DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bharat dan Dragon Eye 2


__ADS_3

Kemudian muncul sosok wanita dengan gaun hitam melayang didepannya, wanita itu menapakkan kakinya, tersenyum dengan manis dengan rambut hitam panjang, dengan hiasan batu kristal warna warni.


"Akhirnya aku bertemu dengan Ratu yang banyak dibicarakan, oh, ya ... perkenalkan aku Sunna Moon Goddess,"


Bharat masih menatap wanita itu. "Bharat Colton,Ini sangat cantik" Bharat masih terpaku pada sekitarnya.


"Haiyla menyerahkan dirimu padaku, untuk beberapa saat." Wanita bernama Sunna itu berjalan mendahului Bharat yang mengikuti dibelakangnya.


Didepannya ada pintu besi kokoh. Sunna menjentikkan tangannya, kabut yang menutupi pintu itu menghilang. Dan pintu itu terbuka.


Layaknya pintu di DarkHole. Lorong luas dengan partisi besi sebagai dinding. Bharat masuk. Ke ruangan dengan banyak orang sibuk disana menatap layar-layar modern.


Ia kira didunia ini tak perlu mengunakan teknologi, mereka cukup dengan sihir. Namun ini cukup berbeda saat ia berada di kerajaan tempat Haiyla tinggal.


Ini lebih modern, dan Bharat takjub. Bharat masih mengikuti Sunna.


"Hai Sunna," Sapaan seorang wanita cantik lainnya.


"Kau bawa siapa ini?" Wanita itu mendekati Bharat, Ia memperhatikan Bharat dari ujung kaki hingga kepala. Bharat mengerutkan dahi. Menilaiku huh! batin Bharat tak suka dengan cara wanita itu memandangnya.


"Mahina, menjauhlah!" Peringatan Sunna.


"Ada apa Sunna, coba kenalkan dia padaku, apa ini orang baru?" Decakan terdengar dari bibir Sunna.


"Tak perlu, kau menganggu tugasku!" Sunna menganggukan kepala pada Bharat agar mengikutinya.


"Apa dia si Ratu pengganti yang Hecate ceritakan"


Mendengar nama Hecate Bharat bergeming. Ia Moon Goddess layaknya Haiyla, ia pernah bertemu saat didesa Arctos.


"Jangan campuri tugasku! Atau aku tak akan segan padamu!" Sunna melirik tajam Mahina.

__ADS_1


"Wow tenang, aku tak akan mengganggu anak asuhmu" Mahina tersenyum miring pada Bharat. Wanita dengan rambut bergelombang perak itu berlalu, ia berpapasan dengan Bharat.


"Belum" bisiknya lirih ditelinga Bharat. Bharay melirik cepat wanita yang telah menjauh.


"Jangan dipikirkan, ia hanya main-main" Sunna melangkah mendahului Bharat, ia masih terpaku pada tempat menghilangnya Mahina.


Ia mempunyai firasat akan bertemu lagi dengan wanita itu dalam waktu dekat.


Sebenarnya Bharat masih tak tahu apa yang harus ia lakukan ditempat ini, ia buta dan Haiyla tak memberi tahu apapun.


"Kau tahu tujuanmu kemari?" Bharat menggwlengkan kepala, karena ia memang tak tahu, dan tak mengerti, mengapa ia berada di tempat ini,


Ia berada diruangan dengan banyak kristal yang berwarna warni, sama seperti meteor kristal yang ada di desa Arctos. Namun disini pancaran sinarnya lebih terang. Sedang kan yang ada didesa Arctos berwarna lebih pucat.


Bharat terus mengikuti Sunna berjalan hingga ia melihat singgasana berupa bongkahan batu kristal besar ditengah kristal mengelilinginya.


"Ini bernama Lachrym Dragon" Bharat hanya mengangguk, ia tahu, lebih tepat otaknya tahu, tempat ini adalah pusat dari kekuatan meteor kristal. Dimana kekuatan yang Bharta butuhkan untuk menjaga keseimbangan kristal yang ada di desa Arctos dan tempat lainnya.


Penyesuaian diri dengan meteor kristal, lebih tepatnya, agar tak ada benturan energi yang akan berakibat fatal nantinya.


Sunna menjelaskan lagi, Bharat akan dibiarkan disini tergantung dengan energi kristal meteor menerima Bharat.


Ia adalah Ratu Putih penjaga keseimbangan Meteor Kristal untuk melindungi kaum mereka, kamu primitif, dari jajahan kaum moderen yang tak lepas dari teknologi sebagai sumber utama hidup. Berbeda dengan kaum primitif, mereka mengandalkan kekuatan meteor kristal yang utama.


Dan di Dragon eye adalah penggabungan keduanya, kekuatan teknologi juga kekutan sihir.


Dan hasilnya sungguh luar biasa. Lachrym Dragon berada di salah satu bangunan unik yang Bharat lihat diawal ia menginjakan kakinya di Dragon eye.


"Duduklah di atas sana" Bharat mengangguk, ia beranjak kearah bongkahan meteir kristal itu dan mendudukan dirinya.


"Konsentrasilah, kosongkan pikiran dan bersihkan hatimu!" Bharat memejamkan matanya ia mulai mengikuti apa yang Sunna katakan.

__ADS_1


"Ikuti saja, gerakan apapun nanti yang kau rasakan"


BLARAR!


Suara petir menyambar, Sunna mengangkat sudut bibirnya. Ia tak menyangka Meteor Kristal menerima Ratu baru dengan cepat.


SRANK!


Dari tempatnya Sunna hanya menjaga proses penyatuan energi mereka. Ia melihat sebuah pedang jatuh tepat didepan Barat yang duduk menerima energi yang masuk dalam tubuhnya.


Pedang dengan tahta kristal disekelilingnya, menancap pada bongkahan kristal itu. Ini tanda Meteor kristal telah mempersilahkan sang Ratu untuk menyatukan energi mereka.


Pedang itu mengeluarkan energi yang juga merambati tubuh Bharat. Cahaya seperti tali itu membelit tubuh Bharat.


Perlahan pedang itu memudar, ia hilang masuk kedalam tubuh Bharat.


Bharat merasa ada aliran besar merasuki setiap aliran darahnya, nafasnya memburu, aliran itu terasa hangat, juga membuatnya merasa kuat.


Rasanya tubuhnya menjadi lebih segar, lebih bertenaga juga kepercayaan dirinya seperti dipompa. Nyaman dan menyenangkan. Bharat sangat menyukainya.


Dengan perlahan Bharat membuka matanya. Terlihat matanya yang sekilas mengkristal, namun berubah kembalin dengan cepat.


Bharat mendapati Sunna yang bersendekap dada, dengan menyunging senyuman lebar kepadanya.


Bharat mengernyit. "Aku tak menyangka, ini proses penerimaan tercepat, terlancar dari yang terdahulu"


Bharat masih tak mengerti. "Memangnya bagaimana proses yang terdahulu?"


"Bisa sampai berbulan-bulan" singkat Sunna.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2