DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Willow Troto 42


__ADS_3

"Semua keputusan berada ditangan mu" Resta menatap lurus tanpa ekspresi.


Lelaki di depannya itu mendengar kabar yang bawahan Resta katakan. Ia memainkan jari-jarinya. Ia dibuat tak berdaya. Otaknya ingin meledak.


Masih untung ia masih bernafas saat ia sudah ketahuan bahwa ia penyusup yang sedang gencar beritanya.


Ia menelan ludahnya menyakitkan. Serasa menelan ribuan jarum.


Tatapan tajam Resta membuatnya ketakutan. Peluhnya mengalir dari pelipis. Netranya meliar ia tak berani menatap Resta.


Ia tak memiliki pilihan, walau Resta berkata pilihan ada padamu, kenyataannya jika ia tak mengikuti keinginan Resta ia akan mati saat ini juga.


"Baik" ucap lelaki itu tak seyakin itu ia akan bisa hidup setelah ini. Ia tak lagi memiliki perlindungan. Ia hanya sendiri. SENDIRI.


*


*


*


Willow telah mendengar Tyac yang telah tewas. Dan Luford dalang dibalik itu semua. Ia mulai berani rupanya.


Dan jangan pikir Willow akan takut. Saat ini ia sedang menunggu kedatangan Luford yang akan makan siang dengan Raflesia.


Ia duduk pada tempatnya. Menikmati sepiring daging lembut juga winenya. Pintu restaurant terbuka.


Williw melirik dan lirikannya bertabrakan dengan tatapan Luford. Luford ke arah meja pesanannya yang berada di depan Willow.


Luford menarikkan kursi untuk Raflesia. Wanita itu terpekik gembira. Ia memberikan kecupan pada pipi lelaki itu.


Luford duduk menarik kursinya. Ia duduk di hadapan Raflesia juga dari kursinya ia bisa leluasa melarikan tatapannya pada Willow yang asik dengan makanannya.


Raflesia mengajak Luford berbicara tapi lelaki itu hanya mantap Willow tanpa ragu memperlihatkan ketertarikannya pada Willow.


Raflesia tentu tahu Willow disana ia yang mengabari Willow keberadaan Luford.


Raflesia berpamitan ke toilet. Willow mengelap bibirnya. Ia meletakkan lap itu disamping mejanya ia beranjak dengan gelas Wine yang isi masih banyak.


Willow menghampiri Luford.


"Selamat siang Tuan Luford, apa saya mengganggu?" Willow tanpa dipersilahkan ia telah duduk dihadapan Luford.


Luford menaikkan sudut bibirnya, ia menarik lap dan membersihkan mulutnya. Lalu menatap Willow.


"Pasti kau tahu siapa aku"


Willow tidak lagi basa-basi mengenai mereka yang tidak saling mengenal. Tentu saja mereka tidak mengenal hanya tahu. Dengan Willow yang mengganggunya dengan surat kaleng, muncul dimana Luford berada.


Juga mengacaukan kasinonya. Dan penculikan terhadap wanita itu yang dilakukan Luford.


"Kau berani juga akhirnya mendatangiku tanpa kucing-kucingan Nona Willow" mengangkat Winenya.


Willow mengikuti mengangkat Wine dan menyentuhkan gelas Winenya pada gelas Luford.


Mereka menyesap cairan merah gelap itu. Rasa pahit dengan sedikit manis mengisi ruang mulut mereka.


Luford menggoyangkan Winenya. Mencium aroma yang menguar dari cairan merah gelap di tangannya itu.


"Aku tak mengira kau wanita penting di Giant Pipe, mereka sampai mengerahkan Jendral Honduras untuk menyelamatkanmu"

__ADS_1


Luford membahas penculikan dirinya.


"Aku juga tak mengira jika aku terlalu berharga hingga harus menurunkan petinggi untuk menyelamatkanku dari kecoa sepertimu"


"Kecoa sepertiku? Kalian harus menurunkan petinggi untuk mengurusi kecoa sepertiku"


Luford tergelak, ia terlihat sangat geli.


"Aaahh … kalian sangat lucu, dan kau nona kau cantik dan lucu kau tipe kesukaanku"


"Aku akan sangat senang jika kau menjadi pasanganmu" Ucap Luford.


"Kau sangat menggelikan Tuan Luford, itu tunanganmu kembali"


"Obrolan yang sangat menyenangkan Tuan Luford"


Willow beranjak namun ia mendengar ejekan lirih dari Luford.


"Pengecut!" Bisik Luford.


Dahi Willow mengerut. 


"Apa maksud ucapan anda Tuan Luford?"


Willow tetap pada tempatnya. Hingga ia melihat akting Raflesia.


"Sayang! Siapa wanita ini?" Raflesia merajuk. Melihat Willow di depan Luford.


"Kenalkan ia pacar baruku, Nona Willow Mendez"


Luford mengenalkan Willow pada Reflesia, tatapannya tak sekalipun lepas dari mata yang membulat Willow.


