DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Rahasia yang terungkap


__ADS_3

Mr. Ruler dengan cepat menengok. Sosok hitam itu mendekat pada jendela. Sinar bulan memantul kan cahayanya, sosok itu terlihat. Joana Radha.


Kejadian yang tak terduga juga untuk Camy cs yang sedang menatap layar tanpa kedip. Mereka saling menatap. Rahasia yang akhirnya terungkap. Jo bukan ingin merahasiakan hanya ia juga lupa tentang kejadian yang sebenarnya terjadi. Namun saat ia masuk ke Hide Dome dan mendatangi rumahnya. Ingatan itu kembali.


Ingatan tentang keluarganya yang bahagia. Ayah dan ibu yang menyayanginya juga kehidupannya yamg bahagia. Ia melihat ayahnya yang ternyata musuh bagi kehidupannya saat ini.


Tentang Mr. Ruler yang tak mengenalinya, tapi serasa mengerti dirinya. Tentang Bharat yang kehilangan kemampuan yang ternyata Ayahnya sendiri yang membuat rekannya seperti itu.


Semua datang bertubi-tubi hingga ia mengingat semua. Rasa sakit saat ia melihat sang Ayah nembak ibunya didepan matanya, terulang. Juga ia yang dibawa pergi oleh seorang bocah perempuan lebih besar darinya untuk menyelamatkannya dari todongan senjata api Ayahnya.


"Luar biasa, kau berumur panjang Ayah" kilatan kemarahan terpancar. Kebencian juga kecewanya bergelung jadi satu. Bilang ia durhaka. Tapi dalam hal ini tak ada yang namanya durhaka jika ayahmu sendiri yang menghancurkan hidup juga ia ingin membunuhmu.


Bibir Mr. Ruler melebar. Ia tertawa kencang. Sangat kencang. Ia berjalan kearah sofa dan duduk dengan mengangkat kakinya ke meja.


"Oh aku tentu baik anakku, banyak harta disekelilingku, bagaimana aku tidak baik" ia tersenyum mengejek.


"Ini lebih baik dari waktu aku hidup dengan wanita ****** yang aku bawa dan tahunya ia melanggar kesepakatan, ia hamil, dasar wanita tak berguna!" Makinya, Jo mengepalkan tangannya.


"Tapi lumayan juga aku bis amasuk dalam Hide Dome dan melihat pohon uang itu nyata. Dan aku tahu kau memilikinya, serahkan padaku! Kau masih anakku, dan harus menurutiku!" Diktaktor yang tak berotak! Pikir Jo.


"Hah! Siapa anakmu, ayah? Aku? Benarkah? Kau tak pernah berpikir jika aku anak hasil selingkuhan? Yang wanita bodoh itu bawa agar bisa juga masuk ke Hide Dome? Mengejar orang yang dicintainya? Misalnya."


Provokasi yang membuat tubuh Mr. Ruler menengang. Jo melihat itu dan sepertinya ia tak tahu bahwa wanita yang ia sebut tak berguna juga wanita yang melahirkannya tak mencintai orang didepannya ini.


"Sungguh kasian sekali dirimu pak tua? Kau anggap dia tak berguna dan ia menganggapmu bodoh, ia sedari awal memang hanya memanfaatkanmu, coba kau tanya pada bos mu di sana, apa yang dilakukan istrimu yang tak berguna itu."


"Bosmu, tanya saja, apa kau takut pak tua?" Ejek Jo, kau jual aku bantai, prinsip senggol bacoknya.


Ada ringisan tak suka diwajah Mr. Ruler.


Camy Cs masih menatap layar melihat drama yang dilakukan Joana.

__ADS_1


"Kita kesana!" Jenny berdiri dari kursinya. Ia takut Jo kenapa-kenapa.


"Tunggu sebentar biarkan dia menyelesaikan masalahnya, aku sudah mengirim bantua kesana Jo pasti sadar" Camy masih menatap lurus pada layar.


Elle yang tadi mengantuk menjadi segar ia sangat kesal dengan tampang licik juga angkuh si tua Ruler itu. Mereka melihat perubahan wajah Mr. Ruler. Tangannya mengepal.


"Anak kecil macam kau ini bisa apa? Hanya membuat mainan seperti ini?" Mr. Ruler menendang robot yang Camy kirimkan untuk membantu Jo. Mr. Ruler menghentakan kaki dan menginjak robot itu hingga hancur.


