
"Siapa mereka?" Konau, salah satu dari ras Levian yang ada ditempat itu. Mereka dengan cepat menemukan rekaman Alex dan Loreen saat pelarian mereka.
Kualitas video yang buram, tak membantu sama sekali. Mereka masih mencari siapa yang berani mengacak tempat mereka.
"Aku akan coba membuatnya lebih jelas" Marlin, badan berotot dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, Mereka ras yang pandai, sebenarnya.
Gambar dua orang yang berlari keluar dari tempat itu. Ia meng-crop bagian wajah buramnya, memperbesar, ia mengklik tombol enter dan sistem bekerja.
Perubahan yang memperjelas wajah yang ada di gambar itu.
Zrrreert ...
"Hanya ini, tidak bisa lebih jernih lagi" Marlin menyerahkan lembar gambar pada Sawhel. Pria yang sedari tadi hanya diam di belakang Marlin. Ia yang menggantikan ketua mereka yang telah tewas.
"Wanita" hanya itu yang keluar dari mulutnya. Konau, merebut gambar itu, ia tak menyangka seorang wanita bisa menghancurkan tempat mereka ini.
Konau mematap tajam gambar dan ia hanya melihat siluet hitam saja. Tidak terlihat. Gambar dua orang itu menggunakan jubah hitam yang menutupi tubuhnya, wajahnya terlihat dari samping namun tetap tak jelas.
Bagaimana bos barunya itu bisa menebak jika gambar ini wanita. Pria itu terus saja memutar gambar. "Aku tak melihatnya!" Bingung.
Netra Marlin menatap layar, ia juga menduga jika kedua orang itu adalah wanita, dari video ia menyimpulkan. Walau buram namun gerakan mereka menegaskan jika itu adalah wanita.
Pasti bosnya juga melihat dari video dan langsung dengan cepat menyimpulkan. Sudut bibir marlin terangkat.
Tidak salah mereka mengangkat Sawhel menggantikan ketua lama mereka. Kembali pada gambar di layar. Siapa mereka? Setangguh apa mereka?
*
*
*
Camy berada diruang kerja Esmas. Sudah seminggu kepulangannya dari Desa Arctos. Camy kembali kekediaman Collen.
Esmas memberitahu Camy ia akan bertemu dengan Marky. "Paman sebaiknya tidak melibatkan Walabi pada Nokturnal." Camy cemas.
"Kau tenang saja, paman hanya ingin menyapa teman lama, kita lihat apa yang ia mau dari pertemuan ini"
"Ya tentu saja kerja sama dengan kita, mungkin dia akan menanyakan mengapa kita mundur dari kerja sama 'tidak' resmi ini" Pina menimpali.
"Benar, kita juga sudah membayar pinaltynya bukan?" Kola dengan kebingungannya.
__ADS_1
"Mereka tidak akan mudah melepas Walabi" Esmas menatap Camy.
"Maka mari kita lihat saja, Pina kau ikut dengan ku" netra Esmas menatap Pina.
"Siap dad, kalian berdua juga harus bersiap jika aku dan dad kenapa-kenapa" Pina menepuk bahu Camy.
"Camy tak usah ikut, jangan biarkan Nokturnal tahu tentang hubungan kita dengan DarkHole, supaya kita tahu apa motif sebenarnya" Esmas kembali menekuri berkas yang Camy berikan padanya.
"Jadi, Camy, untuk shield paman serahkan semuanya padamu, Paman percayakan keselamatan rumah padamu"
Camy mengangguk, Bharat masih berada di desa Arctos, ia harus melatih kemampuan yang selama ini tersegel.
Jadi Camy akan sering ke Desa Arctos, untuk melihat kesiapan dan juga izin dari Simon.
*
*
*
Bharat berjibaku dengan dinginnya air sungai, Malam hari. Wajahnya telah membiru.
Setelah Bharat menyelesaikan makan malamnya, ia dipanggil Simon untuk keruangannya. Disana sudah ada, Jordan dan Emmanuel. Juga ada Ricky.
Bingung.
Alis Bharat bertaut. Ia sama sekali tidak mengerti, "Waktunya?" Tanyanya yang tak dijawab.
"Kau ikuti mereka" Simon berucap dan Bharat melihat kearah Jordan dan Manuel. Dengan pandangan yang bertanya. "Lekas" hanya itu yang ia dapat dari Manuel.
