DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Munculnya Lycan 2


__ADS_3

"BAGAIMANA BISA?!" teriak Braxton, matanya memancar kemarahan pada wanita didepannya yang malah sibuk mengecat kukunya.


Wanita didepannya menghela nafas malas. Ia menatap lurus Btaxton.


"Ia tak akan semalat juga" ucapnya. "Tugasku selesai kan, kirim bayaranku tepat waktu, ingat!" Wanita itu berlalu begitu saja.


BRAK! BRAK! BRAK!


Braxton melempar semua yang ada di mejanya. Rencananya gagal. Wanita itu! "Helga ... " bisiknya lirih. "Kau akan mengantikannya, jika aku tidak dapat menemukan jejaknya!"


"HUDSON! KEMARI!" kepalan tangannya bergetar. Tangannya merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan botol kecil. Dan sudut bibirnya terangkat menyeringai licik.


Tangan satunya mengetikan sesuatu di alat komunikasinya. Jempolnya menekan sekali dan lagi-lagi dia menyeringai.


"Kau akan mencariku ******! Bersujud didepanku!"


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Hudson masuk dan dengan cepat mengirimkan video cctv ke layar didepan Braxton. "Ini ke jadiannya Tuan, Kami telah menemukannya dan kami kirim ke Shadow jail."


Raut wajah Braxton melunak. "Bagus! Urus juga Helga, kirim langsung dia ke shadow jail, aku tak ingin ada kejadian seperti ini lagi! Kau dengan Hudson!"


"Baik Tuan"


"Pergilah!" Usirnya. Hudson mengangguk kemudian keluar ruangan Braxton.


Braxton memutar kembali kejadian Marzon yang berubah menjadi Lycan.


Braxton menyandarkan diri pada kursinya.  "Putar musik dan siapkan Wine terbaikku" perintahnya pada robot maid.


"Wah kau sedang merayakan apa ini?"


Wanita itu mendekat. Dan duduk dipangkuan Braxton menatapnya genit.


"Kau cantik Mariah"


*


*


*


Di tempat Lamorna mendapatkan kabar tentang apa yang Braxton lakukan. Darius menunggu perintah dari Nyonyanya.


"Mariah! Gadis itu sangat berani. Lalu siapa Helga?"

__ADS_1


"Dia salah seorang pelayan di Golden Star ---Salah satu rumah bordil di Nokturnal WildLife--- Nyonya, Tuan Braxton selalu menemuinya dan beberapa hari lalu ia berada di tempat tinggal Tuan Braxton." Jelas Darius.


"Pantau terus, aku tak ingin kecolongan. Braxton kau hanya milikku" Lamorna beranjak dari tempatnya. Ia akan menemui beberapa kolega Black Sea hari ini.


Derapan langkah kaki,


"Nyonya ... " teriakan seseorang menahan laju jalan Lamorna.


Brugh!


"Nyonya tolong ... saya tidak akan berdekatan dengan Tuan Braxton ... tolong lepaskan saya Nyonya" seorang wanita dengan wajah babak belur juga pakaian yang sobek, juga lusuh.


Wanita itu bersimpuh di kaki Lamorna yang tidak melihatnya. Pandangannya tajam lurus kedepan.


"Pergi! Apa yang kau lakukan!" Bentak Darius ia melihat kelakuan wanita itu. Ia menjaga Nyonyanya. Darius menarik wanita itu yang mencengkram kaki Lamorna kuat-kuat.


Wanita itu menggeleng. "Nyonya ... saya mohon ampuni saya ... " wanita itu terisak. Ada memar biru di samping bibirnya juga darah kering disudut bibirnya.


"Ampun Nyonya" tangisnya pilu.


"Lepas! Menjauh! Dimana penjaga ini!" Darius dengan kesal menarik tubuh wanita ini. Lamorna menjulurkan tangannya tanda pada Darius untuk tak menarik tubuh wanita itu.


"Panggil penjaga!" Perintah Lamorna.


"Ampun Nyonya ... " pekik wanita itu, tangan wanita itu melepas kaki Lamorna. Pasukan baju hitam datang dan membawa wanita itu menjauh.


"Suruh wanita itu untuk memata-matai disana, tapi jangan pernah menyentuh Braxton!" Lamorna perlu tahu rencana apa yang Braxton sembunyikan darinya.


Ia melihat cctv dari labiratorium Braxton. Ia melihat ada Marzon disana, juga perubahannya menjadi Lycan dan Helga. Wanita itu bisa bertarung sepertinya.


