
Morana mengajak Ritmi dan Wina berkeliling Phoenix Way. Ia termangu di tempatnya tatkala ia mendapati burung legenda itu berterbangan diatas kepalanya.
Juga lengkingan nyaring suara Phoenix bersahutan. Ini pemandangan sangat luar biasa.
"Mereka akan kembali pada majikannya jika malam tiba" ucap Morana.
"Hei Ritmi harusnya ini tugasmu menjelaskan padanya, kenapa malah aku" omel kucing itu.
"Kau sendiri yang ingin, aku tak menyuruhmu" Ketus Ritmi. Ia masih kesal pada Morana hang membangunkan dirinya dengan kasar.
Mereka berada pusat Phoenix Way. Dan sangat ramai. Banyak yang berlalu lalang. Mereka semua menantikan hari penobatan yang segera digelar.
Wina mengetatkan tudungnya. Ia berpapasan dengan seseorang yang ia kenal. Namun ia merubah dirinya menjadi bangsa dunia bawah.
Wina menunduk. Ia kembali melirik pada wanita yang menggelendot pada seorang lelaki dan masuk ke sebuah bar.
"Willow?"
"Kau kenal?" Wina menggeleng. Ia yakin tato itu, hanya Willow yang memiliki tato itu. Di tempat yang sama.
Willow berada di dunia bawah, apa ia juga termasuk dalam orang Marky, Wina semakin menyembunyikan dirinya. Agar ia tak ketahuan.
"Ayo Wina aku akan membawamu ketempat Ritmi sukai jika kemari"
"Hei kucing jangan merayuku dengan mengajakku ke tempat yang aku sukai! Aku tidak akan luluh" Ritmi berkata ketus.
"Siapa juga yang ingin merayumu, aku tidak" elak Morana.
"Kaulah! Membawa namaku dan juga tempat yang kusukai jelas-jelas kau ingin—"
"Awas!" Morana, menarik Wina mendekat. Tudung kepala Wina terbuka.
BRAK!
Sebuah gerobak jerami hancur berantakan bertabrakan dengan dinding bar yang tadi Willow masuki. Kehebohan membuat sebuah kerumunan siapa pun yang ingin tahu.
"Wina kau tak apa?" Potka datang, saat ia melihat ada Wina dan Morana di tengah kerumunan itu.
__ADS_1
Ia menyeret Wina menjauh dari keramaian. Dan menuju sebuah gang. Morana mengikuti mereka.
"Kau harus lebih berhati-hati" Potka menutup kepala Wina dengan tudung pada mantelnya.
"Hei dude itu kecelakaan kita juga tak tahu jika akan terjadi hal seperti itu." Tapi Potka tidak menggubris omongan Morana.
Tidak mungkin itu terjadi, bagi mereka bangsa dunia bawah, yang memiliki sihir pada diri mereka. Kelalaian yang ganjil.
"Sebaiknya kau kembali kerumah morana, jangan dulu keluar, dengar! Jangan keluar!" Potka menatap Wina serius.
"Morana, kau bawa dia kembali. Hati-hatilah" Morana bisa merasakan kecemasan Potka. Dan setelah ia pikir, kecelakaan, mengapa ia bisa berkata demikian. Itu sesuatu yang aneh. Terjadi di dunia bawah.
"Baik" Morana mengangguk. Ia mengiring Wina untuk mengikutinya. Wina tak membantah. Ia hanya takut Willow mengetahui dirinya berada di dunia bawah.
"Perang, aku merasakan adanya peperangan sebentar lagi Wina, peperangan dasyat" bisik Ritmi.
*
*
*
"Tidak, hanya melihat orang yang aku kenal, sudahlah, lupakan, lebih baik kita bermesraan saja" Willow memutari meja dan duduk di pangkuan Troto.
Mereka akan merayakan kemenangan mereka berdua. "Wina, kau disini" Willow mengecup perlahan bibir Troto.
*
*
*
Kembali Wina merasa di penjara. Pitka benar-benar membuatnya tak bisa keluar dari rumah Morana.
Bahkan Ritmi yang tadinya selalu mendukung Wina menjadi diam. Ia tak lagi berceloteh. Entah apa yang Potka kataan pada buku tua itu.
Wina tidak bisa hanya diam saja. Ia beranjak dari kursinya, masuk dalam kamar mandi, ia mengisi bak dengan air, ia memenuhi bak itu.
__ADS_1
Wina kembali ke kamarnya, membawa Ritmi masuk dalam kamar mandi. Buku itu seperti tahu dirinya dalam bahaya. Wina merasakan kekuatan besar dari Ritmi yang menahan agar Wina tidak memasukkannya dalam bak berisi penuh air itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" Bentaknya.
"Hng Kau akan aku rendam … hgghh " Wina mencoba mendorong buku tua itu dalam air namun ia tetap diam seperti tembok tebal.
"Aku tidak akan ikut dalam peperangan besar itu. Menjadi korban dengan hal gila itu, tentu saja tidak, terima kasih" ucap buku penuh debu itu.
"Dan kau carilah yang lain" Ritmi menolak.
"Aku akan kesana sendiri, tapi bantu aku mencari jalan keluar dari hutan didepan sana" Wina menatap kearah jendela kamar mandi, Sejak kejadian di pusat Phoenix Way lalu. Potka menutup jalur keluar dari daerah rumah Morana.
Wina sudah mencoba, ia hanya diputar dan dibuat kembali lagi kerumah Morana. Semua jalan telah ia lalui, dan berakhir sama kembali pada rumah kayu itu.
"Oke akan aku beritahukan tapi, aku tidak bertanggung jawab jika terjadi apapun padamu" Ritmi memberi harapan pada Wina.
Ritmi membuka satu halam pada dirinya. "Kau harus melalui, lubang semut Grande. Disana jalannya, Cari semut bernama Herma, kau akan ditunjukan jalan yang mana yang harus kau lalui." Omongan Ritmi, ia memperlihatkan sketsa wajah Herma.
"Tapi, tapi kau harus hati-hati dengan ratu semutnya ia bisa memangsamu dan menjadikanmu makanan untuk anak-anaknya" lanjut Ritmi.
"Kau harus memperbanyak perbekalamu,, sudah itu saja" Ritmi melepaskan diri dari Wina dan kembali ke kamar wanita itu.
"Hei Ritmi dimana aku bisa menemukan lubang semut Grande?"
Wina sudah membulatkan tekadnya. Ia akan menghancurkan penobatan, walaupun sudah banyak orang yang menunggu penghancuran itu, setidaknya Wina ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kehancuran ia, orang mengambil tempatnya.
Ternyata Wina masih dengan rasa iri dan dendamnya.
"Bawa aku ke jendela, kau lihat di sana gundukan-gundukan itu?" Wina mengangguk,
"Berkelilinglah dan cari yang paling kecil dan itu pintu masuknya" Ritmi.
"Aahh … rasanya aku mengantuk, selamat berpetualang, selamat tidur" dengkuran Ritmi terdengar. Ia membungkus buku tua itu dan ia masukan dalam tasnya.
Wina menjebak buku itu. Ia telah merencanakan ini semua. Senyuman miring tercetak di bibirnya.
"Kau juga ikut, namun istirahatlah dulu, selamat malam" ucap Wina. Dan ia bersiap.
__ADS_1
Tbc