih pada wanita itu.
"Giana"
" … Will" Willow menggunakan nama saat di Giant Pipe.
"Kau bisa memakai kamar mandi di kamar diujung lorong sana. Aku akan meminjamkan pakaian dan mengantarkan" Willow memandang wanita itu lama.
"Kau tak takut denganku?" Ucap Willow melihat dirinya dari pantulan kaca, wanita lusuh dengan pakaian kotor dan compang-camping, juga banyak senjata di tubuhnya. Layaknya makhluk gila.
"Apa yang harus ditakuti pada orang yang sedang kabur? Lagipula kau menyebutkan namamu"
__ADS_1
"Aku bisa saja nekat menggunakan anakmu untuk bebas"
"Ya bisa saja, tapi kau malah menyuruh anakku diam dan pergi padaku, dan kau mungkin … baik" ucap Giana sibuk dengan panci-pancinya. Untuk ukuran orang asing wanita di depannya ini terlalu santai.
"Kamar di ujung lorong" ucap Wanita itu sekali lagi. Giana tersenyum saat melihat dari pantulan kaca Willow menuju kamar yang ia maksud. Ia tak salah menilai. Jika Willow wanita baik.
Willow perlahan melangkah. Ia menuju kamar yang dimaksud. Mengamati kamar itu sebentar. Langkahnya membawa wanita itu pada sebuah ranjang.
Ia melepas segala persenjataannya. Meletakkan semuanya pada meja.
Ketukan terdengar.
"Will ini pakaian gantimu" Giana meletakkan pakaian juga handuk di ranjang Will.
"Nanti kalau selesai kau langsung saja ke dapur, aku akan selalu disana."
Willow hanya mengangguk. Giana keluar dari kamar itu. Willow meraih handuk dan pakaian gantinya. Tubuhnya sangat lengket.
Willow menanggalkan pakaiannya. Ia melangkah di bawah shower. Air hangat mengalir dari kepala hingga ujung kaki.
Rasanya menyegarkan. Tubuhnya sangat lelah.
*
*
*
Willow sudah duduk di meja makan di dapur milik Giana. Menikmati makan malamnya. Kentang tumbuk dengan daging sapi bakar. Juga salad. Masakan Giana sangat lezat.
Bunyi pintu di buka.
"HONEY AKU PULANG, ALBERT DADA DATANG JAGOAAN" suara seruan keras dari arah pintu. Willow meraba pahanya. Ia menyimpan senjata untuk berjaga.
"Santai Will itu hanya suamiku," Giana memegang pundak Willow yang wajahnya mulai mengeras.
"HONEY … ALBERT … "
"K berisik!" Ucap Giana menghampiri sang suami. Tawa renyah terdengar dari lelaki itu. Ia memeluk sang istri yang ketus padanya.
"Kangen honey, aku lapar, wangi masakanmu tercium sampai luar" Kellan mengecup bibir Giana.
"Hmm"
"Daa … daa" bocah tiga tahun itu berjalan menyongsong ayahnya.
"JAGOAAN DADAAAA … " Kellan menggendong Albert. Dan mengecupi pipi tembam anaknya.
"Kau bertambah berat, anak Dada pintar makan banyak sepertinya iniii …" ucap Kellan.
"Kyahahahahaha … " tawa Albert kegelian, Kellan mengelitik perut anaknya yang gembul itu gemas. Giana dan Kellan menuju dapur.
"Oh ada tamu" Kellan menemukan Willow dikursinya.
"Anak dada duduk lagi ya" Albert mengangguk. Ia meletakkan anaknya dikursinya.
__ADS_1
"G, Tom datang kemarikan? Kau tak ingin mengenalkan aku pada teman barumu ini?" Suara sang suami berat. Sedari ia melihat Willow ia menatap wanita itu datar.
Tbc.