DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Penghalang


__ADS_3

Theo dan Wina sibuk dengan Black Sea, mereka bergelut dengan banyaknya lawan disana yang tak menyukai mereka, rapat besar akan diadakan.


Penghalang harus disingkirkan, ia ketua dari perusahan itu, jadi ia berhak menyingkirkan orang yang tak mendukungnya. Dan mereka tahu siapa-siapa saja itu.


Rapat besar mulai, banyak yang tak datang tapi Theo dan Wina tak bodoh mereka tahu siapa saja, dan lalu memblokir fasilitas mereka yang tak mendukung.


Ia duduk dikursinya diruang rapat itu.


BRAK!


Pintu ruangan itu terbuka kasar. Wajah-wajah murka mulai bermunculan satu persatu.


"Apa-apaan kau!"


"Siapa kau beraninya menutup fasilitas kami!"


"Anak bawang sepertimu tak pantas dikursi itu!"


"Bedebah sialan kau!"


Banyak makian yang terdengar diruangan itu. Theo dan Wina masih ditempat mereka tanpa menanggapi hanya melihat bagaimana gusarnya orang-orang didepannya itu.


"Kau bisu!"


"Anak baru kemarin sore sepertimu ini tak pantas disana!"


"Breng s3k! Kau bisu!" Seorang pria botak dengan gaya perlente juga kalung emas besar di lehernya, murka! Ia ingin menyerang Theo namun ditahan oleh teman-temannya.


"Lepas aku bu nuh dia! Minggir! Aku hajar kau sampai ma ti" Makinya kencang. Theo hanya menaikkan sudut bibirnya.


"Panggil juga Lamorna jika ingin fasilitas kalian kembali"


"5 menit, jika tidak, aku akan membekukannya hingga 3 bulan kedepan!"


BRAK!


Gebrakan meja terdengar, menyulut emosi mereka untuk Theo ini perkara mudah. Cabut fasilitasnya, yang hanya suka foya-foya mungkin akan semurka pria plontos itu. Ia pasti tak menyimpan asetnya. Sedangkan mereka yang diam, tak berpengaruh. Kafena mereka mungkin saja sudah memutar asetnya menjadi bisnis yang lain. Dan mereka masih meremehkan Theo.


Theo tak bodoh ia akan menjegal semua usaha para pembelotnya. Sampe ke akar.

__ADS_1


Jadi pilihannya hanya satu, menjadi bagiannya.


Suarah langkah kaki, tegas menggema di lorong ruangan. Pintu terbuka Lamorna memperlihatkan diri. Wajahnya angkuh.


"Mari kita mulai rapatnya" Theo membuka rapat itu dengan senyum meremehkan ke Lamorna.


Kejadian di Foxes Side juga sama, Willow pun begitu, senggolan keras padanya tak diindahkan. Bahkan dengan terang-terangan ia menantang siapa yang menentangnya ia ajak keatas ring, dan banyak dari mereka, Foxes Side yang meremehkan mereka.


Petarungan terjadi di ring, dan pasti tak mudah mengalahkan Willow, mereka yang tadinya mencela berubah menjadi kagum walau dalam diam.


Willow tak ingin pengakuan tapi ia ingin menghancurkan si tikus-tikus yang mengatainnya di luar sana.


"Patrik laporan!"


"Ada pemberontakan bawah tanah nona" Willow hanya mengangguk.


"Hancurkan!"


"Hah!" Patrik bingung. Ia tak mengerti perintah Nonanya ini. Willow yang sibuk dengan berkasnya, melirik Patrik yang diam tak berkata lagi.


"Apa lagi?" tanya Willow.


"Lamorna dalangnya?" Patrik menggeleng, "Tidak tahu Nona" Patrik tak tahu siapa dalangnya.


"Cari tahu!" perintah Willow.


"Baik Nona" Lalu Patrik keluar ruangan Willow.


"Kau sudah dengar kan, laksanakan tugasmu!"


"Woohh easy girl! Benar-benar angkuh kau! Seenak itukah kekuasaan, Nona?" Kekehan geli terdengar dari sebrang.


"Diamlah Braxton Wright!" Kekehannya menjadi tawa, ia adalah adik dari Marzon Wright. Penghuni Monts Side. Bertemu dengan Willow dulu saat Willow pertama kali bergabung dengan Nokturnal di wildlife. Dan menjadi dekat.


