DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 16


__ADS_3

Serbuan suara senjata, membuat Willow menempelkan telunjuknya pada pelatuk senjatanya. Ia berdiri dengan wajah datarnya.


Dalam diam Willow mendengar langkah kaki dan menghitung jumlahnya. Ia masih berdiam belum ada niat untuk menyusul kedua orang yang membawanya ke tempat yang ia pun juga tidak tahu ini.


Willow berjalan masuk dengan santai. Willow tahu jika sudah tak ada lagi musuh yang akan menembak dirinya. Mereka sudah dibabat habis oleh kedua orang didepannya.


"Kau lama sekali!" Ucap keras Resta.


"Harusnya kalian tak perlu mengajakku, kalian berdua pasti bisa menuntaskan misi ini" balas Willow yang masuk dengan santai.


Peluru melesat dari senjata Willow ke kepala orang yang ada di depan mereka. Troto menatap Willow yang mendahului mereka.


Masih berjalan santai. Willow kembali mengangkat senjata nya dan peluru melesat lagi dari senjata api miliknya.


Tergeletak seorang disana. Willow saat ini sangat mengantuk. Kalau saja ia tidak diiming-imingi libur tiga hari ia mana mau melakukan misi ini.


Penyelamatan sang putri? Kembali Willow mendengus pada ucapan Resta. "Bersih!" Ucap Willow yang berbalik pada kedua lelaki dibelakangnya.


Dan terdengar derapan langkah berlarian ke arah mereka. Willow meraih senjatanya yang lain, memasangkan peredam.


Willow membidik dengan lasernya mempercepat lagi ia menumpas lawan-lawannya.


Ia tak memberikan kesempatan untuk lelaki yang berada dibelakangnya. Jika ia telah menyetujui untuk ikut satu misi, Willow akan total.


Willow melihat lagi rombongan pasukan lawan yang maju bersamaan. Ia meraba pinggang dan mengambil sebuah granat. Dan ledakan besar terdengar.


Pasukan gerombolan itu terpental kamana-mana. Willow menyentuh pelipisnya dan keluarlah kaca mata hanya sebelah yang bisa menembus tembok yang mengelilinginya.


"Siapa yang harus diselamatkan dalam misi ini?" Tanya Willow pada keduannya. 


"Shera"


"Shera?" Ucap Willow bersamaan dengan Resta.


"Apa kalian tidak dibohongi? Aku melihat dia di jamu dengan teh! Bukan sedang di culik di balik tembok itu" telunjuk Willow menunjuk pada tembok di depannya.


"Wow pertunjukan yang bagus." Guman Willow yang melihat Shera sedang memukuli dirinya dan merobek bajunya.

__ADS_1


"Sepertinya kau harus pikirkan lagi jika ingin menikahinya Tetua" ucap Willow mendapatkan perhatian Troto juga Resta.


"Ia memukuli dirinya sendiri juga merobek pakaiannya sendiri, apa otaknya okey?" Tatapan Troto menajam.


"Drama ini menyiakan hari liburku" keluh Willow. Willow mendudukkan dirinya di sudut ruangan yang ada sebuah sofa empuk, Ia telah memberi tahu dimana sang putri berada.


Ia mengantuk, dan tak lama mimpi menjemputnya. Tapi serangan membangun dirinya.


Willow menangkap tangan yang akan mencekiknya. Ia menahan tangan itu. Tatapan tajam. "Kau tak tahu aku mengantuk." Willow memelintir tangan seseorang itu. Suara patahan kering terdengar bercampur dengan teriak kesakitan.


Dan dengan gesit meninju perut si lawan bertubi hingga tubuh lelaki itu tersungkur menghantam meja. Rintihan terdengar dari lawannya.


"Harusnya kau tak melawanku" Willow menguap lebar. ia kembali menidurkan dirinya. Terdengar desingan senjata api di udara. Willow kembali memejamkan matanya.


"WILL KAU DIMANA!" teriakkan Resta membuat Willow melenguh.


"WILL!"


"Hmmm … " Willow mengangkat tangan dan melambai.


"Kita pulang!" Willow menongolkan wajahnya.


"Kalian mengajak Jonny?" Ucap Shera yang dibuat lemah.


"Will duduk dibelakang," Resta mendorongku pintu ke belakang. Aku membuka pintu. Dan menemukan Shera menatap tak suka pada Willow.


Mana wanita itu peduli. "Kapten kau bisa menurunkanku di gerbang desa,"


"Kenapa kau pulang?"


"Kau lupa libur tiga hari yang kau janjikan?" Ucap Willow.


"Tapi kau tak melakukan apapun di dalam tadi" Resta mendengar decakan dari Willow.


"Aku sudah menunjukan dimana persembunyiannya, aku sangat membantu lho"


"Nanti kalau sudah sampai kabari, aku sangat mengantuk" Shera semakin tak suka, Willow berbicara tanpa sopan santun.

__ADS_1


Willow merebahkan kepalanya. "Aku lihat bagaimana Troto memperlakukanku" bisik Shera. Willow menjauhkan kepalanya.


"Kau hanya rendahan, tak akan ia lihat."


"Troto tidak akan memilih manusia tak berguna seperti—"


"Kau mau aku memberimu hadiah atas aktingmu?" Willow memotong ucapan Syera.


"Apa?!" Pekiknya. Namun ia kembali berdehem, menyembunyikan kekesalannya pada Willow.


Willow menepuk dua kali pelipisnya dan menunjuk layar pada kendaraannya. "Putar" ucap Willow.


Video apa yang Willow lihat sebelum ia tidur, disana ada gambar Shera yang meminum tehnya dengan nikmat lalu memukul sendiri tubuhnya. Dan merobek sendiri pakaiannya.


"Stop! Itu editan, ak aku … ini fitnah! Will kau memfitnah!" Marah Shera.


"Percaya padaku Troto." Shera tak lagi duduk dengan kesakitan namun mendekat pada belakang kursi Troto.


"Shera kau psiko!" Ucap Resta. Sebenarnya ia pun mempercayai ucapan  Willow.


"Kau benar-benar, mempermalukan aku!" Protes Shera.


"Kenapa kau melakukan ini padaku Will" sendu dengan air mata yang mulai mengalir.


"Will sampai!" Resta memberitahu Willow. Shera masih sesenggukan. 


"Astagah, calon istrimu terlalu drama Tetua, dia yang ketahuan tapi dia yang menangis, gimana bisa yang seperti itu yang kau pilih. Lebih baik aku" Willow tidak lagi.


"Tidak ada sopan santunnya! Hardik Shera.


"Yang penting masih waras tidak meninju diri sendiri dan merobek pakaianku"


"Aku tahu kau pasti akan memilihku, jika aku sebangsa denganmu" ucap Willow berani ia mengedip ke Troto.


"Ya orang macam ini yang ada di kemiliteran dan aku tak menyangka mereka bisa menjadi Kapten." Lanjutnya dengan melingkarkan tali tas pada bahunya.


"Sampai ketemu tiga hari lagi Kapt" Willow mengangguk dan kemudian pamit. Ia tak lagi menatap ke kendaraan. Willow tak peduli. Setidaknya, nanti ia akan tidur seharian.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2