
Alamira sudah mengirim banyak surat, namun ia tidak sekalipun menerima balasannya.
Ia menulis lagi surat dan mengikuti surat itu, sampai di dekat pintu gerbang keluar ia bersembunyi di balik pepohonan.
Ia melihat suratnya masuk dalam jaring-jaring tak kasat mata, dan masuk dalam gentong.
Pantas saja ia tak mendapatkan balasannya, ternyata selama ini suratnya tidak sampai tujuan.
Alamira berdecih, ia sangat kesal. Ia ingin kembali.
"Siapa kau!" Dua tombak siap menghunus lehernya. Kekesalannya semakin menjadi. Ia menggunakan mantelnya membungkus dua tombak itu dan menariknya.
Dengan gesit ia sudah berada di belakang kedua penjaga, dan mengeluarkan dua kejut listrik dan menempelkan pada bahu dua penjaga itu.
"Hurg" Tubuh penjaga itu kaku, gemetar, dan luruh ke tanah tidak sadarkan diri.
Alamira menyeret satu persatu kedua tubuh itu ke arah yang tidak terlihat, ia menyembunyikannya.
Ia keluar, dengan menepuk kedua tangannya, dan sudah ada tiga penjaga lain menunggunya.
"Kau tidak akan bisa lolos! Hyyaaaa …" Si penjaga 1 itu menyerangnya langsung, ia meluncurkan kepalan tangannya yang Alamira tepis dengan muda.
Si penjaga 1 berdecak, ia kembali menyerang bertubi, lalu Alamira membalas dengan menendang perut penjaga 1, dan ia mundur.
Alamira menyiapkan kuda-kudanya. Lalu tangannya memanggil penjaga 1 dan penjaga 2 bersamaan untuk menyerang dirinya.
"Hyaaaa … " penjaga 1 dan 2 maju, menyerang Alamira, mereka menggunakan belati juga pedang. Alamira menyiapkan dua belatinya.
Trank! Trank! Trank! Trank!
Suara besi beradu dengan besi, gerakan gesit Alamira ia membekuk punggung penjaga 2 dan menempelkan alat kejut listriknya.
"Urg"
"Hyaaa … " penjaga1 kembali menyerang dengan brutal, Alamira menahan serangan pedang penjaga 1 dengan belatinya dan mendorong belatinya kuat hingga pedang penjaga 1 melayang jauh.
Melihat itu Alamira langsung menempelkan dua alat kejutnya pada tubuh penjaga 1 dan tubuh itu bergetar kencang, jatuh diatas tubuh penjaga 2.
Nafasnya memburu, ia menatap lurus pada penjaga 3 yang hanya menonton dan tidak ikut menyerangnya.
Ia berbeda dengan penjaga sebelumnya, tubuhnya lebih besar dan tinggi, juga mengeluarkan aura mengerikan. Ia menatap tajam ke Alamira.
"Tanpa senjata" ujar sang penjaga dengan suara berat. Ketuanya ini, pikir Alamira.
Alamira memasukan alat kejutnya. Ia bersiap dengan kuda-kudanya. Penjaga 3 menggerakkan jarinya agar Alamira menyerangnya lebih dulu.
"Yaaaaahhh … " Alamira maju dengan gesit,
Bugh! Bugh! Bugh!
Serangan Alamira ditepisnya dengan mudah, kembali ia menyerang penjaga 3, tendangannya meleset, penjaga tiga menghindar dengan cepat.
Alamira berdiri dengan waspada. Kembali ia menyerang, ia mengeluarkan belatinya. Ia curang. Dan berhasil melukai lengan penjaga 3.
Penjaga 3 melihat sisi lengannya yang tergores mengeluarkan darah segar. Kekehan terdengar dari arah Alamira.
__ADS_1
Ia menatap Alamira tajam, ia terlalu lama bermain-main. Penjaga 3 maju ia menghantam pipi Alamira. Hingga kepala wanita itu terlempar keras. Sudut bibir Alamira robek.
