
Melewati portal cermin, dengan tatapan tajam, anak buahnya berhasil menculik Alex. Ia menjadi dirinya sendiri sekarang. Bukan si Flesi, bintang terkenal di Wild life.
Ia Raflesia, ras duyung, rambut panjang bergelombang wajah cantik, namun ia tak bisa menghilangkan gerigi dalam mulutnya.
Gigi runcing, alat bunuh yang mematikan. Mencabik musuhnya dengan brutal adalah keahliannya. Dan ia tak sabar mencabik sang pembunuh tunangannya.
Keluar dari bangunan tempat klan Trudy, yang telah lama ditinggalkan itu.
Ia merubah dirinya menjadi Flesi, Yang cantik, anggun, dengan rambut yang disanggul menawan, memang daya tarik duyung tak main-main. Ia menarik tudungnya, hingga menutupi wajahnya.
Alex ada ditempat ini juga. Dalam penjara, dimana tempat Loreen pernah disekap.
"Alex" bisik Raflesia dengan suara Flesi.
"Alex, kau dengar aku?" Bisiknya lagi.
Alex mengenali suara itu. "Flesi itu kau?"
Suara gemerincing, kunci yang dibuka. "Flesi? Flesi kenapa kau bisa disini?"
Raflesia mendekat, perlahan ia mendekati Alex. "Aku melihatmu saat sosok besar itu menyeret tubuhmu" ia mendekat dan dan melepas penutup mata Alex.
"Dan aku mendekati para penjaga dan menghipnotisnya. Kau dirantai, aku tak bisa melepaskannya" ucapnya.
"Menyingkirlah," Alex menggunakan kuku dengan laser untuk memutus rantai-rantai itu. Alex mengusap pergelangan yang terlihat ada bekas rantai disana.
"Harusnya kau bisa kabur dengan mudah, jika kau memiliki itu denganmu." Raflesia, hanya melirik tak terbaca.
"Aku hanya ingin tahu, alasan apa penculik itu menculikku" Alex berdiri dari kursinya. Dan bersiap kabur.
Netranya memindai sekitar. Tempat yang tak asing, pikirnya. Penjara, lembab, gelap dan bau.
Akhirnya, ia bisa menyimpulkan siapa yang ada dibalik penculikkannya. Klan Trudy. Klan yang ia bunuh ketuanya.
"Ayo kita pergi" Alex melenggang lambat. Mengintip. Memantau, keadaan aman. Kosong tak ada penjaga. Padahal yang ia ingat, sebelumnya banyak langkah kaki disekitarnya, tapi yang ia temui, sekarang berbanding terbalik.
Tak ada satupun mahkluk disekitarnya. Perlahan ia keluar dari tempatnya, menyusuri lorong demi lorong.
Flesi, Wanita itu memandunya, Alex masih ingat jalan yang ia ambil saat membebaskan Loreen kala itu.
Tapi gadis didepannya bersikeras, untuk Alex tidak menggunakan jalur yang sama, takutnya itu hanya jebakan. Dan sekarang wanita itu yang memandunya keluar.
"Kau tau jalan keluar lain?" Tanya Alex yang masih mengikuti Flesi.
"Serahkan padaku" Jawab Flesi percaya diri. Alex hanya mengangguk.
"Kau tahu tempat ini?" Flesi, menggeleng,
"Percaya pada instingku, kita dijalan yang benar" Flesi menepuk dadanya. Bangga.
__ADS_1
"Kata nenekku, intuisiku tajam dan dapat dipercaya" Alex menjadi pendengar yang baik tanpa berkomentar.
Nyatanya mereka hanya berputar-putar saja sedari tadi.
"Bukannya ini tempat tadi?" Ucap Alex,
"Tidak mungkin, ini benar jalannya" ucap gadis itu yakin.
Mereka masih berjalan tanpa tanda-tanda terlihatnya pintu keluar, yang ada Alex merasa ia di bawa masuk lebih ke dalam.
"Kita sudah berputar disini empat kali, dan dengan ini jadi yang kelima" ucap malas Alex.
"Masa? Nggak ah, memang tadi kita melewati dinding sulur ini? Tapi memang dari tadi dindingnya sama."
"Okeh, kita beri penanda saja, percaya pada ku, kali ini, tak akan salah" Alex memandang gadis didepannya datar.
Ia berjalan tetap mengikuti Flesi. "Kau mau kemana?" Saat langkah gadia itu menuju sebuah pintu.
"Itu pintu, pasti itu pintu keluarnya Alex" Alex tak sependapat. Tapi ia tetap mengikuti Flesi.
Mendorong pintu ternyata, sebuah kamar dengan single bed, juga berbagai mainan dan meja rias cantik.