"Siap pacarku akan aku tumpas tikus-tikus itu demi mu" Willow melitik malas mendengar gombalan pacarnya itu. Pacar yang mengerti tindakan Willow.


"Bagi yang keras kepala, habisi saja, aku tak perlu cecunguk macam mereka."


Kekehan masih terdengar dari sebrang. "Berhenti tertawa! Tak ada yang lucu Brax! Kau membuatku makin kesal!" Willow mematikan sambungannya. Kelakuan pacarnya itu selalu membuatnya murka tapi mereka adalah pasangan yang serasi. Dalam ranjang juga dalam hal menghabisi sesuatu yang menghalangi mereka.

__ADS_1


*


*


*


Jenny dan Bharat telah berada di DarkHole. Sesampainya mereka Bharat langsung menuju Labnya, tak menunda, karena ini sangat dibutuhkan Camy.


Mengambil bukunya dan mulai meracik benerapa bahan-bahan yang bersifat sihir. Buja seperti mainan Joana, bahan kimia, Bharat menggunakan tanduk rusa bintik, lidah bunglon, kaki katak beracun, juga ekor ular berbisa.


Melihat bahan itu, membuatnya mengernyit, apa ini akan diminum Camy? Atau bagaimana? Ia mencari cara penggunaan, ternyata benar. Sepertinya jangan menggunakan metode dalam buku. Cairan seperti apa yang aka ditelan temannya nanti itu. Membuat Bharat risau.


Ia akan mengeringkannya dan merubahnya menjadi bubuk lalu dimasukan dalam kapsul, ini akan lebih manusiawi kan? pikir Bharat.


Sudah lakukan saja. Bharat mulai mengeksekusi beberapa bahan. Meneliti. Dan sebelumnya ia coba kan pada tikus percobaan. Perlu menunggu beberapa waktu.


Menghancurkan semua bahan menjadi cairan, lalu mengeringkannya layaknya seperti membuat bawang putih bubuk, begitulah Bharat melakukan semuannya.


"Hey, kau telah datang?" Riby menyapa Bharat. Bharat teringat ia dan Jenny melihat Leon akrab dengan Lamorna beberapa waktu lalu di Nokturnal.


"Riby kau masih beehubungan dengan Leonidas?" Bharat masih fokus pada ramuannya.


"Masih" Riby telah menggunakan gogglesnya.


"Kami kemarin ke tempat mereka yang menjadi mutan Nokturnal. Mereka diberi tempat sendiri oleh Nokturnal, agak miris, walau mereka diperhatikan oleh Nokturnal tapi banyak juga yang terlantar. Leon yang mengurus disana" cerita Riby panjang lebar.


"Ada seperti itu? Kau tertarik?" Ia melirik Riby.


"Bohong kalau aku bilang tidak, nyatanya aku sangat tertarik. Rasanya jika ada kesempatan ingin ku bedah badan mereka, aku pelajari otak mereka bagaimana mereka bisa bertahan dengan tubuh yang sudah di rekayasa manuasia. Benar-benar sangat penasaran." Jelasnya yang membuat Bharat bergidik.


"Kenapa tidak kau tanya pada Leonidas? Bagaimana perasaannya bisa hidup sebagai manusia singa?"


"Aku pasti sudah bertanya, jawabannya ya standar, bersyukur katanya, sama seperti Pedro dan robot lain, tidak memuaskan" jawaban yang membuat Riby agak kecewa.


"Kalau aku bilang Leon dengan Lamorna bagaimana? Aku dan Jenny tak sengaja melihatnya di Nokturnal beberapa minggu yang lalu. Mereka tampak akrab. Maaf tapi sepertinya kaunperlu lebih waspada dengannya Riby"


"Kau tahukan masalah yang ada di DarkHole belakangan ini, aku takut kau juga domanfaatkannya" jelas Bharat panjang lebar. Tak ingin lagi mereka menggunakan teman-temannya untuk merusak DarkHole. Begitu juga Jenny yang dekat dengan Marzon Wright.


"Kau tenang saja, aku akan lebih hati-hati."  Riby kembali menekuni di batu meteor itu. Sedangkan Bharat melihat kearah Riby. Sebenarnya ia kasian pada Leon jika benar ia hanya memanfaatkan Riby. Tak tahu ia akan berakhir seperti apa. Atau akan berakhir diatas apa? Kamar mayat atau meja oprasi Riby dengan keingin tahuan tinggi ini.

__ADS_1


Entah, semoga kau panjang umur Leon. Bisik hati Bharat.


__ADS_2