Ia menghantam perut Alamira bertubi, Alamira mundur, nafasnya tersegal dengan perih di perutnya, ia maju dan meraih kain di bahu penjaga 3, dan mengeluarkan tenaga dalamnya membanting tubuh penjaga 3 kebelakang.
Gerakannya sangat cepat, penjaga 3 tersungkur, Alamira menggunakan kekuatan kakinya ia menendang kepala penjaga 3 tapi naas, penjaga 3 menangkap kaki Alamira dan membuat wanita itu tersungkur.
Alamira menggelinding menjauh saat penjaga 3 berusaha menendangnya. Pertarungan semakin sengit. Alamira membungkuk, nafasnya memburu, luka lebamnya yang nyeri tak ia indahkan.
Ia maju kembali menyerang penjaga 3, penjaga 3, dengan santai, menjerat tangan Alamira, dan menangkap belati milik wanita itu, merampas dan membuangnya. Ia mengunci gerakan Alamira. Alamira susah bergerak juga kelelahan.
Penjaga 3 mengambil alat kejut listrik milik Alamira dan meletakkan di tengkuk wanita itu. Alamira tak menyangka, sengatan listrik menyakitkan itu membuat Alamira tak sadarkan diri.
"Tu,Tuan Raskal!" Seorang penjaga menghampiri takut-takut,
"Bawa dia ke tempatku!" Penjaga 3 itu mengeluarkan aura menakutkan bagi sekitarnya.
"Dan bereskan ini!" Ia berjalan mendahului.
"Ba,baik, Tuan" Tubuh Alamira di panggul semacam karung. Dan penjaga itu mengikuti pria yang dipanggil Tuan itu.
Ia masuk kedalam rumah besar, disana berkumpul, "Tuan Raskal, anda kembali" para penjaga yang sedang bersantai di dalam menunduk hormat kedatangan Raskal.
Raskal si pemimpin penjagaan di Klan Guapo. Memiliki rambut keperakan, telinga runcing mirip bangsa Elf, penuh tindik.
Kulit kecoklatan dengan tato tribal menutupi punggung. Mata coklat terang. Rahang tegas dengan mata tajam, Aura kengerian terpancar hebat.
"Masukkan ke penjara, sadarkan dan tanyai, kalian kecolongan!" Suara berat iti mulai meninggi.
"Tidak becus!" Hardiknya. Ia menatap bawahannya yang hanya bisa menunduk.
Dan ia mengira wanita itu bukan wanita biasa, ia bisa merasakan wanita itu menyamar. Tapi ia belum mengetahui sosok sebenarnya dari wanita itu.
"Holua, ambilkan aku surat yang terjaring" perintahnya pada sang bawahan.
"Baik Tuan" si penjaga segera melakukan apa yang diperintahkan Raskal.
Raskal menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya terpejam, lelah perjalanan ditambah bertarung dengan wanita keras kepala, menguras sebagian energinya.
Ketukan pintu terdengar, Holua membawa sekarung besar surat.
"Pisahkan yang berwarna coklat"
Perintah Raskal masih dengan memejamkan mata.
"Baik Tuan" Holua duduk di kursi yang berada ditemukan ruangan. Memisahkan surat-surat. Tidak memerlukan waktu yang lama, sebab surat coklat hanya ada beberapa.
"Sudah Tuan"
"Letakkan kemari"
Holua membawa tumpukan surat itu ke meja Raskal.
"Pergilah" usir Raskal.
Holua mengangguk lalu beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
Raskal meraih satu surat dan membukanya. Ia membaca, hanya sebuah surat cinta. Tidak ada yang spesial. Kembali Raskal membuka surat yang lain, hanya di surat cinta dengan nama Ala tertera sebagai penulisnya.
***
Di High Majesty, suasana memanas, mereka tidak mendapat kabar apapun dari Alamira.