"Wah kamar yang cantik" Flesi girang. Ia masuk kedalamnya. "Alex liat ini, hiasan kepala bunga, lucu sekali"
Alex masuk, ia memperhatikan ruangan itu. Kakinya ingin beristirahat. Setelah dipaksa berjalan berputar-putar. Ia mendudukan diri di kasur.
Wanita itu berdiri didepan meja rias putih tanpa kaca itu.
"Kakiku sangat pegal, nanti kita lewat jalan yang aku lewati sebelumnya" putus Alex. Wanita itu memejamkan mata. Ia tidak tahu flesi sudah merubah dirinya menjadi Raflesia.
Ia menyerang Alex yang berada di tempat tertidur. Rasa marah, dendam dan geram. Tak bisa lagi ia pendam.
Alex mengelindingkan dirinya ke lantai. Ia tak tidur. Dan kecurigaannya benar.
"HARGH!" Raflesia menyerang Alex bertubi. Ia tak memberi cela Alex untuk bisa melawannya balik.
Raflesia berusaha menggigit Alex, ia sangat ingin mencabik tubuh Alex. Alex dengan sigap memegang lengan Raflesia dan memutar badan wanita itu lalu mengunci tangannya ke belakang.
"Siapa kau sebenarnya?" Alex menahan rontaan Raflesia. Wanita itu menggeram. Ia terus meronta. Dan ia lolos.
Tanpa ampun ia menyerang Alex lagi. Alex meluncurkan tinjuannya kearah Raflesia, dan Wanita itu mengelak dengan gerakan gesit. Lalu ia mendapatkan kesempatan membalas.
"Urgh!"
Raflesia menggigit bahu Alex. Tancapan gerigi gigi wanita itu sangat menyakitkan, Lalu Raflesia menarik gigitannya yang mencengkram kuat bahu Alex dengan paksa.
"ARGH!!!!" Teriakkan menyakitkan Alex. Koyakan terlihat dibahu Alex, juga rembesan darah segar, mengalir membasahi pakaiannya.
Raflesia mengelap dengan tangan mulutnya yang berlumur darah Alex. Sudut bibirnya tertarik. Ia menyeringai. Rasa senang bisa menyakiti mangsanya.
__ADS_1
Alex menekan robekan pada bahunya. Ia terlihat lebih waspada. Memundurkan tubuhnya, membuat jarak dengan Raflesia.
"Aku Raflesia, Tunangan dari Ketua Klan Trudy. YANG KAU BUNUH ITU!" kobaran dendam Alex lihat di netra wanita yang ia anggap saudara itu.
"HHAHAHAHA, kau lihat kamar ini, cantik bukan?" Raflesia berjalan lambat ke meja rias. Ia mengelus boneka paus yang berada disana. Ia mengelusnya sayang.
"Ini harusnya akan menjadi kamar anak kami"
"DAN KAU MENGACAUKANNYA!"
"KAU MENGACAUKAN HIDUPKU"
"KAU MENGAMBIL KEBAHAGIANKU"
"KAU MERENGGUT CINTAKU!!"
"KAU PANTAS MATI!"
"PANTAS MATI"
"Tapi tidak sendiri" lirihnya, kegilaan Raflesia sudah sampai batasnya. Tatapan tajam ia arahkan pada Alex. Dan kembali ia menyerang Alex.
Perkelahian sengit terjadi. Alex menggunakan kukunya, namun ia tak melihat kuku lasernya.
Entah kapan Flesi melepasnya? Karena tak mungkin Alex melepasnya sendiri.
"Kau mencari ini?" Ia mengacungkan kuku laser itu, ia menjatuhkan kukunya kedalam mulutnya.
KRAUK! KRAUK! KRAUK!
Raflesia memakan kuku laser itu. Ia mengeluarkan belatinya. Dan kembali menyerang Alex.
Tentu saja bukan hanya kuku laser senjata yang Alex miliki. Ia menarik benda panjang dari samping celananya.
Benda itu bersinar. Membentuk pedang.
"Mainan apa lagi itu?" Remehnya.
"Maju! Jangan banyak omong kosong! Kau monster" senyum merendahkan yang memang untuk memprovokasi lawannya.
"Bre ngs ek kau J ala ng!" Raflesia maju dengan cepat,
DOR! DOR! DOR!
Menumbangkan salah satu dari wanita itu. "Maaf telat"
Decakan terdengar, "Cepat bereskan! Wanita ini mengotori tanganku!" Ia mengambil kain dari sosok yang baru datang itu sodorkan padanya, ia mengelap tangannya Kemudian ia meninggalkan tempat itu.
Tbc.
__ADS_1