
Jenny memasuki pasar gelap di Nokturnal LifeWild, keadaan sangat ramai. Banyak orang menawarkan barangnya, ya seperti pasar yang sesungguhnya. Ada transaksi juga, pembeli penjual sama lah seperti selayaknya pasar.
Ia melihat Bharta berjalan mengikuti seseorang didepannya. Seorang wanita dengan rambut merah dengan mengenakan banyak asesoris pada tubuhnya.
Jenny mengikuti Bharat. Ia menepuk punggu Bharat yang terkejut dengan kedatangannya. Bharat memasuki sebuah gedung lusuh. Terus menyusuri lorong-lorong kotor.
Hingga wanita yang Bharat ikuti memasuki sebuah pintu gelap. Dan Bharat ikut masuk kedalamnya. Jennypun mau tak mau mengikuti mereka.
"Apa yang kau lalukan disini Jen?" Bisik Bharat.
Jenny masih mengamati ruangan gelap itu. Lampu menyala. Membuat Jenny dan Bharat menengok ke wanita berambut merah berdiri di depan sebuah meja.
Ia mempersilahkan Bharat dan Jenny yang ikut muncul duduk didepannya. Bharat duduk ditempatnya sedangkan Jenny menyusul perlahan sesekali mengamati ruangan itu.
Dindingnya dihiasi oleh banyak ornamen tribal, Ornamen gypsy dimana-mana. Jenny mendudukan tubuhnya.
"Aku menemukan kartu mu dibuku Ramona yang ia beri padaku" Bharat menyerahkan kartu nama wanita itu padanya.
Wanita berambut merah itu menerima, memandanginya lalu tersenyum. Ia kembali menatap Bharat lama.
"Kau bukan menemukannya tapi kau diberi" ucap wanita rambut merah itu.
"Loreen, perkenalkan aku Bharat Colton" Loreen Manson nama wanita berambut merah itu. "Miss Colton dan...?" Ia melihat kearah Jenny. "Ah Jenewa Speer"
"Miss Speer... ada keperluan apa?" lanjut Loreen.
"Aku ingin bahan ramuan penyembuh" Loreen lagi-lagi menggangguk. Ramuan penyembuh adalah ramuan dengan level tinggi tidak main-main. Kau harus berniat untuk membuatnya. Bisa menjadi baik atau bahkan berbahaya.
"Aku memilikinya tapi hanya sebagian, tidak lengkap, pemasok sisa bahannya entah mengapa tak mengirimiku lagi." Ujar Loreen.
Bharat menatap Jenny, agak kecewa. "Jadi dimana kami bisa mencari bahan sisanya?" tanya Jenny antusias.
"Kalian bisa ke bukit Rfizt. Ia memiliki ladang bunga mopia. Tapi hanya satu, aku tahu dimana alamatnya tapi tak jelas letaknya. Bukan tak tahu tapi hanya orang tulus yang bisa kesana dan karena aku bersahabat dengan pemiliknya biasanya ia yang datang padaku tapi ini sudah beberapa bulan kebelakang ia tak lagi mengirimiku bunga itu." Mereka mengernyit tak mengerti ucapan Loreen
"Lalu bisakah kami kesana?" Loreen mengangguk. "Dengan ini bukan ini" Loreen menunjuk dada kemudian menunjuk pelipisnya.
"Aku akan memberimu alamat lengkapnya, tapi sekali lagi gunakan ini, dan kau akan menemukan tampatnya." Bharat mengangguk penuh kesungguhan sedangkan Jenny masih bingung
*
*
*
KLIK!
__ADS_1
Pintu hitam itu terbuka. Willow yang sedang duduk dikasurnya menyeringai. "Waktunya" ia menyondol gigi taringnya, lalu tubuhnya menghilang. Ia berjalan dengan santai tanpa adanya pengejaran, ya DarkHole memang sebodoh ini. Willow sudah sangat paham. Kekeluargaan mereka, membuat mereka dengan mudah diperdaya.
Sayang sekali padahal Willow sangat suka dengan perannya disini. Tapi Foxes Side telah memanggilnya.
"Cepat! Sudahi main-mainmu Willow!" suara perintah yang terdengar di kupingnya.
"Siap ketua" jawabnya dengan senyum sesumbarnya.
Seperti Lamorna, sudah ada Van yang menunggu Willow, Willow masuk ke dalam Van dan Van melaju pergi meninggalkan DarkHole dengan dering kencang peringatan adanya tahanan kabur.
Ada seseorang yang mengawasi kepergian Willow, ia melihat hingga Van yang membawa Willow tak terlihat lagi.
"Sampai jumpa lagi" ia menghembuskan nafasnya. Hawa panas dari bibirnya membentuk kepulan asap dingin. Ia memasukkan tangan pada mantelnya. Hangat. Yang berbanding terbalik dengan wajahnya yang saat ini terlihat dingin dan keji.
*
*
*
Camy masih dirawat, Druw sama sekali tak memperbolehkannya kembali pada penelitiannya. Bosan.
