DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Juan Dan Nokturnal 2


__ADS_3

Juan mencoba mengirimkan pesan pada Marzon. Ia menunggu suasana lebih tenang. Ia tahu Braxton telah mencurigainya, Braxton cukup pintar.


Ia memutus segala komunikasi dengan mata-mata lain disana. Ia bertambah yakin, disebabkan seringnya Braxton bertemu Marky. Entah apa yang mereka bicarakan.


Karena ia selalu di usir halus untuk kembali meriset pohon uang. Ia menyelinap keluar. Ia akan meminta bantuan Marzon.


Juan berkendara ke tengan hutan, tempat dimana sinyal Nokturnal yang paling lemah dan hampir tak dapat mendeteksi apapun.


"Angkat Tanganmu Juan!" Mariah menodongkan pistol pada kepala Juan. Juan mengangkat tangannya. Ia melirik wanita itu. Dan berbisik "Mariah"


"Hai Pengkhianat! Kau mau kemana? Memberi tahu Atasanmu? Atau kita panggil saja dia Marzon Wright, kakakku?"


Braxton mendekat perlahan dan berdiri didepan Juan yang menatapnya tajam. Ada Hudson disana dengan wajah datar.


Juan susah payah menelan ludahnya. Tiba-tiba tenggorokannya kering. "Amankan dia" Hudson mengeluarkan borgol dan dengan kencang menarik tangan Juan kebelakang dan memborgolnya.


Ia merampas alat komunikasi Juan. Mencoba mencari informasi disana. "Mariah kau selidiki ini" pinta Braxton. Mariah hanya mengangguk dan menerima alat itu.


"Bawa juga ia ke penjara shadow." Lagi, Mariah hanya mengangguk. Braxton dan Hudson pergi. Mariah mendorong Juan agar berjalan didepannya. "Cepat!" perintahnya kasar. Mariah masih dengan pistol yang ia todongkan.


Mariah mendorong lagi hingga Juan yang terdorong menabrak pintu kendaraan. Mariah lengah Juan memutar tubuhnya lalu menyerang wanita itu tanpa pandang bulu.


Dengan gerakan cepat Juan menurunkan tangan yang diborgol. Kakinya melewati tangan dan tangannya yang masih terborgol berpindah kedepan.


Lalu Juan menghimpit Mariah dengan siku-siku tangannya pada tubuh Mariah ke badan kendaraan. Sudut bibir Juan terangkat. Mariah tidak terima.


Lalu dengan menggeram Mariah menendang perut Juan. Juan mundur beberapa langkah. Juan menatap tajam Mariah.


"CIH!" keluar decihan dari mulut Juan. Dengan murka Mariah menghantam kepalan tangannya pada Juan. Juan menghindar seperti menari. Tubuhnya terlihat ringan. Ia juga menahan tangan Mariah dengan sedikit kedipan dimata, membuat Mariah bertambah Murka.


"BRENG SEKK!" Mariah tidak suka ia merasa dilecehkan seperti itu. Kembali ia menyerang berkali, Juan menghindar tapi ketika Mariah mengincar titik lemahnya ia menyikut perut wanita itu.


Mariah mundur dengan menunduk, ia meringis merasakan nyeri pada perutnya. Kembali Mariah menyerang Juan. Semakin brutal. Ia mengeluarkan kembali pistolnya kemudian dengan tendangan, Juan menghempaskan pistol itu ketanah.


Mereka masih bergelut, nafas mereka juga semakin terdengar kasar. Butiran peluh membasahi wajah mereka masing-masing yang memar.


Kepala Juan terlempar kesamping. Hudson meninju pipinya. "Lawan wanita saja tak becus! mau berkhianat kau!" Hudson mengejek Juan.


"Cuih!" Juan meludahkan cairan kental berwarna merah di tanah. Kemudian ia terkekeh.


"Setidaknya aku bukan kacung yang patuh" membalas. Terlihat kemarahan diraut wajah Hudson. Dengan marah Hudson menghantam tinjuannya. Satu kali, dua kali, tiga kali ...


Dan terlihat wajah Juan yang tak berbentuk lagi, ia terlentang di tanah dengan nafas yang turun naik dengan cepat. Tak berdaya.


Tapi ia tak ingin menyerah dengan tangan yang masih terborgol ia melakukan penyelamatan terakhirnya.

__ADS_1


Bos asap.


Juan melemparkannya kearah Hudson dan Mariah.


Dor! Dor! Dor!


Mariah menembaki kearah Juan yang perlahan tertutup asap. Kemudian dengan bersusah payah ia masuk dalam kendaraannya.


"Sandos, Cepat! ke Bukit Rfizt." Juan mendudukkan dirinya di belakang kemudi. Nafasnya tersegal sesekali ia terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya.