"Kenalkan Ia Flesi, Tunanganku, kau pasti tahukan Nona Willow, ia seorang idola di duniamu"


Willow menatap lurus pada Luford. Ia akan mengikuti permainan  lelaki itu.


"Halo Nona Flesi senang bertemu denganmu, kau sangat cantik" puji Willow.


"Aha ****** rupanya! Kau tak usah terkejut jika aku membiarkan tunanganku ini bersamamu, karena ia akan kembali padaku setelah ia bosan denganmu"


"Mungkin hitungan jam ia akan bosan denganmu"


Raflesia menjadi Flesi. Willow dibuat takjub dengan akting wanita itu.


"Baiklah, aku pergi lebih dulu sayang, bersenang-senanglah" 


Rafesia mengecup ciuman dalam pada Luford lalu wanita itu beranjak pergi.


"Tunangan anda bodoh atau gila?"


Willow menyesap minumannya. Tawa renyah Luford terdengar  lelaki itu melanjutkan makan siangnya yang belum selesai.


"Ia sangat baik, benar yang tunanganku itu katakan, aku akan kembali padanya jika bosan dengan mainanku"


Luford menyayat daging steak yang masih mengeluarkan cairan kemerahan. Ia memasukan ke mulutnya dan mengunyah perlahan.


Diluar Willow bisa melihat adanya Troto mengawasi dirinya.


"Kau sangat dijaga ketat ya Nona Willow. Bahkan Tetua turut ikut menjagamu"

__ADS_1


"Kau tak perlu heran Tuan Luford. Kekasihku itu sangat pencemburu, kau tahu sendiri buktinya bagaimana petinggi High Majesti semacam Jendral Honduras ikut mencarikukan!"


"Rasanya pertemuan kita sudah sampai sini, aku tak ingin kekasihku itu menghancurkan restoran ini hanya karena cemburu"


"Permisi Tuan Luford, mungkin kedepannya kita akan bertemu lagi, sampai jumpa"


Tangan Luford mengepal. Tidak ada wanita yang akan mencampakkan dirinya. Apa tadi, wanita itu kekasih Troto!


Ego lelakinya merasa terusik.


"Tunggu sebentar Nona Willow."


Luford mengecup tangan Willow sebagai hadiah pertemuan mereka.


Senyum miring Luford mengembang. Melihat Willow menatapnya datar. Wanita itu kemudian beranjak menjauh. Terdengar Luford terkekeh.


"Ini semakin menyenangkan."


*


*


*


Mereka berada di pondok milik Troto. Bi Lomi telah pulang kerumahnya. Saat ini sore hari menjelang malam.


Troto masih mendiamkan Willow. Lelaki itu merajuk melihat Willow menemui Luford. Apalagi melihat Luford dengan sengaja memenasinya dengan mengecup tangan sang kekasih.


Lelaki itu sibuk membuat makan malam dalam diam. Willow menatap punggung lelaki yang tak berbicara padanya satu katapun.


Willow menghela nafas berat. Berjalan perlahan ke tempat Troto. Willow mengulurkan tangannya masuk ke pinggang Troto. Dan memeluk punggung tegap itu dari belakang.


Troto menghentikan adukannya pada panci sup tomat buatannya. Merasakan eratnya sang kekasih memeluknya.


"Kau sedang menjalankan misi, tadi, jangan mendiamkan aku, aku tak suka"


Klank!


"Kamu kira aku suka?"


Troto kesal ia melepas kasar rengkuhan tangan Willow. Namun wanita itu lebih mengeratkan pelukannya.


Ia melepaskan pelukannya dan memutar tubuh lelaki itu, ia meraih bahu Troto dna melompat layaknya koala yang menggelantung pada Troto.


Dengan sigap Troto menangkap tubuh sang kekasih yang nekat melompat padanya. Troto memegangi tubuh Williw kuat.


"Maaf, tapi jangan diamkan aku" 


Willow menangkup wajah Troto. Ia mengecup seluruh wajah kekasihnya yang merajuk itu. Ini caranya membuat sang kekasih tak lagi marah dan mendiamkannya.


Troto mengelak, ia tak akan kalah dengan serangan kecupan yang Willow berikan padanya.


Troto lupa jika yang ia hadapi adalah Willow. Mana mungkin ia mau mengalah dan kalah. Troto menghindar. Kembali Willow menangkup wajah Troto dan me ***** dalam bibir kekasihnya itu.


Awalnya Troto masih bisa tidak membalas, namun itu tidak lama, Willow mengambil teknik tarik ulur. Tidak adanya balasan, sengaja Willow menghela nafas kecewa dan memberi jarak pada dirinya dan sang kekasih.


Disitu, tentu saja Troto kalah. Ia meraup tengkuk sang kekasih melu mat panas bibirnya, Ia membalas lu matan Willow semakin dalam. Ia tidak ingin kehilangan.


Malam semakin larut, mereka melupakan makan malam mereka. Tak mengapa acara berbaikan mereka lebih penting daripada makan malam buatan Troto.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2