Untung saja Druw masih memberikannya konsol game jadul. Tapi telah ia rombak total. Dan memainkan harves moon. Game yang tak akan membuatnya bosan walau ia sering menamatkannya.
Pintu terbuka ada Joana dan Riby, mengangkat kantong plastik, dan dua pan pizza lalu masuk kedalam. "Cepat Jo sudah lapar aku." Jo mengeluarkan dua ember ayam cepat saji. Juga membuka pizza dengan topping tuna mayo dan meat lover dengan ekstra keju mulur yang aduhai menggoda iman Riby.
Jo menyerah kan satu ember ayam berbalut tepung krispi itu pada pangkuan Camy. "Makan" juga memberikan segelas sup krim.
"Kau tak bosan bermain game itu?" Riby menengok konsol yang baru saja Camy letakkan. Camy hanya menggeleng. Dan mengambil paha ayam lalu memakannya.
Jo memberi Camy piring kertas agar krispian tepung tak berceceran. Pintu Camy terbuka lagi. Ada Alex juga Amber dan Elle menyusul dengan kantong masing-masing di tangan.
Elle melangkah ke arah lemari es yang ada di kamar Camy. Membuka dan memasukan segala macam cemilan juga minuman. Ya ruangan Camy adalah markas mereka, sekarang. Bahkan ada beberapa bean chair disudut ruang. Juga karpet bulu yang nyaman untuk tidur.
"Kemana kau semalam?" tanya Jo yang tak mendapati Camy di kamarnya saat ia mampir. Mereka tak memberikan berita apapun pada Camy bahkan tentang kaburnya Willow. Druw melarangnya. Agar Camy tak terlalu keras menggunakan otaknya untuk berpikir.
"Jalan-jalan ditaman, bosan" sekarang Camy mencomot paha keduanya.
"Ada berita apa?" Mereka seperti tak mendengar perkataan Camy. lama tak ada yang menanggapi.
"Sori, tak ada berita apapun untukmu Madam" Alex, menyambar ayam yang ada di ember Camy dan menggigitnya rakus.
"Hei kau pakai piringmu!" Kesal Jo dengan memberikan piring kertas pada Alex. "Jorok sekali, itu krispiannya jatuh-jatuh!" Jo masih mengomel.
"Lantai jadi kotor berminyak, kau mau diusir oleh suster?" Alex melipir dengan memonyongkan bibirnya mengikuti ucapan Jo.
__ADS_1
Camy hanya menggeleng, pada kelakuan temannya itu.
Brak!
Brak!
Brugh!
"Haahh... lelahnya..." Druw datang dengan jas putihnya, ia sudah tergeletak di salah satu bean chair panjang, hari ini jadwalnya padat merayap, apalagi ia juga menggantikan dokter senior yang sedang ikut seminar di luar negara, ketambahan pasien dari dokter itu. Tenaganya terkuras. Habis.
Elle mendekat memberi Druw sebotol jus buatannya, jus berry menyegarkan. Druw menyedotnya hingga tandas. Sedari siang ia tak sempat memasukan makanan dalam tubuhnya. Baru jus ini.
*
*
*
Willow berada di Fox inc. Tempat dimana Wina juga Theo bersembunyi.
"Apa kabarmu Willi?" Seorang wanita menyapanya. Ia sedang diatas treadmill, melepas earpiecenya,
"Ah luar biasa miss Becs" ia melirik wanita yang ternyata Wina dengan tampilan Miss Becsnya.
"Mereka sekarang pasti kelabakan mencari kalian" Theo ikut bergabung dengan dua wanita itu.
"Kenapa? Kau ingin juga dicari?" Wina melirik Theo malas. dan mulai menjalankan treadmillnya
"Tenang, sayang, aku setia" Willow malas mendengar mereka flirting. Ia menurunkan kecepatannya lalu mematikan treadmillnya.
"Mau kemana kau?" Theo mengalihkan pandangan dari Wina melihat Willow yang berjalan menjauh tanpa pamit. "Malas mendengar ocehanmu!" Dengan tetap melangkah menjauh.
"Dia memang sesadis itu?" Wina menghentakan bahu, dan melanjutkan larinya. "Wanita-wanita DarkHole... Ah tidaaakk... sayang kamu luar biasa..." ucap Theo setelah mendapat lirikan tajam dari Wina.
*
*
*
"Persiapannya bagaimana?" Dua orang pria berdiri di ruangan dengan jendela besar dan lebar mengarah pada gedung-gedung pencakar langit didepannya.
"Selesai, tinggal menunggu hari H peresmian dan semua tersebar." Senyuman licik tersungging di bibir itu, kemudian sosok itu menghiasap cerutunya dengan nikmat. Dengan menggerakkan tangan mengikuti alunan musik klasik.
"Pastikan tak ada kegagalan" pria bercerutu menatap tajam kearah luar. Di jawab "Baik Boss" dengan mengangguk patuh.
__ADS_1
tbc.