Meremehkan kekuatan robot itu. Kemarahan Jo memuncak, ia tak terima dengan nada berbisik ia memberikan perintah. "Gumax bangun! Jatuhkan manusia dihadapanmu! aku mengijinkanmu!" Bisikan dengan kemarahan. Menyeramkan.


Robot yang tadi diinjak hancur oleh Mr. Ruler. Ia membelah diri seperi amoba. Dan menjadi banyak, dan meeka mengeluarkan tali dan menembakkan tali itu pada Mr. Ruler yang mudur. Dan menepis tali-tali itu.


"Apa-apaan ini kau mau melucu bocah" ia menedang lagi agar robot-robor sebatas kakkinya itu menjauh.


Mereka yang hancur akan menjadi beberapa robot bari dan menjadi lebih banyak. Robot seukuran dengkul itu mengeroyok Mr. Ruler. Yang mundur dengan terus menendang robot itu.


Lalu ada yang bergabung mnejadi satu dan beeukuran sebesar Mr. Ruler. Ia maju dan kerumpulan itu mundur.


Ia tak bisa menggunakan kekuatan sihirnya. Beberapa robot itu merangkak ke tubuhnya. Mr. Rulee kualahan. Ia mengeluarkan sentajanya dan menembaki robot-robot itu. Juga menyembunyikan diri, Jo juga bersembunyi.


"Gun On! Move!" Para robot yang masih bisa berjalan melancarkan serangan bertubinya.


"Quiet On!" Dan robot pelindungnya tidak menyerang lagi.


Jo jalan berjingkat ke arah belakang Ruler. Dan menghantam kepalanya, Ruler oleng Jo lalu menendang tangan yang memegang senjatanya. Senjata apinya terbuang jauh. Joana sudah siap dengan pertarungan tanpa senjata.


Ia menghajar tubuh Ruler. Ruler mengeluarkan sajamnya. Belati dengan kilapan mengerikan. Tapi tidak semengerikan itu untuk Jo.


"Ini untuk ayah Camy," Joana mengahantam perut Mr. Ruler. Ia tak takut dengan belati itu. dan tak lama Ruler membalasnya.


Joana meringis saat Ruler menerjangnya dan mengores lengannya. Senyum pongah tersirat diwajah Ruler. Ia tak terlalu menguasai bela diri namun kalau masalah senjata ia paham.

__ADS_1


Ia memainkan belatinya. Masih dengan senyuman mengejek. Nafas yang memburu, cukup melelahkan. Pak tua itu pintar menghindar. Dan Jo mendapatkan luka keduanya goresan di pipinya. Darah segar menetes.


"Siapakan kata terakhirmu bocah!"


"UNTUK IBUKU JUGA KEBAHAGIANKU!"


DOR!


"Harusnya itu kataku pak tua tapi, sepertinya kau sudah tak bisa berbicara lagi sekarang!" Peluru milik Jo bersarang di dahi Mr. Ruler. Dan berakhir dengan Jo menatap kosong tubuh yamg tergeletak didepannya.


Derapan langkah kaki, mendekat. Elle dan Camy memeluk Jo dengan nafas menghembus kasar juga jantung yang berderu kencang.


"Okay selesai, aku membalaskan untukmu ibu" teriak Jo. Kemudian air matanya luruh. Setelah ingatannya kembali waktu yang di tunggu-tunggu pun datang, akhirnya Jo bisa membalaskannya.


Rasa sayang ibunya yang sangat besar, yang direnggut darinya, masa kecil yang bahagia, yang berganti jadi hambar. Lega.


"Riby titip di lemari pendinginmu dulu!" ucap Jo yang berjalan dengan rangkulan Elle. Camy dan Riby juga Jenny membereskan mayat Mr. Ruler.


"Aku tak menyangka sungguh, tapi aku menikmatinya"


"Kirimkan penyusup itu pada tuannya!" Camy memerintahkan penjaga di DarkHole mengirim penyusup yang juva Jo dan Alex kalahkan kemarin.


"Kita ke target selanjutnya" Amber memperlihatkan layar pada mereka, Leon telah pulih, ia bertemu Lamorna, juga percakapan yang menjijikan.


Leon dan Nokturnal ternyata bisa lalai juga. Tak mungkin DarkHole melepaskan leon begitu saja. Sebenarnya bukan Nokturnal yang bodoh melainkan wanita tua, Lamorna.


Camy dan timnya mendengar semuanya.


"Target selanjutnya"


"Lalu sampai mana robot lalat milik Nokturnal?" Camy menggeser peta dan lalat itu talah sampai pada target yang lain. "Bagus!"

__ADS_1


__ADS_2