Ia mendapatkan kiriman, entah dari siapa, namun nama Braxton disana dan ia membuka kiriman itu yang menunjukan sebuah video.


"Kau! Cari tahu, siapa Helga itu!" Perintahnya tegas.


"Baik Nyonya"


*


*


*


Marzon terengah. Ia berada di tengah hutan belantara. Ia terus berlari, walau ia merasa nyeri dipunggungnya. Kakinya terus melangkah cepat. Ini kesempatan untu lolos. Ia harus segera keluar dari sini.


Ia kembali ke bentuk manusiannya, ia tidak mengingat apapun, walau samar ia merasa itu sebuah mimpi. Ia mengira dirinya dibuang dalam hutan oleh adiknya.


Marzon tidak mengingat perubahannya. Semua luka tembak di punggungnya secara cepat membaik dan hanya meninggalkan bekas sedikit, ia tak tahu apa yang terjadi. Namun ia hanya ingat ia disekap oleh Braxton.

__ADS_1


Ia mendengar suara mesin mengaung kencang. Marzon bersembunyi. Mengintip. Ada pasukan robot dengan kendaraannya melintas terbang di sekitar Marzon.


Marzon mendengar aliran air. Ia harus mengikuti aliran air itu. Ia melipir dan berjalan melawan para pasukan robot itu pergi.


Ia menemukan aliran air. Marzon mendekat. Ia meraup air dengan tangannya kemudian meminumnya. Segar.


Aliran air dingin membasahi tenggorokannya yang kering. Dengan rakus ia meneguk kembali raupan yang ia ambil. Berkali-kali. Lalu menyapukan air ke wajahnya.


Ia melihat pantilan wajahnya di air dan mendapati ia masih mengenakan soflens canggih milik Camy.


Ia mencoba mengaktifkannya kembali. "Hubungi Clara!"


"AKU MENEMUKANNYA!" suara teriakkan yang menyadarkan Marzon. Ia melihat dari kejauhan pasukan hitam berlari kearahnya.


"Sial!" Marzon dengan cepat berlari. Dan "Marzon! Marzon! Kau dengar aku!" Suara dari seberang membuat senyum terbit dibibir Marzon.


"Clara, aku mendengarmu, kau bisa mendengarku?" Marzon berlari lebih kencang karena banyak yang mengejarnya. Ia bersembunyi diantara batang-batang pohon besar.


"Marzon ini kau? Marzon kau mendengarku? Camy Marzon menghubungi!" Seruan Clara disana.


"Clara! Hei! Kau mendengarku!" Marzon harus membagi konsentrasinya. "Sial! Sial!" Sambungannya terputus.


"Kemana Lycan itu?" Langkah pasukan membuat Marzon semakin bersembunyi dalam tumpukan belukar.


"Mereka tidak mencariku?" Guman Marzon.


"Kita harus menemukan Lycan itu! Cepat kita harus bergegas" pasukan yang lain menimpali.


"Lycan" lirih Marzon. Ia mengira pasukan itu bukan mengejarnya yang mengira ia Lycan.


Marzon mencoba mengirim sinyal dari tempatnya sekarang. Juga mengirim sebuah pesan yang tidak terkirim. Apa ia ada di titik buta Nokturnal.


Harusnya alat ini masih bisa berfungsi. Apa alat ini rusak?


"Angkat tangan!" Marzon merasa pelipisnya ditodong dengan sesuatu yang dingin. Marzon melirik kesamping dan kearah tubuhnya sudah ada beberap titik merah mengarah kearahnya.


Mau tak mau Marzon mengikuti. Ia mengangkat tangannya keatas. Seorang pasukan mendekat dan memborgol tangan Marzon kebelakang.


"Kami memdapatkannya" salah seorang pasukan iti mengabarkan keberadaan mereka. Dan tak lama kendaraan yang melayang mendekat. Dan turun didepan mereka.


Hudson keluar dari kendaraan itu dengan tampang yang menyebalkan. "Masih hidup kau rupanya" Marzon menatapnya tak suka.


"Masukkan! Kita kirim doa ke Shadow black ---Penjara paling mengerikan milik Braxton, dimana semua Mutan buas tercipta---" Hudson meninggalkan Marzon yang digiring beberapa pasukan.


"Akhirnya selesai" Marzon mendengar guman lirih pasukan itu. "Iya tak perlu menyisir hutan lebih dalam. aku kira akan sangat susah menemukan Lycan ini, melihat seberapa gesit ia melawan kemarin" percakapan pelan antar pasukan yang tak sengaja Marzon dengar.


"Lycan" lagi Marzon berguman.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2