"Tuan Guapo mengetatkan penjagaan Tuan, mereka sepertinya merencanakan sesuatu, orang suruhan kita masih mencari tahu"
"Apa ada kabar dari perempuan itu?" Hilton menatap lurus pada Jacklyn. "Belum Tuan"
"Tidak berguna!"
"Para tetua dari klan lain ingin bertemu dengan anda Tuan" Jacklyn menyampaikan pesan yang baru saja ia dapat.
"Apalagi yang mereka mau" geram Hilton. para tetua yang merongrong dirinya untuk menyerang Guapo. Masalah yang sama, para tetua itu ketakutan, Guapo yang sekarang berbeda dengan Guapo yang dulu.
Mereka sekarang bertambah kuat, berkali lipat, itu membuat para tetua klan yang berada di bawah naungan High Majesty, merasa tidak aman.
Hilton merasa muak dengan Guapo. Sangat amat muak. Dahulu dirinya selalu dibandingkan dengan Zale. Sebelum Guapo terusir.
Setelah Guapo tak ada, semua orang menjilat tidak tahu malu. Menghormatinya saat ia diangkat menjadi pemimpin pasukan elit keamanan di High Majesty.
Memuakkan.
"Suruh mereka masuk" Jacklin mempersilahkan masuk para tetua klan. Tampang-tampang sombong berjalan dengan dagu yang diangkat tinggi.
Melirik Jacklin dengan jijik, seperti melirik sampah. Jacklin tak peduli pada pejabat kaya namun tidak bisa apa-apa itu.
Ia bisa saja merontokan tulang-tulang uzurnya dengan mudah.
"Hilton kau harus melancarkan serangan secepatnya! Bukan disini bersantai" Cecar satu-satunya tetua wanita, dideratan para tetua.
Ia adalah Roma. Tetua dari klan kura-kura. Ia bersedekap dada dengan kipas menutupi hidungnya yang mirip hidung babi itu.
"Bersantai, hura-hura, bersenang-senang adalah hidupku, Roma!" Ya Hilton tidak pernah menaruh sopannya pada para tetua yang juga tidak berguna baginya.
Mereka bahkan tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Benar-benar kelas elit yang menyusahkan.
"Hidup tidak berguna mu itu pasti tidak mengetahui, sebentar lagi Guapo akan menyerang High Majesty" salah satu tetua klan yang tidak suka dengan Hilton.
Hilton terkejut, tapi ia bisa menyembunyikannya dengan baik. Beda dengan Jacklyn walaupun ia bisa menyembunyikannya tapi tak sebaik Hilton. Tetua dari klan kepiting, Krapu, dapat menangkap keterkejutan Jacklyn.
"Sudah kuduga, Kau tak tahu" Krapu menatap Jakclyn, merendahkan.
"Orangku saja lebih berguna darimu, harusnya kau malu!" Roma meninggalkan ruangan Hilton dan diikuti tetua yang lainnya.
Tinggal satu tetua yang masih tinggal, Kraken, Tetua bangsa Gurita. "Aku tak memihak mu atau mereka, tapi mereka benar, kau lambat untuk masalah satu ini, Hilton"
Kraken selalu mendukung Hilton, karena ia melihat Hilton mampu memimpin keamanan di High Majesty. Ia bisa melihat ambisi Hilton yang tinggi. Itu sangat baik untuk High Majesty.
"Kraken, aku akui, aku terlambat," Hilton meraup wajahnya yang gusar.
"Aku percaya pada kau dan pasukan elit yang kau pimpin, kau bisa menyelamatkan High Majesty." Ucap pria tua itu. Sebelum meninggalkan Hilton.
"Jakclyn ayo" Hilton akan bertemu para jenderal, dari semua klan dan bersiap. Ia percaya diri, kekuatan militer High Majesty tidak akan dikalahkan.
__ADS_1
Tbc.