
Wina kembali dengan gusar. Ia masuk kedalam kamarnya. Ia melemparkan tasnya dengan keras kesofa.
Ia membalikkan meja, melempar segala apapun yang ia lihat. Sebenarnya setelah ia siuman dari komanya. Pemeriksaan rutinnya terpantau bagus. Malas sangat bagus.
Semua kinerja tubuhnya membaik. Namun hanya satu yang sepertinya tak bagus. Emosinya. Wina yang sekarangbsangat tempramental dibanding dulu.
Ya seperti ini, nanti setelah ia telah puas, ia akan memanggil robot maid untuk membereskan semua kekacauannya.
Dan ia merasa ia bisa mengantikan Bharat menjadi ratu di desa kaum serigala. Karena ia memang kaum asli.
Karena yang Wina tahu darah Amarin mengalir dalam darahnya. Amarin, Ratu sebelumnya di desa Arctos.
Ia juga mendengar Amarin memilki satu anak, anak perempuan. Informasi itu yang membuat Wina semakin percaya diri jika dirinyalah anak Amarin yang disebut-sebut itu, Jadi ia berhak.
Wina tak tahu jika Bharat keturunan asli dari Amarin dan Rudolf --Alpha sebelumnya--
Ia keluar ruangannya karena ia menunggu robot maid membereskan kekacauannya. Ia berjalan ke ruangannya. Membuka pintu ia disambut dengan tatapan Ethan dan Potka.
"Kemana Bill?" Tanya Wina tanpa menatap salah satu dari dua orang itu. Siapa saja yang bisa jawab pertannyaanya.
"Namun ia tal mendapatka jawaban dari mereka berdua. Wina pun mengangkat wajahnya, melihat kedua pria itu yang juga menatapnya.
"Ia mencarimu, kau tak berpapasan denganya?" Wina hanya menggeleng.
Wina sudah memasuki ruangannya. Dan sibuk dengan apapun yang ia kerjakan sekarang.
Ethan dan Potka saling lirik. Mereka tak menduga Wina akan datang siang ini, biasanya siang hari Wina akan keluar, menghilang entah kemana, dan ia akan ke ruangan laboratorium ketiga pagi dan sore.
Mereka bisa bernafas lega saat Potka memperlihatkan pada Ethan isi dari pesan Bill.
Ia mengabarkan ia ikut Marky ke Nokturnal. Ia Marky beberapa menit yang lalu datang. Mereka memiliki agenda rahasia dengan Marky.
Agenda yang tak melibatkan Wina. Mafky tak bilang juka ia berhenti dengan penelitian awal yang ia lakukan.
Ia bukan orang baik.
__ADS_1
Siapa yang mau rugi? Tak ada, ia telah banyak mengelontorkan uang untuk penelitian itu.
Ia hanya mengambil penelitian milik dua orang yang bodoh, untuk menjadi miliknya dan akan dikerjakan oleh orang yang lebih kompeten dibawah kepemimpinannya.
Dan ya, sekarang Bill sedang menerangkan perkembangan Wina pada Marky diruangannya.
"Ia memiliki perubahan Lycan, saya pernah mendengar adanya penelitian Lycan di Nokturnal. Apa itu juga penelitian anda, Tuan?" Tanya Bill.
Marky juga pernah mendengarnya. Dari Patrik dan itu bukan penelitian miliknya, ia sangat kesal, dan ia memerintahkan Patrik untuk mengusutnya dan nihil.
Patrik hanya menemukan tempat kosong melompong, tanpa penghuni, bersih tanpa benda apapun yang tertinggal disana. Hanya ada kerusakan parah.
Penelitian ilegal itu, tahu bahwa marky tengah mencarinya.
Marky merasa dilangkahi. Ia tak terima maka ia membuat projek Wina. Penelitian ini telah ia rancang lama, dan didahului dengan orang lain di tempatnya sendiri itu membuat semua rencana yang sudah ia susun gagal total.
Dan pasti desas-desus tentang Lycan yang mengamuk sudah didengar para investornya, dan seperti Bill mereka menyangka bahwa Marky yang tengah menangani projek itu.
Maka ia menutupi kejadian itu dengan Projek Wina. Licik, ia menggunakan penelitian orang lain, dan juga ia menggunakan peristiwa orang lain untuk kepentingannya sendiri.
Ini projek impiannya saat muda. Dan ia telah menyiapkannya. Dan menjadi sempurna saat dua orang bodoh itu datang padanya dan menyerahkan penelitian mereka.
Dua orang bodoh itu adalah Osman dan Rasmus, Kemana dua orang itu? Lenyap!
Dua tikus penganggu yang pernah berani mengancamnya. Memang ditakdirkan untuk menghilang agar bumi tetap bersih pikir Marky.
Marky tak menjawab pertanyaan Bill membuat pemuda itu meneruskan kembali laporannya.
*
*
*
Tubuh kerdil tua itu bergegas menghampiri sosok yang sama dengan dirinya namun lebih muda.
__ADS_1
"Regulas, kau kirim ini pada Ratu, ke dunia atas" ia menyerahkan satu tas besar pada pemuda itu.
"Mengerti Gma Bel" Ia adalah Agrabella, mereka memanggil mereka Gma Bel.
Regulas mengenakan tas besar itu, sangat timpang dengan tubuhnya yang kerdil.
Jangan meremehkannya, walau kerdil kaum peri sangat kuat. Mereka selalu dianggap lemah, mereka diremehkan, orang yang menolok mereka hanya bagian dari orang berotak kecil.
"Langsung berikan ini pada orang yang bernama Simon, ia akan langsung menerima kedatanganmu" pesan Agrabella.
"Aku akan melindungimu" ia mengeluarkan sebutir pil dan memberikannya pada Regulas.
"Telan ini, kau akan terlindungi oleh barrier yang tak terlihat." Regulas menelan butiran itu.
"Aku pergi Gma Bel" pamitnya dan ia mulai menjauh.
"Kau kirim kemana Regulas" Dylan berkata dibelakangnya.
"Kau mengagetkanku!" Agrabella menatap tajam suaminya itu, tatapan tajam berubah jadi cemas saat netranya bertubrukan dengan Marzon.
Ya Marzon masih berada di sana, ia sangat betah tinggal disana.
"Ak-aku akan menyiapkan teh kalian, sarapan kalian sudah di meja" Agrabella sudah menerima namun madih ada kecemasan dalam dirinya saat berhadapan dengan Marzon.
Sebenarnya berhadapan dengan Lycan. Ia memiliki trauma dengan Lycan. Keluarganya dibantai lebuh tepatnya di jadikannsantapan Lycan, saat ia masih kecil.
Ia berhasil kabur. Dan ditolong oleh peri lain dan dibawa ke tempat persembunyian mereka.
Saat ia kecil keadaannya lebih liar dan mencengkam, para peri harus berhati-hati dalam setiap langkahnya.
Mereka selalu was-was jika harus mencari makanan di hutan. Musuh mereka bukan hanya bangsa Lycan namun semua bangsa lain yang ingin kekuatan mereka bertambah.
Barier yang mereka gunakan adalah upaya melindungi ras mereka. Barier ini ada karena Ratu pelindung terdahulu. Amarin, yang membuatkan mereka barier ini.
Dengan menggunakan Kristal meteor dari desa Arctos. Dan Agrabella bisa merasakan, jika Ratu Putih mereka akan lebih kuat, dan bijaksana dari Ratu sebelumnya.
__ADS_1
Tbc.