Lengan atas dan juga perut sebelah kirinya tertembak. Ia merobek kain yang ia lihat dan menjejalkan pada luka tembaknya.


"Baik Tuan!" Sandos melaju dengan kencang.


Hudson dengan nafas berlarian pun kembali waspada. Ia menutup hidung juga matanya lalu berlari kearah kendaraannya dan mengikuti jejak Juan.


Ia melihat kendaraan Juan. Dibelakang Mariah pun menyusul Hudson. Ia mendahului Hudson dan menembaki kendaraan Juan tanpa henti.


Jeda sebentar lalu menembakinya lagi. Hudson ikut, ia mengunci targetnya dan menekan tombol merah dengan bibir merekah senang. Ia menembakkan bazoka mini yang mematikan.


Tet ... Tet ... Tet ...


Kendaraan Juan mengeluarkan suara peringatan.


Sandos sedikit kualahan, "Tuan kita diserang! Kita akan mengecoh"


"Aku percayakan ... padamu" jawab Juan terbata. Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan luka tembakan. Kesadarannya mulai berkurang. Namun ia harus tetap sadar.


"Saya akan bawa Anda ke dalam hutan di lokasi ini, dan kita tinggalkan saja rongsokan ini" Sandos membuat rencana.


Juan hanya mengangguki perlahan. Ia akan meninggalkannya rongsokannya dan menggunakan kendaraan yang lebih kecil mengangkut Juan nantinya.


BLAZZT!!!


"Kemana? Bertemu kakakku? Titip bingkisan ini untuk kakakku tercinta itu" Braxton menghadang mereka. Wajah culas, dengan seeingaian licik juga kejamnya.


HAAZZZTTT!


BOOM!


Rudal milik Braxton merusak sisi kanan Sandos, ia oleng dan terjatuh dengan cepat. Braxton tertawa di tempatnya, Hudson menyeringai senang. Mariah menatap dengan tatapan datarnya.


DOOM!! DOOOMM!! BOOM!


Suara ledakan semakin kencang. Sama dengan suara tawa Braxton. Yang juga menggelegar.

__ADS_1


Mereka mendekat kearah ledakan. Namun sesuatu dengan kecepatan yang super melewati mereka.


HZIIIIIINNK


Bahkan menggetarkan kendaraan mereka sejenak. Tawa Braxton menghilang. Alisnya bertaut. Ia tidak suka. Hudson dengan cekatan melihat dari kamera kendaraannya. Ia memperlambat lalu mengirimkannya pada Braxton.


"BEDE BAH SIAALAN! BAGAIMANA BISA!! CEPAT KEJAR!" teriaknya murka. Ia bisa melihat tampang Juan tersenyum mengejeknya didalam gambar yang dikirim Hudson.


Hudson dan Mariah meluncur kencang berdampingan, tapi Braxton menyusul, ia tak bisa hanya tinggal diam, ia tidak terima! Juan menghinanya.


"Beraninya!" lirih namun matanya berkilat licik.


"AAAARGH!"


BRAK! BRAK! BRAK!


Braxton mengebrak kemudinya dengan amarah membeludak.


"BERANI-BERANINYA!"


"RENDAHAN ITU!"


"MEREMEHKANKU!" teriaknya


"MEREMEHKAN BRAXTON WRIGHT!"


"HUAHAHAHAHAHAA ... " tawa bengis mengelegar.


BRAK!


Braxton mengebrak kemudinya lagi.


"AAARGH ..." teriaknya frustasi. Braxton melaju kencang ingin segera membunuh Juan. Kemarahan Braxton tak terima di rendahkan oleh kalangan rendahan seperti Juan.


ia meninggikan kecepatannya, meloloskan Juan hal yang terakhir yang akan ia lakukan. ia harus lenyap. semua hama harus lenyap. hama yang tak berguna itu meremehkannya! penghinaan. Di kepalanya. kata penghinaan dari si rendah. terus berputar.


Sandos berhasil membawa Juan pada gerbang bukit Rfizt. Dengan sisa kekuatannya ia bertahan. Akhirnya ia bisa beristirahat. Mungkin kali ini akan lama. Sandos melemah hingga ia melihat Tuan Marzon juga Madam Camy.


Ia mendarat, agak menyusruk tanah. Marzon lebih dahulu berlari mendekat, Juan membuka mata dengan kesadaran yang kian menipis.


Ia bisa saja kehabisan darah diperjalanan jika ia tak menyubal kencang luka tembaknya, juga jika Sandos tak memberinya suntikan ibuprofen dengan dosis tinggi, maka ia akan kalah dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Maaf ... Tuan ... "


tbc.

__ADS_1


__ADS_2