"Masuklah dan kenakan ini" Ricky menyerahkan paper bag pada Bharat. Wanita itu hanya menuruti saja. Ia masuk dalam sebuah kamar. Lalu membuka paper bag itu. Sebuah gaun putih dan menerawang. Gila! Pikirnya.
Ia harus mengenakan pakaian kurang bahan ini. Lalu ketukan pintu terdengar.
"Ini Roxane sayang" suara tua terdengar setelah lama tak mendapat balasan dari Bharat.
"Iya masuklah" ia hanya waspada. Banyak pikiran negatif berkecamuk.
Roxane masuk dengan sebuah kotak berwarna biru bludru. Meletakkan pada meja di tengah ruangan.
"Kau belum berganti pakaian?" Ia menatap Bharat. "Waktunya tidak banyak sayang. Ayo aku bantu"
__ADS_1
"Sebentar Roxane bisa kau jelaskan padaku, ini semua untuk apa" saat Roxane membuka kotak bludru itu. Terdapat perhiasan lengakap di dalamnya. Anting, kalung, juga mahkota. MAHKOTA? tanya Bharat dalam hati.
"Aku akan jelaskan, nanti setelah kau mengenakan pakaiannya."
"Tidak! Jelaskan sekarang" Bharat merasa sangat aneh, dengan pakaian juga perhiasan, ada pestakah?
"Tidak ada waktu lagi," Roxane melipat tangannya didada, ia berdecak, "Okay, aku jelaskan sambil kau memakai pakaian ini"
"Bagaimana?" Roxane meletakkan tangannya dipinggang. "Okay" ia kalah, dan mengalirlah cerita dari bibir tuanya.
"Bulan Sabit" Roxane menghela nafasnya pelan, ada sendu yang mengelayut.
"Kau akan menemui Moon Goddess, menyempurnakan kekuatan yang kau miliki sayang"
"Malam yang sangat ditunggu penduduk desa, dan akan ada pesta meriah" netranya menerawang,
"Tapi itu dulu, sebelum Nokturnal mengacaukan semuannya, Dulu festival Silvery moon sangat ditunggu bagi gadis didesa ini, karena Moon Goddess akan memberikan salah satu dari mereka satu permintaan"
Bharat telah mengenakan gaun putih itu. Sekarang Roxane membantu Bharat mengenakan perhiasannya.
"Mereka berlomba menjadi cantik juga memiliki satu kemampuan yang akan mereka perlihatkan di akhir acara bagi siapa yang akan Moon Goddess pilih"
Bharat mendengar dengan takjub, masih ada rupanya ritual seperti itu. "Lalu pasti banyak kan yang ikut, kenapa aku juga?"
Roxane terdiam. Ia menatap Bharat lalu tersenyum, "Kau ingat Amarin?" Bharat mengangguk. Ia tahu dari buku yang Simon berikan padanya. Seorang ras serigala putih yang juga Luna dari Alpha terdahulunya yang menghilang.
"Setelah dia hilang, semua menjadi kacau, dan keseimbangan Desa Arctos mulai rusak. Para serigala, keluar dari desa dan mereka tewas satu per satu. Mereka di bunuh oleh Nokturnal." Ada kilatan amarah di mata Roxane. Setelah ia memakaikan Bharat mahkotanya. Ia pun berbalik.
"Sudah. Kau keluarlah!" Perintah Roxane. Suaranya berubah menjadi dalam dan lirih. Membuat bulu kuduk Bharat meremang.
"Roxane kau tak apa?" Bharat memberanikan dirinya, "Tak apa! Cepat keluar, mereka menunggumu!" Bentaknya tak ramah. Sekilas Bharat bisa melihat pancaran kemerahan dimata Roxane.
Bhatar mundur. Ia keluar dan melangkah cepat. Jantungnya terpompa cepat. Netranya menangkap para pria yang menunggunya. Bharat memelankan langkahnya.
Mengatur detak jantungnya. Supaya lebih tenang. "Ayo cepat, kita terlambat" Simon beranjak dari kursinya. Bharat bisa merasakan ketegangan. Namun ia hanya diam. Mengikuti di belakang pria tua itu.
Bharat di bawa ke tengah hutan, bisa ia dengar suara aliran sungai. Semakin malam semakin dingin. Angin malam menerpa wajahnya.
"Masuklah kedalam sana" perintah Jordan. Dengan menunjuk tengah sungai.
"Maaf?!" Ia menatap Jordan dengan kebingungan. Apa pria ini tidak salah. Ia harus masuk ke dalam sungai? Malam-malam? Dengan suhu sedingin ini? Apa mereka waras?
__ADS_1
tbc.